Perjalanan Balas Dendam

Perjalanan Balas Dendam
Chapter 1


__ADS_3

Terlihat pemandangan lampu lampu yang menyala dengan terang dan berwarna warni menghiasi setiap sudut ruangan di sebuah bar yang sangat mewah.


Semua mobil yang terparkir di bar tersebut adalah mobil mobil sport dengan harga yang sangat fantastis dan juga banyak pengusaha pengusaha kaya raya yang berada di situ.


Di sebuah ruangan VIP terlihat tiga orang remaja muda sedang menikmati minuman mereka sambil mengobrol dengan santai.


Mereka bernama Abercio, Altezza, dan juga Laren. Mereka bertiga adalah anak seorang mafia yang sangat berkuasa di kotanya.


Tapi identitas asli mereka hanya di ketahui oleh beberapa orang saja, tidak semua masyarakat di kota itu tahu tentang identitas mereka yang sebenarnya.


Saat sedang mengobrol dengan santai, salah satu dari mereka bertiga tiba tiba memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Hmm apa yang terjadi denganku? Mengapa kepalaku terasa sangat pusing?" Ucap pria itu terduduk dan memegangi kepalanya.


"Laren, ada apa?" Tanya salah satu pemuda yang melihat saudaranya terduduk sambil memegang kepalanya.


"Kepalaku terasa sangat pusing kak." Balas Laren.


"Baiklah kalau begitu kami akan membawamu pulang ke mansion." Ucap salah satu kakaknya.


"Baik kak." Balas Laren.


Mereka bertiga pun keluar dari bar itu dan berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di depan bar mewah tersebut.


Kedua kakak Laren berjalan sambil memapah Laren yang tidak bisa berdiri dan berjalan dengan baik.


"Abercio, aku akan mengendarai mobil milik Laren bersama dengannya, Kamu bawa mobilku dan ikuti aku di belakang." Ucap Altezza, kakak pertama dari Laren dan Abercio.


"Iya kak." Jawab Abercio sambil mengangguk kemudian masuk ke mobil milik Altezza.


Kedua mobil itu pun melesat menembus jalanan malam yang cukup sepi, mereka berdua menyetir dengan kecepatan tinggi dan melewati suatu perempatan yang cukup sepi.


Tiba tiba ada lima mobil hitam yang muncul dari beberapa arah mulai mengikuti mereka bertiga, lalu dua dari lima mobil hitam itu berusaha untuk mensejajarkan dirinya dengan mobil yang di kendarai oleh Altezza.


"Apa yang hendak di lakukan oleh mobil mobil ini." Gumam Altezza sambil melihat ke arah kaca spionnya.


lalu tiba tiba dua mobil tersebut maju dan mensejajarkan mobilnya kemudian mendesak mobil yang di dalamnya terdapat Laren dan juga Altezza.


Altezza dan juga Laren pun terguncang saat mobil mereka di desak oleh dua mobil hitam di sisi kanan dan juga sisi kiri mereka.


"Uh apa apaan ini? Siapa mereka semua?" Gumam Altezza.


Kemudian di belakang mobil mereka juga ada tiga mobil lagi yang mengikuti Laren dan Altezza.

__ADS_1


Altezza reflek menambah kecepatan mobilnya untuk menghindari lima mobil tersebut dan mencoba untuk kabur dari desakan mereka.


"Laren, aku mempunyai firasat yang buruk terhadap beberapa mobil yang mengikuti kita, apakah kamu bisa menyerang mereka?" Tanya Altezza kepada Laren sambil fokus menyetir dan menaikkan kecepatannya.


"Jika hanya menembak mereka secara acak, mungkin bisa aku lakukan kak." Balas Laren sambil mencari cari dan memasang senjata yang ada.


"Kalau begitu lakukanlah, kamu hanya perlu membuat kerusakan yang parah pada mobil mobil itu agar mereka tidak dapat mengejar kita lagi." Ucap Altezza dan hanya di balas anggukan oleh Laren.


Laren yang sudah siap dengan pistol di tangannya pun memberikan kode kepada Altezza jika dirinya sudah siap.


Altezza pun membuka atap mobil kemudian Laren berdiri dan mulai menembak mobil yang mengikuti mereka di belakang.


Altezza, Abercio, dan Laren adalah putra seorang mafia, jadi tidak heran jika di mobil mereka terdapat senjata senjata seperti pistol dan senjata senjata berbahaya lainnya.


Kini mobil yang mengikuti Laren dan Altezza tersisa dua mobil sedangkan ketiga mobil lainnya mengalami kerusakan yang cukup parah karena di tembak oleh Laren tadi, sehingga tidak bisa mengejar mobil Laren lagi.


"Laren, gue yakin para mobil itu pasti musuh ayah yang ngicer kita selama ini." Ucap Altezza.


"Sepertinya emang gitu." Balas Laren sambil tetap memperhatikan spion mobilnya.


Saat mencapai suatu tikungan, Altezza berusaha untuk menginjak rem pada mobilnya untuk mengurangi kecepatan mereka dan berbelok, akan tetapi tidak ada perubahan pada kecepatan mereka.


Altezza berulang kali menginjak rem mobil itu tapi tetap tidak bisa melambat sehingga membuat dirinya panik.


"Laren, rem mobil ini tidak berfungsi!!" Ucap Altezza sambil berteriak panik dan mencoba untuk terus menginjak rem mobilnya.


"A-apa?! Bagaimana bisa kak? Bukankah setiap mobil di keluarga kita selalu di periksa keamanannya setiap minggu?" Ucap Laren yang ikut panik sambil memegang kepalanya yang kembali terasa sakit.


"Remnya blong... Apa yang harus kita lakukan sekarang?!" Ucap Altezza semakin panik karena kedua mobil yang sedari tadi masih mengejar mereka semakin mendekat.


Altezza pun tiba tiba membuka pintunya dan hendak melompat keluar, mengetahui hal itu Laren mencoba untuk menarik Altezza agar tetap berada di dalam mobil.


Akan tetapi usahanya sia sia, Altezza telah melompat keluar dan meninggalkan Laren sendirian di mobil tersebut.


Karena tidak ada supir dan Laren yang masih dalam keadaan mabuk, mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi secara tidak beraturan kemudian menabrak pinggiran jalan dan kembali terpental.


"Ahh sialan, apa gue bakalan mati dalam keadaan kayak gini?" Ucap Laren frustasi sambil berusaha mengendalikan setir mobil tersebut.


Lalu tiba tiba mesin depan mobil terbakar karena terlalu lama dalam kecepatan tinggi sehingga mesin mobil tersebut menjadi panas dan muncul api yang cukup besar dari mesin itu.


Tanpa di sadari mobil itu menuju ke tebing dan menerobos pembatas jalan lalu terjun bebas ke dalam jurang setinggi ratusan meter dan meledak.


Laren pun mati saat ledakan itu terjadi, di sisi lain Altezza dan Abercio mengejar mobil Laren menggunakan mobil milik Altezza yang tadinya dikemudikan oleh Abercio.

__ADS_1


Mereka melihat mobil milik Laren terjun ke jurang dan meledak dari kejauhan, anehnya kedua mobil yang mendesak mereka tadi pun ikut menghilang tanpa jejak begitu juga dengan mobil mobil lainnya.


Mereka pun sangat terkejut dengan kejadian yang menimpa saudaranya itu, lalu mereka pun memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka dan menceritakan semuanya kepada kedua orang tua mereka.


Di suatu tempat, di dunia lain...


"Uhh... Kepalaku sakit sekali." Gumam seorang pria yang terbaring di atas kasur sambil memegangi kepalanya.


"Pangeran, anda sudah sadar?" Tanya salah satu orang yang berdiri di samping kasur itu.


Apa? Pangeran? Di mana aku? Mengapa aku bisa berada di tempat ini? (Batin Laren sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit)


"Pangeran mohon tunggu di sini sebentar, hamba akan membuatkan obat untuk anda." Ucap seseorang kemudian pergi meninggalkan Laren.


Tabib itu pun keluar dan meninggalkan Laren seorang diri di ruangan tersebut.


Laren masih terbaring karena kepalanya masih terasa sangat sakit, setelah beberapa saat kemudian kepalanya sudah mulai tidak terasa sakit, Laren akhirnya bangun dari tempat tidur kemudian duduk.


"Aku di mana? Bukannya aku sudah tewas karena kecelakaan itu? Dan pakaian apa yang aku kenakan? Mengapa semuanya terlihat sangat asing bagiku?" Ucap Laren bertanya tanya sambil memperhatikan lingkungan di sekitarnya.


Laren pun berdiri dan berjalan sambil melihat dan mengamati ruangan yang begitu asing untuknya.


Setelah beberapa menit setelah Laren melihat lihat ruangan yang ia tempati, kepalanya kembali merasakan sakit dan muncul beberapa ingatan tentang siapa identitasnya saat ini dan di mana dia berada saat ini.


Karena kepalanya yang kembali sakit Laren pun kembali duduk di kasur dan menahan rasa sakit di kepalanya itu, dan Laren pun menutup matanya sembari menahan sakit di kepalanya yang sedari tadi berdenyut.


Saat secara tidak sadar menutup matanya, Laren melihat pecahan pecahan memori yang entah milik siapa.


"Hah? Pangeran keempat dinasti Yun? Apa maksudnya?" Ucap Laren bertanya tanya.


Saat Laren sedang bingung dengan ingatan yang tiba tiba muncul di kepalanya, seseorang tiba tiba mengetuk pintu.


"Pangeran apa anda di dalam?" Tanya seseorang yang mengetuk pintu tersebut.


Karena penasaran dengan siapa orang yang ada di luar, Laren pun mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.


"Iya, masuklah." Balas Laren.


Yang masuk adalah seorang tabib yang tadi pergi untuk mengambil obat untuk Laren dan juga... Seorang pengawal.


Ya, Laren berfikir orang yang datang bersama dengan tabib itu adalah seorang pengawal, akan tetapi pakaian pengawal itu sangat asing di mata Laren.


Di saat Laren sedang berfikir tentang pakaian kedua orang itu, tabib dan pengawal itu menunjukkan ekspresi wajah yang sangat terkejut saat melihat Laren.

__ADS_1


Laren pun reflek bertanya kepada mereka berdua, apa yang membuat mereka terkejut saat melihat dirinya.


__ADS_2