
Setelah mayat binatang iblis terjual, tiba saatnya item terakhir akan muncul dan menjadi penutup pada pelelangan.
Dengan penuh senyuman, srita memandang semua orang di dalam aula, dan menepuk tanganya.
Tidak lama kemudian seorang pelayan cantik menaiki panggung membawa sebuah kotak panjang berukuran satu meter.
Ketika kotak panjang itu berada tepat di atas panggung, semua mata tertuju pada kotak tersebut.
Semua orang terus menerus menatap dengan penasaran ke arah kotak panjang di atas panggung.
"tuan-tuan yang terhormat...akhirnya bintang pertama dari pelelangan kami telah tiba, dan item terakhir ini akan sekaligus menjadi penutup dari lelang kami hari ini..." srita penuh senyuman memandang kotak panjang dan tampa sadar membuat semua orang semakin penasaran kepada kotak panjang.
Srita lalu melambaikan tanganya kepada pelayan, sebagai kode perintah untuk membuka kotak itu.
Setelah di buka, srita lalu dengan hati-hati mengambil sebuah pedang panjang dengan ukiran naga pada sarung pedang.
"tuan-tuan sekalian... ini adalah pedang spiritual tingkat bumi kelas menengah, seperti yang kita ketahui, pedang di tingkat bumi sangat sulit untuk di murnikan, dan telah menjadi item yang tak ternilai"
"Kami telah mengkomfirmasi bahwa pedang ini telah di murnikan oleh seseorang master pemurnian di tingkat sembilan, sehingga tidak banyak orang yang dapat memiliki pedang spiritual ini dengan mudah"
"Kami telah memutuskan untuk menetapkan harga terbaik untuk menilai pedang ini, kami akan membuka harga awal lima puluh ribu batu roh kualitas rendah..."segera setelah menjelaskan detail pedang kepada semua orang, srita langsung membuka harga tinggi dan membuat semua orang di aula pecah menjadi keributan.
Beberapa orang sangat terkejut dan bahkan berdiri dengan perasaan antusias, semua orang tidak bisa menahan nafas ketika aura pedang di tingkat bumi itu di keluarkan.
Semua orang terus-menerus menatap pedang itu dengan mata penuh keserakahan.
Di seluruh benua timur, meski pedang di tingkat bumi tidaklah sedikit, namun hanya orang-orang tertentu yang dapat memiliki pedang itu.
Terlebih lagi, pihak paviliun telah mengkomfirmasi bahwa pedang itu telah di murnikan oleh seorang master pemurnian di tingkat sembilan, yang artinya kekuatan pada pedang itu tidak di ragukan lagi sangat kuat.
Di seluruh benua, seorang master pemurnian di tingkat sembilan adalan seseorang yang sangat di hormati, dan master di tingkat sembilan hanya bisa di hitung oleh jari.
Semua orang percaya bahwa di tangan seorang master pemurnian di tingkat sembilan, sebuah senjata bisa menjadi alat spiritual dengan kekuatan di tingkat setengah dewa.
Jika pemilik pedang tidak memiliki kekuatan besar di belakangnya, maka bisa di pastikan orang tersebut hanya akan menjadi binatang yang di buru karna tidak memiliki hak untuk menjaga pedang itu.
Di dalam ruangan tifraz dan ruangan gadis bercadar, mereka tampak mengubah wajah tenang mereka menjadi terkejut dan bersemangat.
Ketika pedang itu di keluarkan, dengan kekuatan mereka, tidak sulit untuk merasakan aura pada pedang.
Ketika mereka mencoba memeriksa dengan baik, mereka dapat merasakan aura pada pedang itu seperti memilki kekuatan pada binatang buas yang mengamuk.
Mata keduanya menyala penuh semangat, di dalam hati masing-masing, mereka telah bersumpah untuk memperjuangkan pedang itu dengan berbagai macam cara.
"menabjubkan!!!...aku tidak percaya kali ini aku akan mendapatkan senjata yang sangat berharga di lelang ini.." tifraz dengan sombong menatap pedang dengan penuh minat.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, wanita bercadar dan kedua muridnya tidak kalah antusias menatap pedang, jantung mereka berdegup kencang, dan hati mereka jelas menjadi tidak tenang.
"guru...itu pedang yang bagus!..."ucap murid laki-laki di samping wanita bercadar.
"benar!...pedang yang bagus!..jika aku bisa mendapatkanya, mungkin itu bisa meningkatkan kakuatanku dan mungkin guru bisa menjadi penatua di pelataran dalam tidak akan lama.
Setelang wanita bercadar mengatakan maksudnya, kedua muridnya menjadi bersemangat dan penuh harap mendukung wanita bercadar.
"guru!!...kami mendukungmu!.." ucap kedua pemuda itu dengan penuh semangat.
"emm!.." jawab wanita bercadar dengan singkat.
Di bawah keramaian, saria dan fraz menatap gan dengan mata membara, jelas mereka mengharapkan gan untuk mendapatkan pedang itu, mereka merasa bahwa pedang itu sangat cocok untuk gan.
Gan jelas sangat bersemangat dan sangat sulit menyembunyikan keinginanya terhadap pedang itu, namun dia tetap berusa untuk tenang.
Gan mencoba sebaik mungkin untuk menjaga hatinya dengan baik, itu karena dia tahu dengan baik bahwa tidak akan mudah untuk mendapatkan pedang itu.
Gan jelas sangat mewaspadai kekuatan orang-orang yang berada di balik tirai, jadi dia tidak ingin bertindak gegabah.
" kakak gan!..."ucap saria menatap gan dalam-dalam.
" tenanglah...aku tahu..mari kita lihat dulu.." ucap gan dengan lemah menggelengkan kepalanya, namun dia tampa sadar mengepalkan tanganya dengan kuat.
Sementara itu, seluruh kerumunan telah pecah, dan semua orang berusaha untuk mendapatkan pedang itu dan terus menaikan harga.
Enam puluh ribu!
Tujuh puluh ribu!
Seratus ribu!
Seratus lima puluh ribu!
Dua ratus ribu!
Tiga ratus ribu!
Suara keramaian terus menerus memenuhi ruangan tampa henti.
Lima ratus ribu!
Suara penawar datang dari ruang tamu kehormatan.
Semua orang seketika terdiam sebentar, beberapa dari mereka ingin menawar lagi, namun mereka dengan berat hati menekan keinginan mereka.
__ADS_1
Bagaimanapun, semua orang takut jika menyinggung seseorang yang tidak mampu mereka atasi dan dengan berat hati tidak ada yang mau menawar lagi.
Enam ratus ribu!!
Tiba-tiba suara indah terdengar memecah keheningan sesaat.
Di balik tirai, tifraz mengerutkan keningnya, namun dia jelas tidak akan mengalah untuk mendapatkan pedang itu.
"Tujuh ratus ribu!!...." ucap tifraz.
Sembilan ratus ribu!
Satu juta!
Pada akhirnya seluruh ruangan di kuasai oleh dua penawar yang berada di balik tirai.
Semua orang menoleh ke kiri dan kanan, dan tampa sadar, pedang itu telah mencapai sepuluh juta batu roh.
Dengan kekayaan yang di miliki oleh kedua penawar, banyak orang-orang menatap ke atas penuh kekaguman, dan beberapa orang tidak bisa menahan nafas dengan jumlah batu roh yang telah di keluarkan oleh dua orang itu.
" dua puluh juta!!..." ucap tifraz berkeringat dingin menaikan harga.
Di sisi lain, wanita bercadar itu wajahnya telah memerah karna kesal, dia tidak berfikir bahwa seseorang akan dapat bersaing denganya seperti di kota kecil.
Sulit untuk membayangkan bahwa di kota kecil itu akan ada seseorang yang memiliki harta yang cukup untuk bersaing denganya dalam hal kekayaan.
"guru...." ucap kedua murid di sampingnya dengan tatapan suram.
"sudahlah...mungkin kita bisa mendapatkan hal serupa di lain waktu..." ucap wanita bercadar menghela nafas tak berdaya.
Setelahmendengar ucapan wanita bercadar, kedua pemuda itu juga menatapnya dengan tidak berdaya.
Bagaimanapun, jika tidak mampu menaikan harga lagi, maka mereka tidak memiliki hak untuk memiliki pedang itu.
Setelah hening beberapa saat, srita mulai menghitung untuk memutuskan pedang itu di hargai dengan dua puluh juta batu roh.
Dua pulah juta pertama!
Kedua!
Ketiga!
Akhirnya suara palu terdengar, dan di balik tirai, tifraz akhirnya bisa bernafas dengan lega, meski begitu, wajahnya terlihat kusam.
Bagaimanapun, untuk membeli pedang itu, dia telah mengeluarkan hampir seluruh hartanya, namun mengingat pedang itu berada di tingkat bumi kelas menengah dan di murnikan oleh master di tingkat sembilan, hatinya menjadi sedikit tenang dan bahagia.
__ADS_1