
"Yang mulia, apakah memang benar pangeran Laren yang menyelesaikan masalah wabah yang ada di desa timur kerajaan?"
"Itu benar, pangeran Laren menyelesaikan masalah itu bersih atas usahanya sendiri dan tanpa bantuanku. Bahkan beberapa hari yang lalu ada warga dari desa timur kerajaan yang datang ke istana memberikan beberapa bahan pangan, mereka bilang itu adalah sedikit rasa terima kasih kepada pangeran Laren." Ucap sang raja
"Pangeran Laren benar benar hebat."
"Benar, bahkan pangeran juga dapat menyelesaikan masalah ini dengan kurun waktu yang bisa di hitung singkat."
"Semoga pangeran Laren selalu sehat dan panjang umur."
Semua orang yang ada di aula tersebut memuji Laren karena dapat menyelesaikan masalah wabah mematikan yang ada di desa timur kerajaan.
Melihat Laren di puji oleh semua orang yang ada di aula tersebut, pangeran lainnya merasa iri kepada Laren.
Laren pun menyadari jika wajah para pangeran itu sangat kesal dan tidak suka jika Laren di puji oleh banyak orang.
Haha ini akan meningkatkan nilai kebencian para pangeran terhadapku dan membantu misiku, aku tidak perlu bersusah payah lagi. (Batin Laren sambil mengamati pangeran pangeran itu)
"Terima kasih atas kebaikan semuanya. Tapi ini juga bukan sepenuhnya dariku, ayahanda juga ikut membantu dan beberapa tokoh kerajaan yang ikut denganku juga turut bekerja keras untuk membantu." Ucap Laren
"Tidak putraku, aku sama sekali tidak membantu. Kamu jangan merendahkan diri sendiri." Ucap sang raja
"Yang mulia raja benar pangeran, anda yang sudah bersusah payah untuk mengatasi masalah wabah itu. Bahkan kami juga tidak dapat membantu banyak untuk pangeran." Ucap salah satu menteri yang sebelumnya ikut dengan Laren ke desa timur kerajaan
"Karena usaha dan kerja keras pangeran Laren secara adil dan tidak dengan cara yang buruk, maka aku memutuskan untuk menaikkan pangkat pangeran Laren. Kini pangeran Laren berhak untuk mendapatkan kesempatan untuk menjadi penerus tahta dan menjadi raja selanjutnya." Ucap sang raja dengan tersenyum
"Apa?!" Ketiga pangeran yang di undang secara resmi ke aula itu sangat terkejut dengan ucapan yang di katakan oleh sang raja.
__ADS_1
"Mohon maaf sebelumnya ayahanda, tapi adik Laren masih terlalu muda untuk menyandang gelar sebagai calon pewaris kerajaan ayahanda. Tubuh pangeran Laren juga masih begitu lemah dan belum sembuh sepenuhnya. Jadi apakah tidak terlalu cepat jika mengumumkan hal ini sekarang ayahanda?" Ucap pangeran Abercio
"Kakak Abercio benar ayahanda, Laren masih terlalu muda dan terlalu cepat jika membahas tentang pewaris tahta." Ucap pangeran Stellan menambahi ucapan pangeran Abercio
"Kalian semuanya diam, keputusanku sudah bulat. Apakah kalian berdua meragukan keputusanku?" Ucap sang raja sambil menatap ke arah pangeran Abercio dan pangeran Stellan
"B-bukan... Bukan seperti itu ayahanda. Kami tidak bermaksud meragukan keputusan ayahanda. Kami hanya..."
"Huh baiklah, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi." Ucap sang raja sambil menghela nafas panjang
Tiba tiba saat membahas tentang penerus kerajaan, tiba tiba ada kasim dari istana kekaisaran yang datang ke aula tersebut.
"Salam yang mulia raja Yun." Ucap kasim tersebut
"Kasim Lee?" Ucap sang raja terkejut dengan kedatangan kasim tersebut
"Saya datang untuk menyampaikan titah dari yang mulia kaisar untuk pangeran Laren."
Aku? Kenapa harus aku? (Batin Laren sambil berdiri ke hadapan kasim tersebut)
"Berhubungan dengan masalah wabah yang sebelumnya ada di desa timur kerajaan Yun, kaisar telah mendengar tentang masalah tersebut yang kemudian telah di selesaikan oleh pangeran Laren dengan kerja kerasnya. Karena hal tersebut kaisar secara resmi mengundang pangeran Laren secara terhormat untuk datang ke istana kekaisaran sesuai waktu yang di tentukan." Ucap kasim tersebut sambil membacakan gulungan kertas yang di bawanya
"Apa? Laren di undang secara resmi ke istana kekaisaran oleh kaisar?" Gumam pangeran Abercio terkejut
Apa? Kaisar? Siapa kaisar ini? Mengapa aku tidak mempunyai ingatan sama sekali tentang kaisar ini? (Batin Laren bertanya tanya)
"Laren menerima titah dari yang mulia kaisar dan akan memenuhi undangan kaisar sesuai dengan apa yang ada di dalam titah tersebut." Ucap Laren sambil berlutut dan mengambil gulungan kertas yang berisikan titah tersebut
__ADS_1
"Baik. Kaisar ingin bertemu dengan anda tiga hari lagi jadi mohon jangan terlambat."
"Laren mengerti, Laren tidak akan mengecewakan kaisar."
"Baiklah kalau begitu tugasku sudah selesai, aku izin pamit raja Yun." Ucap kasim tersebut sambil membungkuk kemudian melangkah pergi
"Hebat sekali Laren, kamu dapat di undang secara resmi ke istana kekaisaran itu merupakan kehormatan yang besar untukmu dan juga untuk kerajaan ini." Ucap sang raja dengan bahagia
Laren mampu menarik perhatian kaisar kepadanya, jika dia bisa memanfaatkannya dengan baik maka masa depannya akan sangat cerah. Kerajaan ini pun akan mendapatkan nama baik di mata kaisar. (Batin sang raja)
Apa?! Mengapa Laren bisa di undang secara resmi ke istana kekaisaran? Kenapa bukan aku yang di undang? Aku bahkan pergi ke desa itu lebih awal dari pada Laren. Kenapa hanya Laren yang mendapatkan titah itu? (Batin pangeran Stellan dengan sangat kesal)
Semua orang yang ada di ruangan itu membicarakan tentang Laren yang di undang oleh kaisar ke istana kekaisaran, dan mereka juga merasa sangat senang.
Di sisi lain, pangeran Stellan dan pangeran Abercio sangat kesal karena hanya Laren yang mendapatkan titah tersebut, melihat wajah kesal kedua pangeran tersebut Laren pun mengambil kesempatan untuk membuat pangeran Stellan lebih kesal lagi.
Aku tebak dia akan seceroboh seperti sebelumnya. Dan tidak menyadari jika aku menggunakan telepati. (Batin Laren sambil tersenyum tipis)
'Kakak Stellan, aku benar benar harus berterima kasih kepadamu karena sudah mengirimkan pembunuh bayaran sehingga aku dapat menemukan penawar untuk wabah di desa itu' Ucap Laren melalui telepati sambil menatap ke arah pangeran Stellan
Mendengar hal itu pangeran Stellan pun seketika menoleh ke arah Laren, dan Laren pun hanya membalas tersenyum kecil ke arah pangeran Stellan.
Tapi pangeran Stellan menganggap senyuman itu adalah senyuman mengejek sehingga membuatnya semakin kesal dan emosi lalu tanpa sadar berteriak sambil menunjuk nunjuk Laren.
"KAU! BERANI BERANINYA MENUDUHKU MENGIRIM PEMBUNUH BAYARAN! Aku sama sekali tidak mengetahui siapa yang mengirim pembunuh bayaran yang menyerangmu baik itu saat di desa timur kerajaan maupun saat perjalanan pulang ke istana." Ucap pangeran Stellan dengan emosi
"PANGERAN STELLAN! Berani beraninya kamu berteriak di depanku dan menuduh pangeran Laren sembarangan." Ucap sang raja murka
__ADS_1
Pangeran Stellan pun segera tersadar atas perbuatannya dan meminta maaf kepada sang raja.