
Setelah beberapa menit berjalan, sampailah mereka berdua di aula utama, saat mereka sampai di sana, tidak ada seorang pun yang berada di aula itu, terutama sang kaisar.
"Pengawal tadi menyuruhku untuk pergi ke aula bukan?" Ucap Laren sambil menoleh ke arah sekitar dan mencari keberadaan kaisar.
"Benar pangeran, tapi kenapa tidak ada orang sama sekali di sini?" Ucap Rayden heran.
Saat Rayden dan juga Laren sedang bingung karena tidak ada seorang pun yang ada di aula itu, datanglah seorang kasim yang menghampiri mereka.
"Pangeran Laren." Panggil kasim itu sambil berlari ke arah Laren.
"Kasim? Di mana yang mulia kaisar? Bukankah kaisar menyuruh saya untuk menemui beliau di aula utama?" Tanya Laren begitu kasim itu berdiri di depannya.
"Benar, sebelumnya yang mulia kaisar memang memerintahkan untuk mengatakan kepada pangeran Laren untuk menemui beliau di aula utama. Tapi tiba tiba yang mulia berubah pikiran, kemudian yang mulia kaisar meminta agar saya mengatakan kepada pangeran Laren agar pangeran menemui yang mulia kaisar di ruangannya." Ucap kasim itu menjelaskan.
"Ke ruangan kaisar?" Tanya Laren sedikit terkejut juga terheran dengan ucapan Kasim itu mengenai perintah sang kaisar.
"Benar pangeran, hamba sudah mencari anda ke kamar anda tapi tidak ada orang sama sekali di sana, sehingga hamba mencari ke aula untuk mengatakan ini pangeran." Balas kasim itu menjelaskan.
Kenapa yang mulia kaisar tiba tiba ingin bertemu denganku di ruangannya? Bukankah itu artinya jika kaisar ingin berbicara secara pribadi denganku? (Batin Laren)
"Baiklah kalau begitu, aku akan menemui kaisar. Bawa aku untuk menemui kaisar." Ucap Laren.
"Baik pangeran, silahkan ikuti saya." Balas kasim itu.
Laren dan juga Rayden mengikuti kasim itu untuk menuju ke ruangan kaisar, tidak lama setelah itu sampailah mereka di depan ruangan kaisar.
"Pangeran silahkan, kaisar sudah menunggu di dalam." Ucap kasim itu mempersilahkan Laren untuk masuk.
Laren pun mengangguk perlahan kemudian masuk bersama dengan Rayden ke ruangan tersebut.
Di dalam, kaisar sudah duduk menunggu di dalam ruangannya, melihat hal itu Laren dan Rayden pun segera membungkuk.
"Hamba memberikan salam kepada yang mulia kaisar." Ucap Laren dan juga Rayden secara bersamaan.
"Hmm kalian berdua berdirilah." Perintah kaisar.
__ADS_1
Laren dan juga Rayden pun berdiri sesuai dengan perkataan yang di ucapkan oleh kaisar.
Aura milik pria itu... Mengapa aku seperti pernah merasakannya di suatu tempat? Siapa dia? (Batin kaisar sambil mengamati Rayden)
"Pangeran Laren siapa dia?" Ucap kaisar sambil menatap ke arah Rayden.
"Menjawab pertanyaan yang mulia. Dia adalah pengawal pribadi hamba yang mulia, dia adalah orang yang sangat setia kepada hamba. Namanya adalah Rayden." Ucap Laren.
"Hmm pemuda yang sangat berbakat pantas saja dapat mengikuti pangeran Laren." Ucap kaisar sambil mengangguk perlahan.
"Yang mulia salah paham, Rayden memang adalah orang yang berbakat tapi Rayden sudah mengikuti Laren sejak dulu, bukan baru baru ini yang mulia." Ucap Laren menjelaskan.
"Hmm jadi seperti itu." Ucap kaisar sambil mengangguk perlahan.
"Pangeran Laren, aku ingin berbicara empat mata dengan dirimu. Apakah kamu keberatan dengan hal itu?" Ucap kaisar
Rayden pun melirik ke arah Laren untuk memastikan apa yang di putuskan oleh Laren, Laren pun melirik ke arah Rayden dan mengangguk perlahan.
Rayden pun balas mengangguk perlahan dan mengerti isyarat dari Laren.
"Kalau begitu hamba izin pamit keluar terlebih dahulu yang mulia, saya permisi." Ucap Rayden kemudian membungkuk kepada sang kaisar.
Apa yang sebenarnya ingin kaisar bicarakan dengan pangeran Laren? Mengapa harus sampai ke ruangan pribadi kaisar dan harus menyuruhku pergi? (Batin Rayden dengan heran sambil melangkah pergi dari ruangan pribadi kaisar)
"Pangeran Laren silahkan duduk di sini."
"Baik yang mulia." Balas Laren sambil duduk di tempat yang di sediakan.
"Mohon maafkan saya karena datang terlambat yang mulia."
"Tidak masalah pangeran Laren, itu juga salahku karena aku yang mengubah tempat secara tiba tiba sehingga membuat pangeran Laren repot."
"Jika kaisar yang meminta, tentu saja tidak repot sama sekali yang mulia." Ucap Laren sambil tersenyum.
"Hahaha baiklah baiklah." Ucap sang kaisar sambil tertawa karena ucapan Laren
__ADS_1
Kaisar mengamati Laren dengan seksama dan tidak melepaskan pandangan ke arah Laren selama beberapa saat.
Merasa di amati oleh kaisar Laren pun heran mengapa kaisar memperhatikannya seperti itu.
Mengapa aku merasa jika kaisar menyadari ada yang aneh denganku? Apakah kaisar mengetahui sesuatu? Tidak itu tidak mungkin jika kaisar mengetahui sesuatu yang aneh kepadaku apalagi jika itu berhubungan dengan kultivasi. (Batin Laren sambil melamun)
"Pangeran Laren, apakah kamu keberatan jika aku ingin berbicara berdua seperti ini denganmu?" Tanya kaisar sambil tetap menatap ke arah Laren.
"Tentu saja tidak yang mulia, tapi yang mulia anda mengamati saya seperti itu apakah ada yang salah dengan saya yang mulia?" Ucap Laren
"Tidak, tidak ada yang salah denganmu pangeran Laren. Jika boleh tahu berapa umurmu saat ini?"
Kenapa kaisar tiba tiba menanyakan umurku? (Batin Laren)
"Umur saya 19 tahun yang mulia." Balas Laren.
"19 tahun?" Ucap sang kaisar dengan terkejut
"Benar yang mulia." Balas Laren sambil mengangguk perlahan
"Hmm mencapai level phoniex tahap awal di umur 19 tahun, peningkatan secepat ini sungguh sangat jarang terjadi. Kamu adalah pemuda yang sangat luar biasa pangeran Laren." Ucap sang kaisar sambil menepuk pundak Laren perlahan
"A-apa? Saya tidak tahu apa yang di bicarakan oleh yang mulia kaisar." Ucap Laren
Apa?! Bagaimana bisa yang mulia kaisar mengetahui tentang hal ini? Itu artinya tadi orang yang Rayden maksud benar benar adalah kaisar. Mungkin tujuannya adalah untuk menyelidiki diriku. (Batin Laren)
"Apa itu tingkatan phoenix yang mulia? Hamba tidak pernah mendengarnya." Ucap Laren sedikit panik karena merasa jika identitasnya di ketahui oleh kaisar
"Sudahlah pangeran Laren, tidak perlu berpura pura dan menyembunyikan hal ini lagi dariku." Ucap sang kaisar sambil menatap Laren
"M-maksud... Maksud yang mulia?"
"Aku merupakan keturunan dari burung phoenix, sama seperti dirimu. Jadi aku tahu aura siapa yang mempunyai tingkat phoenix dan siapa yang tidak." Ucap sang kaisar menjelaskan
Mendengar hal itu, Laren berbicara dengan Lacey yang berada di sebelahnya melalui batinnya karena Lacey bisa membaca pikiran Laren tanpa melalui telepati.
__ADS_1
Laren bertanya kepada Lacey tentang ucapan yang di katakan oleh kaisar, apakah hal itu benar adanya atau tidak.
'Lacey apakah yang mulia kaisar benar benar adalah keturunan burung phoenix?'