PENDEKAR ILAHI

PENDEKAR ILAHI
Hanya Semut


__ADS_3

Sementara itu, tifraz sedikit merubah ekspresinya menatap kamal.


Meski dia tahu kamal kuat, namun itu belum mencapai dia akan takut kepada kamal.


Bagaimanapun, tifraz adalah seorang penatua di sebuah sekte kelas menengah yang cukup terkenal di seluruh ke kaisaran bulan perak.


"hem...sepertinya aku telah meremehkanmu.." ucap tifraz dengan dingin menatap kamal.


Kamal tidak menjawab celotehan tifraz dan hanya mendengus dingin dan menatapnya dengan acuh, jelas sikap kamal tidak sedikitpun memberi wajah kepada tifraz.


Kamal bahkan tidak terlalu perduli dengan tifraz, bagaimanapun, orang seperti tifraz tidak cukup untuk memasuki matanya.


"sombong!!..." tifraz meraung dengan marah.


Melihat tatapan kamal, itu terlalu menghina untuknya, kamal bahkan tidak repot-repot melihatnya dan bahkan ekspresinya masih tetap tenang seolah tidak ada yang terjadi.


Tifraz segera mengeluarkan pedang panjang kelas bumi yang telah dia dapatkan dari pelelangan, jelas dia tidak berani menganggap remeh seseorang yang bisa dengan mudah menerbangkan kedua pengawalnya hanya dengan sapuan tangan.


Tebasan petir penghancur!!...


Tifraz meraung dan menebaskan pedangnya menyerang kamal dengan energi petir dari pedang.


Boom!!...boom!!..boom!!


Ledakan demi ledakan memenuhi seluruh area, beberapa orang bahkan segera menjauh agar tidak terkena energi petir yang merusak.


Serangan petir dari pedang di kelas bumi sangat merusak, jika seorang di alam emas bahkan di alam suci terkena serangan itu, bisa di pastikan dia akan lumpuh bahkan mati mengenaskan.


"lagi!!....petir penghancuran!!..


Boom!!...boom!!


Tifraz sekali lagi menambah serangan pada ledakan, dan sudah di pastikan tidak akan mudah untuk bisa melarikan diri dari serangan petir penghancuranya.


Beberapa orang menatap ledakan petir penghancur dengan ekspresi ngeri, semua orang berfikir bahwa kamal pasti akan terluka parah karna serangan petir.


Sementara itu, di tengah -tengah ledakan, kamal telah membentuk perisai pelindung yang menutupinya dengan rama di sisinya.


"huh..semut ini...apa dia belum cukup menggelitik.." ucap kamal mengejek.


Tidak jauh dari arah ledakan, tifraz menatap pusat ledakan dengan ekspresi sombong di wajahnya.

__ADS_1


Jelas dia merasa bahwa kamal tidak akan mampu mengatasi seranganya.


Dengan menggunakan pedang tingkat bumi, dan tehnik petir penghancuran, tifraz telah menggunakan setengah dari energinya hanya agar kamal tidak bisa menghindari seranganya.


"hemm...itu akibatnya jika kalian menyinggungku..." tifraz tersenyum dengan tatapan sombong.


Namun wajahnya tiba-tiba berubah menjadi jelek ketika asap tebal perlahan-lahan menghilang, dan memperlihatkan dua orang yang masih berdiri diam dengan wajah santai, seolah-olah serangan besar yang telah menguras tenaga tifraz bukanlah apa-apa.


Ketika ledakan-demi ledakan mulai menghilang, seluruh area tempat kamal dan rama berdiri di penuhi oleh asap dari ledakan.


Perlahan dua orang terlihat dari asap tebal yang perlahan menghilang, dua orang yang di anggap akan mati atau terluka karena terkena serangan petir penghancuran justru terlihat baik-baik saja.


Bahkan tidak ada sedikitpun tanda-tanda kerusakan pada pakaianya.


Semua orang yang menonton berseru kaget..bahkan beberapa orang menatap kamal seperti melihat hantu karena tidak percaya.


Kamal tidak perduli dengan ekspresi terkejut semua orang, dan dia perlahan-lahan berjalan mendekati tifraz.


"hem...apa kamu sudah cukup menyerang??..."ucap kamal dengan santai dan terus melangkah maju menuju tifraz.


Hati tifraz terguncang ketika melihat kamal tidak sedikitpun terpengaruh oleh seranganya.


Tangan tifraz menjadi dingin, dan tubuhnya menegang dan tampa sadar dia perlahan lahan mundur menjauhi kamal yang terus berjalan mendekatinya.


"a..apa yang akan kamu lakukan.." ucap tifraz sambil bergetar menjulurkan pedangnya.


"hemm...apa yang akan aku lakukan?..." seketika kamal berhenti dan hanya menatap tifraz dengan dingin.


Dengan jarak sepuluh meter, kamal lalu mengeluarkan auranya dan menciptakan tekanan tak terlihat kepada tifraz.


Beberapa orang yang tidak jauh dari area pertarungan merasakan aura kamal menjadi bergetar, dan beberapa orang terpengaruh dan memuntahkan seteguk darah.


Seketika wajah tifraz membeku, dan dia berlutut ke tanah seperti seorang yang di tekan oleh palu raksasa.


Wajahnya memerah dan dia berusaha melawan tekanan, namun dia tidak sedikitpun bisa mengangkat satu jarinya.


Segera setelah itu, tifraz memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, jelas tubuhnya sudah tidak cukup kuat untuk menahan tekanan dari kamal.


Seluruh area lapangan menjadi hening, tidak ada satupun orang yang berani bersuara saat ini.


Kekuatan yang di tampilkan oleh kamal adalah sesuatu yang bahkan tidak bisa di bayangkan oleh semua orang yang menyaksikan pertarungan.

__ADS_1


Dari aura dan kekuatan yang di tampilkan oleh tifraz sebelumnya, orang-orang dapat merasakan bahwa tifraz berada di alam inti suci, dan tidak banyak orang yang mau menyinggung seseorang di alam inti suci bahkan di alam inti suci.


Namun kamal bahkan tidak mengelurkan seranganya secara langsung, dan bahkan mengalahkan tifraz hanya dengan aura saja, dia sudah dapat mengalahkan lawanya tampa bisa menggerakan jari.


Semua orang menghirup nafas dingin, dan menatap kamal dengan rasa takut, ngeri, dan juga hormat atas kekuatan.


Seberapa kuat kamal dan apa tingkatan kekuatanya, fikir orang-orang yang menonton.


Di sisi lain, gan, fraz dan saria masih membeku dan wajah mereka menjadi linglung.


Mereka tidak berfikir bahwa kamal akan sekuat itu, hanya dengan aura, kamal bisa menekan lawanya tampa ada perlawanan.


Sementara itu, tifraz menatap kamal dengan ekspresi ketakutan di wajahnya, jelas saat ini ada penyesalan di wajahnya.


Beberapa saat yang lalu, dia dengan sengaja memprovokasi kamal dengan cara menyerangnya terlebih dahulu.


Niat awalnya, dia ingin mempermalukan kamal di hadapan semua orang dan merampas paksa buah roh emas dari tangan kamal.


Namun kenyataan tidak sama seperti akhir yang dia inginkan, bukan saja dia tidak mendapatkan apapun, bahkan dia di permalukan di hadapan semua orang.


Dengan menyesal, tifraz menggertakan giginya dan menyembunyikan amarah dan umpatan di dalam hatinya.


Jika saja dia tahu bahwa orang yang akan dia hadapi sangat kuat, maka dia tidak akan dengan sombong memprovokasi lawanya.


"tuan...tolong ampuni aku..a..aku buta sebelumnya dan tidak bisa melihat kekuatan anda..." ucap tifraz memohon dengan sedih.


Di sisi tifraz, tubuh tirta bergetar ketakutan, tampa sadar dia telah kencing di celana karena ketakutan.


"hemm...dari kedengaranya jika aku tidak cukup kuat, maka kamu akan tetap menyerang orang lain yang lebih lemah di masa depan.." ucap kamal dengan dingin.


Seketika tubuh tifraz kembali menegang, dan di tidak berani menatap wajah kamal secara langsung.


"ti..tidak tuan..bukan itu maksudku..aku tidak akan menyerang siapapun..." tifraz terbata-bata menjelaskan dan keringat dingin membasahi punggungnya.


"hem..kali ini akan aku lepaskan..namun.." kamal segera menghentikan kalimatnya, dan hanya mengirim senyuman jahat ke arah tifraz.


Tifraz menahan air liur di tenggorokanya, dan menatap senyuman jahat kamal dengan penuh rasa takut.


Itu terlihat seperti senyuman teror yang akan membayang-bayangi tifraz seperti mimpi buruk.


Akhirnya kamal berbalik dan membawa rama pergi dari keramaian.

__ADS_1


Segera kamal dan rama berubah menjadi seberkas cahaya dan menghilang dari tatapan tertegun semua orang.


__ADS_2