
"Baiklah, kamu memang harimau yang pintar, Xiao Ying." Ucap Laren sambil mengelus gemas kepala Xiao Ying.
Setelah selesai memberikan bubuk itu kepada Xiao Ying, sayap yang ada di tubuh harimau kecil itu tiba tiba menghilang.
Kini harimau salju bersayap itu terlihat seperti harimau putih biasa dan tidak ada yang menyadari jika itu adalah harimau yang istimewa.
Bubuk pil itu benar benar sangat berpengaruh kepada Ying, ini benar benar barang yang sangat berguna. (Batin Laren sambil mengamati perubahan yang pada tubuh Xiao Ying)
"Baiklah, sekarang ayo kita keluar Ying, sudah saatnya kita untuk kembali ke istana." Ucap Laren sambil menggendong harimau kecil itu.
Laren pun melangkah ke arah mulut goa dan terlihat Rayden yang masih sedang berusaha untuk memecahkan gelombang energi yang menutup mulut goa itu.
"Pangeran, anda jangan terlalu dekat dengan mulut goa. Jika tidak maka anda bisa sana terluka pangeran." Ucap Rayden saat melihat Laren yang berjalan mendekati mulut goa.
"Rayden berhentilah menyerang, jangan berusaha untuk memecahkan gelombang energi itu lagi." Ucap Laren sambil menatap Rayden.
Rayden yang mendengar hal itu pun langsung berhenti dan merasa heran akan ucapan Laren tersebut.
"Tapi kenapa pangeran?" Tanya Rayden heran.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Rayden, Laren pun langsung melangkah ke arah gelombang energi itu.
Melihat hal itu, Rayden langsung sangat panik saat melihat perbuatan Laren yang tiba tiba melangkah menuju ke gelombang energi itu tanpa adanya persiapan.
"Pangeran, apa yang anda lakukan? Jangan lakukan itu pangeran, nanti anda akan terlu... Ka."
Ucapan Rayden terhenti saat melihat Laren yang melewati gelombang energi itu dengan santainya dan bahkan gelombang energi itu tidak dapat menghentikan langkahnya.
Setelah itu Laren langsung keluar dan juga melangkah ke arah Rayden, dan Rayden pun masih menatap Laren dengan tatapan heran.
"Berapa lama lagi kau akan menatapku Rayden?" Ucap Laren sambil menatap sinis ke arah Rayden.
"Ah, maafkan saya pangeran." Ucap Rayden kemudian langsung menatap ke arah lainnya.
__ADS_1
"Ayo, sudah waktunya kita untuk kembali ke istana pangeran." Ucap Laren kemudian melangkah keluar dari hutan itu.
"B-baik pangeran, pangeran bagaimana bisa anda keluar dan melewati gelombang energi itu dengan mudah bahkan tanpa perlawanan?" Ucap Rayden sambil menyusul Laren dan menyamakan langkahnya.
"Tentu saja, kenapa tidak?" Balas Laren tanpa menoleh ke arah Rayden.
"Bagaimana caranya pangeran?" Tanya Rayden penasaran.
"Karena aku yang membuat gelombang energi itu." Balas Laren sambil melirik ke arah Rayden.
Rayden pun seketika membeku saat mendengar jawaban dari Laren itu dan menghentikan langkahnya sebentar.
P-pangeran yang membuat gelombang energi itu? Lalu kenapa tidak memberitahuku lebih awal dan membuatku menghabiskan begitu banyak energi untuk memecahkan gelombang itu? (Batin Rayden)
Setelah beberapa saat merenung, Rayden sedikit berlari ke arah Laren dan berjalan di sampingnya.
"Kenapa anda tidak memberitahu saya lebih awal? Saya jadi menghabiskan energi lebih banyak untuk memecahkan gelombang energi itu, tapi tetap saja tidak berhasil." Ucap Rayden menatap Laren sambil berjalan.
"Bukankah kamu yang ingin memecahkan gelombang itu sendiri?" Ucap Laren sambil menoleh ke arah Rayden.
"Kamu terlalu banyak berfikir Rayden, tidak banyak orang yang berani masuk ke dalam hutan kematian ini. Hanya orang orang tertentu yang bisa masuk dan bertahan di dalam hutan ini." Ucap Laren.
"Anda memang benar tuan, tapi buktinya sekarang ada dua manusia yang berada di hutan kematian ini." Balas Rayden.
"Em yah, aku ke sini bukan untuk bermain main, aku ke sini untuk berlatih." Balas Laren.
"Baiklah pangeran, ngomong ngomong untuk apa anda memasang gelombang itu jika anda yakin tidak ada orang lain di dalam hutan ini pangeran?" Tanya Rayden penasaran.
'Semalam aku membuat gelombang energi itu hanya untuk berjaga jaga, jika saja ada hewan buas dengan level tinggi akan menyerang tiba tiba." Balas Laren.
"Hmm jadi seperti itu." Bala Rayden sambil mengangguk ngangguk.
Saat sampai di suatu tempat, Rayden tiba tiba meminta izin kepada Laren untuk pergi sebentar, dan Laren pun mengizinkan Rayden.
__ADS_1
Ke mana dia pergi? Kenapa tiba tiba sekali ingin pergi? (Batin Laren sambil melihat siluet Rayden yang semakin menghilang)
Tidak lama setelah itu, Rayden pun kembali kepada Laren dan mengatakan sesuatu yang membuat Laren terheran.
"Pangeran," Panggil Rayden.
"Hmm. Ada apa? Ke mana kamu pergi barusan?" Tanya Laren penasaran.
"Ada sesuatu yang harus saya lakukan pangeran. Pangeran saya ingin membuat tantangan untuk anda." Balas Rayden.
"Tantangan? Tantangan apa?" Tanya Laren dengan heran.
"Tadi saya sudah meninggalkan jejak di daerah sana, tantangannya adalah anda hanya boleh menginjak daun yang sudah saya letakkan di sana. Jika anda kalah maka akan ada hukuman atau sesuatu yang akan anda lakukan nanti pangeran." Ucap Rayden menjelaskan.
"Lalu jika aku menang?" Tanya Laren.
"Jika anda menang, maka saya akan menuruti semua keinginan pangeran dan tidak akan menolak." Balas Rayden dengan yakin.
"Hmm baiklah kalau begitu, memangnya apa yang sulit dengan tantangan ini?" Ucap Laren kepada Rayden.
"Kesulitannya adalah karena daun yang saya letakkan di sana hanya berukuran telapak tangan orang dewasa. Sehingga anda hanya bisa menapakkan satu kali di atas daun itu, jika anda sampai kehilangan keseimbangan maka anda akan menginjak tanah dan anda akan gagal pangeran." Ucap Rayden menjelaskan.
"Baiklah aku akan menerimanya." Balas Laren sambil mengangguk.
Bagus sekali, pangeran menerima tantangan dariku tanpa curiga sedikitpun. Semoga saja pangeran akan bisa menyelesaikan tantangan itu sehingga pangeran tidak akan terkena jebakan formasi yang di pasang oleh ketua sebelumnya di hutan ini. (Batin Rayden sambil menghela nafas panjang)
Kenapa Rayden tiba tiba pergi dan menyiapkan semua ini untukku? Dan kenapa dia tiba tiba menantang ku untuk melakukan semua ini? Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku? (Batin Laren berfikir)
Laren pun mulai melangkahkan satu kakinya di atas daun itu satu per satu tanpa menginjakkan kakinya yang lain ke tanah.
Sedangkan Rayden sudah lebih dulu berada di depan Laren dan mengamati setiap langkah Laren.
Laren mencoba untuk berpura pura kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, kemudian ia melihat ekspresi Rayden.
__ADS_1
Saat aku hampir menginjakkan kakiku ke tanah, wajah Rayden terlihat begitu tenang, tapi matanya menunjukkan jika dia sedang khawatir jika aku benar benar akan menginjakkan kakiku ke tanah. (Batin Laren)