PENDEKAR ILAHI

PENDEKAR ILAHI
Firasat


__ADS_3

Kamal menghela nafas rendah dan hanya bisa tersenyum pahit karena keadaan luar biasa yang dia saksikan.


"bocah!!..karna kamu sudah berhasil menerobos, maka sebaiknya kamu mengkonsolidasikan kultivasimu terlebih dahulu"


"bagaimanapun, kamu baru saja menerobos, ada baiknya kamu memperkuat fondasimu terlebih dulu".


Kamal langsung ke intinya dan memberitahu rama untuk memperkuat fondasinya.


"kultivasi??..."


Wajah rama menjadi bingung, dan dia merasa baru pertama kalinya kamal menyebutkan kata yang baru saja dia ucapkan.


Melihat ekspresi bingung rama, kamal menepuk keningnya.


Dia lupa bahwa selama ini, kamal hanya menjelaskan beberapa teori dasar dalam memperkuat fondasi, dan beberapa pengetahuan tentang tanaman spiritual dan senjata.


Selama ini, kamal hanya berfokus dalam mengajari rama cara bertarung dan mengajarinya beberapa tehnik khusus dan pengendalian elemen.


Namun dia baru ingat bahwa selama ini kamal tidak pernah memberitahunya tentang pengetahuan dasar tentang beberapa istilah peningkatan kekuatan di sebut kultivasi.


Kamal menghela nafas pelan, dan mulai menjelaskan beberapa istilah dan pribahasa yang di pergunakan dalam dunia persilatan.


"haihh...ini salahku karna melupakan hal-hal penting seperti ini..." ucap kamal dengan nada rendah.


"baiklah..paman akan memberitahumu beberapa pengetahuan yang penting untuk kamu katahui"


"sebagai seorang pendekar, hal ini memang sepele, namun ini sangat penting dalam dunia persilatan..." ucap kamal dengan datar.


Mendengar penjelasan kamal, wajah rama berubah serius dan mulai mendengarkan dengan cermat.


Kamal lalu mulai menjelaskan beberapa hal penting yang perlu untuk rama ketahui.


Setelah beberapa saat, kamal menyelesaikan kalimatnya, dan rama mengangguk mengerti setelah mencerna semua penjelasan kamal.


"baiklah..karna kamu sudah mengerti, mulailah untuk mengkonsolidasikan kultivasimu.." ucap kamal.


"baik paman!..."


Rama menjawab dengan sigap, dan segera dia duduk kembali untuk mengkonsolidasikan kultivasinya.


Rama baru saja akan berkonsentrasi dan menutup mata, namun kamal tiba-tiba menyebutkan beberapa kalimat yang membuat hatinya sedikit bergetar.


"bocah!!..karna kamu sudah berhasil menerobos, maka kita akan segera kembali ke kota bintang roh"


"ayah dan ibumu pasti sangat senang mengetahui keberhasilanmu..."


Kamal tersenyum menjelaskan rencananya untuk segera membawa rama pulang.

__ADS_1


"ayah..ibu?..." rama mengedip ngedipkan matanya, dan dia merasa bahwa beberapa hari ini dia telah melupakan ayah ibunya yang telah menunggunya di rumah.


Mengingat ayah dan ibunya, wajah serius rama berubah menjadi senyuman hangat dan merasa bersemangat.


"paman, kapan kita akan pulang??..." rama bertanya dengan nada tidak sabar.


"setelah kamu mengkonsolidasikan hasil terobosanmu, kita akan segera kembali.."


"tenang saja, kita tidak butuh waktu lama untuk sampai ke kota bintang roh"


"bagaimanapun paman sudah meninggalkan tanda spasial disana, jadi kita bisa mempersingkat waktu beberapa jam"


"mungkin di malam nanti kita sudah sampai disana..."


Kamal menjelaskan dengan tenang dengan nada pasti.


Mendengarkan kata-kata pasti kamal, rama tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Meski rama sangat senang berada di luar selama hampir satu bulan ini, dia terkadang merasa sangat merindukan ayah dan ibunya.


Dengan tatapan penuh semangat, rama mengangkat bahunya dengan percaya diri.


Dia telah telah berfikir sesampainya dia di rumah, dia akan memamerkan keberhasilan terobosanya kepada ayah dan ibunya.


Membayangkanya, rama berfikir bahwa orang tuanya pasti akan sangat bangga padanya.


Mengesampingkan bayangan indahnya, rama mengalihkan perhatianya dan mulai serius untuk bermeditasi.


...****************...


Di kejauhan, sekelompok pasukan dengan pakaian serba hitam melaju menggunakan binatang iblis terbang.


Di tengah-tengah kelompok itu, terlihat dua orang yang memimping dan menggunakan bintang iblis terbang dengan ukuran paling besar.


"berapa lama lagi kita akan sampai..." tanya sosok misterius kepada karza.


"tuan...kita sudah semakin dekat dengan tujuan, di perkirakan kita akan sampai malam ini.." jawab karza dengan hormat.


"hemm..baiklah.."


Sosok itu menjawab singkat dan kembali dengan sikap acuhnya.


Sementara itu di kota bintang roh.


Di dalam ruangan, mayangsari tampak gelisah dan mondar mandir dengan bingung.


Semenjak adegan jarinya yang tidak sengaja teriris, entah mengapa mayangsari seperti merasakan sesuatu bahwa hal besar akan terjadi.

__ADS_1


Seiring berjalanya waktu, dia berharap perasaan gelisahnya akan menghilang, namun dia tidak berfikir bahwa semakin lama waktu berlalu, kegelisahanya justru semakin membesar.


Merasa tidak tahan, mayangsari lalu memutuskan untuk meninggalkan kamarnya dan mencari razaki.


Di sisi lain, razaki sedang berada di aula besar bersama beberapa bawahanya dan sedang mendiskusikan sesuatu.


Dia masih asik berdiskusi, namun beberapa saat kemudian, kedatangan istrinya di aula membuatnya mengerutkan kening.


Razaki melihat wajah istrinya terlihat tidak biasa, jadi tampa berfikir lama, dia memutuskan untuk memerintahkan bawahanya pergi meninggalkan aula.


Perlahan-lahan mayangsari semakin dekat, dan razaki mulai melihat dengan jelas bahwa wajah istrinya terlihat suram.


"apa yang terjadi..." razaki bertanya dengan wajah serius.


"emm...suamiku..aku tidak tahu mengapa sepertinya aku merasa hal buruk akan terjadi..." jawab mayangsari suram.


Melihat ekspresi suram di wajah istrinya, razaki menggelengkan kepalanya tak berdaya.


Dia berfikir bahwa istrinya mungkin menghawatirkan putranya lagi.


"tenanglah...putra kita akan segera pulang..." ucap razaki dengan lemah.


"bukan itu masalahnya!!..."mayangsari berteriak marah.


Jelas dia sedikit kecewa dengan sikap razaki yang tidak mengindahkan perasaanya.


Razaki sedikit terkejut dengan sikap istrinya yang tiba-tiba, meski dia tahu beberapa hari ini emosi istrinya sering tidak stabil karna merindukan putranya, namun baru kali ini dia bersikap seperti ini padanya.


Meninggalkan keterkejutanya, razaki lalu merangkul tubuh istrinya dan mengelus lembut rambutnya untuk berusaha menenangkanya.


"tenanglah...baiklah, beritahu aku apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik.."razaki bertanya dengan lembut.


Mayangsari menghela nafas pelan, dan mulai menenangkan hatinya kembali.


"aku tidak tahu mengapa, namun perasaan gelisah ini semakin besar meskipun aku berusaha untuk tidak memikirkanya"


"ini tidak jelas, namun aku merasa hal buruk seolah akan mendekati kita, dan ini tidak ada hubunganya dengan putra kita"


"entah mengapa aku merasa bersyukur bahwa putra kita tidak ada disini saat ini, dan ini untuk pertama kalinya aku merasakanya, aku rasa hal bahaya ini mungkin akan terjadi pada kita dalam waktu dekat.."


Mayangsari menceritakan isi hatinya, dan razaki mendengarkan dengan baik.


Meski awalnya dia masih tidak menganggapnya serius, namun ketika istrinya menyebutkan bahwa dia merasa putranya lebih aman tidak berada di kediamanya membuat wajahnya menjadi jelek.


Setelah mendengarkan ucapan istrinya, entah mengapa dia seperti merasakan sesuatu yang membuatnya berfikir bahwa mungkin saja kegelisahan istrinya memang benar-benar terjadi.


Namun, meski dia berfikir itu mungkin, namun razaki tidak bisa membuat keputusan apapun, bagaimanapun, itu hanya sebuah firasat, dan itu belum tentu akan terjadi.

__ADS_1


Razaki mulai berfikir dan berusaha untuk mempertahankan sikap tenangnya.


Dia khawatir jika dia tidak bersikap tenang di hadapan istrinya, itu hanya akan membuatnya semakin gelisah.


__ADS_2