
Di dalam ruangan, akhirnya kamal dan pak tua zam telah selesai berbincang-bincang dan kamal memutuskan untuk segera meninggalkan paviliun bulan dan kembali ke kota bintang roh.
Pak tua zam secara pribadi mengantar kamal dan rama pergi dari paviliun bulan.
Sementara itu, di luar paviliun saat ini, masih banyak orang-orang berkumpul dan tidak segera pergi.
Di antaranya, ada gadis bercadar dan dua murid di sampingnya, dan di suatu sudut area luar paviliun ada tiga pemuda dengan seragam yang masih berdiri memperhatikan keramaian.
"kakak gan...mengapa kita tidak langsung pergi?..." ucap saria menatap gan agak aneh.
"hemm...tunggu sebentar, apa kalian tidak penasaran dengan wajah orang-orang kaya itu?..." ucap gan tersenyum misterius.
Fraz dan saria saling memandang, namun mereka segera mengangguk setuju.
"emm..menurut kalian, jika kita mencuri harta salah satu dari orang-orang itu, apa kita bisa melakukanya?..." ucap fraz tiba-tiba berkata dan sedikit ragu.
Mendengar ucapan fraz..gan segera memelototi fraz, dan gan seperti kepalanya pusing karna ucapan tidak bermoral dari fraz.
"bodoh!!..." apa kamu ingin membuat nama sekte kita tercoreng dengan melakukan itu!.." ucap gan dengan marah.
Saria yang berada di sisi gan dan fraz tidak bisa berkata-kata dan menghela nafas pelan.
"kakak fraz...apa yang di katakan kakak gan benar, bahkan meski kita mampu melakukanya, hal itu hanya akan membuat nama sekte kita rusak..." sahut saria dengan lemah.
Setelah mendengar gan saria tidak setuju, fraz masih tidak bisa menerimanya, bagaimanapun dia memiliki alasana mengapa dia ingin melakukanya.
"aku tahu itu salah..tapi kalian juga harus tahu kondisi kita saat ini!.." wajah fraz memerah karna ada perasaan tidak berdaya di matanya.
Melihat ekspresi fraz, mereka berdua segera mengerti alasanya.
Hal itu berkaitan beberapa bulan yang lalu sebelum mereka diam-diam meninggalkan sekte.
Seketika gan dan saria kembali mengingat apa yang terjadi ketika mereka berada di sekte pedang surgawi.
Sekte pedang surgawi adalah salah satu sekte super di benua timur, dan mereka bertiga termasuk pemuda beruntung yang dapat memasuki sekte super itu, namun yang menjadi masalah saat ini bahwa mereka bertiga tidak benar-benar di anggap sebagai murid di sekte super itu.
Hal itu di karenakan mereka di bawa oleh seseorang yang di kenali oleh salah satu penatua di pelataran luar sekte.
Mereka dapat memasuki sekte, namun karna kekuatan mereka yang lemah, itu tidak cukup untuk memenuhi kualifikasi menjadi seorang murid di sekte super.
Peraturan untuk menjadi murid di sekte super sangatlah ketat, untuk menjadi murid luar maka seseorang minimal harus berada di alam emas puncak, dan semua orang harus melalui persaingan dan pertarungan yang sengit hanya untuk mendapat kualifikasi menjadi seorang murid luar.
__ADS_1
Namun keadaan gan, fraz dan saria berbeda dari kebanyakan orang, mereka berada di dalam situasi tidak perlu melalui persaingan yang ketat karna keadaan mereka ada dalam situasi khusus.
Satu tahun yang lalu, mereka di bawa secara khusus oleh guru mereka sebelumnya dan guru mereka meminta bantuan secara khusus pada penatua di pelataran luar sekte pedang surgawi.
Meski mereka mendapatkan memasuki sekte, namun karna kekuatan yang tidak memenuhi kualifikasi, mereka hanya bisa di sebut sebagai murid sementara, dan hanya bisa menjadi murid resmi ketika kekuatan mereka berada di alam emas puncak.
Jika dalam waktu satu tahun mereka tidak dapat mencapai alam emas puncak, maka mereka harus segera meninggalkan sekte pedang surgawi.
Karna mereka bukan murid resmi sekte, sehingga mereka tidak mendapatkan sumber daya apapun untuk meningkatkan kekuatan, sehingga tidak jarang mereka akan dengan sengaja keluar dari sekte untuk mencari sumber daya secara mandiri.
Tiga pemuda itu terlarut dalam ingatan yang membuat mereka menjadi prustasi, meski membanggakan berada di lingkaran sekte elit, namun bukanlah hal yang mudah untuk benar-benar menjadi seorang murid di sekte super.
Ketiganya menghela nafas panjang dan tidak berdaya.
Gan tampa sadar mengepalkan tanganya dengan keras dan hampir mengeluarkan darah.
"jangan khawatir..kita tidak akan menyerah begitu saja!..." ucap gan menatap tajam pada saria dan fraz.
Melihat keyakinan pada tatapan gan, saria tersenyum pahit namun dia merasa lebih baik karna keyakinan gan yang memberinya semacam semangat tak terlihat.
"benar!..kita tidak akan menyerah!.." ucap fraz tiba-tiba memecah suasana.
Segera tiga pemuda itu saling memandang dan tersenyum bahagia.
Mereka dengan sengaja tidak segera meninggalkan paviliun bulan dan menunggu di luar area paviliun.
Tifraz berencana untuk menunggu kamal dan rama keluar dari paviliun untuk memberi pelajaran kepada kamal karna telah menyinggungnya sebelumnya.
Hal ini tentu saja bukan hanya bermaksud untuk memberi pelajaran kepada kamal, namun tifraz berfikir untuk menunjukkan kekuatanya di depan semua orang.
Kesempatan ini tifraz jadikan sebagai batu loncatan agar semua orang yang berada di kota batu hijau dapat mengenalinya dengan baik.
Jelas tifraz bermaksud untuk membangun dominasinya agar semua orang takut padanya.
Setengah jam kemudian, sebagian orang telah meninggalkan area paviliun, dan hanya beberapa orang yang masih tinggal.
Di samping tifraz, tirta terus-menerus menatap ke arah pintu masuk paviliun bulan, seperti sedang menunggu seseorang.
Jelas tirta adalah orang yang benar-benar menantikan pertemuan itu untuk melihat anak kecil yang sangat ia benci dari dua hari yang lalu.
"tirta...apa anak itu belum terlihat...?..tanya tifraz dengan tenang.
__ADS_1
"belum ayah.." balas tirta dengan wajah tidak sabar.
"hemm...orang itu mengapa sampai saat ini belum keluar?..bukankah tidak lama untuk melakukan penukaran.." gumam tifraz mengerutkan keningnya.
"hehe...tuan..mungkin orang-orang itu takut kepada kita.." sahut kedua pengawal tersenyum mengejek.
Mendengar ucapan kedua pengawal, tifraz mengerutkan kening dan segera membantah kemungkinan itu.
Bagaimanapun, mereka dengan sengaja menunggu di luar untuk memberi kamal dan rama pelajaran dan bermaksud untuk mengambil buah roh emas dengan cara merampas secara paksa, dan hal itu tidak di ketahui siapapun selain dia dan kedua pengawal.
"tutup mulut kalian!..." ucap tifraz berteriak dengan marah.
Kedua pengawal itu membeku sejenak karna tiba-tiba tifraz memarahi mereka berdua dan mereka tidak berani berbicara lagi.
Beberapa saat kemudian, beberapa orang keluar dari pintu, di antaranya adalah pak tua zam dan kamal yang membawa seorang anak di sisinya.
Ketika mereka keluar, semua orang yang masih berada di area luar paviliun tampa sadar melihat kamal dan rama.
Di sisi lain seketika tirta merubah wajahnya menjadi sangat senang dan berdiri dengan semangat ketika melihat orang yang di tunggu telah datang.
"ayah...itu dia!..."ucap tirta menunjuk ke arah kamal dan rama di kejauhan.
Tifraz menoleh ke arah pintu masuk, dan dia mengerutkan keningnya, hal itu karena orang yang di tunjuk oleh tirta adalah rama dan kamal, namun yang membuat dia heran, mengapa manager paviliun ada bersama mereka, dan terlihat sangat hormat kepada kamal.
"tenanglah..kita tunggu dulu..." ucap tifraz menahan tirta yang tidak sabar untuk berlari ke arah rama.
Semua mata tertuju pada kamal dan melihatnya dengan tatapan penasaran dan aneh.
Hal itu bukan karna dia di kenali oleh semua orang, namun yang menarik perhatian adalah kamal di kawal secara pribadi oleh manager paviliun yang sangat terkenal.
Di kota batu hijau, hanya sedikit orang yang dapat berkenalan dengan manager paviliun bulan, dan manager paviliun di kenal sebagai orang yang acuh dan tidak perduli dengan orang lain.
Hal ini membuat semua orang tertarik kepada kamal, dan semua orang berfikir bahwa orang-orang yang di perlakukan secara khusus oleh manager tentu saja memiliki identitas yang tidak biasa.
Sementara itu, kamal dan rama menatap semua orang dengan bingung, kamal merasa tidak pernah melakukan apapun, namun mengapa semua orang menatapnya, fikir kamal dalam hati.
Pak tua zam melihat wajah bingung kamal hanya bisa tersenyum tipis, jelas dia tahu bahwa semua orang tertarik pada kamal karna hal itu di kaitkan denganya.
Bagaimanapun selama ini, banyak orang-orang yang memiliki kekuatan besar di belakang punggung mereka, namun pihak paviliun bulan tidak banyak manaruh perhatian pada orang-orang itu, dan sekarang dia telah bersikap ramah dan menghormati kamal yang membuat semua orang menjadi penasaran dengan identitas kamal.
"tuan...saya hanya bisa mengantar anda sampai disini saja..." ucap pak tua zam tersenyum.
__ADS_1
"terima kasih, pak tua zam tidak perlu repot-repot..." balas kamal menangkupkan kedua tanganya kepada pak tua zam.
Setelah berpamitan kepada pak tua zam, kamal dan rama segera pergi meninggalkan pak tua zam yang masih berdiri melihat punggung kamal yang telah menjauh.