
"Laren, kamu adalah anak yang sangat berbakti. Sebelumnya kamu telah membantu rakyat di kerajaan kita untuk keluar dari wabah yang sangat mematikan dan kini kamu telah di undang ke istana kekaisaran. Ini sungguh suatu kehormatan besar bagi istana kita." Ucap sang raja sambil menghentikan langkahnya
"Laren hanya ingin membantu ayahanda dan juga istana ini agar semakin maju, Laren belum melakukan banyak hal untuk kerajaan, jadi ayahanda jangan terlalu memuji Laren. Selama ini Laren sakit dan belum bisa membantu ayahanda, sekarang Laren harus membalas kebaikan yang ayahanda berikan selama ini."
"Kamu jangan merendahkan diri lagi putraku, kamu jelas jelas sudah sangat membantuku dan juga kerajaan ini. Masalah tentang dirimu sakit sebelumnya itu adalah salahku."
"Maksud ayahanda?" Tanya Laren sambil menatap bingung dengan ucapan sang raja
"Aku terlalu mengabaikan dirimu karena larut dalam kesedihan karena kehilangan orang yang paling aku sayangi, sehingga kamu bisa di jebak masuk ke dalam hutan dan akhirnya mengakibatkan kakimu terluka parah." Ucap sang raja dengan raut wajah yang sedih
Orang yang paling di cintai? Bukankah itu maksudnya permaisuri? Ibunda dari pangeran Laren yang asli. (Batin Laren)
"Jadi... Ayahanda sudah tahu semua itu?"
"Iya, aku mengutus orang untuk menyelidiki apa yang terjadi saat itu dan ternyata ini semua ulah para pangeran itu. Tapi karena ucapan ibu suri yang mengatakan jika mereka masih terlalu kecil untuk menjalani hukuman oleh karena itu aku tidak bisa menghukum mereka sesuai aturan kerajaan. Pada saat itu kekuasaanku belum sekuat sekarang jadi aku tidak bisa membantah sama sekali."
Jadi seperti itu, aku pernah berfikir jika sang raja sudah tidak peduli dengan pangeran Laren yang asli karena permaisuri sudah tiada dan mengabaikan semua itu. Tapi tidak di sangka jika dia menyelidiki masalah ini sampai ke akarnya. Tunggu... Siapa ibu suri ini? (Batin Laren)
"Ibu suri?" Tanya Laren kepada sang raja
"Benar, mungkin kamu sudah lupa dengan ibu suri. Kamu sudah lama tidak bertemu dengannya selama bertahun tahun, saat ini dia sedang ada di kerajaan selatan sedang membantu kakekmu." Ucap sang raja
Kakek? Ibu suri? Mengapa aku tidak mempunyai ingatan sama sekali tentang hal itu? (Batin Laren penasaran)
"Baiklah kalau begitu, tiga hari lagi kamu akan pergi ke istana kekaisaran. Siapkanlah apa yang hendak kamu bawa Laren."
"Baik ayahanda, kalau begitu Laren izin pamit." Ucap Laren sambil membungkuk
"Hmm pergilah."
__ADS_1
Aku harus menanyakan semua ini kepada Lacey, tidak tahu apakah Lacey sudah kembali atau belum, semoga saja aku bisa bertemu dengannya. (Batin Laren)
Laren pun melangkah menuju ke kediamannya yang ada di istana utama, saat dalam perjalanan Laren bertemu dengan pangeran Stellan yang sedang di ikuti oleh beberapa pengawal di belakangnya.
"Laren, tunggu sebentar." Panggil pangeran Stellan
"Ada apa kak?" Ucap Laren sambil menghampiri pangeran Stellan
"Aku ingin berbicara empat mata denganmu." Ucap pangeran Stellan
"Mohon maaf sebelumnya pangeran, tapi anda harus segera kembali ke istana pangeran dan kembali ke kediaman anda sesuai dengan hukuman dari sang raja beberapa hari yang lalu." Ucap salah satu pengawal yang mengikuti pangeran Stellan
"Tidak apa pengawal, kami tidak akan lama. Setelah itu pangeran Stellan bisa kembali ke kediamannya. Kalian bisa meninggalkan kami." Ucap Laren
"Kalau begitu, baiklah pangeran kami permisi." Ucap pengawal itu kemudian pergi dan di ikuti oleh pengawal lainnya
"Mari kita berbicara di sana kakak." Ucap Laren sambil melangkah menuju ke suatu tempat duduk yang berada di taman
"Hmm baiklah." Balas pangeran Stellan sambil mengikuti Laren
"Laren, sepertinya kamu sudah tahu aku ingin membicarakan tentang apa." Ucap pangeran Stellan sambil duduk di sebelah Laren
"Kakak, langsung pada intinya saja, apa yang ingin kakak katakan?" Ucap Laren sambil melihat ke arah langit yang biru cerah
Aku tebak pangeran Stellan akan membicarakan tentang pembunuh bayaran itu. (Batin Laren)
"Baiklah aku tidak akan berbasa basi lagi, sekarang jawab pertanyaanku mengapa kamu menuduhku sebagai orang yang mengirimkan pembunuh bayaran itu? Apa alasan yang membuatmu berfikir seperti itu?" Ucap pangeran Stellan langsung pada intinya
Nahh sesuai perkiraanku. (Batin Laren)
__ADS_1
"Yang pertama, karena aku menyuruh semua orang yang mengetahui tentang pembunuh bayaran itu untuk tutup mulut dan tidak memberitahu kepada siapapun. Yang kedua, karena aku hanya memberitahu hal ini kepada ayahanda saja dan aku yakin ayahanda masih belum mengatakan masalah ini kepada siapapun." Ucap Laren tanpa melihat ke arah pangeran Stellan
"Hmm jadi seperti itu, apakah kamu bersungguh sungguh?" Ucap pangeran Stellan sambil menatap Laren
Apakah aku yang terlalu jauh memikirkan hal ini? Apakah Laren mengira aku yang mengirim pembunuh bayaran itu hanya karena beberapa alasan ini? (Batin pangeran Stellan)
"Tentu saja." Ucap Laren ikut menoleh ke arah pangeran Stellan
Dia benar benar mempercayai hal ini? Mudah sekali membodohinya haha. (Batin Laren sambil tersenyum tipis)
"Mengapa kakak seakan akan tidak percaya dengan ucapanku? Apakah memang benar benar kakak yang... Mengirim para pembunuh bayaran itu?" Tanya Laren
"T-tentu saja tidak... Tidak mungkin aku akan mengirim pembunuh bayaran untuk menyakiti adikku sendiri." Ucap pangeran Stellan dengan sedikit terbata bata
"Kak apakah kamu tahu? Sebelum aku pergi ke acara ulang tahun ayahanda beberapa waktu yang lalu aku bermimpi jika aku di bawa oleh tiga orang kemudian menceburkan diriku ke suatu kolam yang ada di istana pangeran." Ucap Laren sambil melirik ke arah pangeran Stellan
"A-apa? Benarkah? Bagaimana bisa kamu bermimpi seperti itu?"
Untung saja kakak Abercio sudah mengubah ingatan Laren tentang kejadian itu menggunakan kultivasinya, kalau tidak dia bisa saja mengadu kepada ayahanda. (Batin pangeran Stellan sambil menghela nafas panjang)
Kamu pasti berfikir jika ingatanku sudah di ubah oleh salah satu dari kalian, tenang saja lagi pula aku sudah membalas perbuatan kalian untuk kejadian itu. (Batin Laren sambil tersenyum kecil)
"Aku juga tidak tahu kak."
"Sudahlah jangan memikirkannya lagi itu hanya mimpi, semuanya bisa ada di mimpimu Laren."
Kau menasehatiku seakan akan kau adalah kakak yang baik, tapi siapa yang tahu jika dirimu selama ini ingin menyingkirkan diriku. (Batin Laren sambil menatap pangeran Stellan)
"Hmm. Baiklah kalau begitu karena tidak ada yang kita bicarakan lagi aku ingin pamit karena aku harus mengatur waktu dan juga menyiapkan barang yang hendak aku bawa untuk pergi ke istana kekaisaran." Ucap Laren sambil berdiri
__ADS_1