
"Hmm jadi bisa di bilang itu adalah keberuntungan untukmu bukan?" Balas ibu suri sambil menatap Laren.
"Benar, itu sungguh keberuntungan yang sangat besar bagi saya yang mulia." Balas Laren sambil mengangguk perlahan.
"Tapi apakah kamu mengetahui siapa orang yang mengirim pembunuh bayaran itu atau pernahkah kamu berusaha untuk mengecek siapakah yang telah mengirimkan pembunuh bayaran itu?" Tanya ibu suri sambil menatap Laren.
"Tidak pernah yang mulia, saya tidak mengetahui siapa yang mengirim pembunuh bayaran itu." Balas Laren dengan sopan.
"Kenapa? Apakah kamu tidak penasaran siapa yang ingin membunuhmu atau... Kau sebenarnya sudah tau siapa yang mengirim pembunuh bayaran itu, tapi kau tetap menyembunyikannya karena suatu alasan?" Ucap ibu suri sambil menatap Laren.
Ibu suri ini langsung menanyakan hal seperti ini, dia benar benar adalah orang yang sangat susah untuk di hadapi. (Batin Laren sedikit panik)
"Itu... Saya benar benar tidak tau tentang siapa yang mengirim pembunuh bayaran itu yang mulia." Balas Laren dengan sopan.
"Lalu kenapa kamu tidak ingin mengetahui siapa yang ingin membunuhmu dengan mengirim pembunuh bayaran itu?"
Gawat! Apa yang harus aku katakan kepada yang mulia? Aku tidak bisa mengatakan jika aku sudah mengetahui jika itu adalah perbuatan salah satu pangeran. (Batin Laren panik)
"Ada apa pangeran Laren? Kenapa kamu diam saja?" Tanya ibu suri mendesak Laren untuk menjawab pertanyaannya.
"S-saya tidak ingin menyelidiki siapa yang mengirim mereka adalah karena..."
Sebelum Laren menyelesaikan ucapannya, ada seseorang yang tiba tiba datang ke arah di mana ibu suri dan juga Laren sedang mengobrol.
Sehingga Laren menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah sumber suara tersebut, begitu juga dengan ibu suri.
Huft, untung saja. Ada seseorang yang datang sehingga aku punya kesempatan untuk tidak menjawab pertanyaan dari ibu suri ini. (Batin Laren sambil menghela nafas lega)
"Ibunda, apa yang anda lakukan di sini? Besok kita akan sangat sibuk untuk acara peresmian kerajaan, alangkah baiknya jika anda bisa beristirahat lebih awal." Ucap seseorang itu sambil melangkah semakin mendekat ke arah ibu suri dan juga Laren.
"Kenapa kamu berada di sini? Bukankah kamu bilang ingin istirahat lebih awal?" Tanya ibu suri mengalihkan pandangannya yang semula menatap Laren.
__ADS_1
"Iya, aku tidak bisa tidur sehingga aku memutuskan untuk berjalan jalan di taman kemudian aku melihat anda dan memutuskan untuk menghampiri kalian." Ucap sang raja menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi untuk beristirahat." Balas ibu suri itu kemudian mencari cari keberadaan pelayannya.
"Baik, pelayan antarkan yang mulia ke kamarnya." Ucap sang raja kepada para pelayan ibu suri.
Dua pelayan pun datang ke sana dan mengantarkan ibu suri untuk pergi ke kamarnya.
Kini di taman itu, tersisa hanya dua orang yaitu sang raja dan juga Laren yang masih berdiri tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Akhirnya sang raja memecah keheningan dan membuka suara.
"Laren, apakah ibu suri mempersulit dirimu barusan?" Tanya sang raja sambil menatap Laren.
"Tidak ayahanda, ibu suri dan saya hanya mengobrol biasa." Balas Laren dengan sopan.
"Kamu tidak perlu berbohong kepadaku Laren, aku selama ini tahu jika ibu suri dari awal memang tidak terlalu menyukaimu. Kamu jangan tersinggung akan ucapan ku Laren." Ucap sang raja.
"Hmm aku tau, kamu memang adalah anak yang sangat berbakti." Ucap sang raja sambil menepuk pundak Laren perlahan.
Aku ingin bertanya kepada sang raja, kenapa ibu suri tidak terlalu menyukai pangeran Laren yang asli? Sedangkan pangeran Laren yang asli adalah anak dari permaisuri, di mana darah yang ada di dalam tubuhnya adalah darah kerajaan murni. Akan tetapi jika aku bertanya kepada raja mungkin dia akan curiga kepadaku, lebih baik aku mencari informasi lewat jalan lainnya. (Batin Laren merenung)
"Laren kenapa kamu diam saja? Apakah kamu lelah? Kamu bisa beristirahat lebih awal, besok kita akan membutuhkan banyak tenaga untuk acara peresmian yang begitu meriah." Ucap sang raja membuyarkan lamunan Laren.
"Baik ayahanda, kalau begitu Laren izin pamit terlebih dahulu. Ayahanda jangan lupa untuk beristirahat dengan baik." Ucap Laren sambil membungkuk.
"Hmm aku mengerti putraku." Balas sang raja sambil mengangguk perlahan.
Setelah itu, Laren pun membungkuk dan meninggalkan sang raja di taman dan menuju ke kamarnya yang telah di siapkan.
Setelah sampai di kamarnya, Laren langsung menutup pintunya dan menguncinya kemudian duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
"Lacey," Panggil Laren secara tiba tiba.
"Iya tuan, saya di sini. Apakah anda memerluka bantuan saya?" Ucap Lacey yang baru saja muncul di samping Laren.
"Lacey, apakah kamu tau kenapa ibu suri tidak menyukai pangeran Laren? Bukankah pangeran Laren adalah satu satunya anak dari permaisuri, sehingga dia pastinya akan mempunyai darah keturunan kerajaan yang asli." Ucap Laren sambil menatap Lacey.
"Tuan, informasi tentang ibu suri telah terbuka. Di sini di sebutkan jika ibu suri membenci pangeran Laren yang asli itu karena permaisuri Yun, yang mana itu adalah ibu kandung pangeran Laren. Permaisuri Yun sangat susah untuk di peralat dan di susah untuk di atur tidak seperti orang orang lainnya." Ucap Lacey mulai menjelaskan kepada Laren.
"Lalu apa hubungannya dengan membenci pangeran Laren yang asli?" Tanya Laren penasaran.
"Hubungannya adalah secara tidak langsung permaisuri Yun akan bisa menghambat usaha ibu suri untuk mendapatkan sesuatu baik itu banyak berpengaruh ataupun hanya sedikit." Balas Lacey menjelaskan.
"Jadi ibu suri membenci pangeran Laren karena ibunya susah untuk di peralat dan di rasa menghalangi setiap rencana yang hendak di lakukan oleh ibu suri?" Tanya Laren memastikan.
"Benar tuan, seperti itu." Balas Lacey sambil mengangguk cepat.
Lacey pernah mengatakan kepadaku jika permaisuri Yun meninggal dengan tanda tanda mulutnya berbusa dan beberapa tanda lainnya. Apakah ibu suri ada hubungannya dengan kematian permaisuri Yun? (Batin Laren merenung)
Laren merenung selama beberapa saat dan setelah itu, Laren memutuskan untuk tidur dan beristirahat lebih awal.
Tidak lama kemudian Laren telah tertidur dan langsung hanyut di alam mimpinya.
"Laren, kita bertemu lagi."
Suara yang terdengar tidak asing bagi Laren, Laren menoleh ke sana kemari mencari sumber suara itu.
Terlihat di kejauhan seorang pria yang mempunyai siluet tubuh yang hampir sama dengan Laren.
Sosok itu semakin lama semakin dekat ke arah Laren, tapi Laren tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Siapa kau?" Tanya Laren tetap berusaha untuk melihat siapa orang yang berada di depannya itu.
__ADS_1