
Awan gelap perlahan di gantikan oleh malam, dan suasana hangat di dalam hutan menyelimuti tiga orang yang sedang mengelilingi api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginya angin.
" Alia...ini, untukmu.." rama tersenyum manis sambil menyerahkan daging matang yang telah dia panggang dengan hati hati.
Dahlia tersenyum dan menerima dengan senang hati.
Di samping, kamal melihat sikap perhatian rama hanya bisa menjadi cemberut, dia bergumam, dan mengeluh pada dirinya sendiri.
"hemp..bagus bocah!!..sudah berapa lama aku menemaninya, tapi dia bahkan tidak pernah bersikap semanis itu padaku!!..." kamal mendengus dan berbicara dengan suara rendah.
Di sisi lain, rama dan dahlia juga mendengar suara kecil kamal dan membuat rama dan alia memiliki ekspresi yang berbeda.
" Hehh..tidak salah?.. untuk apa bersikap manis kepada orang tua!.." rama membalas dengan dengusan dingin.
Sementara itu, dahlia merasa sedikit malu karena perkataan kamal, namun dia segera tertawa kecil karena sikap dua orang yang terlihat seperti rubah dan kucing.
Mereka selalu berdebat setiap waktu, bahkan dahlia merasa agak heran dengan sikap dua orang yang ada di depanya.
Rama melihat senyuman manis dahlia, dan dia segera menyadari bahwa perdebatanya dengan kamal terlihat konyol di mata dahlia.
"Ehehe..alia..maaf jika membuatmu terkejut, kita memang selalu seperti ini..." ucap rama dengan malu-malu kepada dahlia.
Mendengar nada malu malu rama, dahlia langsung menanggapi dengan pengertian.
"Tidak apa-apa...sepertinya hubungan kalian sangat dekat..." balas dahlia tersenyum hangat.
"Yaahh...kami memang sangat dekat..paman bahkan selalu bersamaku ketika aku masih sangat kecil..." ucap rama menjelaskan.
Kamal di samping memutar matanya dengan tatapan mengeluh.
"Dasar bocah!!..kamu tahu bahwa pamanmu telah bersamamu begitu lama..tapi sikapmu bahkan tidak memiliki rasa hormat.."
"Huhh...sudah berapa banyak penderitaanku karena mengurus bocah nakal sepertimu..." ucap kamal mendengus dingin kepada rama.
Rama seketika menjadi terdiam karena perkataan kamal, namun dia segera membalas dengan nada sedikit malu.
"hehehe...paman, kamu selalu mengeluh setiap saat, ingatlah usiamu bertambah setiap hari, sebaiknya kamu memperhatikan wajahmu yang menjadi kering dan kusam..."
"hemp..jika tidak..aku rasa paman tidak akan pernah bisa mendapatkan istri.." jawab rama mengejek.
Mendengar ejekan rama, kamal menggerak gerakan mulutnya dengan ekspresi konyol, kamal segera memelototi rama dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Bocah bau!!...beraninya kamu mengejeku..tidak kah kamu tahu bahwa ketampananku ini telah membuat semua wanita di benua timur ini tergila gila padaku.."...balas kamal dengan bahu terangkat.
"Ohh...betulkah??...kalau begitu mengapa aku tidak pernah melihat paman bersama wanita...ahahaha..aku ingat ayah dan ibu pernah bilang kalau paman sangat takut pada wanita..jadi itu alasanya paman belum menikah sampai saat ini..."
"ahahhaaha...paman seharusnya bersyukur karena aku selalu ada untuk menemani..." rama tertawa terbahak bahak mengejek kamal.
Kamal segera batuk kering mendengar perkataan mengejek rama, dia mulai memukulnya dengan ranting ranting di sekitar, meski begitu, rama masih tidak berhenti mengejeknya.
"Bagus bocah!!..kau mulai berani padaku!.." ucap kamal mulai berdiri dan akan memberi rama pelajaran.
Rama segera menghindari kamal, lalu dua orang itu terus berlarian mengelilingi api unggun seperti tikus dan kucing.
Sementara itu, dahlia hanya bisa menggelengkan kepala merasa tidak berdaya dengan sikap paman dan keponakan yang berlarian menghitarinya.
Dahlia tersenyum dan tidak berusaha menghentikan dua orang yang terus berlarian.
Sampai beberapa saat kemudian, dua orang yang berlarian merasa lelah dan duduk dengan nafas terengah engah.
Kamal bahkan memegangi pinggangnya karena merasa tulang tuanya saat ini akan bergeser.
Rama segera duduk di dekat dahlia dan masih menstabilkan nafasnya yang masih terengah engah.
Rama segera mengambil botol air dan segera meneguknya dengan tergesa gesa.
Detik berikutnya, rama melihat senyuman manis di wajah dahlia, hal itu membuat rama menjadi merasa hangat.
"Emm...alia..kamu sangat manis ketika tersenyum...bagaimana jika aku memanggilmu peri kecil saja..." ucap rama tiba-tiba.
Dahlia menjadi tertegun sejenak, dia tidak bisa tertawa atau menangis karena rama yang memberinya sebutan peri kecil.
Di masa lalu, dia adalah sosok yang dingin dan kuat yang di hormati semua orang, namun di kehidupan ini, dia justru tidak bisa mengeluh karena perkataan seorang bocah.
Dahlia hanya bisa tersenyum pahit, dia tidak mengatakan apapun meski merasa keberatan dalam hatinya.
Dia segera mengalihkan pembicaraan agar rama tidak menyebut lagi nama yang nampak seperti gadis lemah baginya.
" Rama...bukankah kamu tadi menyebut ayah dan ibumu..lalu mengapa kamu bersama paman kamal disini...apa rumahmu tidak jauh dari kekaisaran awan??..." ucap dahlia buru buru bertanya.
Rama segera terkejut dengan perkataan dahlia yang tiba-tiba, namun dia segera merendahkan wajahnya ke bawah dan luka yang baru sedikit di tutupi karena kehadiran dahlia, perlahan seperti terbuka kembali.
Dia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dahlia, sedangkan saat ini kamal yang berada di samping memiliki wajah yang masam.
__ADS_1
Kamal baru saja merasakan bahwa keponakanya telah kembali menjadi ceria beberapa saat, namun kini wajahnya kembali menjadi murung dalam waktu singkat.
Moment ketika kehilangan orang tuanya adalah luka yang tidak akan pernah bisa di sembuhkan sampai rama bisa membangkitkan kembali jiwa orang tuanya.
Kamal menghela nafas panjang dan tidak tahu harus berkata apa, meski pertanyaan dahlia menyebabkan luka di dalam hati rama terbangun, namun dia juga tidak bisa menyalahkanya.
Bagaimanapun juga, dahlia tidak mengetahui masalah yang di alami rama saat ini.
Sementara itu, dahlia merasakan suasana menjadi aneh dan melihat wajah murung rama, bahkan ketika dia melihat kamal di samping, hanya wajah ketidak berdayaan yang terlihat jelas.
Seketika dahlia merasa bahwa suasananya menjadi salah, dan itu karena pertanyaan acak yang dia lontarkan beberapa saat lalu.
Entah mengapa ketika melihat wajah rama yang murung, hatinya seperti memiliki gejolak yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Karena dahlia merasa bahwa dia telah berbuat sesuatu yang salah, dahlia segera bertindak mendekati rama dan mencoba menghiburnya.
"Emm...kakak..apa aku telah membuatmu sedih?..maafkan aku..aku tidak bermaksud begitu..aku berjanji tidak akan bertanya apapun lagi pada kakak..." ucap dahlia segera meminta maaf dan menggenggam tangan rama.
Rama terdiam, namun setelah beberapa saat, dia mengangkat wajahnya dan menatap dahlia dengan mata merah, dan air matanya perlahan mengalir begitu saja.
Dia bahkan tidak bisa memikirkan bagaimana caranya menjaga sikap ceria dan tangguhnya beberapa saat yang lalu.
Bahkan ketika menghadapi bahaya melawan binatang iblis, rama sekalipun tidak pernah menunjukan sisi ketidak berdayaan di wajahnya.
Kali ini, rama benar-benar terlihat seperti seorang anak yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Dahlia sangat terkejut karena melihat rama yang tiba-tiba matanya memerah dan menitikan air mata.
Ketika melihat rama menangis, dahlia merasakan hatinya telah di tusuk oleh sesuatu, itu terasa seperti lap hangat yang di siram air dingin.
Dengan spontan, dahlia menyeka air mata di wajah rama dan memeluknya.
Dia menepuk punggung rama dengan hangat, berharap bahwa hal ini sedikit dapat menenangkan rama.
Dahlia segera berbicara dengan suara yang dalam.
"Menangis saja..tidak apa-apa...aku bersamamu..." dahlia membisikan kata kata hangat dan lembut itu di telinga rama.
Rama yang mendengar bisikan lembut dahlia membuat hatinya tergerak, segera rama membalas pelukan dahlia dengan erat.
"Aa..aku pasti akan menjadi kuat...pasti!..pasti!..aku juga akan melindungimu dan tidak akan membiarkanmu sedih dan sendirian..aku berjanji!..." ucap rama dengan suara yang dalam.
__ADS_1