PENDEKAR ILAHI

PENDEKAR ILAHI
Alam Ilahi dan Petir Kesengsaraan


__ADS_3

"Kamu tidak mengerti, semakin kuat tingkat kekuatan seseorang, maka semakin besar resiko yang akan di hadapi seseorang..."


"Beberapa hal yang bisa menantang langit mana mungkin bisa begitu mudah di lalui.."...kata leluhur masih mempertahankan nada seriusnya.


Rama nampak bingung dan merasa seolah kata-kata dari kakeknya tidak dapat di fahami dengan kecerdasanya.


"Kakek...bisakah kakek memperjelas sesuatu mulai dari kata-kata sederhana dan berawal dari dasarnya...aku ini benar-benar anak yang baru berusia dua belas tahun!..." kata rama mengeluh.


Di sampingnya, ekspresi keheranan segera terbentuk di wajah tua leluhur, matanya berkedip-kedip seolah memikirkan sesuatu.


Setelah terdiam beberapa saat, leluhur tertawa terbahak-bahak dan menepuk dahinya dengan konyol menatap rama.


Apa yang membuat leluhur begitu konyol saat ini karena dia lupa bahwa cucu di sampingnya memang hanya anak-anak, namun dia juga baru teringat bahwa selama ini, dia seolah tidak pernah berbicara layaknya seorang kakek kepada cucu kecilnya.


Entah mengapa, setiap kali leluhur berbicara, pembahasan dan kata-kata mendalam sering dia ucapkan tampa menyadari bahwa usia cucunya belum cocok untuk dapat memahami terlalu banyak.


"Hahahaha....anak kecil!..salahmu sendiri karena bahkan tidak pernah berbicara sesuai dengan usiamu kepada lelaki tua ini sebelumnya.."


"Sekarang kamu tahu cara mengatakan bahwa kamu adalah anak berusia dua belas tahun, tidakkan kamu akan mengutuk dirimu sendiri karena terlalu keras pada diri sendiri..." kata leluhur sambil tertawa kecil.


Dengan wajah masam, rama hanya bisa menggerutu pada dirinya sendiri.


"Huhh!!..orang tua memang selalu aneh!..beberapa kesalahan selalu di tumpahkan pada yang lebih muda setiap kali mereka melupakan sesuatu!..." kata rama dengan suara kecil.


Plakkk!!..


Suara tangan menepuk kepala kecil rama dan membuatnya berseru sakit.


"Ahh...kakek!..kenapa tangan tuamu bahkan tidak bisa memiliki kelembutan?..." kata rama mengeluh.


"Hemp...itu bagus untukmu!...mengeluh pada kakekmu sendiri masih bagus tidak membuatmu di sambar petir!!.." leluhur menegur.


Rama memutar matanya dengan tidak senang, namun dia tidak mengucapkan apa-apa lagi karena takut kepalaya di pukuli lagi.


Leluhur mendesah lalu segera berkata.

__ADS_1


"Dengarkan baik-baik!!...aku akan memulai dengan pelan dan cobalah untuk memahaminya dengan baik!..." kata leluhur kembali serius.


Rama mengangguk tampa mengatakan apa-apa.


"Jawablah pertanyaanku dulu...coba sebutkan semua tingkatan kultivasi manusia saat ini..." tanya leluhur.


Di samping, rama segera menjawab dengan cepat.


"Pembangunan fondasi, alam emas lalu pembentukan inti emas, setelahnya ada alam suci dan di susul pengumpulan energi elemen paling murni yang di sebut inti alam suci, lalu alam ilahi dan alam abadi.." jawab rama.


Leluhur mengangguk dan kembali menjelaskan.


"Di setiap peningkatan kultivasi, akan ada kesulitan ketika menerobos menuju alam yang lebih tinggi, namun masih tidak apa-apa jika itu dari pembangunan fondasi menunju alam inti suci.."


"Ketika seseorang akan menerobos alam ilahi, maka kesulitanya akan menjadi sepuluh kali lipat!..orang yang dapat menerobos ranah ini tentu orang yang berhasil mengolah alam inti sucinya ke tingkat yang tinggi, sedemikian rupa hingga ia memenuhi syarat untuk menerobos ranah ilahi.."


"Menerobos alam ilahi, maka pergolakan alam mengikuti, setiap kali orang menerobos alam ini, maka petir kesengsaraan yang sangat mengerikan akan menghancurkan seluruh tubuh manusia, bahkan jiwa bisa saja ikut menghilang.."


"Itu sebabnya alam ilahi begitu sulit di capai, bahkan akan ada banyak orang akan memilih untuk menyerah dan berhenti di alam inti suci, karena takut menghadapi resiko kematian.." kata leluhur nampak santai ketika menjelaskan.


Di sisi lain, ekspresi keheranan terbentuk di wajah dingin rama lalu bertanya penasaran


"Kekuatan di alam ilahi sangat layak dengan resikonya, seseorang di alam ilahi dapat membuat fenomena alam yang mengerikan dan kekuatan seseoarang melonjak jauh.."


"Alam inti suci di puncaknya perbedaanya hanya satu tingkat dengan alam ilahi tingkat awal, namun perbedaanya seperti langit dan bumi...seratus orang di alam inti suci hanya kumpulan orang biasa bagi orang di alam ilahi..." ucap leluhur.


Mulut rama ternganga mendengar perbedaan antara alam ilahi dengan alam di bawahnya, dia tidak berfikir bahwa alam ilahi akan berada di tingkat yang sangat mengerikan.


Rama segera mengingat saat berada di kota batu hijau, ketika pamanya bahkan tidak repot repot melirik orang yang bersikap sinis padanya.


"Tidak heran pada saat itu paman hanya menganggap mereka seperti semut!..." kata rama takjub.


Leluhur sedikit mengangguk lalu melanjutkan penjelasanya.


"Tahukah mengapa aku memberitahumu hal ini?..."tanya leluhur.

__ADS_1


Rama menggelengkan kepalanya, itu menunjukan bahwa dia tidak tahu sama sekali maksud dari kakeknya memberi tahunya mengenai hal ini.


Dengan mengela nafas ringan, leluhur menatap rama dengan ekspresi serius.


Di tatap seperti itu oleh kakeknya, rama memiliki perasaan aneh di hatinya, hal itu seolah mengatakan, bahwa hal-hal buruk pasti terjadi.


"Hemp...kamu terlalu menghawatirkan!...tahukah kamu, bagi seseorang, mereka hanya akan fokus untuk melatih keterampilan yang ia minati, itu adalah kekuatan jiwa, tubuh dan kultivasi, masing-masing dari tiga hal ini memiliki kesulitanya sendiri.."


"Orang dengan kultivasi tinggi memang memiliki ketahanan fisik yang lebih tinggi daripada orang biasa, namun akan berbeda jika menghadapi seseorang yang melatih kekuatan tubuhnya di tingkat tertentu..sangat sulit dapat melukai seseoarang yang memiliki pertahanan fisik yang kuat!.."


"Lalu yang paling mengerikan adalah seorang yang melatih kekuatan jiwa, hampir tidak mungkin dapat di bunuh ketika telah mencapai tingkat tertentu...itu sebabnya orang-orang hanya akan memilih salah satu dari tiga hal ini.."


"Paling banyak orang akan memilih berkultivasi dan meningkatkan kekuatan tubuh, namun tentu kekuatan tubuhnya tidak akan sebanding dengan tingkat kultivasinya..."


"ketika orang akan menerobos alam ilahi, kekuatan dari petir kesengsaraan akan memiliki perbedaan pada masing-masing orang.."


"Semakin tinggi pencapaianya dalam kekuatan jiwa ataupun tubuh, maka akan semakin mengerikan pula petir kesengsaraanya..sedangkan untukmu..kamu bahkan tidak bisa memilih salah satu dari tiga hal meskipun kamu tidak mau.."


"Memiliki tujuh elemen pada satu tubuh, maka fenomena alam yang sangat menakutkan tentu tidak bisa di hindari, dengan elemen cahaya dan kegelapan, maka sangat harus bagimu melatih kekuatan jiwamu, dan untuk melawan kesengsaraan petir di masa depan, maka fisikmu harus di tingkatkan ke tingkat yang lebih jauh, hal ini tentu saja demi mengurangi bencana kematian yang bisa saja terjadi.."


"Aku tidak bisa membayangkan, ketika hari itu tiba, seberapa besar dan mengerikan petir kesengsaraan yang akan kamu hadapi...ketahuilah, memiliki elemen ganda bisa di bilang sangat luar biasa, namun jika itu tujuh elemen, maka bisa di bayangkan bahwa itu hanya akan menantang langit dan menarik kemarahan surga!..."


Kata-kata dari leluhur begitu dalam dan nadanya benar-benar membuat rama bergetar ketakutan.


Kini dia benar-benar menyadari betapa sulit dan berbahaya jalan yang harus dia tempuh untuk mencapai ketinggian.


Ketika orang hanya perlu memanjat gunung dengan satu kali usaha, namun dia justru harus memanjat dengan ribuan kali usaha.


Namun meski ini sangat sulit, rama benar-benar tidak mau menyerah dan dengan keras kepala meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan menanggung semuanya, terlepas dari resiko kematian di masa depan.


"Aku mengerti!!...tapi aku tidak akan menyerah!!...jika mati ya mati saja!..bahkan jika kamu hidup, menjadi lemah tidak akan pernah membuatmu hidup menjadi damai..." kata rama , matanya di penuhi oleh ambisi.


Riak panas dari tubunhya benar-benar memberikan perasaan tidak nyaman bagi orang lain yang melihat.


Sementara itu, leluhur tidak lagi mengatakan apapun lebih jauh karena dia berfikir bahwa apa yang telah dia jelaskan sudah cukup bagi cucunya untuk mengerti.

__ADS_1


Sekarang setelah mendengar begitu banyak, rama berusaha untuk lebih santai dan bersandar kembali di kaki pohon sembari bertanya sekali lagi pada kakeknya.


"Kakek...apa di dunia ini ada seseorang yang dapat melatih elemen cahaya dan kegelapan di tingkat yang sangat tinggi?..." tanya rama.


__ADS_2