
Ketika laki-laki berjubah putih mendarat di tanah, tekanan besar menutupi seluruh area.
Semua orang bergidik ketakutan dan bahkan rama merasakan syok karena tekanan besar yang terasa seperti gunung besar menghantamnya.
Pan berlutut di tanah dan memuntahkan seteguk darah, bahkan rama memiliki darah di sudut mulutnya yang telah ia tahan dengan menggunakan seluruh kekuatanya.
Tatapan laki-laki itu kini berfokus hanya kepada rama dan pan dan jelas hanya mereka berdua yang memiliki tekanan berat yang tidak dapat di rasakan oleh semua orang.
"Kalian berdua!..cepat katakan padaku mengapa kalian begitu lancang membuat keributan disini!.." kata laki-laki jubah putih dengan marah.
Pada saat ini, pan dan rama bersusah payah menstabilkan tubuh mereka masing-masing dan dengan hormat membungkuk kepada laki-laki jubah putih.
"Pe..penatua..murid tidak bermaksud lancang, namun murid telah menemukan seseorang yang seharusnya tidak berada di pelataran dalam.."
"Dia sangat mencurigakan dan kultivasinya bahkan tidak di alam suci, jadi murid mencoba untuk memberi tahunya dengan baik, namun dia bersikeras tetap tinggal dan tidak mendengarkan..." kata pan menjelaskan.
Di sisi lain, rama merajut alisnya karena apa yang di ucapkan oleh pan hanya berdasarkan fikiran sepihak.
Rama sangat marah dalam hati, namun dia juga tudak bisa menunjukan sikap marahnya saat ini.
Penatua itu mengerutkan keningnya lalu melirik rama dan memimdai seluruh tubuh rama dan melihat kultivasinya.
Hasilnya memang apa yang di katakan oleh pan benar, berdasarkan kultivasi rama, sangat tidak mungkin jika rama adalah murid dalam dan berhak berada di pelataran dalam, lalu penatua itu bertanya kepada rama.
"Mengapa kamu berada disini, siapa yang memberimu keberanian memasuki pelataran dalam.." kata penatua dengan acuh.
Pan sangat senang karena posisi rama saat ini lebih di rugikan, dan dia berfikir bahwa kali ini pasti rama akan mendapat hukuman berat dari penatua.
"Hemp bocah!!...kali ini aku akan melihat bagaimana kamu masih bisa bersikap sombong lagi!..." kata pan dalam hati.
Sementara itu, pan berusaha menenangkan hatinya dan menjawab penatua dengan tenang.
"Maaf atas kelancangan murid, namun murid ini memiliki alasanya sendiri untuk memasuki perpustakaan.." kata rama.
Penatua itu sedikit heran karena sikap rama yang begitu cepat tenang.
"Ohh...apa alasanmu??.." tanya penatua singkat.
__ADS_1
"Kakek ku memberikan aku perintah untuk memasuki perpustakaan.." jawab rama, namun dia juga tidak ingin memberi tahu secara spesifik tujuanya memasuki perpustakaan.
"Kakekmu??...siapa?..." penatua sedikit bingung dengan ucapan rama.
Mendengar ini, rama tidak tahu harus menjawab apa dan rama juga tidak ingin mengungkapkan identitasnya secara langsung di depan umum.
Di samping, pan menatap rama dengan ekspresi jijik, jelas pan merasa bahwa rama hanya membual dan alasanya bahkan terlalu konyol untuk kesalahanya memasuki pelataran dalam.
Setelah berfikir sejenak, rama akhirnya hanya bisa memperlihatkan token yang telah kakeknya berikan untuknya.
"Penatua...ini adalah token pemberian kakek ku...maaf karena aku hanya bisa memperlihatkan ini sebagai jawabanku..." kata rama sambil memperlihatkan token biru emas kepada penatua.
Ketika token biru emas itu di keluarkan, penatua berjubah putih itu sangat syok dan matanya tidak bisa berhenti berkedip-kedip melihat melihat token di tangan rama.
Niat intens dari token biru emas itu sangat kuat bahkan hanya dengan melihatnya, penatua itu dapat merasakan bahwa pemilik token memiliki aura yang tidak jauh lebih lemah dari aura token master sekte.
"ii..ini...token ini?..." kata penatua heran.
Pan sangat bingung dengan ekspresi wajah penatua pada saat ini.
Namun pan menjadi semakin marah dan segera menyela.
"Penatua...mungkin anak ini telah secara sembarangan mencuri pemilik token untuk memasuki pelataran dalam..." kata pan dengan wajah serius.
Kini pan hanya bisa berharap bahwa penatua mendengarkanya agar rama mendapat hukuman sesegera mungkin.
Jadi pan dengan sengaja menyudutkan rama dengan perkataanya, namun pada saat ini, apa yang dia harapkan tidak terjadi dan justru penatua memelototinya dan membuat pan merasakan kedinginan.
"Lancang!!...tutup mulut bodohmu itu, kali ini kalian telah membuat keributan besar dan harus di hukum!..dan kamu ikuti aku.. " kata penatua kepada rama.
Rama hanya bisa pasrah dan mengikuti di belakang penatua.
"Untukmu...tunggu hukumanmu setelah aku kembali!..." kata penatua menatap pan dengan dingin.
Pan memiliki ekspresi yang aneh di wajahnya, namun dia juga tidak berani untuk berbicara apa-apa kali ini.
Mengikuti berjalan bersama penatua, rama melihat arah mereka adalah perpustakaan itu sendiri dan dia menjadi semakin tenang.
__ADS_1
Setidaknya dengan berada di perpustakaan, maka itu tidak jauh dari tujuanya.
Murid-murid yang telah berkumpul sebelumnya tidak berani tinggal dan segera bubar meninggalkan area itu, karena takut jika penatua itu akan menghukum mereka.
Setelah memasuki perpustakaan, rama melihat area yang sangat luas dan aula itu seperti gedung tinggi dengan tujuh tingkat.
Di aula perpustakaan sangat rama dan area terdepan di penuhi oleh antrian para murid untuk menukar poin kontribusi.
Rama berjalan dengan lancar mengikuti penatua, namun arah yang mereka tuju bukanlah tempat antrian, namun memasuki bagian depan yang terdiri oleh seorang laki-laki paruh baya yang bertugas sebagai penanggung jawab di area tersebut.
Para murid yang mengantri memperhatikan rama dengan ekspresi aneh dan heran di wajah masing-masing, meskipun raut wajah mereka tidak senang, namun karena adanya penatua, para murid hanya bisa diam dan tidak berani berbicara.
Setelah sampai di depan, laki-laki paruh baya melihat penatua berjubah putih dan raut wajahnya tidak banyak berubah, namun ketika dia melihat rama yang berada di belakang, ada kerutan samar di wajah tuanya.
"Penatua lan...apa ada sesuatu?..." tanya petugas itu kepada penatua berjubah putih.
Penatu lan mengangguk lalu melirik rama sejenak dan kembali menatap petugas itu dengan serius.
Petugas itu sedikit terkejut dan memanggil petugas lain untuk menggantikan tugasnya untuk menerima penukaran poin kontribusi dari para murid yang mengantri.
"Penatua lan..ikuti aku..." kata petugas paruh baya dan segera memasuki area dalam.
Setelah berjalan lebih dalam, di aula tersebut terdapat sebuah ruangan kecil yang di tutupi oleh lemari dan rak yang di penuhi buku dan gulungan kuno.
"Sekarang apa penatua lan bisa memberi tahuku?.." tanya laki-laki paruh baya.
Penatua lan mengangguk dan melirik rama.
"Nak..tunjukan tokenmu.." kata penatua lan.
Rama tidak banyak berfikir dan segera mengeluarkan token biru emasnya kepada laki-laki paruh baya.
Ketika token biru emas sekali lagi di keluarkan, ekspresi lak-laki paruh baya tidak jauh berbeda dengan penatua lan sebelmunya.
Dia segera melihat rama dari ujung kaki sampai ujung kepala dan menatapnya dengan aneh.
Laki-laki paruh baya seperti memikirkan sesuatu, namun dia tidak cukup yakin untuk mengatakanya.
__ADS_1