
Setelah itu, pangeran Laren kembali ke kamarnya dan berpura pura melakukan sesuatu agar tidak di curigai.
Tidak lama setelah itu, Rayden datang ke kamar pangeran Laren.
"Pangeran, apakah anda di dalam?"
"Ya, a-aku di sini." Balas pangeran Laren
"Pangeran, hamba ingin mengatakan sesuatu kepada anda."
"Katakan, ada apa Rayden?"
"Hamba harus pergi untuk sementara waktu dan tidak bisa bersama pangeran Laren untuk beberapa tahun." Ucap Rayden.
"Apa? Tapi kenapa?"
"S-saya... Saya harus mencari keberadaan adik saya pangeran." Ucap Rayden sedikit terbata bata.
"Adik? Kau tidak pernah mengatakan kepadaku jika kau mempunyai seorang adik." Ucap pangeran Laren dengan tatapan interogasi.
"B-benar pangeran, hamba memang tidak pernah menceritakan tentang adik saya."
"Berapa lama kamu akan pergi Rayden?" Tanya pangeran Laren.
"Mungkin saya akan pergi selama lima tahun, setelah itu saya akan kembali kepada anda pangeran." Balas Rayden.
Lima tahun. Sama seperti yang di ucapkan oleh ibunda kepadanya tadi. Jika dia memang ingin benar benar mencari adiknya dia tidak mungkin bisa memastikan kapan dia akan kembali. (Batin pangeran Laren sambil menatap ke arah Rayden tanpa berkata apapun)
Gawat, apakah pangeran Laren menyadari keanehan dari perkataanku? (Batin Rayden sedikit panik karena pangeran Laren tidak mengatakan apapun)
"Baiklah kalau begitu, semoga kamu menemukan adikmu Rayden." Ucap pangeran Laren sambil menepuk pundak Rayden.
"P-pangeran. Baik... Terima kasih pangeran." Ucap Rayden sambil membungkuk.
Tidak aku sangka pangeran akan mengizinkan aku semudah ini. (Batin Rayden sambil bernafas lega)
Ini adalah perintah langsung dari ibunda, jika aku menghalanginya untuk melakukan perintah dari ibunda, aku takut jika Rayden akan di hukum oleh ibunda. (Batin pangeran Laren)
"Kapan kau akan pergi Rayden?" Tanya pangeran Laren.
"Hamba mungkin akan mulai mencari adik hamba besok pangeran." Balas Rayden.
"Hmm baiklah kalau begitu. Rayden berjanjilah kepadaku jika kau akan kembali dengan keadaan hidup dan tanpa kurang apapun." Ucap pangeran Laren.
__ADS_1
Rayden pun langsung menatap pangeran Laren kecil dengan perasaan yang sedikit terkejut dengan ucapan yang baru saja ia ucapkan.
Pangeran Laren, bagaimana bisa ucapannya begitu mirip dengan apa yang di katakan oleh permaisuri sebelumnya? Apakah pangeran Laren mengetahui sesuatu? Tidak... Itu tidak mungkin, jika pangeran tau, maka pangeran tidak mungkin mengizinkan diriku untuk pergi. (Batin Rayden berfikir keras)
Keesokan harinya Rayden pergi dengan di antar oleh pangeran Laren dan juga permaisuri sampai di depan pintu kerajaan.
"Hati hati Rayden." Ucap pangeran Laren.
"Tentu saja pangeran." Balas Rayden sambil mengangguk.
'Ingat pesanku, kau harus tetap hidup dan melindungi putraku di masa depan kelak.' Ucap permaisuri kepada Rayden melalui telepati.
Rayden yang mendengar hal itu pun mengangguk perlahan menandakan bahwa ia mengerti akan perintah permaisuri.
"Kalau begitu hamba izin pamit yang mulia permaisuri dan pangeran Laren," Ucap Rayden sambil membungkuk.
"Hmm"
Rayden pun pergi dari situ dan permaisuri langsung mengajak pangeran Laren kecil untuk langsung masuk ke istana.
"Pangeran?"
Laren tiba tiba terbangun saat ada seseorang yang memanggil namanya, ia pun langsung terduduk setelahnya.
"Rayden, bukankah kamu pergi ke suatu tempat?" Tanya Laren heran saat melihat Rayden di hadapannya.
"Pergi? Hamba tidak pergi ke mana mana pangeran." Balas Rayden yang juga ikut bingung dengan ucapan Laren.
"Tunggu sebentar..."
Jadi aku sudah kembali? Aku sudah tidak di dalam mimpi itu lagi. Jadi ini adalah kenyataan. (Batin Laren)
"Ada apa pangeran? Apakah ada masalah?" Tanya Rayden.
"Ah tidak, tidak ada apa apa." Balas Laren.
"Pangeran, mohon maaf jika saya membangunkan pangeran. Tapi tidak biasanya pangeran bangun sesiang ini sehingga saya sedikit khawatir tentang pangeran." Ucap Rayden sambil menatap Laren.
"Apakah sekarang sudah siang?" Tanya Laren sambil memperhatikan suasana di luar kamarnya.
"Saat ini hampir menginjak tengah hari pangeran." Ucap Rayden.
"Benarkah?"
__ADS_1
Karena mimpi itu aku jadi bangun terlalu siang hari ini, tapi semua itu tidak masalah. Aku mendapatkan banyak informasi tentang Rayden. (Batin Laren)
"Pangeran tidak biasanya anda bangun siang hari seperti ini, apakah anda sangat lelah setelah kembali dari kerajaan Liu?" Tanya Rayden.
"Iya, aku memang lelah setelah kembali dari kerajaan Liu." Balas Laren sambil mengangguk.
"Pangeran, kemarin secara tidak sengaja saya melihat jika putri Liu Shang memeluk anda dan mengajak anda ke kamarnya hingga larut malam. Apakah anda melakukan hal itu pangeran? Sehingga anda kelelahan sekarang."
"Apa? Tentu saja tidak! Aku kelelahan karena perjalanan yang panjang bukan karena melakukan hal itu." Balas Laren dengan wajah kesalnya.
"Baik pangeran, hamba hanya mengatakan apa yang saya pikirkan pangeran." Ucap Rayden sambil mengangkat bahunya.
Ctak!
"Jangan berfikir yang aneh aneh Rayden." Ucap Laren setelah menyentil dahi Rayden.
"Aduh... Baiklah pangeran. Tapi bukankah itu hal yang wajar jika anda..."
"Sekali lagi kau mengatakan hal itu, aku benar benar akan melemparmu dari sini." Ucap Laren memotong pembicaraan Rayden sambil meliriknya dengan sinis.
"B-baik, saya akan diam." Ucap Rayden sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
Laren pun pergi untuk membersihkan dirinya dan Rayden pun menunggu Laren di luar, tidak lama setelah itu Laren pun menyusul Rayden yang ada di luar.
"Rayden bisakah kamu memberikanku peta tentang di mana letak hutan kematian itu?" Ucap Laren.
Aishh... Kenapa pangeran selalu memiliki keinginan yang kuat untuk pergi ke hutan kematian itu? (Batin Rayden)
"Kenapa kau hanya diam saja Rayden?"
"I-itu... Hamba, hamba tidak memiliki peta tentang hutan kematian itu pangeran." Balas Rayden dengan sedikit terbata bata.
"Kalau begitu carikan untukku, jika tidak ada maka pergilah ke pasar gelap untuk menemukan peta itu." Ucap Laren.
"Pangeran, mengapa anda selalu ingin pergi ke hutan kematian itu?" Tanya Rayden penasaran.
"Bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya? Aku ingin berlatih kultivasi di dalam hutan itu." Balas Laren.
"Ada banyak tempat yang bisa ada anda gunakan untuk berlatih kultivasi dan bahkan tempat itu bisa lebih aman daripada hutan kematian. Kenapa anda harus memilih hutan kematian pangeran?" Ucap Rayden.
"Itu karena hewan hewan di sana sangat cocok untukku berlatih, kenapa kamu terus menghalangiku untuk pergi ke hutan itu Rayden?" Ucap Laren yang sedikit kesal karena Rayden yang terus saja menghalanginya sejak beberapa hari yang lalu.
Sebenarnya apa yang ada di dalam hutan itu sehingga Rayden sangat berusaha untuk menahanku agar tidak pergi ke dalam hutan itu? (Batin Laren heran)
__ADS_1