
Penatua aji melirik rama dan berbicara.
"Mulailah untuk memahami dan melatih tehnik ini disini, kamu bisa membuka gulungan ini dengan menuangkan energi spiritualmu kedalamnya..."
"Di tempat ini kamu bisa berlatih dengan tenang di tempat yang sudah di sediakan, di area tengah lantai dua ini terdapat tempat yang bisa kamu pergunakan untuk berlatih, jadi kamu tidak perlu terburu-buru untuk pergi..." kata penatua aji.
Rama mengangguk dan memberi hormat.
Setelah beberapa saat, penatua aji akhirnya meninggalkan rama sendiri untuk berlatih.
Pada saat ini, rama telah berjalan menuju area di tengah, dan dapat di lihat bahwa disana ada area luas dengan ruang-ruang kecil yang biasa para murid pakai untuk berlatih di bawah tekanan gedung perpustakaan.
Rama melihat ada beberapa ruang yang tertutup dan tentu saja sudah di isi oleh orang lain, jadi butuh waktu lama bagi rama untuk menemukan ruangan yang kosong.
Hingga beberapa menit kemudian, rama akhirnya menemukan ruangan kosong yang bisa dia pakai untuk berlatih.
Tepat ketika rama akan memasuki ruangan, suara langkah kaki dari belakang punggung rama terdengar dan membuat langkah kaki rama berhenti memasuki pintu.
Hal ini karena orang yang datang dari belakangnya tiba-tiba saja berbicara padanya.
"Adik junior...mohon berhenti sebentar..."
Seketika rama berbalik dan melihat seoarang laki-laki tampan dengan rambut hitam panjang.
Penampilanya terlihat cukup baik dengan jubah putihnya dan senyumanya yang hangat.
Pemuda itu terlihat seperti seoeang yang baru berusia tujuh belas tahun dan dari ekspresi wajahnya, rama sama sekali tidak merasakan adanya sikap permusuhan dari orang yang berjalan ke arahnya.
Pemuda itu berjalan sambil membawa sebuah buku di tangan kirinya.
Rama sedikit bingung karena di panggil oleh pemuda yang tidak dia kenali ini.
Jelas bahwa rama agak sedikit waspada karena takut kejadian sebelumnya yang terjadi padanya dengan seorang murid, membuat rama berfikir bahwa para murid pelataran dalam memiliki tempramen yang sombong dan berlebihan.
__ADS_1
Saat ini rama hanya menatap pemuda di depanya tampa ekspresi dan langsung bertanya.
"Apa ada sesuatu?...atau aku pernah menyinggung senior sebelumnya?..." tanya rama datar.
Di tanyai dengan nada seperti ini, membuat pemuda itu terdiam lalu mengerutkan alisnya, namun dia kembali tersenyum dan berkata.
"Junior..sepertinya kamu salah paham...aku hanya ingin menanyakan beberapa hal yang membuatku penasaran, dan semoga saja tebakanku tidak salah..." kata pemuda.
Mendengar ucapan pemuda itu, rama sedikit terkejut lalu buru-buru memperbaiki sikapnya dan meminta maaf.
"Oh..jadi seperti itu, aku fikir senior akan sama dengan murid yang telah menyerangku sebelumnya hanya karena kultivasiku yang masih rendah, maaf jika aku sudah menyinggung senior dengan sikapku yang tadi..." kata rama dengan sopan.
Pemuda itu mengangguk dan mengehela nafas.
"Hemp...beberapa murid memang selalu memiliki sikap seperti itu jika melihat orang yang lebih lemah, mereka memang sengaja melakukanya hanya untuk menaikan namanya saja dan menakut-nakuti murid-murid lain yang lebih lemah.." pemuda berbicara dengan ekspresi kesal di wajahnya.
Rama melihat sikap pemuda di depanya dan menilai bahwa dia bukanlah orang jahat, namun rama masih tidak terlalu banyak menunjukan ekspresi karena masih bertanya-tanya di dalam hatinya mengapa pemuda ini memanggilnya.
"Adik junior...aku melihatmu bersama dengan penatua aji sebelumnya, dan sebenarnya alasan aku tiba-tiba memanggilmu karena aku tidak sengaja melihat token yang kamu bawa..." kata si pemuda.
Rama sedikit merubah ekspresinya dan bertanya.
"Oh..senior melihatnya, apa itu berarti senior telah mengikutiku sebelumnya?..." tanya rama heran.
Pemuda itu tersenyum dan melanjutkan.
"Benar..tapi aku tidak bermaksud jahat, sebelumnya, guruku telah memberitahuku bahwa aku harus mencari seorang murid baru bernama rama, namun karena statusnya, jadi aku tidak bisa secara langsung menemuinya karena tempat dia tinggal tidak bisa di masuki oleh sembarang orang, bahkan guruku juga tidak bisa jika tidak memiliki izin..."
"Jadi aku hanya bisa menunggu ketika dia keluar...namun, ketika aku tidak sengaja melihatmu berjalan bersama penatua aji bersamamu, aku tidak sengaja melihat token biru emas di tanganmu..."
"Jadi aku fikir, kamu pasti adalah rama bukan?...guruku pernah memberi tahuku bahwa token dengan inten tertinggi adalah token biru emas yang di miliki oleh leluhur sekte...jadi aku fikir aku pasti tidak salah, bahwa kamu adalah cucu dari leluhur..."kata si pemuda.
Setelah mendengar penjelasan pemuda di depanya, rama semakin heran dan melihat pemuda di hadapanya dengan bingung.
__ADS_1
"Oh..jadi seperti itu, memang benar aku adalah rama..namun kenapa gurumu ingin senior mencariku?..." tanya rama bingung.
Pemuda itu tersenyum lalu menjawab dengan tenang.
"Santailah...kamu mengenal guruku, dia adalah master sekte..." kata pemuda dengan senyum hangat.
Ketika mendengar ucapan pemuda di depanya, akhirnya rama mengerti dan menjadi bersemangat.
"Ternyata senior adalah murid paman far..." rama berseru senang.
"Benar..guru pernah mengatakan bahwa kamu masih belum tahu banyak tentang sekte, jadi guru memberiku perintah untuk sering-sering menemanimu untuk melihat lihat...dan guru juga sudah menebak bahwa kamu pasti akan mendapat masalah jika tidak ada yang menemanimu berkeliling di dalam sekte.." kata si pemuda.
"Oh..benarkah..kalau begitu syukurlah, sepertinya aku akan merepotkan senior untuk menemaniku agar aku terhindar dari masalah..." kata rama dengan senang.
"Heii...ayolah jangan panggil aku dengan sebutan senior, itu terdengar tidak akrab sama sekali, mulai sekarang panggil aku kakak saka..." kata si pemuda bernama saka sambil menepuk pundak rama.
Sikap ramah dan akrab yang saka tunjukan pada rama membuat rama menghela nafas lega dan bersyukur karena akhinya ada seseorang yang bisa dia ajak bicara dan tentu saja ada yang bisa dia andalkan untuk menghindari masalah.
"Adik rama...kamu tenang saja, karena ada aku di sisimu, maka kamu tidak perlu khawatir jika ada yang berani bersikap kasar padamu, aku akan memberi mereka pelajaran yang setimpal agar mereka tidak berani lagi mengganggumu..." kata saka dengan serius.
Rama tersenyum namun menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Kakak saka tidak perlu khawatir, mengenai hal itu, aku mengerti hal seperti ini dimanapun akan selalu terjadi...di dunia ini dimana yang kuat akan selalu menindas yang lemah, dan saat ini aku belum cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri..." kata rama dengan lemah.
Mendengar jawaban rama, ada rasa simpati wajah saka lalu tersenyum.
"Huhh..jika anak-anak itu tahu bahwa mereka telah memprovokasi cucu dari leluhur, mereka hanya akan kencing di celana karena ketakutan.."
"Hemp namun..kamu benar, kalau begitu, ayo kita berlatih menjadi kuat!.." saka mengepalkan tinjunya ke arah rama dengan semangat.
Rama balas tersenyum dan tos dengan tinju yang saling bersentuhan dengan ekpresi semangat di antara keduanya.
Keduanya nampak sama-sama bersemangat dan merasakan kecocokan, jelas bahwa saat ini tidak butuh waktu lama bagi kedua pemuda itu untuk menjadi semakin akrab.
__ADS_1