
Slink!!...
Pedang itu menancap di pintu masuk, tepat berada di samping wajah rama yang jaraknya hanya beberapa senti.
Wajah dingin rama segera tertuju pada pedang, lalu berbalik melihat ke depan bahwa ada tiga pemuda sedang menatap sinis padanya.
Rama mengerutkan kening dan diam-diam melihat kultivasi tiga orang di depan.
Tiga orang telah berada di alam suci dan yang paling kuat adalah pemuda yang berada di tengah dengan kultivasi tingkat empat di alam suci.
Senyum tiga pemuda itu jelas ada tatapan mengejek, mereka telah dengan sengaja memprovokasi rama dan tampa berfikir menyerang di tempat umum.
Perlahan rama mengalihkan perhatianya kepada pedang yang tertancap di pintu masuk dan dengan santai membuangnya tampa emosi sedikitpun di wajahnya.
Dia bahkan tidak repot-repot melihat tiga pemuda itu dan berbalik memasuki pintu lebih dalam.
Rama jelas merasa tidak nyaman dari sikap ke tiga pemuda di depan, meskipun rama sangat kesal, namun dia juga tidak ingin membuat keributan yang tidak perlu.
Ini adalah pertama kalinya rama mengunjungi perpustakaan sekte, dan dia jelas tidak ingin menimbulkan masalah bagi kakeknya .
Di jarak yang tidak terlalu jauh, pan yang berdiri di tengah merasakan kemarahan karena telah di abaikan begitu saja oleh seorang bocah di alam emas.
Dengan wajah sinis, dia segera berteriak pada rama.
Berhenti!!!...
Suara teriakan ini segera menghentikan langkah rama yang memasuki pintu, bahkan tidak terkecuali para murid yang berada di sekitar melihat ke arah rama dan pan berada.
Semua murid yang ada di sana menatap bingung dan keributan kecil segera muncul di antara para kelompok murid yang berkumpul.
Rama merasakan semua perhatian telah tertuju padanya dan segera berbalik menghadap tiga pemuda lagi dan segera berkata tampa emosi.
"Apa masalahmu..." tanya rama tenang.
Senyum di wajah pan terbentuk dan berkata dengan acuh.
"Seorang di alam emas bahkan tidak berada di puncak berani memasuki pelataran dalam, tidakkah kamu tahu bahwa kamu pantas di hukum karna tidak tahu dimana tempatmu!..." kata pan dengan sedikit kemarahan pada nadanya.
__ADS_1
Suara pan tidaklah besar, namun ini sudah cukup membuat keributan di antara murid dalam di sekitar.
Murid-murid yang melihat segera berkerumun untuk melihat sebuah pertunjukan.
Dengan kata-kata yang di ucapkan sebelumnya, rama berada di alam emas bahkan tidak berada di puncak telah menarik perhatian semua murid.
Reaksi beberapa orang berbeda-beda dan tatapan bingung, kesal dan kasihan juga ada di masing-masing murid.
Di sisi lain, wajah rama tidak banyak berubah, namun itu jelas semakin dingin karena menarik perhatian banyak murid telah berada di luar kendalinya saat ini.
Jelas rama sangat kesal, dan dia juga tidak mengerti mengapa tiga pemuda itu akan dengan sengaja memprovokasi ketika baru saja dia akan memasuki perpustakaan.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan padamu, aku memiliki urusanku sendiri dan jangan ganggu aku.." kata rama dengan acuh.
Senyuman mengejek di wajah pan segera menjadi jelek mendengar perkataan acuh rama.
Dia jelas tidak berfikir seorang di alam emas akan begitu berani menunjukan sikap seperti itu kepadanya.
"Heii!!...selagi aku masih berbaik hati memberitahumu, lebih baik kamu kembali menuju pelataran luar sekarang juga!!.."
"Bahkan seorang instruktur tidak akan berani secara sembarangan memasuki area ini, namun kamu yang hanya berada di alam emas benar-benar memiliki wajah tebal, dan secara sembarangan berada di sini!!.."
Pan sarkastik dan melihat rama dengan jijik.
Rama mengerutkan kening namun, dia segera tersenyum membalas.
"Kamu bahkan bukan murid inti namun kesombonganmu bahkan melebihi mereka yang di atas...sepertinya pelataran dalam benar-benar tidak memilih orang yang tepat untuk di tempatkan.."
"Ini hanya seperti pemborosan sumber daya untuk di berikan kepada sampah bermulut besar.." kata rama mengejek.
Sombong!!
Teriakan ini berasal dari teman pan yang berada di sampingnya.
Pan mendengus dingin dan berbicara dengan marah.
"Kamu terlalu menganggap tinggi dirimu sendiri, seorang di alam emas mana mungkin membuat senior murid inti repot-repot mengurusmu!.."
__ADS_1
"Aku saja sudah cukup untuk memberimu pelajaran!..bahkan hanya dengan satu pukulanku, kamu bahkan tidak akan bisa menahan apapun!
"Terlalu banyak omong kosong!.." kata rama masih acuh.
Setelah kata-kata rama di ucapkan, keributan sekali lagi membuat suasana menjadi ramai.
Beberapa orang bahkan mulut mereka ternganga dan tidak percaya mendengar ejekan rama.
Sikap rama tidak sedikitpun memberikan wajah kepada senior, dengan kultivasi yang hanya berada di alam emas, orang-orang dapat menebak bahwa keberanian ini hanya akan membuat rama tidak bisa menghindari kemarahan pan.
Beberapa murid yang ada disana tentu dapat mengenali pan, meskipun dia termasuk murid yang biasa-biasa saja, namun jika di hadapkan dengan rama yang hanya di alam emas, sangat mudah bagi pan untuk berurusan denganya.
Para murid menggelengkan kepalanya dan menatap rama seperti kayu kering yang bisa di buang kapan saja, jelas ejekan sebelumnya telah membuat para murid berfikir bahwa dia lebih sombong dari pada seorang senior.
Sementara itu, wajah pan menjadi merah dan nafasnya sedikit tertahan, hingga beberapa saat, dia menghembuskan nafas dan melihat rama dengan tajam.
"Tidak perlu berbicara lagi dengan bocah sombong ini!..beri dia pelajaran agar kedepanya tidak ada lagi murid luar yang lancang memasuki pelataran dalam!.." kata teman pan di sebelahnya.
"Baik...baik..biarkan aku mendidikmu agar kamu tahu cara menghormati senior di pelataran dalam..." kata pan.
Tatapan tajam seperti pisau panjang yang menusuk ke arah rama.
Sedangkan rama yang berdiri disana, wajahnya masih tampa emosi dan melihat aura lawanya perlahan semakin kuat di ikuti oleh riak angin sekitarnya.
Rama menyipitkan matanya melihat ini, meskipun sikap rama santai, namun hatinya tentu tidak sesantai di luarnya.
Lawan memiliki kultivasi yang cukup jauh darinya, dan jelas tidak akan berani meremehkan lawanya.
Terlebih lagi, murid di pelataran dalam seringkali menyelesaikan misi berbahaya dan membuat mereka memiliki pengalaman bertarung yang luar biasa.
Dengan hati-hati rama mengamatinya dan tidak ingin bersikap ceroboh.
Di sana, pan berdiri dan riak api merah mengelilingi seluruh tubuhnya yang terlihat seperti armor.
Sedikit keterkejutan melintas di wajah rama, lawanya juga memiliki elemen api dan penguasaanya terhadap elemen api juga tidak buruk.
Dapat memanipulasi api menjadi sebuah armor untuk melindungi seluruh tubuh tentu pengendalian elemenya sudah cukup tinggi.
__ADS_1
Rama saat ini cukup serius menanggapi lawan yang sudah bersiap untuk melakukan penyerangan.
"Hari ini, jangan salahkan aku karena membuatmu tidak bisa bangun selama satu tahun!!..." pan dengan dingin berteriak kepada rama.