
"Putraku Laren, aku dengar ada orang yang mengirimkan pembunuh bayaran untuk menyerang dirimu saat kamu berada di desa timur kerajaan dan juga saat perjalanan pulang menuju ke istana, apakah itu benar?"
Hm... Jadi raja sudah tahu tentang masalah ini? Pengawal yang mengatakannya atau... Sang raja sejak awal mengirimkan mata mata untuk mengawasiku saat pergi? (Batin Laren)
"Benar ayahanda." Ucap Laren sambil mengangguk
"Lalu apakah kamu mengetahui siapa yang mengirim mereka untuk menyerangmu?"
"Ini... Laren tidak tahu ayahanda."
"Laren, hal ini aku ketahui saat aku tidak sengaja mendengar percakapan antar pengawal yang sebelumnya ikut denganmu ke desa timur kerajaan." Jelas sang raja
Jadi raja mengetahui dari percakapan para pengawal, bukan dari mata mata. (Batin Laren)
"Kenapa kamu tidak memberitahu tentang hal itu lebih awal putraku?"
Laren pun diam sejenak dan berfikir jawaban apa yang harus di berikan kepada sang raja tentang kejadian pembunuh bayaran itu.
"Jadi... Sebenarnya Laren tidak ingin mengatakan kejadian ini kepada ayahanda, karena tidak ingin membuat ayahanda khawatir. Mohon maaf ayahanda."
"Hmm jadi seperti itu, tidak masalah putraku. Tapi lain kali jika kamu mengalami kejadian seperti ini maka kamu harus mengatakannya kepadaku agar aku bisa membantumu." Ucap sang raja sambil menepuk perlahan pundak Laren
"Baik ayahanda."
Anak ini selalu menghawatirkan diriku, sungguh anak sangat yang berbakti. (Batin sang raja)
"Saat kamu di serang oleh para pembunuh bayaran itu, apakah kamu terluka putraku?"
"Laren tidak terluka sama sekali ayahanda, tapi Laren curiga kalau tujuan para pembunuh bayaran itu bukan hanya untuk membunuh Laren."
"Apa? Lalu apa lagi tujuan tersembunyi dari para pembunuh bayaran itu?" Tanya sang raja penasaran
"Selain ingin membunuh Laren, sepertinya para pembunuh bayaran itu ingin menggagalkan usaha Laren untuk menyelesaikan wabah yang ada di desa timur kerajaan."
__ADS_1
"Menghentikan penyelesaian masalah wabah? Apakah kamu yakin Laren?" Ucap sang raja dengan heran
"Ini masih tebakan Laren saja ayahanda, karena menurut Laren jika dengan membunuh Laren maka bisa menghentikan penyelidikan Laren tentang wabah yang ada di desa timur kerajaan." Jelas Laren
"Tebakanmu memang masuk akal Laren." Ucap sang raja sambil ikut berfikir
"Selain itu, maka bisa mengurangi salah satu pangeran di kerajaan. Jadi bisa di bilang rencana ini di ibaratkan membunuh dua burung dengan satu batu." Jelas Laren
"Mengurangi salah satu pangeran di kerajaan? Maksudmu... Ini adalah perbuatan dari salah satu pangeran di kerajaan ini?" Ucap sang raja dengan keheranan
Sang raja bisa langsung memakan umpanku, ini memang bagus. Tapi ini terlalu cepat, jika aku langsung setuju dengan perkataan sang raja maka sang raja juga akan curiga kepadaku. Ayahanda bisa saja menganggap diriku ingin menggeser posisi para pangeran lainnya. (Batin Laren)
"Tidak, bukan seperti itu maksud Laren ayahanda. Maksud Laren adalah kemungkinan besar itu adalah musuh kerajaan kita yang lainnya, karena dengan berkurangnya pangeran kerajaan maka sama saja kekuatan kerajaan akan berkurang juga." Jelas Laren
"Hmm jadi seperti itu." Ucap sang raja sambil mengangguk perlahan
Laren, apakah dia benar benar tidak bermaksud menyalahkan para pangeran yang lainnya? Apakah dia tidak ingin merasa dirinya lebih baik di hadapanku dan menggeser posisi para pangeran lain untuk mendapatkan posisi pangeran mahkota?Padahal banyak yang menginginkan posisi ini. (Batin sang raja sambil menatap Laren)
"Baik kalau begitu Laren sudah menyampaikan semua yang ingin Karen sampaikan. Jika tidak ada hal lain lagi Laren izin pamit ayahanda." Ucap Laren sambil berdiri
"Baik ayahanda Laren mengerti, kalau begitu Laren pamit undur diri ayahanda." Ucap Laren kemudian membungkuk dan di balas anggukan oleh sang raja
Laren pun kemudian melangkah pergi dari ruangan sang raja, setelah itu Laren kembali ke kediamannya di istana dan langsung masuk ke ruangannya.
"Rayden." Panggil Laren
"Hamba di sini pangeran." Balas Rayden yang baru muncul di hadapan Laren
"Kemarin ada yang ingin kamu katakan kepadaku bukan? Katakanlah sekarang."
"Baik, hamba ingin memberikan laporan sesuai dengan perintah anda yang mulia."
"Katakan."
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu, pangeran Stellan memperlihatkan gerak gerik yang mencurigakan. Sehingga saya pergi untuk mengikutinya dan menyuruh orang saya untuk mengawasi pangeran yang lainnya yang ada di istana. Setelah saya mengikuti pangeran Stellan saya mendapati jika pangeran Stellan menyewa pembunuh bayaran, tapi saya tidak tahu untuk siapa pembunuh bayaran tersebut di gunakan." Ucap Rayden menjelaskan
"Hmm ternyata memang benar benar pangeran Stellan yang mengirim pembunuh bayaran itu, sungguh perhatian sekali." Ucap Laren sambil menyeringai
"Kemarin hamba tidak sengaja mendengar percakapan para pengawal tentang ada orang yang ingin mencelakai pangeran, apakah ini ada hubungannya dengan pangeran Stellan?"
"Tentu saja, karena pangeran Stellan memang menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhku dan menggagalkan usaha penyelesaian masalah di desa timur kerajaan." Balas Laren
"Apa? Tapi kenapa pangeran Stellan melakukan hal itu?" Tanya Rayden dengan heran
"Tentu saja agar nama baiknya terjaga, jika aku berhasil menyelesaikan tugas ini maka harga diri pangeran Stellan akan turun karena dengan lalai meninggalkan tugas kerajaannya dan tugasnya di selesaikan oleh pangeran lain yang bahkan lebih muda darinya."
"Pangeran benar, tapi jika seperti itu bukankah pangeran Stellan akan di curigai pangeran?"
"Tidak akan, karena ia membuat kematianku seakan akan karena terkena wabah yang ada di desa timur kerajaan, bukan karena pembunuhan."
"Licik sekali. Tapi pangeran dari mana anda mengetahui semua informasi ini?"
"Saat pembunuh bayaran itu datang, ada salah satu pengawal mata mata milik pangeran Stellan. Aku menangkapnya kemudian menanyakan tentang informasi informasi itu."
"Hmm jadi seperti itu, lalu apakah anda melepaskan orang tersebut?"
"Aku membunuhnya." Balas Laren dengan singkat
"Apa?! Bukankah lebih baik jika dia di jadikan mata mata kita pangeran?"
"Tidak, dia membocorkan rahasia tentang pangeran Stellan kepadaku. Jadi tidak menutup kemungkinan jika dia akan membocorkan rahasiaku kepada musuh di masa depan jika sampai dia menjadi orangku."
"Pangeran benar." Ucap Rayden sambil mengangguk perlahan
Pangeran berfikiran sangat panjang, ini sangat berbeda dengan pangeran Laren yang dulu aku kenal. (Batin Rayden)
"Jadi pangeran apakah anda ingin membalas pangeran Stellan?"
__ADS_1
"Tentu saja, semua orang yang menggangguku harus di balas berkali kali lipat. Tapi untuk pangeran Stellan aku seharusnya juga berterima kasih kepadanya karena sudah mengirimkan pembunuh bayaran itu." Ucap Laren sambil menyeringai
"Berterima kasih? Tapi kenapa pangeran?" Tanya Rayden dengan bingung karena ucapan Laren