
Kini Rayhan sampai di lokasi yang dikirimkan pengirim misterius itu, sebuah bangunan yang tepatnya adalah sebuah rumah berdesain minimalis modern, bercat putih dan abu-abu. Dengan cepat ia keluar dari dalam mobil dan berlari ke teras rumah itu.
Tok, tok, tok!
"WOI BUKA!! Kalo nggak gue dobrak!" teriak Rayhan sambil terus mengetuk-ngetuk pintu itu secara brutal, namun tak ada jawaban.
Bruk!
Rayhan mendobrak pintu itu, menimbulkan decitan yang begitu memekakan telinga, ia pun segera masuk ke dalam sana. Lelaki itu mengedarkan pandangan, namun ia tak menemukan tanda-tanda ada orang di sana.
"SHILA!"
"SHILA!"
"SAYANG!"
Rayhan berlari menaiki anak tangga, dimasukinya satu persatu kamar di sana, berharap menemukan dimana tempat istri tercintanya itu disekap, namun ia tak menemukannya.
Tring!
Suara dering ponsel disertai getar membuat Rayhan segera merogoh sakunya.
083xxxxxxx :
Kolam! Samping kanan!
"Kolam?" ujar Rayhan mengulangi pesan itu. Lelaki itu menoleh ke arah samping.
Tanpa banyak waktu ia pun segera berlari ke arah kolam yang terasa gelap, hanya saja ada sebuah lilin yang menyala di sana.
Hingga sebuah cahaya yang terang benderang menyambutnya.
"SUPRISE!!"
Mata Rayhan membulat sempurna, kala melihat anggota keluarganya ada di sana. Dan di sampingnya ada tulisan 'Happy brithday Rayhan' dengan lampu tumbler yang menghiasinya.
"Selamat ulang tahun, anak mama!"
"Happy brithday, Kak Ray."
"Selamat hari lahir anaknya papa, semoga makin sukses!"
__ADS_1
Kedua orang tuanya dan sang adik bergantian mengucapkan selamat padanya, lelaki itu hanya membalasnya dengan senyuman, namun ekspresi wajahnya masih menunjukan ketidakpahaman dengan keadaan sekarang, sampai akhirnya ia teringat seseorang.
"Shila di mana??"
"Aku di sini, Mas!"
Rayhan langsung membalikan tubuhnya, ketika mendengar suara sang istri yang berada di belakangnya.
Lelaki itu menatap Ashila secara lekat, istrinya itu sangat cantik walaupun perutnya walaupun perutnya terlihat membuncit. Ashila mendekat ke arah Rayhan dengam membawa cake yang bertuliskan 'Happy brithday my husband'. Membuat Rayhan melengkungkan bibirnya, setitik buliran bening terjun begitu saka di sudut mata kiri lelaki itu.
"Sayang, ini…" Rayhan melihat sekeliling, dia yakin semua orang sudah bersekongkol untuk mengerjainya. "Jadi kalian yang ngerjain aku?? Kamu bohongin aku?" tanyanya sambil mendekati Ashila dan mencium kening istrinya itu.
"Maaf," cicit Ashila.
"Aku maafin, tapi nanti setelah aku makan kamu habis-habisan," bisik Rayhan di telinga sang istri.
Ashila paham maksud 'makan' yang diucapkan oleh suaminya itu, seketika ia merinding mendengarnya.
"Oh, ya. Tapi ngomong-ngomong, siapa yang punya ide kayak gini, karena kalo Shila gak mungkin deh bisa bikin ide gila kayak gini?" tanya Rayhan pada semua orang.
Semuanya terdiam tak menjawab, tatapan Rayhan tertuju pada sang adik. "Kay…"
"Hehe… sorry, Kak, peace.." ucap Kayla sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Dari nonton drakor gitu, Kak," jawab Kayla santai.
"Ish! Kami nih, kebanyakan nonton, jadi otaknya gitu tuh!"
"Ah! Iya, soal perusahaan Alexander company, sebenernya itu cuma boongan." Papa Yahya mulai membuka suara.
Rayhan membuka mulutnya lebar-lebar. "Jadi… ini tuh sebenarnya cuma… ah! Oh my God! Pokoknya kalian semua luar biasa! Hebat!"
Semua orang menjawabnya dengan anggukan disertai senyuman, membuat Rayhan mendesah kasar disertai senyuman aneh. Semua orang mengelabuinya hanya untuk membuatnya kejutan yang luar biasa menurut Rayhan.
Lelaki itu kembali berbalik badan menatap Ashila, ia mengambil cake yang dipegang oleh sang istri dan meletakannya di meja. Ia meraih tangan Ashila dan menciumnya berulang.
"Sayang, kamu tau… pas aku liat foto kamu tadi, rasanya jantung aku mau meledak tau gak. Kamu harus tau, hidup aku gak akan berarti apa-apa tanpa kamu, tanpa kalian," lirih Rayhan sembari mengelus perut buncit Ashila.
"Aku tau, aku juga minta maaf. Hidup aku juga gak akan berarti tanpa kamu. Makasih atas semua cinta dan kasih sayang yang udah kamu curahin buat aku dan dia," balas Ashila sembari menyentuh punggung tangan Rayhan yang masih setia mengelus perut buncitnya.
Tanpa buang waktu, Rayhan langsung menarik Ashila ke dalam dekapannya. Keduanya larut dalam isakan haru. "I love you more, Dear," ucap Rayhan disertai kecupan berulang di puncak kepala Ashila.
__ADS_1
"I love you to, Hubby," balas Ashila.
"Romantisannya dipending dulu kali. Mending sekarang potong kuenya dulu," celetuk Kayla.
Rayhan dan Ashila pun sontak langsung melepaskan pelukan, keduanya terkekeh malu. Memang jika Rayhan sudah berdua dengan Ashila, dunia ini serasa milik berdua, yang lain mah ngontrak!
Rayhan mengambil pisau untuk memotong kue, namun sebelum itu ia teringat sesuatu.
"Tapi ngomong-ngomong, ini rumah siapa?" tanya Rayhan.
"Rumah kalian," jawab papa Yahya.
"Hah? Maksudnya? Ray gak ngerti, Pa?"
"Yah rumah ini papa beli buat kalian, ini hadiah dari papa dan mama buat kamu, Ashila dan calon anak kalian," jelas papa Yahya yang dibalas anggukan oleh mama Putri.
"Tapi, Pa. Sebenernya Ray udah siapin uang buat beli rumah sih."
"Pokoknya kalian harus tinggal di rumah yang papa beli ini, papa gak nerima penolakan, ya."
"Iya, Ray. Uangnya kan bisa buat biaya lahiran anak kalian nanti," tambah mama Putri.
"Yaudah deh, rezeki gak boleh ditolak, kan."
Sontak semuanya pun tertawa.
"Akhh…"
Semua orang tersentak kaget kala mendengar ringisan dari bibir Ashila, terlebih lagi Rayhan.
"Sayang, kamu kenapa??" tanya Rayhan panik.
"Enggak papa, Mas. Tadi kayaknya dia nendang," jawab Ashila sambil mengelus perutnya.
"Hah! Serius??"
Rayhan pun langsung mensejajarkan tubuhnya dengan perut buncit Ashila, lelaki itu langsung mencium perut sang istri dan membisikan sesuatu di sana. "Sayang, ayah sayang sama kamu dan bunda, I love you."
***
Hai gaes…
__ADS_1
Aku mau bilang nih, satu atau dua bab kedepan novel ini akan tamat, maaf ya kalo tiba-tiba, makasih yang udah ngikutin novel ini sampe akhir😘😘😘
Jangan lupa injek tuh tombol likenya, komen jugaaa... thank you...