Perjalanan Balas Dendam

Perjalanan Balas Dendam
Chapter 91


__ADS_3

Saat Liu Shang sedang mengamati kakaknya yang sedang bertarung dan bersiap siap jika kakaknya membutuhkan bantuannya.


Tiba tiba ada dua tangan yang tiba tiba muncul di sisi kanan dan kirinya yang langsung membungkam mulut Liu Shang.


Sehingga Liu Shang tidak bisa berkata apapun, dan akhirnya ia di bawa oleh seseorang yang tidak di ketahui identitasnya.


Siapa dia? Bagaimana bisa aku tidak merasakan kehadirannya sedikitpun? (Batin Liu Shang terkejut dan ia tidak bisa melakukan apa apa)


Liu Shang pun di bawa oleh seseorang dan kini matanya di tutup oleh sebuah kain dan tangannya di ikat dengan rapat agar Liu Shang tidak bisa kabur dari genggaman orang tersebut.


Di sisi lain, pangeran Liu Xi yang masih fokus bertarung dengan orang yang mengenakan baju serba hitam itu masih belum menyadari jika Liu Shang sudah tidak ada di tempatnya semula.


Di tengah tengah pertarungan, orang berbaju hitam itu tiba tiba menghentikan serangannya dan melemparkan bom asap di sekitar mereka berdua.


Pangeran Liu Xi berusaha untuk segera keluar dari area yang terdapat asap itu, karena khawatir jika asap tersebut beracun.


Di saat asap itu mulai perlahan menghilang, pangeran Liu Xi tidak lagi melihat pria berbaju hitam itu lagi, pria itu telah melarikan diri secara tiba tiba.


Kenapa dia pergi secara tiba tiba? Dia bahkan datang ke sini tanpa tujuan yang jelas. Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan? (Batin pangeran Liu Xi bertanya tanya)


Saat pikiran pangeran Liu Xi sudah tidak memikirkan tentang pria yang mengenakan pakaian serba hitam itu, kini pikirannya berfokus kepada Liu Shang.


Shang'er! Di mana Shang'er? (Batin pangeran Liu Xi panik sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan adiknya itu)


"Shang'er! Di mana kamu?" Teriak pangeran Liu Xi.


Dengan panik pangeran Liu Xi mencari keberadaan Liu Shang ke San kemari akan tetapi masih belum bisa menemukannya.


Aku tidak bisa merasakan aura milik Shang'er, jadi pria tadi datang ke sini dan melawanku untuk mengalihkan perhatianku. Sebenarnya tujuannya adalah untuk menculik Liu Shang. (Batin pangeran Liu Xi geram karena adiknya di culik bahkan saat ia berada di dekat Liu Shang)


"SIALAN!" Ucap pangeran Liu Xi geram.


Setelah itu, pangeran Liu Xi memutuskan untuk pergi dan mencari keberadaan adiknya itu dengan segera, karena khawatir jika adiknya akan kenapa napa.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, kini Liu Shang berada di tempat yang tidak di ketahui dan dalam kondisi mata yang masih di tutup oleh kain dan tangan yang masih terikat rapat.


Ia di lepaskan sendirian di tempat itu dengan tangan yang masih terikat dan mata yang tertutup.


Kini yang dia dengar hanyalah suara deru angin dan suara daun yang bergesekan dengan objek lainnya karena terkena dorongan angin.


Dalam jarak beberapa meter, terdengar suara air terjun dari kejauhan dan suara burung burung bernyanyi dengan indah.


Untuk sesaat, semua bunyi bunyi dari alam itu menurunkan tingkat kewaspadaan Liu Shang, tapi itu tidak berlangsung lama.


Kewaspadaan Liu Shang kembali meningkat setelah terdengar suara langkah kaki dua orang yang semakin mendekat ke arahnya.


Liu Shang dapat merasakan aura milik salah satu dari dua orang itu, itu adalah aura yang sama di saat di mana ia belum di culik sebelumnya.


"Siapa kalian? Apa maksud kalian membawaku ke sini?" Tanya Liu Shang sambil memutar badannya menghadap di mana dia merasakan aura kedua orang tersebut.


Kini kedua orang tersebut masih tutup mulut dan tidak melakukan atau mengatakan apapun kepada Liu Shang.


"Jangan mendekat!" Ucap Liu Shang memperingatkan pria itu.


Pria itu tidak menghiraukan perkataan Liu Shang dan terus melangkah mendekat ke arah Liu Shang.


Liu Shang mundur secara perlahan dengan tangan terikat dan mata yang tertutup, pria itu mempercepat langkahnya dan menangkap tangan Liu Shang sehingga ia tidak bisa ke mana mana.


"Lepaskan!" Teriak Liu Shang sambil berusaha melepaskan diri dari pria itu.


"Shutt..."


Pria itu membuka ikatan tangan Liu Shang perlahan dan memegang tangan Liu Shang agar dia tetap tidak bisa kabur dari genggamannya.


"Siapa kamu? Apa tujuanmu membawaku ke sini hah?" Ucap Liu Shang sambil memberontak dan berusaha untuk melepaskan tangannya.


Tapi semua usaha Liu Shang sia sia, tenaga pria itu jauh lebih besar darinya dan ia tidak bisa melepaskan tangannya itu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat memberontak, sebuah satu kalimat menghentikan semua perbuatan Liu Shang itu.


"Tenanglah ini aku."


Tangan Liu Shang langsung di lepas setelah kalimat itu keluar dari mulut pria itu, Liu Shang langsung diam tanpa memberontak saat tangannya di lepas.


Tangan pria itu kini mulai menuju ke belakang wajah Liu Shang dan membuka ikatan kain itu secara perlahan.


Kain itu turun secara perlahan dan mengusap dengan lembut wajah Liu Shang, kain yang semula menutupi wajah Liu Shang kini perlahan terbuka dan menampakkan wajah seseorang yang sangat di kenali oleh Liu Shang.


Kini mata mereka saling bertatapan, layaknya terkunci satu sama lain, mereka tidak bisa mengalihkan pandangan satu sama lain sehingga mereka masih bertatapan selama beberapa saat.


"Yun'er?" Ucap Liu Shang tanpa melepaskan tatapannya dari pria itu.


"Benar ini aku, maaf jika aku telah mengejutkanmu dengan menculikmu secara tiba tiba ke sini." Balas Laren kepada Liu Shang.


"Jadi semua itu kamu yang melakukannya!?" Ucap Liu Shang sambil mendorong Laren perlahan.


"Haha benar, ini semua adalah rencanaku." Balas Laren sambil tertawa kecil.


"Kenapa kamu melakukan semua ini?" Tanya Liu Shang dengan sedikit murung.


"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu ini nanti, sekarang lihat apa yang aku siapkan untukmu." Ucap Laren sambil memperlihatkan pemandangan indah yang ada di sekitar mereka.


"Indah sekali," Gumam Liu Shang sambil mengamati lingkungan di sekitarnya dengan suara air terjun yang damai dan suara kicauan burung yang sahut sahutan menenangkan jiwa.


Di tambah dengan angin sepoi sepoi dan hawa segar yang berasal dari pepohonan hijau yang subur di tempat tersebut.


Ada beberapa kelinci putih yang berlari ke sana kemari, Liu shang dengan gemas menggendong salah satu dari kelinci itu dan mengelusnya.


"Yun'er, dari mana kamu bisa mengetahui tentang seindah ini?" Tanya Liu Shang penasaran.


"Ini adalah tempat yang aku siapkan sendiri, kecuali untuk air terjun dan danau itu, selainnya aku menyiapkannya sendiri." Balas Laren sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2