
"Mana laporan yang saya minta kemarin malam?"
"Maaf, Pak, berkas-berkasnya belum selesai karena—"
"Kamu ini bagaimana sih! Saya tidak suka pada karyawan yang suka lelet dan malas-malasan, saya gaji kamu mahal, apa kamu sudah bosan bekerja di sini?"
"Ma-maaf, Pak."
"Ya sudah, kembali ke ruanganmu, kalo sampai siang laporannya belum selesai juga, segera bawa barang-barangmu dari sini!"
"Ba-baii, Pak."
Rayhan kini berubah menjadi sosok yang pemarah dan dingin, setiap hari dia selalu menumpahkan semua kemarahan dan kekesalannya pada karyawan-karyawannya. Apalagi jika para bawahannya itu bekerja tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
"Permisi, Pak, emm… anda sudah ditunggu di ruang meeting," ujar Arin hati-hati karena ia juga tak ingin terkena amarah Rayhan.
"Hmm… saya akan segera ke sana!" ujar Rayhan dingin.
***
Ashila kini sedang termenung sendiri di taman kampus, ia memikirkan semua yang terjadi selama seminggu ke belakang itu.
Empat hari yang lalu, Rayhan menemuinya di kampus dan memintanya untuk pulang ke apartemen, tetapi Ashila selalu menolaknya, bahkan sampai sekarang Rayhan sering meneleponnya dan mengiriminya banyak pesan, tetapi Ashila tak pernah menjawabnya maupun membalas pesan-pesannya.
Tiga hari yang lalu kedua orang tuanya terus menanyakan tentang Rayhan kepadanya, kenapa menantunya itu tak pernah mampir ke rumah mereka, kenapa menantunya itu tak pernah menemuinya, dan masih banyak lagi.
Ashila merasa terdesak oleh pertanyaan-pertanyaan itu, akhirnya ia pun menceritakan tentang masalah pernikahannya dan keinginan untuk bercerai dengan Rayhan. Kedua orang tua Ashila tentu saja sangat terkejut dengan apa yang terjadi dengan kehidupan pernikahan putri kesayangannya itu, terlebih lagi sang abi. Abi Yahya berkali-kali meminta maaf pada Ashila karena telah menjodohkannya dengan lelaki yang tidak tepat.
"Dor!"
Lamunan Ashila buyar kala seseorang dari belakang mengagetkannya.
"Astagfirulah! Ish! Kak Azmi, ngagetin aja!" Ashila memajukan bibirnya ke depan.
Azmi terkekeh pelan lalu mendudukan bokongnya di samping Ashila. "Lagian… kakak liat dari jauh kamu lagi ngelamun, masih pagi udah ngelamun aja, ngelamunin apa sih hem?"
"Hah! Enggak kok, siapa yang ngelamun."
"Ish! Udah ketangkep basah juga masih ngelak aja."
"Emm… Kak, aku mau nanya serius nih, boleh, gak?"
__ADS_1
"Nanya apa sih? Nanya tentang kita, ya?" tanya Azmi seraya mengedipkan matanya sebelah.
Ashila memajukan bibirnya. "Ikh… Kak Azmi… aku serius…"
"Ah! Iya-iya gak usah ambekan deh, mau nanya apa sih?"
"Kalo ada perempuan baik, cantik, pinter terus suka sama kakak, malah dia itu suka sama kakak udah lama banget, gimana tuh sikap kakak?"
Azmi mengangkat telunjuknya dan mengetuk-ngetukannya di dagu. "Emm… tergantung, kalo cewek itu kamu baru kakak suka."
"Ikh… yang pasti perempuan itu bukan aku, Kak."
"Hehehe… iya deh, emang cewek yang kamu maksud itu beneran adanya atau gimana sih?"
"Sebenernya ada perempuan yang suka sama kakak, emmm… aku tau sih banyak perempuan-perempuan di kampus ini yang suka ngejar-ngejar kakak, tapi perempuan ini tuh beda, Kak. Dia itu ungkapin perasaannya sama Kakak cuma lewat buku diary sama do'a aja."
Azmi mengerutkan keningnya, ia jadi tertarik dengan cerita Ashila, memangnya adakah dan siapakah gadis yang menyukainya dalam diam itu? Karena selama ini banyak sekali gadis yang mendekatinya, dan tanpa malu mereka mengungkapkan perasaannya padanya, bahkan ada beberapa pula gadis yang merayunya dan meminta berkencan dengannya. Tapi sayangnya ia selalu menolaknya secara halus maupun dengan sedikit kasar, karena sampai saat ini hatinya masih terisi oleh gadis di sampingnya itu.
"Emang cewek itu siapa sih?" tanya Azmi penasaran.
"Ada lah, Kakak mau gak ketemu sama dia?"
"Boleh, kakak kepo juga sama orangnya."
"Oke, deh."
***
Saat ini Ashila dan Azmi sedang menunggu seseorang pengagum rahasia Azmi yang tak lain adalah Annisa.
Sepulang kampus tadi Ashila memberitahu kepada Annisa bahwa dirinya ingin mengajak Annisa menemui seseorang. Annisa menyetujuinya, tetapi gadis itu ingin pergi ke kantor ayahnya terlebih dahulu karena ada urusan dengan ayahnya.
"Kok Nisa belum nyampe juga, ya? Dia gak lupa kan?" tanya Ashila dalam hati.
"Shil, dia bakal dateng gak sih?" tanya Azmi.
"Mungkin bentar lagi, Kak."
Azmi hanya mengangguk saja. "Kakak sih gak masalah kalo dia datengnya mau satu jam lagi, soalnya kan bisa berduaan sama kamu."
Ashila memukul wajah Azmi dengan tasnya. "Huh! Dosa loh, Kak, godain istri orang. Lagian kita di sini ramean loh, tuh banyak orang di sana… di sana…" ujar Ashila sambil menunjuk ke arah kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Hehe… yang penting kan di bangku ini kita cuma berdua," ucap Azmi sambil tertawa cengengesan.
"Huh! Dasar!"
"Eh, bentar, Shil." Azka mengambil sesuatu di atas hijab Ashila. "Ini ada daun di atas kerudung kamu," ujar Azka sembari memperlihatkan daun yang ia pegang.
"Brengsek!" Tiba-tiba seseorang dari belakang menarik kerah baju Azmi dan melayangkan pukulan keras di pipi Azmi, membuat sudut bibir lelaki itu robek.
"Mas Rayhan!?" Ashila terpekik kaget kala melihat orang yang memukul Azmi adalah suaminya, ia pun segera menarik lengan Rayhan.
"Kamu apa-apaan sih, Mas?"
Tangan Rayhan mulai terangkat hendak memukul Azmi lagi. Namun, Ashila menahan itu dan menarik lengan Rayhan hingga tubuh lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang. "Kamu apa-apaan sih!"
"Apa-apaan kamu bilang?" ucap Rayhan kasar. "Aku gak suka kamu deket-deket sama dia!" Lelaki itu menunjuk Azmi. "Jangan lupa, kamu itu masih istri aku, Shil," ucapnya sambil mencengkeram bahu Ashila.
"Istri kamu." Ashila tersenyum sinis. "Oh ya? Setelah semua yang kamu lakuin sama aku, kamu masih anggap aku istri kamu, Mas."
"Shil-"
Ashila langsung memotong ucapan Rayhan. "Cukup, Mas, aku udah capek sama semua ini, aku udah muak, cepat beri aku talak, Mas. Karena gak lama lagi aku akan kirim surat perceraian kita."
"Kenapa? Kamu nyuruh aku buat cerain kamu supaya kamu bisa sama dia, 'kan?" tanya Rayhan sembari menunjuk Azmi.
"Ini sama sekali gak ada hubungannya sama kak Azmi, aku mau cerai dari kamu karena aku ingin cepet lepas dari kamu, Mas, supaya kamu juga bisa pertanggungjawabin semua perbuatan kamu itu ke mbak Renata."
"Sayang, ak-"
"Jangan panggil aku sayang kalo nyatanya kamu nyakitin aku, Mas."
"Shil-"
"Cukup! Mending sekarang kamu pergi dari sini!"
"Say-"
"Pergi, Mas!!"
"Oke! Aku bakalan pergi, tapi kamu harus ingat satu hal, AKU GAK AKAN PERNAH CERAIN KAMU! GAK AKAN!"
"Kamu egois, Mas!"
__ADS_1
"Terserah kamu mau bilang apa, aku ngelakuin ini, karena aku gak mau kehilangan kamu."