
Rama memeluk kotak giok itu dengan erat, seolah itu satu satunya harta paling berharga yang dia miliki di dunia ini.
Kamal lalu melanjutkan kalimatnya.
"Rama....apa kamu ingin melihat ayah dan ibumu hidup lagi?..."
Kamal bertanya dengan suara berat dan serius, dia menatap tajam kepada rama dan ingin melihat bagaimana reaksinya.
Benar saja, ketika kamal berbicara tentang menghidupkan kembali orang tuanya, akhirnya dia menunjuka ekspresi keterkejutan.
Matanya yang merah seolah di gantikan oleh cahaya harapan.
"aa..aku ingin ayah dan ibu hidup lagi!!...paman..apa paman bisa melakukanya??..." tanya rama penuh harap.
Kamal sedikit tersenyum tipis, namun dia menggelengkan kepalanya yang membuat rama bingung.
"hemp...memang ada caranya untuk membangkitkan seseorang dengan cara membentuk tubuhnya kembali...namun keadaan jiwa ayah dan ibumu berada dalam keadaan khusus...akan sangat sulit untuk melakukanya.." kamal mendesah pelan.
Mendengar ucapan kamal, rama segera berlutut di hadapan kamal dengan mata merahnya, dia memohon dengan isakan tangis.
"paman...t..tolong bantu ayah dan ibu hidup lagi...rama berjanji akan menjadi anak yang baik, rama berjanji akan menuruti semua keinginan paman...tolong, bantu ayah dan ibu lagi..." suara rama berat dan tersendak sendak karena tangisanya.
Melihat rama berlutut memohon padanya, kamal hanya bisa tersenyum pahit.
Dia ingat dengan jelas bagaimana anak kecil di depanya selalu bertingkah ceria setiap saat, bahkan setiap harinya dia akan tertawa dan selalu membuat masalah kemanapun dia pergi.
Bahkan kamal akan selalu di buat pusing oleh tingkah nakalnya, namun ketika rama menangis sambil memohon padanya, hati kamal terasa seperti di tusuk oleh jarum.
Kepribadian seorang anak yang selalu ceria seolah telah menghilang dari wajahnya, selain rambutnya yang telah berubah putih, bahkan aura kekanak kanakanya telah menghilang dan di gantikan oleh rasa kesedihan dan kedinginan.
Mata kamal menjadi merah dan tidak dapat menahan lagi.
Selama ini, kamal hampir selalu berada di samping rama, bahkan di hari dia di lahirkan, kamal berada disana dan melihatnya tumbuh sampai hari ini.
Kamal memiliki usia yang terbilang tidak muda lagi, dan usianya sama dengan ayah rama, meski wajahnya tidak menua karena kultivasinya yang tinggi, namun sesekali dia akan merasa kesepian dan membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya, bahkan tidak jarang kamal berfikir untuk memiliki seorang anak.
Namun, sangat sulit baginya untuk benar benar tertarik dan menjalani hubungan pernikahan, hal itu karena selama hidupnya, tidak satupun ada wanita yang membuatnya benar-benar jatuh cinta.
Ketika rama di lahirkan, tampa dia sadari bahwa hari-harinya selalu di penuhi oleh tawa anak nakal yang selalu membuatnya marah dan terkadang bahagia.
__ADS_1
Kamal benar benar merasakan bagaimana memiliki seorang anak, bagaimana rasanya menjadi seorang ayah.
Tampa kamal sadari, dia beberapa kali akan melindunginya, memarahinya, merasa bangga ketika rama sesekali membuatnya kagum dengan keajaiban yang telah lama lakukan.
Namun hari ini, kamal merasakan kehilangan dari perubahan sikap rama, anak yang selalu bertindak sesukanya kini telah bersikap rendah hati.
Meski hatinya sakit, namun luka dalam yang di sebabkan oleh kematian ayah dan ibunya, mau tidak mau telah memaksa rama telah merubah sifatnya.
Perlahan kamal menghirup udara dingin, dan mulai menstabilkan fikiranya.
Di depanya, rama masih berlutut dengan tubuh bergetar, dia tidak merubah posisinya dan tidak ada tanda lelah atau kesakitan karena terus berlutut.
Kamal lalu menatap rama dalam dalam, dan dia berusaha untuk memberinya nasihat dan semangat.
"Rama...bahkan tampa kamu harus memohon padaku...paman akan melakukanya..namun untuk benar-benar bisa membangkitkan orang tuamu lagi, mungkin harus membutuhkan waktu yang cukup lama.."
"Yang harus kamu lakukan saat ini adalah menjadi lebih kuat!!...jika kamu kuat, maka kamu bisa melindungi orang-orang yang kamu sayangi.."
"Paman bisa saja memberi tahumu bagaimana cara membangkitkan orang tuamu...namun usiamu saat ini tidak akan cukup untuk bisa memahaminya.."
"Jujur saja..tingkat kekuatanmu saat ini tidak memiliki kualifikasi apapun untuk mengetahui segalanya..." ucap kamal dengan nada tenang menjelaskan semua pemikiranya kepada rama.
Mendengar penjelasan kamal, rama menjadi tertegun sejenak, namun tepat pada saat ini ekspresi kesedihanya telah berubah menjadi ketegasan.
Tiba-tiba saja rama berdiri dengan tegak dan menatap tajam pada kamal.
"Paman...aku akan menjadi kuat!!...lebih kuat lagi sampai aku memenuhi kualifikasi untuk mengetahui segalanya..."
"Tidak perduli apa!!...demi ayah dan ibu...rama akan menjadi kuat dan tidak akan mengecewakan ayah dan ibu!!.."
"Suatu saat nanti, ketika aku menjadi kuat, aku dan ayah ibu akan bersama lagi!!!.."
Rama mengangkat bahunya dan berbicara penuh keyakinan.
Di depanya, kamal membeku karena sikap rama yang tiba-tiba, ketegasan di mata rama bahkan tidak nampak seperti seoranga anak di usia sepuluh tahun.
Bahkan setiap kata yang dia ucapkan terdengar seperti seorang kesatria sejati.
Setelah kamal terdiam sejenak, dia akhirnya terbangun dari rasa keterkejutanya lalu di gantikan oleh senyuman hangat dan rasa bangga.
__ADS_1
Kamal lalu menepuk pundak rama dan mengangguk dengan puas.
"Bagus!!!...laki-laki memang harus memiliki sikap yang tangguh!!...namun untuk menjadi lebih kuat tidaklah mudah.."
"Selain memiliki keyakinan yang tinggi, seseorang juga harus berlatih lebih keras.." ucap kamal.
"Emm..rama mengerti!!..mulai sekarang rama tidak akan malas lagi!!...paman..tolong bimbing aku menjadi lebih kuat!!..." balas rama dengan nada tegas.
"Tentu!...paman akan melakukan segalanya untuk membantumu...namun sebelum itu, ada hal penting yang harus paman beritahukan padamu..." ucap kamal dengan nada serius.
Seketika rama mengerutkan kening karena wajah serius kamal.
"ohh...apa itu paman??..." tanya rama penasaran.
"Sebenarnya..sudah dari lama paman dan orang tuamu memutuskan untuk membawamu menuju sekte langit cerah.."
"Sekte langit cerah adalah salah satu sekte bela diri super di benua timur, dan sekte itu adalah tempat yang paman tinggali selama ini..namun karena usiamu masih sangat muda, orang tuamu memutuskan untuk membawamu pergi ketika usiamu telah mencapai dua belas tahun.
"Saat ini, usiamu baru sepuluh tahun, namun karena kondisimu saat ini, yang terbaik adalah dengan secepatnya membawamu pergi menuju sekte.."
"Bagaimanapun...berlindung di sekte adalah yang terpenting bagimu saat ini, terlebih lagi, jika kamu berlatih disana, maka menjadi lebih kuat akan lebih cepat daripada berada di dunia luar.." ucap kamal menjelaskan.
Ketika mendengar penjelasan kamal, rama tidak menjawab dan hanya terdiam, namun di wajahnya tampak sedang berfikir.
Setelah beberapa saat, rama akhirnya mulai berbicara dan memberi kamal jawabanya.
"Paman...karena itu keinginan ayah dan ibu..maka rama pasti akan menurutinya, dan yang paling penting, rama bisa menjadi lebih kuat jika ada disana.."
"Namun...bisakah paman memberi aku waktu...bagaimanapun ayah dan ibu belum lama pergi...jadi rama tidak ingin pergi terlalu jauh sebelum rama siap..."
"Karena kita sudah di luar...bisakah kita mulai berlatih lagi dan membawaku ke tempat yang menyenangkan.."
"Terakhir kali ketika paman membawaku ke hutan berburu binatang iblis...rama menjadi sangat bersamangat!!...bisakah kita berburu lagi???..." ucap rama dengan senyuman.
Kamal mendengarkan dengan baik semua ungkapan rama, dan dia mengerti bahwa keinginan rama untuk berlatih dan berburu secara bersamaan adalah untuk melampiaskan emosinya saat ini.
Berfikir lebih jelas, memang benar saat ini yang rama butuhkan adalah membuatnya merasa lebih baik, dan membawanya ke tempat yang lebih aman.
Tentu saja hutan adalah satu satunya tempat yang paling tepat kali ini, bagaimanapun, hutan tidak pernah di kunjungi banyak orang, dan berlatih disana sangat cocok untuk rama.
__ADS_1
Jika terjadi sesuatu seperti terakhir kali, maka setidaknya tidak akan banyak orang yang bisa mengetahuinya, fikir kamal setelah berfikir dengan cermat.
Kamal lalu menganggukan kepalanya, sembari menunggu rama siap untuk berlatih di sekte, ada baiknya dia berlatih di dunia luar terlebih dulu, untuk mengasah mental dan pengalaman bertarungnya.