
"Tidak...ini tidak benar, aku tidak percaya tidak bisa membukanya..ini pasti ada yang salah..."
Rama bergumam pada dirinya sendiri ketika dia membuka matanya setelah mengerahkan kekuatan spiritualnya untuk membuka segel pertama dari seni penempaan tubuh perak.
Meskipun rama memiliki kemarahan dalam hatinya, namun dia dengan keras kepala tidak ingin menyerah untuk membuka segel.
Dengan terus memikirkan perasaan janggal di dalam hatinya, rama sekali lagi berencana mencoba memasuki kesadaranya kembali.
Menutup matanya, dengan fikiran rama kembali mencoba membuka segel seperti plat besi yang di lapisi petir hitam.
Srakk!!!...Srakk!!
Suara dengungan seperti besi menabrak batu terus menerus saling bertabrakan, namun itu hanya saling menabrak tampa ada sedikitpun tanda-tanda goresan dari plat besi.
Bahkan petir hitam hanya memercik seperti bunga api tampa ada gerakan yang berubah-ubah.
Setelah satu jam berlalu, rama mulai merasa tidak sabar dan wajahnya memerah karena marah.
Pada saat ini, rama tidak lagi berusaha membuka segel dan menarik kasadaranya kembali.
Merasa sedikit frustasi, rama tersenyum pahit dan tidak bisa melakukan apa-apa meski merasa kesal.
Karena tidak bisa melampiaskan perasaan kesal dalam hatinya, rama meninju lantai dengan kepalan tanganya dan membuat retakan yang akhirnya membuat lubang.
Melihat lantai yang berlubang, rama sedikit terkejut dan merasa khawatir bahwa perbuatanya ini mungkin akan merusak tempat pelatihan.
Namun tepat ketika rama merasa khawatir, dia tiba-tiba merasakan tubuhnya memiliki riak seperti petir hitam.
Semakin jelas, petir hitam menggumpal di telapak tanganya.
Hal ini sekali lagi di sadari bahwa telapak tangan ini baru saja dia pakai untuk meninju lantai sampai berlubang.
Memikirkan hal yang tiba-tiba ini, rama menyadari bahwa petir hitam muncul setelah dia melakukan sedikit pergerakan dengan meninju lantai.
Samar-samar rama bisa menebak bahwa petir hitam di telapak tanganya adalah petir yang sama dengan permukaan segel.
Untuk memastikanya, rama melihat melalui lautan kesadaranya bahwa pelat besi yang di lapisi riak petir hitam memiliki sedikit retakan peda permukaanya.
__ADS_1
Melihat retakan pada permukaanya, rama menampilkan kejutan di wajahnya.
Hal ini seketika membangkitkan semangatnya dan wajahnya yang suram menjadi cerah kembali.
Dengan seruan bahagia, akhirnya rama tidak bisa menyembunyikan perasaan lega.
"ini...akhirnya ada sedikit tanda retak!...mungkinkah??..." rama menghentikan kalimatnya ketika sebuah ide melintas di fikiranya.
"Karena ini adalah seni penempaan tubuh..maka cara biasa tidak mungkin bisa melatih tehnik ini, dan energi spiritual juga tidak akan berfungsi..."
"Jika seperti itu...apakah untuk membuka segel membutuhkan gerakan fisik atau semacam latihan untuk menghancurkan pelat besi untuk membuka segelnya?..."
"Namun..jika di fikirkan, ini memang masuk akal, karena ini adalah seni beladiri untuk melatih ketahanan fisik, maka energi spiritual tidak akan terlalu berpengaruh seperti mempelajari seni beladiri spiritual.."
"Hahaha...akhirnya aku mengerti..aku mengerti!!..sepertinya dari awal aku hanya tidak tahu cara melatih tehnik ini, dan itu bukan karena aku tidak bisa membuka segelnya..."
"Kalau begitu...apa yang akan aku lakukan untuk membuka segel ini,..bukankah ini hanya bisa di lakukan dengan cara yang agak kasar?..."
Terus menerus menganalisis hasil pemahamanya tentang seni penempaan tubuh peraknya, rama hanya bisa sedikit mendeskripsikanya tampa tahu dengan jelas apa yang benar-benar di butuhkan untuk membuka segel pertama.
Meskipun masih ada keraguan dan kebingungan, namun karena dia telah mengetahui secara jelas cara untuk menghancurkan pelat besi, rama tidak kecewa dan masih merasa lega.
Setidaknya kali ini dia telah memiliki pemahaman dan tidak akan sulit baginya untuk benar-benar menguasainya cepat atau lambat.
Dengan mata berbinar, akhirnya rama mengangguk puas dan memutuskan untuk meninggalkan pelatihanya.
Setelah beberapa saat, rama meninggalkan ruangan dan melihat saka yang masih berdiri tidak jauh dari ruang pelatihanya.
Jelas bahwa saka masih berada disana untuk menjaga rama dalam pelatihanya.
Rama segera tersenyum lembut dan menyapa saka.
"Kakak saka!!..." rama memanggil dan seketika itu juga saka berbalik tersenyum kepada rama.
"Terima kasih karena telah berjaga selama pelatihanku..lain kali jika kakak saka dalam kondisi pelatihan, maka biarkan aku yang menjaga..." kata rama.
Senyum ramah segera muncul di wajah tampan saka dan membalas.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih dengan masalah kecil ini, adapun di pelatihanku di masa depan, tentu saja akan ada saatnya kamu harus membantuku..bukankah itu adalah suatu hal yang harus di lakukan oleh sesama saudara..." ucap saka santai.
Sambil menepuk pundak rama yang kokoh, saka dengan santai menperlakukan rama seolah mereka adalah saudara yang telah lama saling mengenal satu sama lain.
Melihat sikap santai dan ramahnya, rama menggelengkan kepalanya dan tersenyum hangat.
Jelas bahwa rama sangat menyukai perasaan di perhatikan ini oleh seorang saudara.
Rama tidak lagi bicara dan mengangguk setuju sebagai gantinya.
"Baiklah..karena kamu sudah selesai dalam pelatihanmu, mari kita pergi menuju aula pemurnian senjata..."
"Bukankah sebelumnya kamu mengatakan bahwa kamu terburu-buru untuk mencari senjata yang bagus!..." kata saka.
Rama mengangguk dan membalas.
"Iya...kalau begitu mari kita pergi dan menemui penatua aji terlebih dulu, aku akan berterima kasih padanya karena sebelumnya telah membantuku..."
Saka mengangguk setuju dan mereka berdua segera meninggalkan aula di lantai dua perpustakaan menuju lantai dasar untuk menemui penatua aji terlebih dahulu sebelum pergi menuju aula pemurnian senjata.
Dua orang berjalan santai dan berbicara sepanjang jalan dengan senyum senang di wajah masing-masing.
Ketika dua orang pemuda sampai pada lantai dasar, para murid segera menatap aneh dan tampa di sadari oleh rama.
Pada saat ini, para murid yang berada di sekitar memperhatikan mereka dan jelas tatapanya mengarah kepada rama.
Tatapan semua orang seperti bertanya-tanya siapa orang asing itu yang berjalan bersama seseorang seperti saka.
Di dalam sekte langit cerah, meskipun saka di ketahui hanya memiliki kultivasi di tahap kedua di alam suci, namun identitasnya sebagai seorang jenius dan sekaligus murid langsung dari master sekte bukan lagi rahasia, membuat semua orang sangat menghormatinya.
Bahkan para jenius dari murid inti tidak akan berani menyinggung saka karena status istimewanya.
Sangat jarang bagi para murid untuk melihat saka begitu dekat dengan seseorang, terlebih lagi, saka di kenal sebagai seseorang yang acuh dan tidak terlalu banyak bersosialisasi dengan para murid.
Namun kali ini, para murid yang melihat pemandangan saka yang berjalan bersama seseorang yang tidak di kenal membuat mereka bertanya-tanya siapa seseorang yang begitu beruntung dapat berteman dengan seorang murid dari master sekte.
Bagi para murid di sekte langit cerah, nama saka sangat berpengaruh dan mengetahui tentang kejeniusanya, para murid berfikir bahwa tidak akan lama bagi saka untuk mengejar para senior dari murid inti teratas, dan mengejar gelar murid terkuat dalam sekte langit cerah.
__ADS_1