PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
050. SESUATU YANG BERBEDA


__ADS_3

"Apa yang ingin kau cari? Kenapa kita ke sini?" Tanya Tania pada Kayden.


Kayden membawa Tania ke mall dengan mengatakan dirinya sedang mencari sesuatu saat ini. Namun yang sebenarnya, semua itu hanyalah alasannya untuk pergi dengan gadis itu.


"Sebenarnya tidak ada yang sedang aku cari. Aku hanya ingin kau menemaniku untuk berjalan-jalan. Kau belum pernah ke sini kan?" Ujar Kayden yang berjalan di samping Tania.


"Kau ini!" Tania tampan kesal. "Sejujurnya aku pernah ke sini. Si bodoh itu membawaku ke sini tempo hari."


"Ish, kalau begitu sia-sia saja aku mengajakmu ke sini. Padahal aku ingin memperlihatkan isi mall ini padamu." Seru Kayden diawali dengan desisan.


"Karena kau sudah mengajakku ke sini, kau harus mentraktirku." Tania menoleh pada Kayden. "Setelah membahas hal tadi, perasaanku menjadi tidak enak. Aku jadi memakan es krim."


"Es krim? Ya baiklah, aku akan mentraktirmu sepuasnya." Jawab Kayden dengan sebuah senyuman. "Kau bisa memesan sebanyak yang kau mau."


Tania mengikuti langkah Kayden ketika mereka berdua hendak ke restoran yang Kayden tuju.


Gadis itu mengelilingi pandangannya, melihat-lihat ke sekeliling dan membuat dirinya menjadi ingat saat waktu itu bersama Ares ke tempat tersebut.


Ketika sadar, Tania menampik bayang Ares dan mencoba untuk memikirkan yang lainnya.


"Kita akan ke mana?" Tatap Tania menoleh pada Kayden.


"Kita akan ke tempat dessert terlezat di mall ini. Nah itu dia tempatnya." Jawab Kayden setelahnya semakin lebar melangkahkan kakinya.


Tania hanya membuntuti Kayden dari belakang, namun terkejut saat pria itu merangkulnya.


"Jalanlah dengan cepat. Kau terlalu lambat." Seru Kayden dengan sebuah senyuman.


Meski begitu Tania tidak terlalu menggubris perkataan Kayden, gadis itu masih berjalan santai.


Hingga mereka berdua hampir sampai ke sebuah restoran yang dituju. Tatapan mereka berdua langsung mengarah ke sebuah meja yang di isi oleh seorang pemuda dan seorang gadis yang duduk saling berhadapan.


"Bukankah itu si bocah bodoh itu?" Seru Kayden.


Tania tidak menjawab, gadis itu hanya melihat pada Ares yang duduk bersama Dyara di satu meja.


Namun ada ketakutan yang dirasakannya Tania saat mereka berdua, yaitu kesalahpahaman.


Tania takut kalau Ares atau pun Dyara akan berpikiran macam-macam saat melihat dirinya bersama dengan Kayden.


"Kau tenang saja, kau tidak perlu khawatir." Ujar Kayden yang menyadari sikap Tania.


Pria itu langsung bergegas masuk ke dalam restoran dan menghampiri kedua orang yang merupakan muridnya di sekolah juga, Tania mengiringi langkahnya.

__ADS_1


"Kalian berdua sedang apa di sini? Apa kalian sedang berkencan?" Tanya Kayden.


Baik Ares mau pun Dyara langsung menoleh padanya dengan tatapan terkejut.


"Sepertinya benar, kalian sedang berkencan ya?" Tanya Kayden lagi.


Ares melihat pada Tania yang berdiri di samping Kayden, begitu pun dengan Dyara yang langsung mengernyitkan dahinya.


"Kau pria yang waktu itu menjemputnya, ya?" Ujar Dyara. "Aku juga baru sadar kalau kau merupakan guru di sekolah. Astaga, jadi kalian berdua berpacaran?" Dyara terlihat terkejut dengan menutup mulutnya dengan tangan kanan.


"Apa terlihat seperti itu?" Tanya Kayden dengan menyunggingkan senyumnya. "Apa itu berarti kalian berdua juga berpacaran?"


"Tidak!" Jawab Ares cepat sambil melirik Tania.


Dyara terlihat tidak senang saat Ares menjawab seperti itu. Gadis itu langsung bangkit berdiri dan menyambar lengan Ares.


"Ayo kak, sekarang kita pulang." Seru Dyara menarik lengan Ares agar bangkit berdiri.


Ares tampan bingung namun pemuda itu tidak bisa berbuat apapun, dan mengikuti Dyara saja.


"Kami pergi dulu ya, Pak Guru." Ujar Dyara langsung menarik Ares yang tidak bisa menolak gadis itu.


Ares melihat pada Tania yang hanya melirik pada kepergiannya da Dyara. Sejujurnya pemuda itu tidak ingin pergi, dan ingin bergabung dengan Tania dan Kayden, akan tetapi dia tidak bisa menolak Dyara yang menarik lengannya.


"Kenapa kita harus bertemu dengan mereka?" Gumam Dyara terlihat tidak senang.


"Ya aku memang tidak suka, Kak. Nanti akan semakin banyak gosip beredar tentang kita. Semua orang di sekolah akan semakin berpikir kalau kita berpacaran. Itu buruk kan?" Jawab Dyara menghentikan langkahnya dan berbicara menatap pada Ares. "Tunggu dulu, apa Kakak tidak masalah tentang gosip itu?"


Ares tidak langsung menjawab, baginya dia tidak peduli dengan anggapan siapapun mengenai hal tersebut.


"Yang terpenting adalah kebenarannya, kan? Mereka semua juga pasti akan tahu kalau itu tidak benar suatu saat nanti. Aku tidak terlalu memikirkan apa yang mereka kira." Jawab Ares sambil melanjutkan jalannya.


Dyara terlihat kecewa mendengar perkataan Ares. Segera gadis itu menghampirinya yang berjalan.


"Kak, aku menyukaimu. Aku rasa kau juga tahu itu, kan?" Ucap Dyara menghentikan langkah Ares dengan berdiri di hadapan pemuda itu. "Aku ingin kita berpacaran, semua orang pasti akan senang saat tahu kita benar-benar berpacaran, karena dilihat dari mana pun kita sangat serasi."


Ares hanya terdiam mendengar pengakuan Dyara tersebut. Meski sebelumnya, dia mengetahuinya namun sekarang dirinya menjadi bingung dengan ungkapan cinta gadis itu.


...***...


Tania menikmati es krim yang di pesannya dengan Kayden.


Sebuah es krim yang terdiri dari berbagai macam rasa yang menjadi satu di gelas berbentuk bunga mawar. Di atasnya terdapat buah cherry berwarna merah yang membuat tampilan es krim itu semakin cantik.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya? Ini enak kan?" Tanya Kayden yang hanya menikmati es krim vanilla di gelas kecil. "Kalau kau mau, kau bisa memesannya lagi nanti. Setiap awal bulan setelah aku gajian, aku akan mentraktirmu es krim."


"Kau ini, aku tidak memintanya. Kau tidak perlu berkata seperti itu." Jawab Tania.


"Oh iya, gadis tadi itu adalah murid yang mendaftar sebagai kandidat ketua OSIS bukan?" Tanya Kayden. "Dokumen yang kau kasih tadi sudah aku periksa. Aku merasa ada yang aneh dengannya."


"Aneh? Apa yang aneh? Apa dia memalsukan tanda tangan pendukungnya?" Tanya Tania penasaran. "Tapi juga sudah memeriksanya itu tidak mungkin. Mereka semua benar-benar mendukungnya."


"Bukan itu. Untuk masalah pencalonannya semua baik-baik saja. Hanya saja karena merasa penasaran dengan gadis itu, aku mencocokan formulir pendaftaran dengan berkas kepindahannya ke sekolah kemarin." Ujar Kayden. "Kau ingat waktu itu kita mengantarnya pulang ke rumahnya, kan? Tapi dia meminta berhenti ditengah jalan karena ingin membeli sesuatu."


"Ya, memangnya ada apa dengan itu?" Tania menjadi semakin penasaran.


"Di formulir pendaftaran dia menuliskan alamat di daerah rumahnya saat kita mengantarnya kemarin. Namun saat aku lihat di berkas kepindahannya, alamatnya berbeda. Yang tertulis sebuah alamat daerah di luar kota. Maksudku... Alamat siapa yang ada di berkas kepindahannya itu? Bukannya dia tinggal bersama orang tuanya di kota ini?"


"Ya, dia pernah bilang kalau dia tinggal dengan orang tuanya walau mereka sering pergi keluar negeri karena bisnis orang tuanya itu." Ucap Tania sambil berpikir mengenai informasi yang diberikan Kayden padanya.


...***...


Ares menghentikan motornya di depan sebuah rumah megah dan mewah. Rumah tersebut memiliki pagar hitam yang tertutup dengan menjulang tinggi.


Siapapun tahu kalau rumah itu pasti merupakan rumah dari seorang pengusaha kaya, seperti ayah Ares.


Pemuda itu mengantar pulang Dyara setelah mereka pergi ke mall tadi.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku sama sekali tidak ingin menyakiti perasaanmu tapi aku juga tidak ingin memaksakan diriku untuk menerimamu. Itu akan buruk untukmu nantinya." Ujar Ares pada Dyara setelah gadis itu turun dari motor dan berdiri membelakangi rumahnya.


Tadi, pemuda itu menolak penyataan Dyara dan tidak ingin menjadi kekasih gadis tersebut.


"Ya aku mengerti kak. Aku juga tahu kalau saat ini kau hanya ingin lulus sekolah karena itu kau menolak berpacaran denganku." Ujar Dyara dengan sebuah senyuman.


"Baguslah kalau kau mengerti. Sekarang masuklah. Aku akan pergi setelahnya." Ucap Ares.


Dyara menggeleng.


"Kakak pergi saja dulu. Aku akan masuk setelah kau pergi." Jawab Dyara.


"Oke. Kalau begitu aku pergi dulu." Seru Ares dan setelahnya menggaa kembali motornya.


Dyara sejenak memperhatikan kepergian Ares dengan tatapan menajam. Lambat laun terlihat raut wajah sedih bercampur kemarahan.


"Seharusnya dia menerimaku, karena semua orang juga sudah mengira kalau kami berpacaran." Gumam Dyara.


Gadis itu langsung berbalik dan menghadap pagar rumah yang ada di hadapannya. Kepalanya agak menengadah untuk melihat rumah yang terdiri dari empat lantai tersebut.

__ADS_1


Sebuah helaan napas panjang dan dalam keluar dari mulutnya.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2