
Rama tidak bisa lagi bersikap tenang dengan semua senjata berharga di depan matanya.
Rama mencoba meraih seberkas cahaya dari energi spiritual yang melindungi setiap senjata, seolah ingin menyentuhnya.
Sementara itu, saka hanya menggelengkan kepalanya dengan aksi anak kecil di depanya yang tak lagi bersikap tenang.
Saka terbatuk kering, membangunkan kesadaran rama.
"Uhukk...jangan seperti ini, jika kamu tertarik dengan beberapa dari mereka, setidaknya pilih yang terbaik.." kata saka mengingatkan.
Rama segera tersentak dan menghentikan tanganya, dan sadar kembali kepada fikiranya yang jernih.
Sedikit menggaruk kepalanya dan berbalik kepada saka dan berkata.
"Hehe..saudara saka, aku terlalu bersemangat, bagaimanapun juga aku berasal dari kota kecil di suatu kekaisaran yang tidak terkenal.."
"Jadi, aku tidak bisa mengendalikan diri sendiri ketika melihat begitu banyak artefak berharga disini.."
"Bagaimanapun..saudara saka juga tahu, betapa langkanya setiap artefak yang memiliki kekuatan magis di luar sana, bahkan jika itu ada, maka hal itu hanya akan menjadi pertarungan berdarah bagi setiap individu..."
Saka mengangguk setuju dengan perkataan rama, karena apa yang di katakan rama memang sesuai dengan kebenaran.
Saat ini, saka mengingat kembali pada satu tahun yang lalu ketika pertama kalinya gurunya membawanya ke sekte dan melihat segala hal yang tidak pernah dia lihat seperti di dunia luar.
Sikapnya pada saat itu bahkan lebih tidak terkendali dari rama saat ini, namun seiring berjalanya waktu, kini dia telah terbiasa melihat semua hal luar biasa yang sekte miliki.
Bahkan seiring meningkatnya kekuatan dan kultivasi, standarnya semakin tinggi dalam menilai sesuatu, harta atau senjata spiritual biasa tidak akan memenuhi syarat untuk memasuki matanya.
Saka tersenyum dan menjawab dengan sedikit helaan nafas ringan.
"Hemp..itu memang kebenaranya, baiklah..mari kita menuju tempat yang lebih dalam, disini memang di penuhi koleksi bagus, namun ini masih bagian terluar dan itu tidak cukup bagus untukmu.." saka menyarankan.
Rama sedikit kaget ketika dia tahu bahwa ribuan senjata disini ternyata hanya bagian terluar, namun apa yang dia lihat disini saja sudah cukup untuk membuat matanya berkedip-kedip dengan sinar cahaya.
Dia hampir menelan ludahnya karna merasakan takjub.
__ADS_1
Pada akhirnya, rama dan saka kembali berjalan ke area yang lebih dalam.
Di sepanjang jalan, semakin jauh mereka pergi, maka tingkat dan kualitas senjata spiritual yang ada disana akan semakin kuat dan tinggi.
Rama benar-benar tidak bisa menahan matanya, namun saka yang ada di sampingnya tidak mengizinkanya menghentikan langkahnya dan terus maju.
Hingga beberapa saat, saka memberitahunya bahwa area tempat mereka berdiri cocok dengan standar yang ia pilih untuk rama memilih senjata spiritual.
Rama tidak banyak berbicara dan dengan semangat berputar-putar di sekitar sembari melihat beberapa senjata spiritual.
Dia tidak terlalu banyak berfikir dan tujuanya hanya satu, yaitu pedang dengan kualitas yang sesuai dengan kekuatanya saat ini.
Di beberapa sisi, rama akan menemukan pedang di tingkat bumi kelas atas dengan berbagai ukiran yang terbuat dari emas, perak bahkan di hiasi dengan kristal magis.
Namun, setelah beberapa saat berlalu, rama menghela nafas karena tidak menemukan pedang yang cocok untuk dirinya.
Di tempat ia berada saat ini, benar-benar di penuhi oleh senjata di tingkat yang tinggi dengan kualitas yang tinggi, namun apa yang rama temukan bahwa beberapa dari senjata itu akan memiliki bentuk yang unik.
Seperti contohnya saat beberapa saat yang lalu, rama melihat pedang dengan desain unik dengan ukiran naga, sayap bangau bahkan kepala ular.
Beberapa pedang hanya kuat dan berkualitas, namun yang dia lihat hanya ada yang terlalu berat, terlalu besar, terlalu panjang, terlalu tipis, dan warna dan desain terlalu mencolok.
Rama merasakan kepalanya sakit karena setiap pedang yang dia lihat, meskipun itu cukup luar biasa, namun tidak ada satupun yang cocok untuknya.
Disisi lain, saka mengerutkan keningnya dan melihat rama dengan bingung.
Beberapa saat yang lalu, dia melihat rama begitu bersemangat dan tak terkendali.
Saka bahkan merasa lelah melihat rama yang berputar putar seperti seorang anak yang mengelilingi mainan.
Namun saat ini, apa yang dia lihat justru wajah yang kusam dan lesu, tidak lagi bersemangat saat beberapa saat yang lalu.
Dengan kebingungan, saka menghampiri rama dan bertanya.
"Ada apa?..."
__ADS_1
Rama menoleh dengan mata lesunya, dan berbicara dengan lemah.
"Semua hal ini bagus dan luar biasa, namun tidak ada yang benar-benar cocok denganku.."
Saka menunjukan ekspresi heran dan kembali bertanya.
"Seharusnya tidak akan sulit bagimu memilih, namun ini cukup aneh karena tidak ada yang cocok untukmu..lalu seperti apa senjata yang kamu inginkan.." tanya saka bingung.
Rama menghela nafas ringan dan menjawab.
"Huhh...aku terbiasa menggunakan pedang dan aku telah berlatih menggunakan pedang sejak aku berusia tujuh tahun.."
"Sederhanya, memang tidak akan sulit bagiku untuk memilih, namun karena aku terbiasa dengan pedang, maka aku sudah memahami pedang seperti apa yang cocok untuku.."
"Hal itu tidak berkaitan dengan kekuatan dan kultivasi, namun ini tentang kenyamanan dan seberapa besar energi spiritualku akan tertarik dan bersinkronisasi dengan kekuatanya.." kata rama menjelaskan.
"Bersinkronisasi??..." saka berseru kaget.
"Apa itu mungkin, sejatinya setiap orang hanya akan bersinkronisasi dengan setiap senjata spiritualnya hanya ketika seseorang melakukan kontak darah, atau sederhananya meneteskan esensi darahnya untuk tanda kepemilikan.."
Rama menggelengkan kepalanya dan menunjukan bahwa apa yang dia katakan memang kebenaran dan bukan sesuatu yang bisa dia buat-buat hanya dengan kata-kata.
"Aku tidak bisa banyak bicara dengan hal ini, namun hal ini sudah aku lakukan sejak aku kecil..bahkan pada saat itu, paman kamal sangat terkejut dengan apa yang aku katakan, jadi tidak aneh jika saudara saka tidak akan mempercayainya.."
"Paman hanya pernah bilang bahwa anergi spiritual dan kekuatan jiwaku cukup tinggi, jadi persepsiku cukup tajam, dan ini mungkin yang membuat aku bisa merasakan kecocokan dengan benda-benda spiritual tampa harus melakukan kontak darah terlebih dahulu.."
Saka yang mendengar penjelasan rama menatapnya dengan linglung, jelas dia merasa hal ini sangat aneh karena untuk pertama kalinya dia mendengar hal semacam ini akan terjadi pada seseorang.
Namun, berdasarkan apa yang rama katakan, bahkan penatua kamal tidak menyangkal apa yang terjadi dengan rama, dan hal ini sedikit mengurangi keraguanya.
Mereka berdua akhirnya terdiam seoalah sama-sama sedang berfikir akan sesuatu, namun pada saat ini, ada suara-suara dari para murid yang ada di aula ini tiba-tiba membangunkan mereka berdua dari fikiranya.
Hal ini di sebabkan oleh seorang pemuda yang tiba-tiba datang dari area yang lebih dalam.
Pemuda itu menggunakan pakaian berwarna merah dan dengan hiasan besi berukiran naga di setiap sisi.
__ADS_1
Dia berjalan dengan santai dan bebas, tanganya di silangkan di belakang kepalanya.