PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL

PANGLIMA PERANG VS AMBITIOUS GIRL
070. CIUMAN RAHASIA


__ADS_3

Ares yang berada di kamar tamu mencoba untuk tidur, namun pemuda itu merasa tidak mengantuk sama sekali. Walau dirinya sudah berada tiga jam di tempat tidur, tetap saja, sama sekali dia tidak bisa memejamkan matanya.


Padahal waktu sudah menunjukkan lebih dari jam satu malam. Rasa tidak mengantuknya dikarenakan sesuatu, tentu saja karena pemuda itu terus memikirkan kalau saat ini Tania sedang tertidur di kamarnya.


Sudah sejak awal Ares hanya duduk bersandar di atas tempat tidur di kamar tamu, mencoba memahami apa yang terjadi pada dirinya.


"Ya ampun, ada apa denganku?" Tanya Ares heran pada dirinya sendiri. "Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa juga aku tadi ingin menciumnya lagi?"


Ares melamun sejenak dengan pikiran yang mencoba menebak apa yang terjadi padanya.


"Apa aku benar-benar menyukai si kacamata?" Ares duduk tegak dengan rasa terkejut saat mengatakan hal tersebut. "Bagaimana bisa aku menyukainya? Dia itu sama sekali bukan tipeku."


Pemuda itu kembali terdiam, setelah mengatakan pertanyaan tersebut, entah kenapa dirinya menjadi semakin ingin melihat Tania lagi.


Sejenak Ares memutar bola matanya mencoba menimbang-nimbang niatnya tersebut. Dan dengan gerakan yang kaku, akhirnya dia menuruni tempat tidur dan langsung berjalan keluar dari kamar.


Langkahnya di buat seringan mungkin agar tidak ada siapapun yang mendengarnya. Tentu saja dirinya tidak ingin ada satu orang yang melihat ke mana dia berada.


Ares merasa lega karena semua orang sepertinya sudah tertidur. Tangannya mencoba meraih kenop pintu namun tiba-tiba,


"Kau sedang apa Kak?" Tanya Athena yang baru saja keluar dari kamar Aphrodite yang tepat berada di sebelah kamar Ares, memergoki Ares yang hendak membuka pintu kamarnya.


Ares langsung mematung dengan kebingungan karena dirinya tertangkap basah oleh adiknya.


Mendengar kembarannya bertanya seperti itu, Aphrodite pun ikut muncul dengan juga keluar dari kamarnya.


"Kak Es mau ke kamar? Tapi di dalam ada Kak Tania." Seru Aphrodite yang hanya melongok ke luar dengan setengah tubuh masih berada di dalam kamarnya.


"Ah aku lupa." Jawab Ares dengan senyuman yang tampak bodoh. "Kalian berdua belum tidur? Apa kalian bermain game lagi?"


"Ya, tentu saja." Jawab Athena. "Tapi apa kau benar lupa? Bukan karena kau memang ingin melihat Kak Tania, kan?"


"Kau ini bicara apa? Untuk apa aku melihatnya?" Ares menunjukkan raut wajahnya yang kesal sambil berjalan melewati kedua adiknya untuk kembali ke dalam kamar tamu di mana dirinya berada tadi.


"Aku yakin kalau dia tidak benar-benar lupa." Ujar Athena pada Aphrodite.


"Ya, kau benar, Thena." Timpal Aphrodite yang setuju dengan ucapan kembarannya.

__ADS_1


Ares masuk ke dalam kamar dan langsung menggeram kesal. Kenapa di saat dia hampir masuk, Athena harus keluar kamar? Itu membuatnya amat sangat kesal saat ini.


"Apa mereka berdua memang sengaja melakukannya?" Tanya Ares heran pada kedua adiknya.


Ares terdiam sejenak, dirinya jadi berpikir kalau memang seharusnya dia tidak melakukan hal seperti yang ingin dilakukannya barusannya. Pemuda itu juga merasa ingin menyangkal mengenai perasaannya pada Tania.


"Sepertinya aku salah. Dia bukan tipeku, tidak mungkin aku menyukainya." Ucap Ares. "Sebaiknya aku mencoba tidur saja." Setelahnya Ares berjalan menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya.


Dengan pikiran bercampur aduk, Ares akhirnya merasa lelah hingga tertidur, sampai pemuda itu bermimpi sesuatu hal.


Di dalam mimpinya, Ares mencium Tania seperti yang dirinya lakukan saat di ruang OSIS. Itu membuatnya menjadi bangun dengan tersentak kaget.


"Ke—kenapa aku sampai bermimpi seperti itu?" Gumam Ares heran dengan langsung beranjak duduk.


Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan hampir pukul setengah lima pagi.


"Aku harus mengambil seragam sekolahku."


Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa berpikir lagi Ares beranjak turun dari tempat tidur dan langsung bergegas keluar dari kamar tersebut.


Dibukanya pintu kamarnya, di mana Tania sedang tidur di dalam. Tidak ada yang menghentikan langkahnya seperti sebelumnya.


Saat berada di dalam, Ares tidak ingin melihat ke arah Tania yang masih terlelap, dan segera membuka lemari pakaiannya. Diambilnya sepasang seragam sekolah miliknya dan langsung berbalik.


Langkahnya saat menuju pintu untuk keluar melambat. Dari sudut matanya, dia melirik ke arah Tania yang tertidur pulas dan membuatnya teringat mengenai mimpinya tadi.


Tanpa dia bisa kontrol, langkahnya terhenti dan pemuda itu menoleh pada Tania. Dengan langkah ragu, selanjutnya Ares berjalan mendekati pinggir tempat tidur dan duduk di sisinya.


"Apa kalau tidur, dia seperti ini? Dia sama sekali tidak mudah terganggu." Gumam Ares heran melihat Tania yang tidak bergerak sedikitpun atau pun merasa terganggu.


Di lihatnya bibir Tania hingga tanpa sadar Ares menelan salivanya, lalu dengan perlahan di dekatkannya bibirnya mengarah ke bibir gadis yang masih terlelap.


Pemuda tersebut mencium Tania, hingga suara alarm yang berasal dari ponsel gadis itu membuatnya tersentak kaget.


Bersamaan dengan Tania yang juga terbangun dari tidurnya, Ares melepaskan ciumannya dan secepat kilat berlari ke arah pintu untuk segera keluar.


Ares berhasil kabur sebelum kesadaran Tania sepenuhnya pulih dari tidurnya. Pemuda itu menutup pintu kamar dan setelahnya menghela napas lega. Sambil tersenyum, dia memegang bibirnya yang baru saja berhasil melakukan apa yang ingin dirinya lakukan sejak semalam.

__ADS_1


"Kau sedang apa, Es?"


Suara ibunya membuat Ares terkejut dan langsung berbalik memunggungi pintu kamar.


"Aku hanya mengambil seragamku." Jawab Ares pada ibunya yang berjalan dari arah tangga ke arahnya dengan membawa sepasang seragam juga.


Setelah menjawab begitu, Ares langsung bergegas berjalan ke kamar tamu untuk menghindari ibunya lebih lanjut.


"Untung saja alarm itu berbunyi juga, kalau tidak mama pasti akan masuk untuk membawa seragam untuknya." Ujar Ares saat masuk ke dalam kamar dan berdiri di balik pintu. "Semoga saja si kacamata tidak melihatku tadi."


Ucapannya itu mengingatkannya pada apa yang dirinya lakukan pada Tania, dan membuatnya menjadi tersenyum bahagia.


Tasya masuk ke dalam kamar di mana Tania sudah terbangun. Di lihatnya gadis itu tampak kebingungan dengan memegang bibirnya.


"Nyonya." Panggil Tania menoleh pada kehadiran Tasya.


Segera Tania beranjak turun dari tempat tidur untuk mematikan alarm yang masih saja berbunyi.


"Kau sudah bangun? Kau tertidur semalam karena itu kau menginap di sini." Ujar Tasya berjalan mendekati arah Tania berdiri. "Semalam aku mengganti pakaianmu dan mencucinya. Ini seragammu, kau bisa memakainya untuk ke sekolah."


Mendengar perkataan Tasya, membuat Tania menjadi malu karena wanita itu repot-repot melakukan semua itu untuknya.


"Maafkan aku, Nyonya. Aku jadi merepotkanmu." Ucap Tania dengan menunjukkan wajah penyesalan.


"Tidak masalah. Hanya saja, tampaknya kau benar-benar sangat lelah hingga tidak sedikitpun kau terganggu saat aku mengganti pakaianmu." Seru Tasya yang berdiri berhadapan dengan Tania. "Apa saat tidur kau seperti itu?"


"Benar nyonya, saat tidur aku benar-benar tidak mudah terganggu dengan apapun kecuali suara alarm ponselku yang sudah merasuk ke alam bawah sadarku." Jawab Tania semakin merasa tidak enak pada wanita yann ada di hadapannya.


"Jadi begitu. Itu akan berbahaya sekali kalau seseorang berbuat yang macam-macam saat kau tidur." Ujar Tasya. "Ya sudah, bersiaplah dulu dan sarapan, Ares juga sedang bersiap saat ini, kalian bisa pergi bersama ke sekolah."


"Nyonya, apa yang barusan itu juga nyonya?" Tanya Tania. "Aku melihat seseorang keluar dari sini saat aku terbangun tadi. Apa itu anda?"


Tasya mengerti siapa yang dimaksudkan Tania tersebut. Tentu saja orang itu adalah Ares.


"Sebenarnya tadi itu..." Tasya menghentikan perkataannya karena memikirkan sesuatu. "Memang ada apa? Apa sesuatu terjadi?"


"Aku merasa ada yang aneh." Tanpa sadar Tania berkata sambil meraba bibirnya yang menunjukkan kalau sesuatu yang aneh itu adalah hal tersebut. "Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa kalau memang yang tadi itu juga nyonya."

__ADS_1


Melihatnya, Tasya mengerti apa yang terjadi pada Tania tadi namun dia tidak berkata apapun pada gadis tersebut.


...@cacing_al.aska...


__ADS_2