Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 70 Kemunculan Masalah


__ADS_3

Rayhan baru saja kembali dari ruang meeting, ia kembali berkutat dengan layar monitor dan berkas-berkas.


Di sela-sela sedang membaca berkas, ia mendengar suara keributan di luar ruangannya, awalnya lelaki itu cuek dan tak peduli, mungkin itu hanya para pegawai yang sedang bercanda, tetapi lama-kelamaan suaa keributan itu semakin membuat Rayhan tak fokus, ia pun bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Rayhan sambil membuka pintu, ia terkejut saat dirinya melihat wanita dari masa lalunya kini ada di hadapannya.


"Ngapain kamu di sini."


"Sayang, aku kangen sama kamu." Wanita itu melangkah mendekati Rayhan.


"Jangan mendekat!"


"Arin, saya kan sudah bilang, suruh security untuk jangan pernah izinkan dia masuk," ucap Rayhan pada sekertarisnya.


"M-maafkan atas kelalaian saya, Pak, saya tidak tau, tiba-tiba mbak ini masuk," ucap Arin sambil menundukan kepalanya.


"Kembali bekerja, saya yang akan mengurusnya."


Arin mengangguk, lalu beranjak dari sana.


"Apa yang kamu inginkan lagi, Renata?" tanya Rayhan pada wanita


"Aku ingin memperlihatkan sesuatu sama kamu, Sayang," ujar Renata sambil menyeringai.


Rayhan masuk ke dalam ruang kerjanya, diikuti oleh Renata.


"Sayang aku kang--"


"Gak usah basa-basi, apa yang ingin kamu perlihatkan padaku?" tanya Rayhan dingin.


Renata mengambil ponselnya dari tas slempangnya, ia menggeser ponselnya, kemudian menyodorkan benda pipih itu pada Rayhan.


Lelaki itu terkejut dan melebarkan bola matanya, ia pun segera menghapus foto itu.


"Kamu tau kan, Ray, apa reaksi istri kamu kalo ngeliat itu?" ujar Renata.


"Tapi sayang, aku sudah hapus fotonya," ucap Rayhan tersenyum sambil menyodorkan kembali ponsel Renata.


Renata tersenyum sinis. "Tapi aku masih mempunyai salinannya, Sayang." Renata mengambil sebuah foto berukuran 5R dan memperlihatkannya pada Rayhan.


Mata Rayhan memanas. "Apa yang kamu mau sebenarnya, Ren?"


"Aku ingin menjadi istri kamu, Sayang, aku ingin kita menikah," ucap Renata kalem, ia memeluk Rayhan dan mengelus dada bidang Rayhan, sesekali wanita itu memainkan kancing kemeja Rayhan hingga terbuka.


Rayhan segera mendorong tubuh Renata yang bergerilya di tubuhnya itu. "Lebih baik kamu pergi sekarang!"


"Aku gak akan pergi sebelum kamu kasih aku kesempatan untuk jadi istri kamu."


"Itu tidak akan pernah terjadi, Ashila hanya akan menjadi istriku satu-satunya, tidak ada yang lain!"


"Tapi… kalo aku kasih foto ini ke istri kamu, apa dia akan tetap jadi istri kamu, ya?"


Rayhan mengepalkan tangannya. "Jangan coba-coba buat ngancem aku?"

__ADS_1


"Aku gak ngancem, Sayang." Renata kembali mendekati Rayhan, namun lelaki itu mengisyaratkan tangannya menahan wanita itu untuk mendekatinya.


"Stop di situ! Jangan dekat-dekat!" ucap Rayhan tajam.


"Sayang…" Wajah Renata terlihat memelas, padahal hatinya tersenyum penuh kemenangan, ia senang melihat wajah Rayhan se-frustasi itu, ia senang akhirnya cepat atau lambat, lelaki yang ia cintai itu pasti akan kembali ke pelukannya.


"Lebih baik kamu pergi sekarang, Renata!"


"Oke, aku bakalan pergi, tapi gak lama lagi pasti aku akan balik lagi, Sayang, kamu inget, ya, walaupun foto itu kamu hapus, aku masih punya buaanyak banget foto lainnya," ucap Renata dengan santai. "Aku pergi, ya, selamat bekerja, Sayang, emmuach." Renata memberi ciuman dari jarak jauh untuk Rayhan, kemudian beranjak pergi dari sana.


Rayhan menjambak rambutnya sendiri, dirinya merasa frustasi, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, tatapannya nanar menatap punggung Renata yang semakin hilang dari pandangannya.


"Ya Allah, kenapa harus kayak gini?" Rayhan mengerang, lelaki itu berbalik memukul tembok dengan bertubi-tubi.


***


Kring, kring, kring!


Bel berbunyi tanda jam istirahat telah usai, semua siswa yang berada di kantin, kamar mandi, perpustakaan, dan tempat lainnya segera memasuki ruang kelas masing-masing.


"Selamat siang semuanya."


"Siang, Bu."


"Anak-anak hari ini ibu dan para guru lainnya akan ada rapat di kantor, jadi kalian akan dipulangkan."


Semua murid kelas XI fisika 2 bersorak ria. "Yeeee…"


"Tapi sebelum itu, ibu akan memberikan tugas kepada kalian, tugasnya akan dikerjakan secara berkelompok."


"Untuk menentukan kelompok kalian, ibu sudah menyiapkan undian, jadi kalian tinggal pilih gulungan kertas yang ada di kotak ini." Bu Arini menunjukan sebuah kotak yang berisi gulungan beberapa kertas. "Dan tugas kelompok ini hanya untuk dua orang saja," lanjutnya.


Bu Arini mulai memutari isi kelas, membawa kotak berisi gulungan kertas tadi, satu persatu murid kelas itu mulai mengambilnya, hingga semuanya selesai.


"Oke, sekarang kalian buka, dan nomor yang sama adalah teman kelompok kalian."


Sesuai intruksi, semuanya mulai membuka gulungan kertas yang sudah mereka ambil tadi, suasana kelas mulai berisik, mereka sibuk menanyakan temen kelompok mereka masing-masing.


Ada yang berteriak histeris saat mengetahui kelompoknya, ada juga yang ber 'huuu' ria karena kecewa.


"Oke, anak-anak semuanya diam, jangan sampai suara-suara berisik kalian itu terdengar sampai ke kantor," ujar Bu Arini.


Mereka semua pun diam.


"Azka dari tadi kamu diam saja, apa kamu sudah menemukan teman kelompokmu?"


"Emm… belum, Bu."


Semua siswi kembali berbisik, mereka berharap akan satu kelompok dengan lelaki tampan itu.


"Oke, anak-anak, diam semuanya." Bu Arini kembali menenangkan para murid yang mulai berisik kembali. "Azka, kamu mendapatkan nomor berapa?" tanya Bu Arini pada Azka.


Azka kembali membuka gulungan kertas yang ia ia simpan di atas meja. "Nomor tujuh, Bu," ucapnya santai.

__ADS_1


"What's!" Suara pekikan terdengar dari salah satu siswi kelas itu.


"Kenapa Kayla?" tanya Bu Arini yang mendengar suara pekikan itu ternyata dari mulut Kayla.


"E-enggak papa, Bu," ujar Kayla.


"Oke, siapa yang mendapatkan nomor tujuh?"


Semua kelas tampak diam.


Bu Arini mengernyitkan keningnya.


"Beneran gak ada yang mendapatkan nomor tujuh selain Azka? Perasaan ibu sudah menulisnya dengan benar," ucap guru yang kira-kira berusia empat puluh tahunan itu.


"Emm, saya bu yang dapet nomor tujuh," ucap Kayla.


"Oh kamu, kenapa malah diam saja. Oke berarti kelompok tiga Azka dan Kayla."


"Emm… Bu, teman kelompoknya bisa diganti gak? Soalnya saya gak mau satu kelompok sama dia," ucap Kayla sambil menunjuk Azka.


"Lu pikir gue mau satu kelompok sama lo, gue juga ogah,"


"Gue juga ogah kali."


"Stop Kayla, Azka, kalian jangan ribut! Keputusan ibu sudah bulat, siapa saja yang mendapatkan nomor yang sama berarti akan satu kelompok."


Kayla dan Azka hanya mendesah pelan.


"Ya Tuhan… mimpi apa gue semalem bisa satu kelompok sama lo," ujar Kayla sambil menunjuk Azka.


Azka mendengus kesal.


"Gue juga ogah banget satu kelompok sama singa betina kayak lo."


"Sudah-sudah jangan ribut, oh ya apa yang lainnya sudah menemukan teman kelompoknya?" tanya Bu Arini.


"Sudah, Bu."


"Bagus kalau begitu, tugas kelompoknya yaitu membuat proposal kerja, lusa kalian kumpulkan," ucap Bu Arini.


"Proposal tentang apa, Bu?" tanya seorang siswa.


"Bebas, tentang apa saja, yang penting lusa harus sudah selesai dan dikumpulkan."


"Baik, Bu."


"Apa ada lagi yang ingin ditanyakan?"


"Tidak, Bu."


"Bagus kalau begitu, jangan lupa bagi yang piket kelas besok, sebelum pulang bersihkan dahulu kelasnya, ya sudah, ibu permisi dahulu, jangan lupa tugasnya dikerjakan," ucap Bu Arini kemudian beranjak pergi keluar kelas.


Setelah Bu Arini pergi, semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas, kecuali bagi yang bertugas piket.

__ADS_1


...


Hai gaes, aku kembali nih, aku cuma mau ngasih tau, kayaknya kedepannya akan banyak konflik nih dalam rumah tangga Rayhan dan Ashila, terus nikmati ceritanya ya, makasih.


__ADS_2