
Ekspresi semua murid menjadi aneh ketika melihat pemandangan dua pemuda yang berjalan.
Beberapa dari mereka akan berbisik bisik menatap penasaran kepada rama yang berdampingan dengan saka.
Setelah beberapa saat, suara bisikan beberapa murid akhirnya terdengar di telingan rama.
Rama menoleh, memutar kepalanya dan melihat semua murid yang menatapnya dengan aneh.
Rama sangat bingung dengan ekspresi di wajah para murid yang melihat.
Jelas pada saat ini rama tidak mengerti mengapa semua murid akan menatapnya dan diam-diam membicarakanya.
Dia mulai melihat penampilanya dari ujung kaki sampai kepala, untuk memastikan apa ada sesuatu yang salah dengan pakaianya.
Namun, rama tidak melihat ataupun merasa bahwa penampilanya aneh dan pakaianya bahkan masih rapi dan bersih, meskipun sebelumnya dia sudah terlibat pertarungan dengan pan.
Rama menggaruk kepalanya dan merasa bingung dengan perhatian semua orang.
Di sampingnya, saka melihat wajah kebingungan rama dan membuatnya tersenyum lucu.
Tentu saka mengerti apa yang terjadi pada saat ini karena dia sendiri yang telah membuat rama di perhatikan oleh semua murid.
Menatapnya tampa daya, akhirnya saka berbicara padanya dengan helaan nafas ringan.
"Haihh...tidak mudah menjadi orang yang terkenal..."
Mendengar ucapan saka, rama mengerutkan keningnya lalu memandangi saka dengan aneh, lalu rama tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Kakak saka, apa maksudmu?..."
"Tentu saja apa yang sedang terjadi pada saat ini, melihat tatapan semua orang, apa kamu tidak mengerti?..." tanya saka.
"Ohh...apa ini karena kakak saka?..." rama sedikit mengangkat alisnya dan bertanya dengan sedikit keheranan.
"Em!...meskipun kultivasiku saat ini masih di bilang rendah, namun, orang-orang ini mengenaliku sebagai murid langsung dari master sekte, apa menurutmu itu tidak cukup untuk menarik perhatian semua orang?.."
"Bahkan tidak sedikit dari mereka akan bersikap sebagai penjilat di hadapanku..hemp..sungguh palsu dan merepotkan!..." kata saka dengan nada jengkel.
__ADS_1
Mendengar ucapan saka dan dari nadanya, kini rama mengerti mengapa tatapan semua orang begitu aneh ketika melihatnya.
Rama bisa menebak bahwa selama ini, saka sepertinya tidak banyak menunjukan keramahan pada semua orang, dan karena dia saat ini bisa berjalan berdampingan dengan saka, maka secara otomatis akan menarik parhatian dan rasa penasaran semua orang padanya.
Rama menganggukan kepalanya seolah dia mengerti apa yang terjadi pada saat ini.
"Hemp...ternyata seperti itu...namun, terlepas dari kakak saka sebagai murid paman, aku rasa tidak semuanya karena itu.."..kata rama sedikit menggoda.
"Ohh...lalu menurutmu?..." tanya saka sedikit bingung.
Tersenyum lucu, rama melihat semua orang di belakang yang masih menatapnya dan saka, bisa di lihat bahwa kebanyakan dari mereka adalah murid wanita.
"Lihatlah gadis-gadis itu...apa menurutmu para gadis hanya akan memikirkan tentang seorang murid dari master sekte..."
"Hemp...sepertinya kakak saka cukup tampan.." kata rama membelai dagunya, seolah seperti berfikir.
Mendengar kata-kata rama, mengernyitkan alisnya saka melihat ke belakang dan memperhatikan tatapan semua orang di belakangnya.
Setelah dia menoleh, benar saja apa yang dia lihat bahwa pada saat ini, ada gadis-gadis muda yang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.
Melihatnya, saka segera berbalik dan melihat rama yang sudah melihatnya dengan senyum konyol di wajahnya.
Sedikit helaan nafas keluar dari mulutnya dan menggelangkan kepala tak berdaya.
Namun ketika saka memikirkanya lagi, dia segera mengangkat bahu dan berbicara dengan percaya diri.
"Hemp..sekarang kamu akhirnya tahu betapa populernya kakak laki-lakimu ini, selain kuat dan bijaksana, aku bahkan tampan dan akan memuat semua murid lain iri padaku...sudah sepatutnya kamu menghormatiku..." saka menepuk punggung rama dan berbicara penuh kebanggaan.
Rama yang melihat perubahan sikap saka pada saat ini, dia tidak bisa menahan tawanya.
"Hahahah...baiklah-baiklah...kakak saka, aku sangat menghormatimu atas ketampananmu, namun...ketika beberapa tahun berlalu, aku harap kakak saka tidak kesal padaku.." kata rama masih dengan sikapnya yang santai.
"Kenapa aku harus kesal?.." tanya saka bingung.
"Hehehe...dengan wajahku ini, apa menurutmu beberapa tahun lagi, mata semua gadis ini akan tetap melihatmu?...bersyukurlah karena saat ini aku masih anak berusia dua belas tahun..." kata rama terkekeh.
Saka tertawa kering mendengar ucapan rama dan membuatnya menatap rama dengan lebih cermat.
__ADS_1
Melihat dari ujung kaki ke ujung kepala, saka menemukan bahwa anak dua belas tahun di depanya memiliki postur tubuh yang tingginya tidak terlalu jauh darinya.
Sekali lagi melihat wajah dinginya, dan rambut putih beserta ada warna keemasan samar di sisi kiri rambutnya, kini ada ekspresi terkejut di wajah saka.
Ekspresinya menjelaskan bahwa saka sebelumnya tidak terlalu memperhatikan raut wajah yang terakhir.
Saat ini, saka menemukan bahwa wajah itu tampan, namun ada temperamen yang dingin, namun apa yang membuatnya terheran karena melihat warna rambut putih dan ada sedikit warna ke emasan di sisi kirinya.
Melihatnya sekali lagi, saka tidak bisa menahan diri untuk berseru heran.
"Ini...rama...terlepas dari wajahmu ini, namun bagaimana rambutmu menjadi putih seperti ini, bahkan ada warna keemasan di sisi kiri, apa kamu mewarnainya?.."
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut saka saat ini, ekspresi rama segera membeku dan senyum di wajahnya segera menghilang lalu di gantikan oleh hawa dingin.
Mata hitam pekat itu tidak lagi melihat saka dan menundukan kepalanya.
Pada saat ini, rama tidak tahu harus dengan cara apa dia akan menjelaskan kepada saka apa yang terjadi padanya dan penyebab dari perubahan warna rambutnya.
Hal itu terkait karena luka dalam pada saat itu yang tidak akan bisa rama lupakan seumur hidupnya.
Melihat ekpsresi kesuraman di wajah rama, saka sedikit bingung dan berfikir apa dia sudah melakukan kesalahan dengan menanyakan perihal rambutnya.
Merasa bersalah di hatinya, saka segera menepuk pundak rama dan mengalihkan pembicaraan.
"Rama...kita sebaiknya segera menemui penatua aji..bukankah kamu sedang terburu-buru.." kata saka.
Merasakan tepukan tangan di pundaknya, rama segera tersadar dari bayangan gelap yang menyelimuti hati dan fikiranya.
Dengan mengepalkan tanganya, rama berusaha menstabilkan fikiranya dan menghembuskan nafas dingin.
"Maaf karena sikapku..." kata rama dengan lemah.
Melihat kesamping, saka memperhatikan rama yang masih dengan wajah suram, namun saka menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Jangan fikirkan lagi...aku tahu, semua orang memiliki rahasia tersendiri dalam hidupnya, kamu tidak perlu mengatakanya jika itu terlalu sulit, akan ada saat-saat di masa depan ketika kamu bisa memberitahuku dengan santai..." kata saka tersenyum lembut.
Mendengar ucapan saka, rama mengangguk dan tersenyum sebagai balasan.
__ADS_1