
Selangkah demi langkah punggung kamal semakin menjauh dari pandangan pak tua zam.
Di dalam hati pak tua zam, dia sangat menghormati kamal, dia jelas tahu bahwa kekuatan yang di miliki oleh kamal tidak dapat di ukur oleh orang biasa.
Sikap tenang dan ramahnya adalah point penting mengapa pak tua zam mengagumi kamal.
Selama ini, pak tua zam sudah banyak melihat orang-orang yang memiliki kekuatan cukup tinggi, dan tidak sedikit orang akan dengan sengaja mendekatinya agar dapat membentuk hubungan baik dengan paviliun bulan.
Namun pak tua zam tidak pernah sekalipun perduli atau memperhatikan orang lain, hal itu tidak lebih karena kebanyakan orang-orang hanya akan memperlakukanya sebagai batu loncatan untuk terhubung dengan orang-orang atas paviliun bulan.
Namun kamal berbeda dari orang-orang yang telah ia temui sebelumnya, kamal hanya datang untuk melakukan bisnis, dan itu murni tampa mengharapkan hal lebih.
Meski kekuatan pak tua zam tidak tinggi, namun dia memiliki kekuatan dari paviliun bulan di punggungnya, dan dia bahkan tidak akan takut jika berhubungan dengan orang-orang yang berada di bawah kekaisaran maupun sekte kelas menengah dan kelas atas.
Kepercayaan diri pak tua zam bukanlah sesuatu yang bisa di banggakan secara sepihak, bagaimanapun, kekuatan paviliun bulan bisa di bandingkan dengan sekte besar kelas atas yang tersebar di benua timur.
Melihat punggung kamal yang berangsur-angsur menjauh, pak tua zam menghela nafas dan segera berbalik pergi memasuki paviliun.
Sementara itu, kamal dan rama masih berjalan dengan tenang dan mengabaikan tatapan aneh semua orang.
Di sisinya, ada anak kecil yang mengikuti dengan wajah berseri seri, bahkan dia terlihat bernyanyi dengan riang tampa perduli dengan tatapan semua orang.
Kamal menatap rama dengan ekspresi tidak berdaya, kamal jelas tahu bahwa keponakan kecilnya saat ini sedang tergila-gila dengan buah roh emas yang telah dia dapatkan dari pelelangan.
Beberapa saat kemudian, ada sebuah pedang yang melesat ke arah wajah rama yang membuat kamal menjadi terkejut.
Wushhh....
Pedang panjang melesat dengan cepat, dan kamal segera memutar tubuhnya dan mengambil pedang dengan satu tanganya.
Wajah rama seketika memucat karena serangan tiba-tiba yang datang.
Semua orang yang berada di sekitar menjadi terkejut karena serangan mendadak yang di arahkan kepada anak kecil di sebelah kamal.
Kamal lalu membalik tubuhnya menatap dingin kepada semua orang.
"lancang!!....siapa yang berani menyerang keponakanku!..." kamal berteriak menatap semua orang dengan marah.
Semua orang pecah menjadi keributan, dan tampa sadar menoleh ke arah sekelompok orang berjumlah empat orang yang berdiri dengan senyuman mengejek di wajahnya.
"hehehe...itu adalah kesalahanya karna telah mencuri barang milik anak ku..." ucap tifraz memandang kamal dan tersenyum menghina.
Semua orang seketika tertarik kepada tifraz dan kamal, dan sudah bisa di tebak bahwa akan ada perkelahian yang bisa di jadikan bahan tontonan yang menarik.
__ADS_1
Di suatu sudut...gadis bercadar dan dua pemuda di sisinya memandang perkelahian yang akan terjadi antara dua orang di tengah-tengah area.
Wanita bercadar itu tersenyum dengan aneh, dia seolah menantikan pertarungan ini akan terjadi.
"hemm...menarik..sepertinya akan ada pertunjukan yang bagus!..." ucap wanita bercadar tersenyum aneh.
Dua pemuda di sisinya tidak bisa tidak meliriknya dengan aneh.
"guru..apa anda tahu hal ini akan terjadi?..." tanya gadis muda di sisi wanita bercadar.
"em..dari auranya kedua orang itu adalah tamu kehormatan yanga berada di balik tirai.." ucap wanita bercadar dengan singkat.
Setelah mengatakan itu, kedua pemuda itu saling memandang dan segera mereka berdua mengerti, mungkin ini karena perdebatan lelang sebelumnya, fikir kedua pemuda.
Di sisi lain, tiga pemuda yang memakai seragam tidak jauh dari lokasi kamal berada, dan mereka segera menjauh ke samping untuk menonton pertunjukan.
"akan ada pertunjukan bagus!..." ucap fraz dengan wajah penuh minat.
Saria dan gan hanya menyaksikan dan tidak terlalu perduli.
Bagi mereka hal seperti ini sering terjadi, dan tidak jarang seorang pendekar akan saling memprovokasi hanya untuk pamer kekuatan.
Di pintu masuk paviliun, pak tua zam baru akan masuk, namun segera dia berbalik dan menemukan bahwa keributan terjadi ke arah kamal.
Bagaimanapun kamal adalah tamu kehormatan yang sangat dia hargai, akan sangat memalukan jika terjadi hal yang tidak menyenangkan terjadi pada kamal di area paviliunya sendiri.
Di tengah-tengah area paviliun, semua orang dengan sengaja membuat jarak dan membuat wilayah seperti lapangan hanya untuk dua orang yang akan bertarung.
"mencuri??...apa maksudmu?.." tanya kamal dengan dingin.
"maksudku?...tanyakan kepada bocah nakal itu!..." balas tifraz tersenyum jahat.
"paman...itu adalah orang-orang yang ingin menangkapku sebelumnya"
"orang-orang itu sangat bodoh!...aku kan sudah membeli barang itu, jadi tentu saja barang itu menjadi miliku!...mengapa tiba-tiba aku menjadi pencuri?.." rama dengan polos menjelaskan kondisinya kepada kamal.
"hei orang tua botak yang bodoh!..beraninya kamu memanggil anak kecil tampan sepertiku menjadi pencuri!...apa aku perlu memberimu sengatan listrik lagi!..." ucap rama sambil mengangkat bahunya tampa rasa takut.
Mendengar ucapan rama, semua orang menatapnya dengan ekspresi bodoh, dan beberapa orang bahkan tidak bisa menahan tawanya menatap perdebatan itu yang berubah menjadi konyol.
Wajah tifraz, tirta dan dua pengawalnya menjadi hijau karna malu karna ucapan rama yang memanggil mereka bodoh di hadapan semua orang.
"bocah nakal!!...beraninya kamu memanggilku bodoh!.." tifraz berteriak dengan dingin menatap rama.
__ADS_1
Di sudut, fraz sudah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos rama, bahkan gan dan saria tidak bisa menahan senyum di wajahnya.
"hahaha...anak itu sangat berani dan lucu.." fraz tertawa terbahak bahak dan memegang perutnya karna menahan lucu.
"hemm bocah konyol yang tidak kenal takut..apa dia tahu kondisinya saat ini semakin memprovikasi pihak lawan.." ucap gan menggelengkan kepalanya.
Bahkan saria mengangguk dengan setuju, namun dia tidak bisa tidak mengagumi anak kecil yang tidak kenal takut itu.
"kamu mengatakan keponakanku yang lugu ini pencuri!!..apa otak kalian rusak??...
Setelah kamal mengatakan itu, semua orang menatap kamal dan kembali menjadi bodoh, sikap paman dan keponakan ternyata sama saja.
Anak pemberani itu bahkan dengan santai kamal sebut sebagi anak kecil yang lugu, beberapa orang menatap mereka menjadi lebih konyol.
"sial!!...kalian berdua serang dia!!..." ucap tifraz tidak tahan lalu memerintahkan kedua pengawalnya untuk menyerang kamal.
"baik tuan..."seru dua pengawal dan langsung menyerbu ke arah kamal.
Penghancuran petir!!
Dua telapak mendarat ke arah kamal.
Melihat dua serangan mendarat ke arahnya, ekspresi kamal tidak berubah, dan bahkan ada senyuman menghina di wajahnya.
Kamal lalu dengan lembut melambaikan tanganya, tampa mengeluarkan energi dari elemen, kamal menepis kedua serangan petir dan membuat kedua pengawal itu terbang hinga lima puluh meter dan menabrak beberapa bangunan kayu di sekritarnya.
Bang!!..bang!..bang!!..
Suara ledakan memenuhi area lapangan.
Kedua pengawal itu mengerang kesakitan, bahkan mereka merasa beberapa organ telah patah, dan tidak dapat berdiri dengan baik.
Ekspresi kedua pengawal itu menjadi syok dan ketakutan ketika melihat kamal.
Jelas mereka mengerti bahwa orang yang telah mengirim mereka terbang hanya dengan lambaian tangan bukan orang yang dapat mereka singgung.
Semua orang di seluruh area lapangan seketika membeku dan melihat kamal dengan ngeri.
Hanya dengan lambaian tangan, kamal dapat menepis serangan dari dua orang dan bahkan mengirimnya terbang ke kejauhan.
Bahkan wajah wanita bercadar menjadi terkejut melihat kekuatan kamal.
Di sisi lain, fraz, saria dan gan, merubah ekspresi santai mereka, dan kembali menatap kamal dalam-dalam.
__ADS_1