
Ares menuruni tangga dengan seragam yang sudah sangat rapi. Pemuda itu hendak berangkat ke sekolah namun sebelumnya akan sarapan bersama seluruh anggota keluarganya.
Langkahnya terhenti di ambang tangga ketika melihat sosok yang seharusnya tidak dirinya lihat berada di duduk di meja makan bersama dengan anggota keluarganya.
Tasya hendak berjalan menuju tangga untuk memberitahu kehadiran gadis yang datang menemui putranya, pada Ares.
"Baru saja Mama mau memanggilmu, Es." Ujar Tasya melihat Ares yang sudah lebih dulu muncul.
"Halo Kak, maafkan aku, aku datang tanpa mengabarimu terlebih dahulu. Aku hanya ingin kita berangkat ke sekolah bersama." Seru Dyara menoleh pada kehadiran Ares.
Sesungguhnya Ares sangat terkejut dengan yang terjadi. Pemuda itu heran kenapa Dyara bisa datang ke rumahnya saat ini dan tanpa menghubunginya terlebih dahulu.
"Ayo Es, kita sarapan bersama-sama." Ucap Tasya kembali berjalan menuju kursinya di meja makan.
Ares berjalan ke arah meja makan dengan tatapan bingung melihat pada Dyara.
"Kenapa kau ke sini?" Tanya Ares tidak mengerti pada Dyara.
"Sudah aku bilang, aku ingin berangkat ke sekolah bersama denganmu, Kak." Jawab Dyara memulas senyum.
Semua mata mengarah pada Ares yang terlihat tidak senang dengan keberadaan Dyara di sana. Ayah dan ibu serta kedua adik kembarnya hanya diam melihat pada pemuda itu.
Ares mendengus dengan menghela napas sambil berjalan. Pemuda itu berniat untuk langsung berangkat tanpa sarapan.
"Es, kau tidak sarapan?" Tanya Tasya pada Ares yang berjalan pergi.
Ares tidak menjawab apapun, pemuda itu langsung bergegas keluar dari rumahnya.
"Aku permisi dulu." Pamit Dyara setelahnya menyusul Ares keluar dari rumah itu.
Aphrodite dan Athena saling menatap dengan penuh tanya.
"Aku sudah yakin kalau dia akan kesal seperti itu." Ujar Athena.
"Ya terang saja, Kak Es itu menyukai Tania, dia tidak menyukai gadis itu. Aku heran kenapa dia datang ke rumah ini." Sahut Aphrodite.
"Kalian berdua, sudahlah... Makan saja." Seru Athos yang menyimak pembicaraan kedua putrinya.
"Kalau menurutmu, siapa yang lebih baik untuk Es, Ato?" Tanya Tasya pada suaminya. "Dyara sangat cantik, tapi Tania sangat pintar."
Kedua si kembar menunggu jawaban ayah mereka untuk mengetahui siapa yang akan ayahnya itu pilih.
"Aku rasa tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu dan kepintaranku." Jawab Athos untuk menghindari menjawab pertanyaan yang diajukan istrinya itu.
Aphrodite dan Athena terlihat kesal pada jawab Athos.
"Wajah Es mirip denganmu, tapi dia tidak menurunkan kepintaranku, karena itu gadis pintar lebih cocok dengannya." Lanjut Athos dengan menyunggingkan senyumnya.
...***...
__ADS_1
Ares melintas masuk ke gerbang sekolah dengan motornya. Dyara ada bersama dengan pemuda itu dengan duduk di belakangnya.
Seketika semua mata langsung melihat kehadiran dua orang tersebut. Mereka langsung menjadi bahan pembicaraan di hari sepagi ini karena datang bersama-sama.
Dyara turun dari motor dengan sebuah senyum sumringah. Dia tahu kalau saat ini dirinya menjadi bahan tatapan para murid lainnya yang penasaran dengannya dan Ares.
"Tunggu sebentar, Kak." Seru Dyara pada Ares yang baru melepas helm dan hendak pergi dari parkiran.
Ares menahan langkahnya karena Dyara langsung memegangi lengannya. Gadis itu mendekati Ares dan menjulurkan tangannya ke atas, ke arah kepala pemuda itu.
"Ada kotoran di rambutmu, Kak." Ujar Dyara.
Ares diam saja saat Dyara mengambil kotoran di rambutnya. Meski begitu dirinya merasa tidak enak karena semua murid di sekitar semakin menatapnya. Walau begitu dia tidak bisa berbuat apapun untuk menghindari gadis itu.
Tania yang sudah datang ke sekolah sejak pagi dengan kesibukannya, tersentak kaget saat Wanda lagi-lagi masuk ke dalam ruangan OSIS dengan membuka pintu dengan kasar.
"Ketua OSIS, kau tahu? Gadis itu datang ke sekolah dengannya." Seru Wanda dengan kehebohan yang dibuatnya. "Maksudku, selebgram dan Ares. Mereka datang bersama dan bahkan mereka berdua menunjukkan pemandangan yang sangat membuat siapapun iri melihatnya."
Tania hanya berkedip beberapa kali setelah mendengar perkataan Wanda.
"Gadis itu membersihkan kotoran di kepala Ares. Ini akan menjadi foto terbaik dalam seminggu ini." Wanda menunjukkan sebuah gambar yang langsung tersebar di grup chat maupun forum sekolah.
Tania melihat ponsel Wanda untuk melihat foto yang dimaksud. Gadis itu pun setuju kalau itu adalah foto yang bagus untuk sepasang kekasih.
"Ya, mereka tampak serasi." Ujar Tania dengan datar dan kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop.
Wanda langsung duduk di salah satu kursi di sana. Gadis itu terus menatap Tania.
"Katakan padaku Tania, apa kemarin itu kau dan Ares berpacaran? Semua murid menganggapnya seperti itu, tapi saat kalian berdua tidak terlihat bersama lagi, gadis itu muncul." Ujar Wanda penuh selidik.
"Tidak, aku hanya berusaha membuat murid yang suka membolos kembali ke sekolah. Hanya itu saja." Jawab Tania dengan santainya.
"Kalau begitu kau harus tahu, mereka semua menjadi melihatmu seperti seseorang yang dibuang oleh Ares." Tambah Wanda dengan serius.
Tania mendengus dengan tawa kecil mendengarnya. Semalam dirinya sudah yakin kalau akan seperti itu, karenanya dia tidak ingin memikirkannya dan akan terus mengabaikan sesuatu hal yang tidak penting untuknya.
Bahkan gadis itu juga tidak ingin memikirkan dan sudah membuang perasaan terganggunya pada kehadiran Dyara yang terang-terangan mendekati Ares.
Ya, sejak awal gadis itu tidak ingin mengakui perasaannya pada Ares.
Saat bel masuk berbunyi, Tania berjalan menuju kelasnya seorang diri. Ketika dirinya masuk ke dalam kelas semua mata melihat padanya, begitu juga dengan Ares yang langsung menatapnya.
Tania bersikap biasa saja, gadis itu langsung duduk di kursinya tanpa memedulikan apapun mengenai dirinya. Dia tahu kalau saat ini semua orang merasa heran dengan kedekatan dirinya dengan Ares kemarin, dan saat yang bersamaan ketika mereka berdua tidak terlihat bersama lagi, Dyara muncul.
Hal itu yang membuatnya menjadi tampak seseorang yang menyedihkan karena posisinya tersebut.
...***...
Tania berada di ruang OSIS. Kali ini gadis itu tidak mengerjakan apapun karena saat jam pelajaran usaipun tidak ada rapat OSIS.
__ADS_1
Tania hanya duduk santai sambil membaca berbagai artikel tentang pengetahuan umum sembari memakan roti.
Terdengar suara pintu diketuk dan sebelum sempat Tania mempersilakan masuk, pintu itu sudah lebih dulu terbuka.
"Maaf, apa aku mengganggu?" Tanya Dyara yang muncul dari luar dan berjalan masuk.
"Tidak, aku juga sedang bersantai." Jawab Tania meletakkan ponselnya. "Ada apa? Apa menyangkut yang kemarin?"
Dyara duduk di kursi berhadapan dengan Tania. Gadis itu menyodorkan sebuah amplop cokelat pada Tania.
"Aku sudah mendapatkan lebih dari lima puluh dukungan. Dan di dalam amplop ini juga sudah ada visi dan misi dariku." Ujar Dyara. "Apa itu saja sudah cukup?"
"Ya, aku rasa sudah. Nanti aku akan memeriksanya dan akan menghubungi kalau masih ada yang kurang. Jika aku tidak menghubungimu, itu berarti semuanya sudah lengkap dan aku akan memberikannya pada guru yang bertanggung jawab dalam pemilihan nanti." Jawab Tania tanpa ekspresi.
Tania tidak berkata apapun lagi karena mengira Dyara akan segera undur diri dari sana, namun gadis itu masih duduk dengan menatapnya.
"Ada apa lagi?" Tanya Tania.
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" Tanya Dyara dengan nada serius.
"Silakan."
"Sepertinya kau pun juga sudah tahu pada hal yang akan aku katakan. Ini mengenai hubunganku dengan Kak Ares. Sepertinya kau juga sudah tahu kalau tadi pagi kami berangkat bersama ke sekolah." Ujar Dyara.
"Ya, seluruh murid membahasnya sejak pagi." Jawab Tania tetap dengan tatapan datar.
"Apa itu berarti kau tahu mengenai hubunganku dengan Kak Ares?" Tanya Dyara dengan tatapan menyelidiki.
Tania tidak langsung menjawab. Gadis itu mencerna maksud dari pertanyaan Dyara padanya. Hanya ada satu hal yang ingin disampaikan gadis itu.
"Ya aku tahu kau sudah berpacaran dengannya, kan? Aku rasa satu sekolah sudah tahu pada hal itu." Ucap Tania.
Dyara menyunggingkan senyumnya, terlihat raut wajah yang senang.
"Tapi hal itu tidak ada kaitannya denganku. Kenapa kau mengatakannya padaku?" Kali ini Tania bertanya meski dirinya sudah mengira maksud dan tujuan gadis itu mengatakan hal tersebut padanya.
"Tidak ada. Aku hanya mendengar kalau kau dekat dengan Kak Ares. Aku hanya tidak ingin hubunganku dengannya menjadi membuatmu merasa tidak enak pada kami." Jawab Dyara.
"Kau tenang saja. Apa pun yang terjadi pada kalian tidak ada kaitannya padaku. Sejujurnya kami tidak pernah dekat. Semua orang hanya salah mengira pada kami."
"Baiklah, kalau begitu aku keluar sekarang." Ujar Dyara setelahnya beranjak berdiri dan segera keluar dari sana.
Tania langsung mengernyitkan keningnya melihat gadis itu dengan perkataannya. Itu terlihat sangat jelas kalau Dyara ingin Tania tidak lagi mendekati Ares dengan mengatakan tentang hubungan mereka.
Tentu saja Tania tahu kalau gadis itu dan Ares tidak berpacaran. Dia menyadarinya saat Dyara repor-repot mengatakan semua itu padanya.
Padahal jika mereka benar-benar berpacaran, seharus Dyara tidak perlu mengatakan hal tersebut untuk memperingati Tania.
Akan tetapi karena merasa Tania adalah saingannya, Dyara sampai berbohong mengenai hubungan gadis itu yang sudah menjadi kekasih Ares.
__ADS_1
"Ck! Gadis itu terlalu berlebihan." Decak Tania heran sambil kembali melakukan kegiatan sebelumnya.
...–NATZSIMO–...