PENDEKAR ILAHI

PENDEKAR ILAHI
Kebencian Tirta


__ADS_3

Kamal lalu mengajak rama pergi ke restoran terdekat untuk menyenangkan hati rama.


Di sisi lain di dalam penginapan bulan, ada kamar yang di jaga oleh dua pengawal yang berjaga di luar pintu.


Dua pengawal itu tentu saja adalah pengikut dari tirta, mereka juga menginap di tempat yang sama dengan rama, namun yang tidak mereka ketahui bahwa anak kecil yang mereka cari juga ada di sana.


Di dalam kamar itu, ada seseorang yang duduk dengan tenang, wajahnya terlihat seperti berusia empat puluh tahunan, dia memiliki alis yang tebal dan rambut putih panjang.


Orang itu adalah tetua dari gerbang tiran petir dan juga sekaligus adalah ayah dari tirta yang bernama tiffraz.


Tiffraz memiliki status yang cukup tinggi di dalam sekte tiran petir, itu bukan karna dia adalah seorang tetua, namun karna ia memiliki kekuatan yang mendominasi di dalam sekte, sehingga dia di segani dan di hormati.


Karna kekuatanya ini, sikap tiffraz tidak jauh berbeda dengan tirta, ia sombong dan suka menindas orang lain apabila seseorang bersinggungan denganya.


Hal inilah yang membuat tirta juga memiliki sifat yang sama denganya, dan menjadi hal biasa tirta akan melakukan apapun yang dia mau, dan orang-orang menjadi takut padanya.


Di dalam ruangan itu, tirta tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya karna masih mengingat anak kecil yang berani menghinanya, bahkan dengan bantuan pengawalnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melampiaskan amarahnya kepada anak kecil itu.


Hal itu lalu di sadari oleh tiffraz setelah dia membuka matanya, dia mengerutkan kening karna sikap anaknya yang terlihat kesal.


Mereka tidaklah lama berada di kota batu hijau, sebelum tirta pergi bersama pengawalnya, sikapnya masih seperti biasanya, dan sekarang wajah anaknya terlihat kesal sehingga membuatnya merasa bingung, lalu tiffraz menanyakan kepada tirta mengenai apa penyebab dari wajah kesalnya.


"nak....ada apa dengan wajahmu?...mengapa kamu terlihat tidak senang? Apakah kamu tidak menyukai tempat ini?...."tanya tiffraz.


"tidak,....aku baik baik saja dengan tempat ini, tapi aku sangat kesal dengan anak kecil yang menghinaku!..."balas tirta dengan wajah cemberut.


"ohh....anak kecil?...jika itu hanya anak kecil, mengapa wajahmu masih seperti itu, apakah kamu bahkan tidak bisa mengatasi anak kecil?..."tanya tiffraz dengan acuh.


"ayah....bukan itu masalahnya, tapi anak itu berlari sangat cepat sehingga aku dan bahkan pengawal bodoh itu tidak bisa mengejarnya.


Tiffraz sedikit mengernyitkan alisnya ketika tirta menyebutkan bahwa anak itu bisa berlari tampa tertangkap oleh pengawalnya.


"ohh...secepat apapun dia berlari, apa menurutmu dia bisa lepas dari seorang pendekar dia alam emas?...berapa umurnya?...kamu juga sudah menjadi pendekar dan berada di alam pembanguna fondasi di tahap awal, seharusnya bukan masalah untukmu untuk menangkapnya bukan?..."tanya tiffraz lagi.

__ADS_1


"ayah..ini karena anak itu juga sudah memiliki kekuatan yang sama denganku, dan dia menggunakan tehnik khusus agar bisa kabur dari pengejaran kami"


"eemm..aku rasa anak itu lebih muda tiga tahun dariku"....ucap tirta dengan ragu.


"ohh...usianya lebih muda tiga tahun darimu, tapi dia sudah menjadi pendekar di tahap awal?..sepertinya dia juga anak yang cukup jenius"


Tiffraz sedikit terkejut mengetahui bahwa ada anak yang lebih muda dari anaknya yang sudah bisa membangun kekuatan, namun itu tidak berlangsung lama, dan kembali menanyakan prihal anak kecil itu kepada tirta.


"coba kau jelaskan kepada ayah apa yang terjadi ketika kamu dan pengawalmu mengejar anak itu"...ucap tiffraz menjadi sedikit tertarik oleh anak kecil jenius di dalam fikiranya.


"emm...awalnya aku tertarik oleh tanaman spiritual yang ada pinggiran jalan kota, aku bermaksud untuk membelinya tapi anak itu lebih dulu mendapatkanya, jadi aku bermaksud untuk membelinya dengan membayar dua kali lipat kepada pedagang itu"


"tapi anak itu justru menolak tawaranku tampa berfikir, jadi aku sangat marah, bahkan aku mengancamnya, namun bukanya dia takut, justru dia berbalik menghinaku!"


"jadi aku memerihntahkan mereka berdua untuk menangkap anak kecil licik itu, tapi hal yang tidak aku sangka ternyata anak itu memiliki seseorang yang membantunya, sehingga pengawal bodoh itu tidak bisa menangkapnya"...ucap tirta menjelaskan dengan nada marah.


Setelah mendengar penjelasan dari tirta, tiffraz seperti mengerti akan sesuatu, dan menebak suatu hal.


Dia berfikir sepertinya anak kecil itu bukan orang biasa, dan juga memiliki seorang pembantu yang cukup kuat, sehingga bisa pergi dengan aman dari pengejaran pengawal anaknya.


"hemm...sepertinya anak itu bukanlah orang biasa, kalau seperti itu lupakan saja, jadikan ini pelajaran untukmu dan mulailah berlatih dengan keras"


"jika itu kamu...apa kamu yakin bisa menyelamatkan diri dari seseorang yang berada di alam emas"


"kamu harus mengerti dengan usia anak itu yang lebih muda darimu, itu menjelaskan bahwa dia mungkin lebih berbakat darimu"...ucap tiffraz dengan tenang dan menegur tirta untuk berlatih lebih keras untuk meningkatkan kekuatanya.


Di tegur oleh ayahnya, tirta menjadi sangat marah dan berteriak di dalam hatinya, bukan hanya dia di tegur untuk berlatih, namun dia juga di bandingkan oleh anak kecil yang tidak dia kenal.


Hal ini membuat tirta semankin membenci rama di dalam hatinya, selama ini, dia hidup dengan bangga dan memiliki status tinggi di dalam sekte.


Bahkan dia sering di puji sebagai seorang jenius karna berada di alam pembangunan fondasi di usia tiga belas tahun.


Namun hal ini menjadi tidak berarti apa-apa di bandingkan dengan rama, seorang anak yang tifak dia kenal dan lebih muda darinya, bahkan memiliki kekuatan yang sama denganya.

__ADS_1


Tirta merasakan kebencian yang dalam untuk pertama kalinya kepada seseorang, ada perasaan marah dan iri yang mengacaukan hatinya.


Namun hal yang tidak tirta ketahui bahwa rama memiliki kekuatan dua tingkat di atasnya, jika ia tahu, entah bagaimana perasaan kebencianya terhadap rama.


Tirta berusaha keras untuk menyembunyikan wajah kesalnya di hadapan ayahnya.


Meski begitu, dia sudah bersumpah di dalam hatinya untuk melampiaskan amarahnya ketika dia bertemu dengan rama.


Dia membayangkan jika bertemu dengan rama, dia akan mencabik-cabiknya dan menendangnya seperti sampah di bawah kakinya.


Setelah beberapa saat, tirta berusaha untuk menenangkan hatinya kembali, dan membuang jauh-jauh fikiranya tentang rama, dan mulai mendengarkan nasehat ayahnya kembali.


Tiffraz memperhatikan wajah anaknya yang mulai tenang lagi, ada senyuman tipis pada wajahnya.


Tiffraz mengangguk puas karna sikap anaknya yang bisa mengendalikan amarahnya setelah sesaat dia menegurnya.


Hal ini membuat tiffraz memuji dan memberi penghargaan di dalam hatinya kepada putra satu-satunya.


"hemm...bagus!..karna kamu sudah tenang, cobalah untuk berlatih, dan mulailah untuk fokus meningkatkan kekuatanmu"


"dua hari lagi pelelangan akan di mulai, dan mungkin ada harta berharga yang bisa aku dapatkan dan membantumu menerobos"...ucap tiffraz menjelaskan maksudnya kepada tirta.


Mendengar kata menerobos, wajah tirta menjadi bersemangat dan matanya penuh dengan tidak kesabaran.


Pasalanya, jika dia berhasil menerobos, ketika dia kembali ke sekte, dia akan di penuhi oleh pujian dari banyak orang, dan dia tidak sabar memamerkanya kepada orang-orang, bahwa dia adalah satu-satunya seseorang yang bisa dia anggap sebagai jenius muda di dalam sekte.


"benarkah itu ayah!!...."tanya tirta dengan mata berbinar.


"tentu saja...alasanku membawamu ke kota ini bukan hanya untuk menghadiri acara pelelangan, namun, di pastikan akan ada hal yang baik untuk meningkatkan kekuatanmu"...ucap tiffraz tersenyum menjelaskan.


"baik ayah...aku akan berlatih untuk meningkatkan kekuatanku!..."balas tirta penuh keyakinan.


"bagus!!...dua hari lagi pelelangan akan di mulai, aku harap persiapkan dirimu dengan baik.

__ADS_1


Tirta lalu mengangguk setuju dan tidak lagi banyak berbicara.


Setelah itu, dua orang di dalam ruangan kembali menjadi hening dan mulai berlatih kembali.


__ADS_2