
Di bawah perhatian semua orang, saka dan rama terus berjalan tampa repot-repot memperhatikan.
Keduanya berjalan berdampingan sampai rama menemui penatua aji untuk mengucapkan beberapa kata sebelum dia pergi meninggalkan gedung perpustakaan.
Ketika dua orang melihat cahaya matahari di luar gedung, saka dan rama menghirup udara segar di bawah terik matahari yang menyilaukan mata.
Mereka berjalan-jalan di sekitar area perpustakaan, masih dengan santai melihat pemandangan di sekitar.
Area ini sangat luas dan layaknya taman yang di kelilingi pohon-pohon berukuran sedang, dan tempat ini tidak sedikit di jadikan sebagai tempat persinggahan para murid yang hanya sekedar beristirahat santai di rerumputan hijau taman ini.
Beberapa murid yang melihat saka, akan dengan sendirinya bersikap hormat dan menyapa dengan senyuman.
Rama memperhatikan bahwa di mata semua murid yang melihat, ada tatapan kekaguman dan sikap enggan.
Jelas bahwa murid-murid yang mengenali saka, sangat jelas menyadari statusnya.
Rama tidak banyak bicara melihat beberapa murid yang berjalan berpapasan dengan senyum di wajah mereka ketika melihat dan menyapa saka.
sampai pada saat rama dan saka sudah puas mengitari area ini, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk terbang menuju aula pemurnian senjata di antara tiga gunung mengambang.
Di udara, saka menyesuaikan kecepatanya dengan rama, hal ini karena rama masih berada di alam emas dan jelas bahwa rama hanya menggunakan harta spiritual untuk dapat terbang di udara.
Bagi saka yang sudah berada di alam suci, sangat mudah baginya untuk terbang melesat dengan kecepatan tinggi, namun dia tetap tidak melakukanya karena dia tahu bahwa rama masih berada di alam emas, dan harta spiritual yang dia gunakan tidak akan cukup untuk mengimbangi kecepatanya.
Mengambang di udara, rama menghela nafas dan berbicara dengan nada santai.
"Kakak saka, jika aku sudah berada di alam suci, maukah kamu bertarung membandingkan kecepatan denganku?...aku fikir itu akan sangat menyenangkan bukan?.."
Saka menatap senyuman di wajah pemuda rambut putih di depanya dan sambil menunjukan senyum menjawab.
"Hemp...itu ide yang tidak buruk...namun, jika membandingkan kecepatan denganku, dengan ranahku saat ini dan di masa depan, aku rasa kamu harus kecewa karena kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku..."..kata saka bangga.
Rama mengernyitkan alisnya dan tertawa lepas, dengan senyuman aneh di wajahnya.
Dia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya kedepan dan segera melesat dengan kecepatan tertingginya.
Dengan teriakan, rama mengirimkan tawanya dengan sebuah kata tantangan.
"Hahahaha...kakak saka, jika kamu tidak bisa mengejarku dengan aku yang hanya menggunakan harta spiritual, maka aku akan menghitungnya dengan kamu berhutang padaku..hahaha.."
Suara tawanya bergema di udara, bahkan saka masih terdiam linglung dengan aksi rama yang tiba-tiba melemparkan tantangan padanya.
Melihat punggungnya yang semakin jauh, dan hampir di lahap oleh awan tebal di langit, saka akhirnya segera tersadar dan tertawa licik.
__ADS_1
"Hahaha...anak kecil!...kamu menantang kakak tampan ini hanya dengan sedikit keberanian!..namun...aku suka itu, hahaha!!!..."
Saka segera melesat meninggalkan bayangan dari gumpalan asap.
Suara tawanya terdengar oleh rama dan lengkungan muncul di sudut mulutnya.
Rama tidak berani bersantai dan terus mengalirkan seluruh energi spiritualnya pada harta spiritualnya untuk mempercepat penerbanganya.
Pada saat ini, bisa di lihat di atas langit yang luas, dua orang saling mengejar satu sama lain.
Dengan ranah saka saat ini, tidak sulit baginya untuk mengejar ketinggalanya di belakang rama.
Hanya dengan berberapa menit, dia bisa mengejar rama dan meninggalkanya di belakangnya.
Saat mereka berpapasan, saka dengan sengaja memperlambat dirinya dan berbicara dengan nada santai.
"Rama...jika kamu tidak bisa mengejarku..maka kamu akan berhutang pada kakak tampan ini..hehehe..."
Saka tertawa puas dan segera meninggalkan rama di belakangnya.
Di sisi lain, rama yang melihat bahwa dia sudah di kejar hanya dengan waktu singkat, rama merasakan tubuhnya memanas dan api semangatnya tumbuh semakin padat untuk dapat mengejar saka kembali.
Di wajahnya, ada pancaran rasa kepuasan, dengan keadaanya saat ini, terbang di udara, entah mengapa rama merasakan hatinya yang terasa berat, sedikit merasakan kelegaan.
Hal ini mengingatkanya kembali ketika dia masih seperti anak kecil yang berfikiran murni yang hanya tahu cara bermain dan bersenang-senang.
Merasakan perasaan yang telah lama hilang, sedikit warna merah samar terlihat di pupil hitamnya.
Entah sudah berapa lama dia sudah melupakan hal-hal yang membuatnya begitu bahagia hanya dengan hal sederhana, namun kali ini dia dapat merasakanya kembali hanya dengan beberapa hari berada di sekte langit cerah.
Rasa syukur di hatinya tidak dapat terbendung, dan hati dinginya perlahan menghangat ketika mengingat, begitu dia datang di sekte langit cerah, akan ada seseorang yang menyambutnya sebagai keluarga dan kali ini ada seseorang yang bisa dia anggap sebagai saudara.
Memikirkan hal ini, rama tidak bisa berseru di dalam hatinya, bahwa sang pencipta setidaknya tidak benar-benar meninggalkanya.
Saat ini, rama tenggelam dalam pemikiranya, dan karena itu, rama tidak menyadari bahwa dia semakin melambat dan tidak lagi memaksakan kecepatanya, sedangkan di kejauhan, saka menoleh ke belakang dan melihat rama yang semakin melambat.
Saka segera menghentikan langkahnya dan melihat rama dengan aneh.
Semakin dekat, saka memperhatikan bahwa rama sedang dalam keadaan terdiam dan jelas tidak fokus untuk mengejarnya.
Menyadari hal ini, saka segera berbalik menuju rama dengan langkah cepat, dia segera muncul di hadapan rama.
Sementara itu, munculnya saka yang tiba-tiba di hadapanya, segera membuat rama menjadi terkejut.
__ADS_1
Menepuk punggungnya, saka segera berbicara dengan nada menghibur, namun dia juga menghela nafas karena saka seolah merasakan bahwa anak laki-laki di depanya, seperti memiliki beban berat yang di simpan erat di dalam hatinya.
"Haihh...tidak bisakah kamu fokus untuk bersenang-senang di saat seperti ini.." kata saka dengan lemah.
Mendengarkan ucapan saka, rama sedikit merasa menyesal di dalam hatinya dan menundukan kepalanya.
"Maaf..." kata rama singkat.."
Rama hanya menjawab singkat, namun dari nadanya, saka bisa merasakan ketidak berdayaanya.
Dengan menghirup udara dingin, saka berkata dengan nada menghibur.
"Hemp...baiklah..baiklah..lihatlah wajahmu pada saat ini, benar-benar tidak enak di pandang, tidak heran guru ingin aku menemanimu, sepertinya kamu memang memiliki banyak hal yang membuatmu menderita.."
"Namun..rama ingatlah!..karena aku sudah menganggapmu saudara, maka jangan ragu untuk mengandalkanku...aku akan selalu ada untukmu, karena itulah artinya seorang saudara.."
"Meskipun aku tidak bisa membantu meringankan masalahmu..namun setidaknya kamu memiliki satu orang lagi yang bisa berada di sisimu dan mendukungmu.." kata saka dengan nada serius.
Pada saat ini, rama menatap saka dengan dengan senyuman hangat di wajahnya.
Mendengar ucapanya, rama merasakan ketulusan dari setiap kata yang saka ucapkan dan membuatnya merasakan kehangatan.
Dengan mata yang berkaca-kaca, rama menahan matanya yang memerah dan mengepalkan tinjunya.
Dia segera berbicara dengan penuh semangat kepada saka.
"Baik!..terima kasih saudaraku!.." kata rama dengan senyuman cerah.
Saka segera merasa lega melihat perubahan sikap rama dan membalas dengan acungan jempolnya.
Rama menatap luasnya langit dan merasakan hembusan udara sejuk yang membuatnya perlahan menjadi tenang.
Dengan sikap yang saka tunjukan padanya, kini dia dengan mantap memikirkan untuk sedikit berbagi kisah denganya.
Dengan hal ini setidaknya akan adil bagi saka yang sudah menganggapnya sebagai saudara, dan dengan hal ini juga akan membuatnya semakin dekat dengan saka.
Jelas bahwa rama tidak lagi memiliki keraguan kepada saka dan sepenuhnya mempercayainya.
"Kakak saka...karena kita adalah saudara, maka aku akan memberi tahumu segalanya tentang aku, namun aku juga masih memerlukan waktu untuk benar-benar membicarakanya, karena bahkan jika aku ingin memberitahumu, mengucapkan beberapa kata masih membuatku merasakan sakit jika mengingat hal itu..." kata rama dengan nada kesedihan.
Di sisi lain, saka sedikit terkejut mendengar ucapan rama yang tiba-tiba, namun keterkejutan tidak berlangsung lama dan mengangguk.
Tentu saka dapat mengerti bahwa rama saat ini sudah benar-benar mempercayainya.
__ADS_1
"Yakinlah...kamu bisa mengatakanya kapan saja kamu siap.." kata saka sambil tersenyum.