PENDEKAR ILAHI

PENDEKAR ILAHI
Kamu Bodoh!!


__ADS_3

Ular piton meraung dan menembakan lendir beracun dimana mana.


Srackk!!...Srackk!!!..


Puluhan pohon yang terkena lendir racun perlahan meleleh dan menghitam.


"Tidak baik!!...." wajah rama menjadi jelek.


Kemudian rama tampa ragu-ragu memeluk pinggang kecil dahlia dan memblokir serangan ular piton dengan satu tangan.


Dahlia menjadi terkejut karena rama memeluknya tiba-tiba, namun dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya menurut.


Jelas dia tahu bahwa saat ini, di bawah perlindungan rama dia bisa memiliki harapan untuk hidup.


"Pegang aku dengan kuat!!..aku akan memblokir serangan ular ini!!..." rama menatap tajam kepada dahlia.


Dahlia diam dan hanya menganggukan kepala.


Setelah itu, rama berlari menjauhi ular sambil membawa dahlia di pelukanya.


Dia mendengus dingin dan membuat segel dengan telapak tangan.


"hemp...racun??...kalau begitu lihat bagaimana aku akan membuat racun ular bodoh ini menjadi tidak berguna!!..." ucap rama dengan dingin.


Burung api!!!!...


Menyebar!!!...


Dengan telapak tanganya rama membuat ratusan burung api yang memblokir cairan beracun yang di tembakan dari mulut piton.


Ketika api dan racun bertabrakan, itu terlihat seperti energi yang menguap.


Sangat jelas bahwa rama mengetahui beberapa teori tentang api yang bisa melawan racun.


Terlebih lagi, elemen api rama saat ini semakin murni setelah menyerap begitu banyak harta alam.


Jika racun itu keluar dari binatang iblis di tingkat tujuh atau lebih tinggi, mungkin ada kemungkinan rama akan takut, namun ular piton itu hanya berada di tingkat empat alam emas.


Hal ini membuat rama percaya diri untuk menghadapi serangan racun yang di tembakan bertubi tubi.


Semakin jauh rama berlari, akhirnya dia berbalik dan menatap piton dengan dingin, namun ada senyum tipis di wajahnya.


"hemp...ular bodoh!!...sudah saatnya untuk berhenti mengejar.." rama mengangkat bahu dengan bangga.


Bola api!!!


Maju!!..

__ADS_1


Ratusan bola api dengan cepat menyerbu ke arah ular piton.


Ular piton itu meraung marah, dia terus melawan, namun ular piton memilik tubuh pleksibel sehingga dapat menghindari ratusan bola api.


Wajah rama menjadi muran melihat ular piton yang masih bisa menghindari seranganya.


"Sangat merepotkan!!..


Hujan petir penghancuran!!!


Petir muncul di atas kepala piton yang mengelilinya dan menembakan sengatan petir di seluruh tubuh ular piton.


Ular piton itu akhirnya meraung kesakitan, namun suara kemarahanya membuat telinga menjadi sakit.


Rama merasakan ada semacam serangan jiwa yang berasal dari raungan piton.


Rama menutup telinganya dengan ekspresi jelek.


Meski itu tidak melukainya namun karena serangan jiwa dari ular piton, membuat tubuhnya sedikit bergetar.


Ular piton itu jelas memiliki kekuatan jiwa yang lebih tinggi dari kultivasinya.


Di sisi lain, dahlia yang berada di samping rama saat ini telah membeku dan menatap tidak percaya kepada rama.


Ada tatapan heran dan aneh secara bersamaan.


Seorang anak dengan rambut putih ini memiliki kekuatan yang sangat sulit untuk dia bayangkan fikir dahlia.


"Anak ini!!...bagaimana mungkin??...Bahkan di masa lalu, aku tidak pernah mendengar seseorang bisa memiliki elemen ganda dengan api dan petir.."


"ini tidak masuk akal!!...jelas api dan petir sangat bertentangan dan memiliki hukum dalam serangan yang sama sama menghancurkan!!..."


"Namun..ini nyata..tidak heran anak ini akan memiliki kultivasi di alam emas tingkat enam di usia yang begitu muda..." ucap dahlia bergumam pada dirinya sendiri.


Sementara itu, ular piton semakin melemah karena sengatan petir yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.


Rama terlihat cukup lelah kali ini dan pernapasanya menjadi tidak stabil.


Bagaimanapun, rama belum lama ini telah bertarung dengan sepuluh macan tutul di tingkat lima, dan kondisinya sedang tidak berada di puncaknya.


Pada akhirnya, karena kehabisan energi, hujan petir perlahan menghilang dan membuat ular piton itu menjadi terbebas dari sengatan petir.


Namun ular piton itu menatap tajam kepada rama di depan, seluruh tubuhnya masih memiliki sisa sisa petir dan membuatnya bergetar.


Meski ular piton itu memiliki rasa takut dan kewaspadaan kepada rama, namun karena ada perasaan kebencian pada manusia di depanya, ular piton itu terlihat masih tidak mau menyerah.


Akhirnya, ular piton itu menembakan serangan terakhirya dengan mengeluarkan lendir beracunya sekali lagi.

__ADS_1


Rama dan dahlia melihat piton menyerang dengan racun lagi, dan membuat mereka berdua menjadi terkejut.


Dengan keadaan rama saat ini, dia tidak dapat memblokir lendir itu dengan apinya lagi, kali ini energinya telah benar benar habis.


"Awas!!!..." dahlia berteriak ketakutan dan menutupi wajahnya.


"Ular sialan!!...seharusnya aku membunuhnya sejak awal!!..." rama meraung marah.


Serangan piton semakin mendekat, namun rama tidak menunjukan rasa takut dan melihat dahlia di sampingnya yang telah menutup wajahnya.


Kali ini, dia hanya bisa melakukan cara terbodoh untuk melindungi gadis kecil di pelukanya.


Rama menggunakan punggungnya untuk memblokir racun, dia kemudian melihat dahlia dengan perasaan aneh.


Perasaan melindungi seseorang ini, baru pertama kalinya dia memilikinya kepada orang lain selain orang tuanya.


Sebelumnya, rama selalu bersikap dingin, bahkan sikap acuhnya tidak akan perduli dengan siapapun.


Di saat berikutnya, ular piton itu telah pergi dan meninggalkan rama dan dahlia dan tidak berani menyerang lagi.


Kini, dahlia merasakan sesuatu yang aneh, dia merasa akan terkena lendir racun dari piton, namun setelah begitu lama dia tidak merasakan apapun pada tubuhnya.


Akhirnya dia membuka tangan yang menutupi wajahnya dan melihat anak laki-laki berambut putih itu menatapnya.


Mereka berdua saling menatap dengan wajah yang hampir bersentuhan.


Sontak hal ini membuat dahlia menjadi kaget.


Dia tahu bahwa rama telah menggunakan punggungnya untuk melindunginya, namun hal ini membuat dahlia berseru dengan marah.


"K..k..kamu!!...bodoh!!..apa yang kamu lakukan!!..jika racun ini memasuki tubuhmu..kamu akan mati!!.." dahlia dengan marah menatap rama.


Rama menjadi tertegun karena di marahi oleh seorang gadis yang telah dia selamatkan.


Meski dia tidak senang, namun dia tidak memiliki tenaga untuk berdebat dan hanya berbicara dengan lemah.


"Tenanglah...racun binatang di tingkat empat tidak akan membunuhku..." balas rama dengan acuh.


Wajah dahlia membeku sejenak karena perkataan rama yang acuh, seoalah racun itu bukan apa apa untuknya.


Dahlia menggigit bibirnya karena kesal, namun dia memilih diam dan tidak mengatakan apa apa lagi.


"Mari kita berjalan dan mencari tempat untuk istirahat ..jujur saja aku sudah kehabisan energi..." rama akhirnya berbicara dan memutuskan untuk berjalan lagi.


Dahlia mengangguk setuju dan berjalan dengan kaki pingcang.


Di sepanjang perjalanan, mereka berdua hampir tidak saling berbicara satu sama lain.

__ADS_1


Rama dan dahlia seolah memiliki karakter yang mirip, keduanya sama sama dingin dan memiliki sikap acuh.


Akhirnya mereka berdua sampai pada pohon besar yang cukup nyaman untuk beristirahat.


__ADS_2