PENDEKAR ILAHI

PENDEKAR ILAHI
Kamu Monster Kecil itu...


__ADS_3

"Katakan darimana kamu mendapatkan token ini?..." tanya laki-laki paruh baya.


Penatua lan sedikit menyipitkan matanya dengan curiga, namun dia memilih diam menunggu jawaban dari mulut rama.


Sedangkan rama saat ini masih terdiam dan tidak yakin apa harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


Namun dengan keadaanya saat ini, dia benar-benar tidak punya pilihan lain selain mengatakan identitasnya.


"Emm...ini..dari kakek ku.." kata rama dengan agak ragu.


"Kakek mu!...mungkikah???..." laki-laki paruh baya berseru ketika dia mulai memikirkan bahwa apa yang telah dia fikirkan sebelumnya memang benar.


Anak muda di depanya pasti tidak lain adalah cucu angkat dari leluhur yang telah di bicarakan sebelumnya ketika pertemuan para penatua di aula utama.


"Penatua aji, apa anda mengetahui sesuatu tentang anak ini?...penatua lan bertanya agak heran dan penasaran.


Penatua aji dengan semangat menjawab.


"Penatua lan, token ini memang benar dari orang itu!.."


"Orang itu??...siapa maksud penatua aji?..." penatua lan bingung.


"Menurutmu siapa lagi pemilik token dengan intensitas seperti ini, bahkan aura intensnya lebih dalam dari master sekte!..." kata penatua aji.


"Maksudmu!...mungkinkah!...anak ini adalah...." penatua lan menghentikan kalimatnya sejenak lalu menutup mulutnya menatap rama dengan ekspresi heran.


"Benar...jadi kamu adalah cucu dari leluhur bukan?..." kata penatua aji dengan senyuman ramah kepada rama.


Rama tidak bisa berkata apa-apa dengan ekspresi kedua orang tua di depanya, namun dia juga tidak menyangkal dan tak lama mengangguk sebagai jawaban.


"Jadi kamu benar-benar monster kecil itu!..." kata penatua berseru.

__ADS_1


Wajah rama memiliki ekspresi aneh di wajahnya dan dia tidak mengerti mengapa dia mempunyai julukan seperti itu.


Sementara suasana ruang agak aneh, penatua aji tiba-tiba tertawa lalu berkata.


"Hahaha...ini adalah pertama kalinya kamu mengunjungi perpustakaan, apa ada sesuatu yang leluhur ingin kamu lakukan disini..."


"Sebenarnya murid berniat untuk mencari tehik penempaan tubuh perak atas permintaan kakek sebelumnya, jadi aku bergegas kesini dan maaf jika murid sebelumnya melakukan keributan di luar..." jawab rama dengan hormat.


"Oh...keributan??..." kata penatua aji dengan bingung.


Di samping, penatua lan segera menjelaskan apa yang telah terjadi sebelumnya, dan ekspresi penatua aji seketika menjadi jelek.


"Apa!!...murid mana yang berani membuat keributan dan menekan seseorang hanya karena kultivasi, apa dia fikir sekte ini pernah mengajari mereka menjadi berandal tak tahu malu!..." kata penatua aji dengan marah.


"Hemp...sepertinya kesombongan anak-anak ini tidak bisa terkendali karena tidak terlalu memperhatikan hal-hal semacam ini.." penatua lan mengehela nafas.


"Baiklah...beri anak itu pelajaran sebaik mungkin agar hal-hal seperti ini tak terjadi lagi...terlebih lagi aku khawatir jika leluhur tahu masalah ini, mungkin ini akan membuatnya tidak senang..." kata penatua aji dengan tegas.


Penatua lan mengangguk setuju lalu menatap rama di sebelahnya.


Rama segera membalas dengan senyuman dan memberi hormat kepada penatua lan.


"Baik paman lan...tapi aku sebenarnya merasa tidak perlu jika seseorang harus di hukum karena aku, bagaimanapun juga, ini adalah kesalah pahaman.."


"Dia marah karena tidak mengetahui identitasku dan itu normal, sedangkan aku belum berada di ranah suci seperti murid pelataran dalam pada umumnya..." sedikit rasa bersalah muncul di wajah rama meskipun sebelumnya dia agak membeci pan yang telah menyerangnya, namun dia juga bisa mengerti karena pihak lain tidak mengetahui identitasnya.


"Nak rama..kamu tidak perlu membelanya, aku tahu apa yang kamu katakan memang benar, namun memprovokasi dan bersikap sombong kepada seorang junior bukanlah sikap seseorang yang ada dalam lingkungan sekte ini.."


"Jadi hal seperti harus di tangani dengan benar agar lain kali hal seperti ini tidak terjadi lagi dan bisa menjadi contoh untuk murid lainya..." kata penatua aji dengan sikap lugas.


Jelas penatua aji sangat tidak menyukai sikap para murid yang bertingkah sombong dan menyerang seseorang tampa mengetahui identitasnya terlebih dulu.

__ADS_1


Tentu hal ini juga karena penatua aji tidak ingin membuat cucu dari leluhur terkena masalah dan menyinggung leluhur sehingga kemungkinan besar murid sebelumnya yang mencari masalah dengan rama mungkin akan mendapat masalah yang lebih besar.


Mendengar jawaban tegas dari penatua aji, rama tidak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam.


Di sebelahnya penatua lan tersenyum lalu berbicara sambil menepuk punggung rama dengan lembut.


"Usiamu baru sekitar dua belas tahun, namun tinggi badanmu bahkan tidak seperti anak berusia dua belas tahun, pantas saja leluhur ingin kamu melatih tehnik penempaan tubuh...aku rasa fisikmu pasti cukup kuat..."


Rama mengangguk setuju dan menjawab.


"Iya..itu memang seperti yang paman lan fikirkan, jadi aku membawa token ini agar aku bisa mengambil tehnik itu..." jawab rama tenang.


Kedua penatua mengangguk setuju.


"Baiklah...kalau begitu aku sendiri yang akan mengantarmu mengambilnya, gulungan tehnik itu di simpan di lantai dua dan mencapai tehnik spiritual tingkat tinggi...jadi mungkin tidak akan mudah bagimu untuk menemukanya dengan cepat..terlebih lagi, di setiap lantai perpustakaan ini, ada tekanan yang akan memberi kesulitan bagi orang biasa untuk masuk dengan santai.."


"Jadi untuk lantai kedua, mungkin akan sulit bagimu untuk berjalan dengan lancar karena kamu belum berada di alam suci..." kata penatua aji menjelaskan.


Riak keterkejutan muncul di wajah rama dan dia tidak menyangkan bahwa hanya untuk mengambil suatu tehnik, akan ada hal semacam tekanan kepada seseorang.


Sementara itu, penatua lan memperhatikan wajah terkejut rama tidak bisa menggelengkan kepala lalu menjelaskan lebih rinci.


"Tidak perlu khawatir dengan hal ini, adapun tekanan itu sebenarnya untuk melatih setiap murid agar merangasang mereka menjadi lebih kuat.."


"Bukan hanya dengan poin kontribusi namun mereka harus memiliki kekuatan yang cukup jika ingin mendapatkan sesuatu, jadi hal ini tentu saja akan memotivasi para murid untuk berlatih lebih keras.."


"Di setiap lantai akan memiliki tekanan yang berbeda dan semakin tinggi lantainya, maka semakin kuat tehnik bela diri yang di simpan disana..maka para murid juga harus meningkatkan kekuatan mereka untuk memiliki kualifikasi memiliki sesuatu yang berharga dari sekte ini..." kata penatua lan menjelaskan.


Setelah mendengar penjelasan penatua lan, akhirnya rama mengerti dan merasa takjub kepada faksi besar seperti sekte super di dalam hatinya.


"Tidak heran semua orang akan mati-matian berlatih keras untuk memasuki sekte super..ini memang sesuai dengan nama dan julukanya..." gumam rama dalam hati.

__ADS_1


"Baiklah...nak rama, ikuti aku.." kata penatua aji melambaikan tanganya dan mengangguk kepada penatua lan.


Tiga orang akhirnya keluar dari ruangan tersebut dan rama mengikuti penatua aji di belakangnya, sementara itu penatua lan justru keluar dari gedung perpustakaan untuk memberi hukuman kepada pan yang telah menyerang rama sebelumnya.


__ADS_2