
Melihat kehadiran Ares membuat Tania menjadi bingung. Dia tidak mengerti kenapa Ares yang seharusnya sedang menghadiri acara ulang tahun temannya malah datang menemuinya.
Ditambah pertanyaan pemuda itu yang terlihat kesal karena ponselnya tidak aktif. Memangnya untuk apa dia menghubungi dirinya? Begitu yang terpikirkan oleh Tania mengenai Ares saat ini.
"Kenapa diam saja?" Tanya Ares menerobos masuk ke dalam dan mengambil ponsel Tania yang ada di atas meja.
Pemuda itu melihat ponsel tersebut sudah menyala, namun pesan yang dia kirim belum dibaca oleh Tania. Mengetahui hal itu, rasa kesalnya semakin bertambah.
"Kenapa kau tidak membaca pesan dariku? Apa kau menghindariku?" Kesal Ares sambil memperlihatkan pesan yang dikirim olehnya di ponsel Tania.
Tania masih menatap Ares dengan tatapan tanpa ekspresi, meski pada dasarnya gadis itu merasa tidak mengerti dengan sikap Ares saat ini.
"Kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu!! Jawab pertanyaanku!!" Geram Ares semakin kesal karena Tania hanya diam saja.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap seperti ini?" Tanya Tania yang akhirnya mengeluarkan suaranya. "Memangnya kenapa kalau aku mematikan ponselku dan tidak membaca pesan darimu?"
Pertanyaan Tania langsung membuat Ares tersadar. Pemuda itu jadi berpikir kenapa dirinya bersikap seperti itu. Entah kenapa dia menjadi merasa kesal saat Tania tidak bisa di hubungi. Sejujurnya dia pun tidak tahu apa alasannya.
"Kenapa juga kau datang menemuiku, sedangkan seharusnya kau pergi ke acara ulang tahun temanmu kan?" Tanya Tania lagi dengan tatapan datar seperti biasanya.
Ares memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat. Tentunya jawaban yang logis karena dirinya juga tidak tahu jawaban sebenarnya dari semua pertanyaan Tania.
"Prakarya... Ya aku kepikiran karena aku belum menyelesaikan tugas prakaryaku." Ujar Ares menemukan jawaban saat melihat dua buah prakarya berupa rumah yang terbuat dari kardus dan stik es krim. "Aku tidak jadi ke acara itu karena mikirkan tugas tersebut. Dan aku menghubungimu untuk meminta bantuanmu mengerjakannya atau kita bisa membuatnya bersama."
"Benarkah seperti itu? Aku rasa tidak mungkin kau tidak jadi pergi hanya karena tugas itu. Dyara pasti sangat kecewa karena dia sudah sangat senang ingin menemanimu ke acara itu." Ujar Tania yang tidak langsung mempercayai jawaban Ares.
"Se—sebenarnya... Gadis itu yang membatalkannya." Jawab Ares tergagap dan terlihat ragu.
"Kenapa dia membatalkannya?"
"Tiba-tiba dia sakit, karena itu dia membatalkannya secara sepihak. Kau tahu, aku sangat kesal sekali. Tidak mungkin kan aku pergi ke acara itu seorang diri? Aku hanya akan menjadi bahan ejekan teman-temanku." Seru Ares memperlihatkan ekspresi yang meyakinkan.
Tania menatap Ares dengan penuh selidik. Gadis itu tidak berkata apapun lagi karena dirinya merasa sesuatu mengganjal pada diri Ares.
"Karena itu aku tidak pergi dan jadi kembali memikirkan tugas itu. Tapi ternyata kau sudah membuatnya, padahal aku ingin kita mengerjakannya bersama." Ares menoleh kembali ke arah meja di mana prakarya itu berada. "Kenapa ada dua prakarya?"
Tania yang semula menatap Ares menjadi mengalihkan tatapannya dari pemuda itu.
"Kau membuat dua prakarya?" Tatap Ares heran pada Tania yang menjadi mengarahkan tatapannya ke samping.
__ADS_1
"Satunya aku membuatkannya untukmu." Jawab Tania tanpa menoleh pada Ares. "Aku berpikir kau pergi malam ini dan jika diperhatikan kemarin kau membuat prakarya bukan keahlianmu, karena itu aku membuatnya untukmu."
Tanpa sadar Ares tersenyum mendengar jawaban Tania, namun pemuda itu berusaha untuk menahannya.
"Kenapa kau tersenyum?" Tania kembali melihat pada Ares yang langsung menghilangkan senyumnya dari wajahnya. "Lalu di mana bahan-bahannya jika kau berniat untuk membuat tugas itu denganku?"
"Untuk apa, kau sudah membuatkannya untukku." Sahut Ares kembali menahan senyumnya. "Ini bagus sekali, kau memang mahir dalam banyak hal." Ares memperhatikan prakarya yang dibuat Tania.
"Dan kau tidak bisa apapun." Sahut Tania dan langsung mendapatkan tatapan sinis dari Ares. "Sekarang kau bisa pulang dengan membawa salah satu dari itu."
"Apa?" Ares terkejut karena dirinya masih tidak berniat pulang.
"Kau sudah tidak punya urusan lagi kan? Karena itu pulanglah. Aku ingin makan malam." Ujar Tania berjalan mendekati ambang pintu agar Ares segera keluar dari tempat tinggalnya.
"Makan malam? Aku juga ingin makan malam. Ayo kita makan malam bersama." Seru Ares berharap Tania menyetujuinya. "Apa menu makan malammu?"
"Sebaiknya kau pulang, kau bisa makan malam di rumahmu." Jawab Tania sebelumnya sejenak berpikir.
Ares mendesis dan melihat ke arah meja dapur yang di atasnya terdapat kompor satu tungku, dan di sampingnya terdapat mie instan beserta telur.
"Jangan bilang kau ingin membuat mie instan?" Tanya Ares. "Apa itu benar?"
Tania mengangguk.
"Kenapa aku harus membuatkannya untukmu?" Tania menatap heran.
"Oke, kalau begitu biar aku yang buat. Anggap saja sebagai ucapan terimakasihku karena sudah membuatkan prakarya itu untukku." Jawab Ares sambil berjalan menuju meja dapur.
Tania hanya diam saja sambil memperhatikan Ares yang tampak kikuk karena bingung harus melakukan apa.
"Apa yang harus aku lakukan pertama kali?" Ares menoleh pada Tania.
"Rebus air hingga mendidih." Jawab Tania menjawab dengan tidak heran, karena dirinya sudah menduga kalau pemuda itu tidak bisa memasak mie instan. "Takar airnya dengan disesuaikan dengan berapa bungkus yang akan kau masak."
"Oke, baiklah... Ini mudah sekali." Jawab Ares yang langsung bertindak mengikuti intruksi dari Tania.
Pemuda itu menakar air dan memasukkan ke panci dan meletakkannya ke atas kompor. Namun setelahnya dia tampak bingung lagi. Segera Ares menoleh melihat pada Tania.
"Bagaimana cara menghidupkan kompornya?" Tanya Ares.
__ADS_1
Maklum saja pemuda itu sama sekali tidak pernah memasak, bahkan tak sekalipun belum pernah menginjakkan kakinya ke dapur.
Dengan mendengus, Tania berjalan mendekati Ares dan kangsung menghidupkan kompornya.
"Duduklah, biar aku yang membuatnya." Seru Tania. "Ternyata benar, kau memang tidak bisa apapun."
"Apa yang kau katakan? Kau tidak tahu kan kalau ayahku sangat mahir memasak, karena itu dia mendirikan restoran mewah dan cafe yang tersebar di negara ini. Kalau aku serius, aku pasti juga bisa memasak. Keahlian ayahku itu pasti menurun padaku, sama seperti tulisanku yang indah, yang menurun darinya." Ocehan Ares membuat Tania mendengus dengan tawa kecil.
"Kau terlalu banyak membual."
Mendengar perkataan Tania, Ares sama sekali tidak merasa marah. Pemuda itu malah menyunggingkan senyumnya sambil memandang Tania yang memunggunginya.
"Tunggulah di luar, aku akan menyelesaikannya dan kita bisa makan bersama."
Ares menuruti perintah Tania, pemuda itu langsung berjalan keluar dan duduk di meja besar yang diperuntukkan untuk duduk dengan perasaan yang senang.
Selang sepuluh menit, Tania keluar sambil membawa dua mangkuk berisi mie instan yang masih mengepulkan asap. Mereka berdua menikmati makan malam mereka bersama-sama.
"Ini sangat enak. Aku akan menjadikanmu koki di restoranku nanti saat aku yang mengelola perusahaan ayahku." Seru Ares saat selesai menghabiskan mie instannya kurang dari tiga menit. "Kau bisa melamar saat lulus sekolah nanti ke perusahaan ayahku."
Tania tidak menggubris ocehan pemuda yang selalu berkata seperti itu. Ada sesuatu yang ingin dikatakan olehnya pada Ares saat ini.
"Di mana Pak Guru? Apa Pak Guru dan Kepala Sekolah sedang pergi? Rumahnya sangat gelap." Tanya Ares melihat ke arah rumah Kayden.
"Ares..." Panggil Tania yang duduk di samping Ares dengan menghadap pemuda itu.
Ares menoleh pada gadis yang menatapnya dengan heran. Tidak biasanya Tania memanggil nanya, bahkan bisa dibilang ini untuk pertama kalinya gadis itu memanggil namanya. Sejujurnya Ares pun juga tidak pernah memanggil Tania dengan namanya.
Dari tatapan Tania, Ares merasa kalau sesuatu ingin dikatakan oleh gadis itu. Sesuatu itu adalah hal yang serius sehingga Tania memanggilnya terlebih dahulu agar Ares serius mendengar apa yang ingin dikatakannya.
"Mulai besok kau harus menjaga jarak dariku. Aku sudah sehat dan sudah tidak merasa sakit sedikitpun. Tanggung jawabmu sudah selesai, karena itu kau tidak perlu mengikutiku kemanapaun aku pergi." Ujar Tania.
"Mengikutimu? Memangnya aku pernah mengikutimu?" Ares mencoba mencairkan suasana karena Tania terlihat sangat serius menatapnya.
"Aku serius mengatakannya. Kau harus menjauh dariku, dan aku rasa kita juga tidak perlu belajar bersama lagi. Tapi aku harap kau masih terus belajar." Lanjut Tania. "Ya, perjanjian itu masih berlaku, akan tetapi kita tidak perlu belajar bersama. Aku akan memberikan soal-soal yang harus kau kerjakan dan kau bisa mengerjakannya seorang diri. Kalau ada sesuatu yang tidak kau mengerti, kau bisa menanyakannya melalu pesan padaku."
Ares merasa kesal mendengar perkataan Tania. Pemuda itu mendengus dengan sombongnya.
"Ya, baiklah. Aku akan mengikuti semua yang barusan kau minta itu. Aku tidak akan mendekatimu lagi besok. Ini terakhir kalinya kita bersama. Kau tenang saja."
__ADS_1
Tania sedikit terkejut karena Ares menyetujuinya begitu saja.
...–NATZSIMO–...