
Pulang nanti aku akan menunggumu di minimarket. Aku tidak ingin siapapun tahu kalau kita pulang bersama.
Demikian pesan yang diterima Ares dari Tania. Pemuda itu hanya menurut saja dengan menatap bagian belakang gadis yang mengirim pesan padanya.
Pulang nanti mereka berdua akan belajar bersama lagi dan mereka akan belajar di rumah Ares, sehingga pastinya mereka berdua akan pergi bersama.
Walaupun begitu, Tania tidak ingin murid lain mengetahuinya dan lebih menyembunyikan hal tersebut, karena itu dirinya mengirim pesan berbunyi seperti itu pada Ares.
Ketika bel pulang berbunyi, Tania yang tidak lagi disibukkan dengan urusan OSIS langsung bergegas keluar dari kelasnya, bahkan gadis itu tak menoleh sekalipun pada Ares.
Sambil berdecak, Ares beranjak dari duduknya dan berniat untuk segera keluar juga. Pemuda itu akan ke minimarket untuk menjemput Tania di sana.
"Ares." Panggil Kayden yang baru saja merapikan buku-bukunya yang dijadikan pembelajaran kelas tersebut.
"Ada apa, Pak Guru?" Tanya Ares sambil berdiri si dekat meja guru di mana Kayden berada. "Sepertinya aku tahu apa yang ingin kau tanyakan. Pak Guru, kau tenang saja, aku sedang mengusahakan semua itu. Aku akan mengabarimu kalau aku berhasil membuat Hany datang."
"Hanya tersisa sehari lagi, apa kau yakin?" Tanya Kayden.
Ares berdecak dan setelahnya menghela napas kasar dari mulutnya. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya sedikit mengarah ke Kayden.
"Kau persiapkan saja soal-soal ujian matematika beserta kunci jawabannya." Ucap Ares sambil berbisik ke telinga Kayden.
"Apa kau yakin bisa membuatnya datang?" Tanya Kayden dan Ares tersenyum lebar dengan penuh percaya diri.
...***...
Tania berjalan ke arah minimarket
Ketika gadis itu sampai, tatapannya langsung mengarah pada Dyara yang sedang berdiri di parkiran minimarket.
Dyara juga melihat pada kedatangan Tania. Terlihat gelagat yang kurang nyaman dari gadis itu saat melihat Tania.
"Kau sedang menunggu jemputanmu?" Tanya Tania pada Dyara yang mendekati gadis itu.
"Ya," jawab Dyara.
Setelah itu Tania masuk ke dalam minimarket untuk membeli susu kotak yang bisa diminum olehnya.
Saat berada di dalam, Tania melihat keluar pada Dyara, gadis itu berjalan meninggalkan area parkir.
Sesudah membayar apa yang hendak dibelinya, Tania berjalan keluar. Dihabiskannya langsung susu kotak yang dibelinya, setelah itu langsung bergegas ke pinggir jalan untuk menunggu Ares.
Ketika Tania menoleh ke arah kiri, gadis itu melihat Dyara baru saja masuk ke dalam taksi.
"Kenapa dia selalu naik taksi?" Gumam Tania heran pada Dyara.
__ADS_1
Saat yang bersamaan, Ares menghentikan motornya tepat di depan Tania. Pemuda itu langsung memberikan helm pada Tania.
"Memangnya kenapa kalau kita dari sekolah?" Tanya Ares heran.
Tania tidak menjawab, dia hanya langsung menaiki motor.
Tidak berapa lama mereka berdua sampai di rumah Ares. Mereka berdua memasuki rumah tersebut dan kebetulan ibu dan kedua adik pemuda itu sudah berada di dalam.
"Kalian berdua akan belajar bersama lagi? Di mana ketua OSIS yang baru?" Tanya Tasya yang langsung menghampiri Ares dan Tania.
"Ketua OSIS yang baru sedang mengadakan rapat OSIS. Nyonya, aku minta maaf karena selalu datang ke rumahmu." Ucap Tania.
"Tidak masalah." Jawab Tasya dengan memulas senyum.
"Kak Es, ada kabar bagus." Seru Aphrodite yang menghampiri mereka bersama dengan Athena.
"Ada apa?" Ares tampak heran.
"Bibi Melody dan yang lainnya akan datang. Besok mereka berangkat." Lanjut Aphrodite.
"Benarkah? Itu bagus sekali." Ujar Ares dengan wajah yang senang. "Kalian berdua memang adik-adikku yang baik." Segera Ares memeluk kedua adiknya yang kembar.
"Kau tidak perlu memeluk kami. Tepati saja janjimu." Seru Athena dengan wajah kesal dan berusaha mendorong Ares.
Tania hanya diam saja karena tidak mengerti percakapan ketiga saudara tersebut. Sedangkan Tasya hanya bergeleng sambil duduk di sofa, di ruang keluarga yang tidak jauh dari sana.
"Sudahlah, ayo kita belajar." Ucap Ares sambil melangkahkan kakinya.
"Es!" Seru Tasya membuat langkah Ares terhenti dan menoleh padanya. "Kalian bisa belajar di sini."
Ares menjadi diam mendengar perkataan ibunya. Dia mengerti kenapa ibunya sekarang melarang mereka berdua belajar di kamar. Semua pasti karena pengakuannya kemarin yang mencium Tania pada ibunya itu.
"Benar, kita belajar di sini saja." Timpal Tania yang setuju.
"Baiklah, kalau begitu aku akan berganti pakaian dulu." Jawab Ares merasa tidak enak karena dirinya menjadi mengingat mengenai pengakuannya pada ibunya itu.
Tania duduk di meja makan menunggu Ares, mereka berdua akan belajar bersama di sana. Sedangkan kedua adik perempuan Ares sedang duduk di ruang keluarga yang tidak jauh dari meja makan. Tasya yang sedang menonton televisi berada di sana juga.
"Kau akan ke acara ulang tahun Kak Es kan, Kak?" Tanya Aphrodite yang berjalan ke arah Tania dan berdiri di seberang meja makan menghadapnya.
"Ya, tentu saja aku pasti datang." Jawab Tania.
"Kau ingin tahu apa yang saat ini diinginkan Kak Es? Tapi... Apa kau sudah membeli hadiah ulang tahun untuknya?" Tanya Aphrodite lagi.
Tania baru teringat akan hal tersebut. Sebelumnya dirinya sama sekali tidak memikirkan mengenai hadiah apa yang akan diberikannya pada Ares.
__ADS_1
"Dia sangat ingin jaket kulit yang baru saja dikeluarkan dari brand favoritnya." Seru Athena berjalan cepat dan merangkul Aphrodite dari belakang.
"Jaket kulit?" Tanya Tania sambil berpikir.
Aphrodite membuka sebuah gambar di ponselnya dan menyodorkannya pada Tania. Gambar tersebut merupakan gambar jaket kulit yang dimaksud oleh Athena.
"Ini jaket kulit yang sedang diinginkan Kak Es. Dia pasti akan senang kalau diberikan hadiah jaket kulit ini." Ujar Aphrodite.
Tania melihat ke arah ponsel yang ditunjukkan Aphrodite, sebuah jaket kulit berwarna hitam. Namun fokus Tania mengarah pada nominal yang tertera di gambar tersebut. Angka yang merupakan harga dari jaket itu yaitu, hampir mencapai lima juta.
Tania tidak berkata apapun, gadis itu hanya menyunggingkan senyum tipis saat menarik tatapannya dari layar ponsel.
Itu merupakan harga yang sangat mahal untuknya. Lagi pula dirinya juga tidak akan membelikan hadiah semahal itu untuk siapapun. Apalagi dia merasa kalau hubungannya dengan Ares tidak ada yang spesial hingga dia harus memberi hadiah sesuai dengan apa yang sedang diinginkan pemuda itu.
Ares yang masuk ke dalam kamarnya segera menghubungi Kayden untuk mengatakan kabar baik yang baru saja disampaikan si kembar padanya.
"Benarkah? Apa kau serius? Hany juga akan datang?" Tanya Kayden setelah diberi tahu Ares.
"Ya, dia juga akan datang. Aku sudah menepati janjiku, sekarang kirimkan aku bocoran soal untuk test matematika besok." Ujar Ares dengan menyunggingkan senyumnya.
"Ck! Karena itu kau memberitahuku saat ini juga dan tidak menunggu besok." Ucap Kayden.
"Ya kau benar. Kau juga sudah berjanji karena itu sebaiknya kau tepati." Seru Ares. "Kirimkan sekarang juga, aku tetap harus mempelajarinya untuk besok."
...***...
Tania berada di dalam tempat tinggalnya selang setengah jam setelah dirinya kembali dari rumah Ares, setelah belajar berdua bersama dengan pemuda itu.
Gadis itu menghela napasnya dengan dalam saat duduk di meja belajarnya. Ingatannya kembali mengingat mengenai jaket kulit yang sedang diinginkan Ares.
Itu sangat mustahil kalau dirinya membeli jaket tersebut. Bahkan dirinya tidak memiliki setengah uang dari harga jaket itu.
"Aku tidak harus membelinya." Ucap Tania sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Terpikirkan sesuatu di benak gadis itu. Segera dia mengambil ponselnya dan membuka sebuah toko daring yang terkenal.
Dicarinya jaket yang tampilannya serupa dengan jaket kulit yang diinginkan Ares.
"Ini terlihat mirip." Gumam Tania saat melihat sebuah jaket yang modelnya sangat mirip dengan yang dilihatnya tadi. "Ini pun masih terlalu mahal untukku, padahal harganya hanya sepuluh persen dari yang asli."
Tania meletakkan ponselnya dengan menghela napas yang dalam. Gadis itu merasa putus aja karena tidak memiliki banyak uang untuk membelikan hadiah yang diinginkan Ares.
"Astaga, ada apa denganku? Aku tidak perlu memberikan hadiah spesial untuknya. Kenapa barusan aku berpikir seperti itu?" Ujar Tania setelah mengingat apa yang dipikirkannya tadi. "Aku akan memberikan dua buah buku tulis saja padanya. Aku rasa itu sudah cukup. Ya, aku akan memberikan hadiah ulang tahunnya dua buah buku tulis saja."
...@cacing_al.aska...
__ADS_1