Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 43 Gagal


__ADS_3

"Shila… ada yang mau saya omongin juga sama kamu."


"Apa?" Rayhan berbalik menatap Rayhan


"Mungkin ini saatnya."


Rayhan memegang tangan Ashila dan menatap intens manik mata istrinya itu.


"Saya… saya… euu…" Mendadak lidah Rayhan menjadi kelu untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Saya…" Ashila mengulangi ucapan Rayhan.


"Saya…"


"Allahu akbar… Allahu akbar.."


Terdengar adzan subuh dari masjid yang tak jauh dari apartemen membuat Rayhan tidak jadi melanjutkan kata-katanya, mereka berdua mengucapkan hamdalah lalu menjawabi adzan.


Setelah adzan subuh selesai, Ashila menanyakan kembali perkataan Rayhan yang sempat terhenti karena suara adzan.


"Kamu tadi mau ngomong apa, Mas?" tanya Ashila


"Saya..euu... ngomongnya entaran aja, lagi pula itu enggak begitu penting juga."


"Yaudah. Kalo gitu aku mau ke kamar dulu, mau sholat."


"Shil.."


"Ya.."


"Gimana kalo kita sholat subuhnya berjama'ah?"


"Boleh, Mas."


"Kamu ambil mukenanya gih sana. Saya tunggu di sini."


"Iya, Mas," ucap Ashila seraya berlalu pergi keluar kamar.


Rayhan pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, di sana Rayhan tak henti-hentinya merutuki diri sendiri karena dirinya menjadi gugup ketika akan mengungkapkan isi hatinya pada Ashila.


"Ray, Ray, elo bodoh banget siih! Tinggal bilang 'saya jatuh cinta sama kamu' aja susah banget," ucap Rayhan sambil menunjuk-nunjuk bayangan dirinya di dalam cermin.


Kemudian Rayhan pun segera pergi menuju keran untuk mengambil air wudhu, setelah itu Rayhan segera keluar dari kamar mandi.


Terlihat Ashila sudah rapi memakai mukena sedang membereskan peralatan sholat Rayhan.


Rayhan terpaku melihat Ashila, istrinya itu terlihat sangat cantik memakai mukena berwarna merah maroon yang sangat pas dengan kulit Ashila yang putih bersih.


"Mas, ini baju koko dan sarungnya udah aku siapin."


"Makasih."

__ADS_1


Setelah Rayhan sudah rapi memakai baju koko berwarna putih, sarung biru dan tak lupa juga peci hitam kesayangannya, mereka berdya segera mengambil posisi Rayhan sebagai imam dan Ashila sebagai makmum.


Untuk pertama kalinya pasangan suami-istri ini melaksanakan sholat berjama'ah setelah kurang lebih tiga bulan menikah.


Seperti pasangan suami-istri lain, setelah sholat Ashila mencium tangan suaminya dan Rayhan pun membalas dengan mengecup kening istrinya itu. Entahlah, keduanya begitu sangat bahagia pagi ini.


***


Memasak, menyiapkan pakaian kerja untuk suami, dan tentunya membereskan rumah adalah pekerjaan Ashila setiap pagi.


Saat ini Ashila sudah selesai memasak, ia pergi ke kamar Rayhan untuk menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya itu.


Suara gemericik air di kamar mandi menandakan Rayhan kini tengah mandi di sana.


Tanpa membuang waktu Ashila pun segera berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian kantor suaminya.


Ketika Ashila sedang mengambil setelan jas dan kemeja dan dasi dari lemari tiba-tiba suara derit pintu terdengar menampilkan Rayhan yang baru saja selesai mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, tangannya sibuk mengibas-ngibas rambutnya dengan handuk kecil agar cepat kering dan dada bidangnya bahkan masih menyisakan beberapa tetes air bekas mandi yang belum mengering.


Ashila berusaha menelan salivanya melihat penampilan Rayhan yang membuat wanita manapun pasti akan terpesona.


"Pagi," sapa Rayhan sambil berjalan mendekati Ashila.


"Pa-pagi juga," jawab Ashila yang sedikit gugup melihat tubuh atletis Rayhan yang sebenarnya sudah terbiasa ia lihat setiap pagi, tetapi entah kenapa setiap melihat tubuh atletis suaminya itu Ashila selalu saja membuat jantungnya bersenam ria.


Dengan cepat Ashila memberikan pakaian Rayhan dan suaminya itu pun segera mengambilnya dan berlalu masuk ke ruang ganti.


Lima menit kemudian, Rayhan kembali keluar dari ruang ganti, lalu Ashila pun segera memasangkan dasi pada leher suaminya itu.


Rayhan pun mencondongkan dirinya sehingga jarak wajah di antara mereka hanya berjarak beberapa senti saja, membuat Ashila sedikit gemetar dan gugup, bukan hanya karena jarak mereka yang dekat saja tetapi juga karena penampilan Rayhan yang terlihat lebih tampan membuat Ashila ingin terus memandangnya.


Tanpa diduga, saat Ashila memasangkan dasi, tatapan ia dan Rayhan bertemu, membuat Ashila terkejut dan tanpa disengaja ia mengencangkan dasi Rayhan membuat suaminya itu sedikit tercekik oleh dasinya.


"Uhuk… uhuk, kamu kencengan makein dasinya." Rayhan terbatuk membuat Ashila panik dan segera membenarkan dasinya.


"Ma-maaf, aku gak sengaja," ucap Ashila merasa bersalah.


"Enggak papa kok, kamu jangan panik gitu," ucap Rayhan sambil menangkup kedua pipi Ashila.


Ashila yang diperlakukan seperti itu tentu saja langsung membuat kedua pipinya bereaksi dan berubah menjadi merah bak keipiting rebus.


Entah bisikan dari mana, Rayhan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Ashila membuat Ashila mematung dan menahan napasnya.


Semakin dekat…


Semakin dekat…


Dan…


Drrt, drrt, drrt!


Suara ponsel Rayhan membuat kedua insan itu saling melepaskan diri, keduanya diliputi oleh rasa canggung, jika tidak ada suara di dalam benda pipih itu entah apa yang sedang mereka lakukan sekarang.

__ADS_1


Rayhan pun segera mengambil ponselnya dan mengangkat telepon dari seseorang yang membuatnya sedikit terganggu, bukan sedikit tetapi sangat mengganggu. Sedangkan Ashila, ia segera keluar menuju dapur dengan jantung yang berdetak tak karuan.


"Halo, ada apa?" ucap Rayhan dingin.


[…...]


"Baiklah, kamu urus saja dahulu nanti saya segera kesana."


[…….]


"Heem." Rayhan pun segera mematikan teleponnya, mengambil tas kerjanya lalu berjalan keluar kamar menuju dapur untuk melakukan sarapan pagi.


***


"Sarapannya udah siap, tinggal makan aja," ucap Ashila ketika melihat Rayhan berjalan ke arahnya yang sedang menata makanan di meja.


Rayhan hanya tersenyun dan mengangguk, ia pun segera duduk di meja makan dan Ashila pun segera mengambilkan makanan untuk suaminya itu, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang tengah hangat-hangatnya.


"Nih, makanlah," ucap Ashila tersenyum lembut sambil memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauknya kepada suaminya.


"Makasih,"


"Itu udah kewajiban aku sebagai istri."


"Apa hanya karena kewajiban aja?"


Ashila mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?"


"Maksud saya… ah udahlah lupain aja, mending kita sarapan aja karena setelah ini saya ada meeting pagi," ucap Rayhan sembari menyendokan makanan ke dalam mulutnya.


Hanya keheningan yang terjadi di antara kedua insan ini, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


Setelah selesai makan Ashila pun mengantarkan suaminya ke depan pintu apartemen.


"Oh ya kamu kok belum siap-siap sih? Gak ngampus?"


"Ngampus kok, cuma kelasnya siang." Rayhan hanya ber oh ria saja.


"Yasudah, saya berangkat, ya."


"Kamu hati-hati, ya. Jangan ngebut-ngebut," ucap Ashila sambil mencium punggung tangan Rayhan.


"Iya, kamu juga hati-hati nanti ke kampusnya."


"Iya."



Gimana? Kalian kesel gak nih, karena Rayhan gak jadi ungkapin perasaannya?


Jangan pada marah-marah ya sama author, karena author pengen ngulur waktu dulu biar pas akhirnya gimana gituh…

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote juga ya, biar authornya semangat, oh ya kalian juga boleh masuk ke grup chat, di sana kalian boleh mengungkapkan pandangan kalian tentang novel aku, kekurangannya apa aja..


__ADS_2