
Ares menghentikan motornya saat sampai di parkiran bandara. Pemuda itu bergegas turun dari sana. Namun dia mengingat perkataan Kayden kalau Tania pergi bersama dengan Tyaga.
Diambilnya ponselnya karena berniat untuk menghubungi Tyaga. Dia berharap kalau pemuda itu akan menerima telepon darinya.
"Semoga saja dia mengangkatnya." Ucap Ares sambil berjalan cepat menuju arah bandara di mana tujuannya adalah terminal domestik.
"Halo," ucap Ares saat Tyaga menjawab telepon darinya. "Beritahu aku, kalian ada di mana? Apa dia sudah berangkat?"
Namun tidak ada jawaban dari Tyaga.
"Kau mendengarku kan?" Tanya Ares masih mencoba agar Tyaga menjawab pertanyaannya.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara Tania.
Pemuda itu mendengarkan percakapan antara Tyaga dan Tania. Di mana Tyaga meminta agar Tania mau mengubah keputusannya, namun gadis itu menolaknya dengan keras.
Cukup lama langkahnya terhenti untuk mendengarkan perbincangan tersebut dari telepon yang tersambung pada ponsel Tyaga.
Tania terdengar tidak mengindahkan permintaan Tyaga padanya, bahkan gadis itu mengusirnya karena merasa kesal Tyaga terus menerus menanyakan hal yang sama padanya.
"Kau mendengarnya, kan?" Kali ini terdengar suara Tyaga di ujung telepon. "Dia sudah sangat yakin kalau ingin meninggalkan kota ini dengan kembali tinggal bersama keluarganya. Tidak akan ada yang bisa mengubah keputusannya. Itu yang dikatakannya."
"Tidak, dia akan mengubahnya kalau aku yang memintanya." Jawab Ares dengan penuh keyakinan.
"Silakan saja kau coba menghentikannya juga." Ujar Tyaga dengan menyunggingkan bibirnya setelah itu menutup teleponnya.
"Sialan! Dia meremehkan aku!!" Geram Ares.
Dicobanya berkali-kali menelepon Tania, namun gadis itu tidak menjawabnya juga. Meski begitu dia tetap tidak menyerah, sambil bergegas memasuki bandara, Ares tetap menelepon Tania.
Hingga terdengar suara pemberitahuan mengenai penerbangan yang akan dinaiki Tania, untuk melakukan check-in.
Ares mencari keberadaan Tania, matanya mengelilingi setiap sudut bandara hingga akhirnya menangkap sosok yang dicarinya.
Tania sedang berjalan menuju konter untuk check-in, secepatnya Ares mengejar gadis itu dan langsung menyambar semua berkas yang ada di tangan gadis itu.
Hal itu membuat Tania sangat terkejut dengan yang dilakukannya.
"Kenapa kau tidak mau mendengarkan perkataanku?" Seru Ares.
__ADS_1
Tania mencoba kembali mengambil tiket pesawat yang direbut Ares, namun pemuda itu menarik tangannya lebih tinggi sehingga dia tidak dapat menjangkaunya.
"Berikan padaku!!" Ucap Tania dengan datar melihat kesal pada Ares.
Bukannya memberikan Ares malah memasukkan ke dalam jaket yang dikenakannya dan langsung merebut kedua koper yang di bawa gadis itu juga. Berjalan menjauh dari konter karena tidak ingin membuat penumpang yang mengantri menjadi terganggu dengan mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Tania dengan sangat kesal, mau tidak mau mengikuti Ares. "Aku harus segera masuk!"
"Kenapa kau tidak memberi tahuku kalau kau ingin pergi?" Tanya Ares memasang wajah kesal. "Padahal tadi aku menemuimu di rumah sakit. Kenapa kau merahasiakannya dariku?"
"Tidak ada alasan khusus, aku hanya merasa tidak ingin memberitahumu. Kita tidak sedekat itu hingga aku harus memberitahumu, kan?" Jawab Tania dengan nada dingin. "Sekarang berikan tiketnya padaku!"
Ares mendengus mendengar jawaban Tania tersebut.
"Kenapa kau ingin pindah? Apa alasannya? Bukankah sebentar lagi ujian kelulusan? Kenapa kau ingin pindah?" Tanya Ares lagi.
"Memangnya ada apa dengan itu? Aku rasa apapun alasannya aku pindah, itu tidak ada kaitannya denganmu."
"Benarkah seperti itu?" Tatap Ares penuh selidik.
Tania mengangguk menjawabnya.
Tania terdiam, dia berpikir perkataan seperti apa yang dimaksudkan pemuda itu. Dan apa hubungannya dengan dirinya?
"Aku bilang kalau aku akan serius belajar dan akan lulus sekolah. Aku juga sering bilang padamu kalau aku pasti akan lulus bersama denganmu." Ujar Ares, dengan wajah kesalnya. "Ternyata mau tidak mendengarnya."
"Sudahlah, semua tidak penting lagi—"
"Bukankah kau juga ingin kita lulus sekolah bersama?" Sambar Ares. "Kau menulisnya di hadiah yang kau berikan padaku."
"Ya, aku memang menulisnya, tapi sudah aku bilang kalau itu sudah tidak penting lagi. Aku hanya ingin pergi dan kembali tinggal bersama dengan ibuku." Ujar Tania mengalihkan tatapannya dari Ares.
"Tidak, kau tidak boleh pergi. Kau sudah berjanji untuk membantuku hingga aku lulus. Aku sudah menandatangani surat perjanjian itu, bahkan aku juga akan membayarmu. Lalu di mana tanggungjawabmu? Apa kau mau pergi begitu saja?" Seru Ares. "Kau bilang kepergianmu tidak ada kaitannya denganku? Kau salah, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja dan lari dari tanggungjawabmu."
Tania tidak menduga kalau Ares akan menjadikan kedua hal itu menjadi alasan untuk membuatnya tidak pergi.
"Kau juga masih mempunyai hutang karena kalah bertaruh dariku waktu itu." Lanjut Ares. "Aku ingin kau menuruti perintahku dengan tidak pergi. Kau harus tetap di sini dan bersama denganku agar kita berdua bisa lulus bersama."
Dugaan Tania benar, gadis itu pun sudah menduganya kalau Ares juga akan menggunakan hal itu untuk mencegahnya tidak pergi.
__ADS_1
Tania menghela napasnya dengan sangat kesal. Gadis itu menjadi bingung harus mengatakan apa pada Ares.
Meski hal yang terjadi sebenarnya, di dalam lubuk hatinya, Tania merasa senang karena Ares datang dan mengatakan semua itu padanya. Bahkan dia merasa lega saat melihat Ares datang hanya untuk mencegahnya pergi.
"Kau mendengarku kan?"
"Apa kau ingat yang tertulis di surat perjanjian itu?" Tatap Tania sangat dingin. "Aku akan membunuhmu kalau aku rasa kau tidak akan mampu lulus sekolah nanti."
"Ya, aku tidak masalah dengan hal itu. Kau bisa melakukannya, bahkan kalau perlu aku akan membunuh diriku sendiri." Jawab Ares menyunggingkan senyumnya karena mendengar perkataan Tania.
"Kau juga harus terus belajar, jangan pernah bermain-main lagi. Aku tidak akan mengampunimu kalau kau sampai melanggar peraturan sekolah lagi. Jangan melakukan sesuatu hal yang melanggar peraturan, apapun alasannya." Ujar Tania.
"Kau tenang saja, aku akan melakukan semua hal yang kau bilang agar aku bisa lulus." Ucap Ares menahan senyumnya karena semakin senang mendengar perkataan Tania.
Setelah mendengar perkataan Ares, Tania langsung berjalan pergi meninggalkan Ares. Pemuda itu mengikuti langkah Tania dengan membawakan koper-koper milik gadis itu.
"Tunggu dulu!!" Seru Ares berusaha mengejar Tania.
Tania berbalik pada Ares dan melihat kembali koper-koper miliknya.
"Tunggulah aku di luar, dan tinggalkan semua itu di sana." Seru Tania pada Ares.
"Apa katamu?" Tanya Ares yang merasa kalau Tania akan menipunya dengan berkata seperti itu padanya.
"Aku tidak akan lari dari tanggungjawabku, kau tidak perlu takut." Jawab Tania yang tahu pada apa yang di takutkan Ares. "Kau ke sini dengan motor kan? Kalau begitu kita tidak bisa membawa kedua koper itu."
Ares tampak berpikir sambil melihat kedua koper milik Tania. Itu benar sekali, tidak mungkin dirinya yang mengendarai motor mampu membawa kedua koper tersebut.
"Kau tenang saja, aku yang akan mengurusnya. Kau tunggu saja di luar." Ujar Tania.
"Baiklah. Tapi kau tidak boleh menipuku ya!!" Jawab Ares setelah itu berjalan pergi meninggalkan Tania, meski sesekali pemuda itu masih menoleh karena takut Tania membohonginya.
Setelah memastikan Ares keluar dari sana, Tania berjalan mendekati seseorang yang terlihat sedang duduk memunggungi arah dirinya dan Ares berbicara tadi.
"Aku tahu dengan sengaja kau menjawab teleponnya. Kau juga mengatakan kalimat-kalimat itu, kalimat yang tidak mungkin kau katakan padaku atau pun pada orang lainnya." Seru Tania. "Kau ingin dia mendengarnya dan membuatnya berusaha keras mencegah kepergianku, kan?"
Pemuda yang menjadi lawan bicara Tania bangkit berdiri dan menoleh pada Tania.
"Ya, kau benar. Kau memang sangat pintar, Mantan Ketua OSIS." Jawab Tyaga menyunggingkan senyumnya karena tidak mengira kalau dirinya yang diam-diam berada di sana diketahui oleh gadis itu.
__ADS_1
...@cacing_al.aska...