
Rumah kayu itu sangat tenang di sertai angin sepoi-sepoi, ikan hias berkumpul di kolam kecil dan gemericik air itu sangat menyenangkan mata.
Rama menabur makanan untuk ikan-ikan di kolam, sangat menyenangkan ketika melihat ikan-ikan berkumpul berebut makanan.
Di kolam itu ada pohon yang melindunginya dari terik matahari, duduk disana rama bersandar dengan damai.
Menutup matanya dan merasakan hembusan angin tenang, rama sangat menikmati masa-masa ini.
Angin meniup rambut putihnya dan menampilkan tampilan wajah dinginya yang acuh, kini pakaianya nampak seperti bangsawan dengan balutan sutra berwarna putih dan biru.
Penampilanya kini semakin memperjelas wajah tampan seorang anak yang beranjak remaja, pitur wajah dan porsi tubuh itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan tampan dan maskulinitas.
Setelah beberapa hari tinggal bersama kakek angkatnya, rama seperti memiliki keperibadian yang tenang dan tidak lagi menunjukan sikap kejam dan kesepian.
Rama di rawat sedemikian rupa dan begitu di sayangi oleh kakeknya dan meskipun sikapnya masih dingin, namun berbeda dengan beberapa orang yang sangat dia hargai.
Sudah beberapa hari ini rama selalu di sibukan oleh tumpukan buku yang kakeknya minta dia baca dan fahami untuk menambah wawasanya.
Di bawah pohon itu, meskipun wajahnya nampak tenang, namun rama mendesah dengan sedikit keluhan dan bergumam pada dirinya sendiri.
"Setelah membaca begitu banyak buku, tenggorokanku benar-benar terasa kering kali ini, tapi aku juga tidak menyangka beberapa hal baik akan banyak tertera di buku-buku tua itu.."
"Dari sekian banyak, beberapa tanaman berharga dari buku-buku medis, sepertinya ketika aku ada di dalam hutan, aku telah banyak mengabaikan beberapa hal bagus!!...
"Hemp...sayang sekali saat itu aku tidak cukup pintar untuk mengetahui hal-hal baik..." kata rama mengeluh pada dirinya sendiri.
Hal baik apa!!!...
Suara tua tiba-tiba terdengar dan lekas mendekat di samping rama tampa ada sedikitpun riak di sekitarnya.
Seolah suara dan tubuhnya benar-benar menyatu dengan lingkungan di sekitarnya.
Di sana rama membuka matanya dan melihat ke samping lalu tersenyum tipis, masih dengan wajah tenang, rama nampak telah terbiasa dan tidak terkejut ketika melihat kakeknya yang telah berada di sampingnya seperti hantu.
"Hemp...apa kakek tahu, ketika aku bepergian menjelajah di berbagai hutan, aku seringkali menemukan tanaman spiritual yang sangat bagus!..sayangnya aku benar-benar tidak beruntung karna pengetahuanku terlalu kecil pada saat itu..." kata rama menunjukan antusias dan desahanya kepada kakeknya.
Duduk di samping, leluhur itu tersenyum dan berkata.
"Itu sebabnya penting untukmu membaca lebih banyak lagi!..." kata leluhur.
__ADS_1
Rama menunjukan sikap tidak senang ketika mulutnya di kerucutkan.
Tumpukan buku telah memenuhi seluruh tempat tidurnya dan sampai saat ini, hanya sebagian kecil yang telah dia baca, namun itu saja sudah membuatnya lelah dan bosan secara bersamaan.
Dengan sengaja, rama mendekat dan tersenyum aneh pada kakeknya.
"Kakek...karna aku telah membaca begitu banyak, tidakkah aku di ijinkan untuk mencari sesuatu yang ada pada buku..." mata rama berbinar dengan tatapan penuh harap kepada kakeknya.
Leluhur mengerutkan keningnya lalu memukul kepala rama dan dengan acuh berkata.
"Huhh...hanya sedikit hal yang baru kamu ketahui dan kamu sudah ingin meminta banyak!...coba katakan padaku apa saja hal yang sudah kamu kuasai dengan tehnik bela dirimu...aku tebak kamu bahkan tidak menyentuh buku-buku yang dapat memperdalam pemahamanmu tentang pengendalian elemen..." kata leluhur menegur.
Mendengar teguran ini, rama tersenyum getir dan hanya bisa menggaruk kepalanya dengan rasa malu.
"Hehe..kakek..aku bisa meminta maaf untuk ini, tapi jujur saja aku saat ini masih tertarik tentang pengetahuan dasar lainya, dan sebenarnya, aku akan lebih tertarik dengan tehnik bela diri dengan penggunaan cahaya dan kegelapan.."
"Untuk elemenku yang lain, aku masih agak kurang dengan pengendalian elemen air, namun masih lebih buruk jika di bandingkan dengan elemen cahaya dan kegelapan, bahkan sampai saat ini aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara menggunakanya dalam pertarungan, bahkan hal-hal dasar aku hampir tidak bisa memikirkanya..." kata rama menjelaskan.
Riak segera muncul di wajah tenang leluhur ketika mendengarkan penjelasan rama.
Mengangguk pelan lalu berbicara dengan hati-hati kepada rama.
"Legenda itu!.." ucap rama berseru.
Leluhur mengangguk dan melanjutkan.
"Dia adalah sosok legenda yang lahir pada lima ribu tahun yang lalu, dan orang pertama yang berhasil mengembangkan kekuatan jiwanya sampai ketitik puncak saat itu.."
"Sebenarnya, elemen cahaya sangat berpengaruh besar dan dapat mengancam energi gelap dan iblis, sedangkan untuk kegelapan, itu juga tidak kalah menabjubkan.."
"Ketika pemahaman seseorang tentang pengendalian elemenya telah mencapai tingkat tertentu, elemen kegelapan dapat menjebak seseorang dengan ilusi dan ketakutan, bahkan tampa harus menghabiskan banyak tenaga, hanya dengan melihat, orang-orang akan gemetar tidak dapat melawan sama sekali..." kata leluhur terdengar takjub.
Di sisi lain, rama sangat takjub mendengar ini, kali ini dia benar-benar merasakan betapa luar biasanya memiliki beberapa elemen.
"Wahh...benar-benar luar biasa!!..." seru rama.
Leluhur segera melanjutkan dengan ******* pelan.
"Hemp...sayangnya, elemen cahaya dan kegelapan untuk benar-benar mengendalikanya dengan baik, maka kekuatan jiwa juga harus memiliki persyaratan yang tinggi.."
__ADS_1
"Beberapa hal baik di dunia ini, tentu saja tidak akan mudah mencapai telapak tangan seseorang tampa usaha dan kerja keras..." leluhur menggelengkan kepala tak berdaya.
Rama segera menanggapi setelah beberapa saat dia berfikir.
"Kakek...bahkan jika itu sulit, sangat tidak mungkin apa yang ada di tubuh tidak di mamfaatkan!...namun aku juga tidak akan menyerah dengan kekuatan jiwa.."
"Bukan hanya untuk pengendalian elemen, namun energi mental memang sangat menakutkan dan sangat penting untuku, bagiku menuju jalan sulit lebih baik dari pada berjalan di tempat lurus namun pencapaian tidak akan pernah mencapai langit..." kata rama dengan nada serius.
Tatapanya tajam dan penuh keyakinan, bagi rama hal sulit benar-benar harus di tempuh jika ingin mendapatkan sesuatu yang layak di sebutkan sebagai yang tinggi.
Di sampingnya, leluhur tersenyum dan wajah puas dan bangga bahkan tidak dapat di sembunyikan.
"Bagus!!...memang layak menjadi cucu dari laki-laki tua ini!...hahahaha...kalau begitu, kakek akan memberimu sedikit rencana..." kata leluhur tertawa puas lalu mengeluarkan sebuah token berwarna biru bercampur warna keemasan.
Token itu di lemparkan dan dengan cepat rama menangkapnya, dia masih bingung dan tidak mengerti mengapa kakeknya tiba-tiba memberinya sebuah token.
"iniii???..." kata rama bingung memandangi token biru emas di tanganya.
Leluhur lalu memberitahunya dengan santai.
"Pergilah menuju perpustakaan dan dapatkan tehnik dasar penempaan tubuh..disana ada sebuah tehnik penempaan tubuh perak.."
"Saat ini, tehnik itu adalah yang paling cocok dengan tingkat kultivasimu, dan jika kamu dapat melatihnya sampai ke tingkat tertentu, maka seseorang di alam suci bukan masalah untukmu..."
"Meskipun kamu sangat berkonsentrasi terhadapa kekuatan jiwa, namun pertahanan fisik benar-benar tidak bisa kamu abaikan.."
"Bagaimanapun...memiliki tujuh elemen di dalam tubuh, akan ada resiko di masa depan ketika kamu akan menerobos ke tingkat yang lebih tinggi.."
"Untuk menghindari kecelakaan di masa depan, mulailah untuk melatih ketahanan fisikmu...meskipun semua orang akan memilih salah satu dari kekuatan jiwa, kultivasi atau kekuatan tubuh, namun kamu berbeda dari orang lain, hanya dengan melatih semuanya maka kamu akan benar-benar dapat mencapai ketinggian langit.."
"Tidak ada cara bagimu untuk memilih, meskipun memiliki banyak elemen adalah keajaiban, namun tidak bisa di pungkiri hal-hal luar biasa selalu di sandingkan dengan resiko tinggi dan kesulitanya lebih tinggi dari apa yang di hadapi orang biasa..." kata leluhur dengan nada serius.
Wajah rama nampak tercengang karena penjelasan tiba-tiba kakeknya.
Awalnya, dia masih santai karena kakeknya hanya ingin dia melatih tubuh fisiknya, namun siapa yang tahu, kakeknya telah memikirkan beberapa hal kedepanya.
Dengan ekspresi bingung, rama bertanya.
"Kakek...apakah akan seselit itu?..bukankah menerobos adalah hal yang biasa bagi semua kultivator, dan aku tidak mengerti mengapa ada bahaya di masa depan...dan mengapa kesulitanku akan melebihi orang lain?.." tanya rama penasaran.
__ADS_1