
Waktu menunjukkan pukul 18.50 WIB, Kayla sedang berdiri di depan lemari pakaiannya. Sudah dari lima belas menit yang lalu, gadis itu mengacak-acak isi lemari, mencari outfit yang yang pas untuk dipakai pergi malam ini bersama Azka.
Untuk merayakan hari terakhir mereka sebagai status babu-majikan, Azka mengajak Kayla jalan-jalan, lelaki itu berjanji akan mentraktir Kayla khusus hari ini.
"Hadeeh… kok gak ada sih baju yang cocok, pake apa ya gue," monolog Kayla.
"Eh, tapi ngapain sih harus cantik-cantik, lagian cuma jalan sama si Azka majikan kampret itu."
"Non, temen non Kayla udah ada tuh di depan," ujar bi Ida di depan pintu.
"Hah? Dia udah dateng? Kok cepet banget sih!" gumam Kayla.
"Iya, Bi, bentar lagi Kay turun," teriak Kayla di dalam kamar.
Kayla pun segera menyelesaikan dandannya.
"Emm… gue udah cantik belum, ya?" batin Kayla kembali melihat wajahnya di cermin.
Kayla pun segera menuruni anak tangga, terlihat di ruang tamu mamanya sedang berbincang dengan Azka, sesekali gadis itu mendengar gelak tawa mamanya dan Azka yang memenuhi ruang tamu.
"Baru ketemu kok mereka langsung akrab gitu, ya?" tanya Kayla dalam hati.
"Iya Kayla tuh… eh, tuh anaknya udah dateng," ujar mama Putri melihat anak bungsunya itu. "Kay, kok gak bilang-bilang sih kalo punya gebetan ganteng," ujar mama Putri membuat Kayla dan Azka melotot.
"Hah? Euu… dia, dia bukan gebetan Kay, Ma. Kita cuma temen," ujar Kayla melas.
"Ah! Iya deh, tapi kalo pacaran mama restuin kok, dari pada sama Vino," ujar mama Putri.
"Mama… udah deh."
"Iya-iya, deh."
"Emm… tante, Azka mau minta izin ajakin anak tante jalan-jalan, boleh nggak?" tanya Azka sopan.
"Yaudah, boleh kok, asal pulangnya jangan kemaleman, ya."
"Siap, Tante," ucap Azka sembari mencium tangan mama Putri.
"Yaudah, Ma, aku pergi, ya." Kayla mencium tangan mamanya lalu mencium pipi kanan dan kiri wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Hati-hati, ya, Azka jangan ngebut-ngebut, ya, Nak."
Azka dan Kayla pun berjalan beriringan keluar rumah.
"Btw, elo kasih pelet apa ke mama gue, kok kalian langsung akrab gitu."
"pelet HI-PROVITE 781-1," ujar Azka santai.
"lo pikir mama gue ikan nila!"
"Ya elo sih, nanya gue pake pelet apa," ujar Azka kesal. "Udah ah, gak usah dibahas, gue lagi males ribut."
"Ya ya, oke-oke."
Sepanjang jalan, Azka terus memperhatikan Kayla, entahlah, di matanya gadis itu terlihat cantik, padahal Kayla hanya memakai celana jeans panjang, baju putih dengan lengan pendek yang tampak kebesaran, serta sepatu sneaker putih.
"Good girl," ucap Azka tanpa sadar.
"Hah? Elo ngomong apa tadi?"
"E-enggak, yuk, berangkat!" ujar Azka sambil menarik lengan Kayla.
"Perasaan Azka kemaren-kemaren gak seganteng ini deh, mata gue kayaknya banyak kemasukan debu nih, makanya jadi gini," batin Kayla sambil menatap lekat Azka.
Azka mengibaskan tangannya di depan wajah Kayla, lelaki itu heran melihat gadis di sampingnya melamun. "Heh!"
"Eh, eh, kenapa?" tanya Kayla tergagap.
"Nih, pake helm lo."
Kayla menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu meraih helm yang Azka sodorkan.
__ADS_1
Azka melihat Kayla merasa kesusahan memasangkan helmnya. "Gak bisa makenya?"
Kayla nyengir kuda lalu menggeleng kepalanya.
Azka pun membantu Kayla memasangkan helm. "Huh! Lo tuh ya, padahal lo pake helm bukan sekali dua kali."
"Ya, namanya juga gue lupa, entar gue nonton tutorial pake helm deh."
"Gak usah, ngabisin kuota."
"Lagian rumah gue banyak wifinya kok."
"Yaudah lah, gak usah dibahas, yuk naik!"
Kayla mengangguk, lalu segera menaiki motor Azka.
"Pegangan!" ucap Azka
Kayla pun langsung meletakan tangannya di pinggang Azka.
"Peluk aja sih."
Bug!
"Becanda kali, Kay."
"Yaudah, ayo berangkat."
"Ayo."
Motor Azka pun segera melaju meninggalkan pekarangan rumah Kayla.
***
Kayla menepuk-nepuk punggung Azka agar berhenti. "Ka, berhenti di sini!" ujar Kayla.
"Kenapa?"
"Seblak? Apaan tuh? Itu nama makanan?" tanya Azka penasaran, jujur, ia baru pertama kali mendengar nama makanan itu.
"Aduuh… kelamaan di luar negri sih lo, makanya seblak aja gak tau, seblak itu makanan yang lagi hits sekarang-sekarang ini."
"Oh, ya?"
"Udah intinya… kita parkir ke sana dulu tuh, entar gue kasih tau seblak itu kayak gimana."
Azka pun segera memarkirkan motor sportnya di depan kedai seblak, Kayla pun segera mengajak Azka duduk di sebuah kursi yang berada di sudut kedai itu.
"Nih, seblak itu kayak gini, ini nih gambar-gambarnya," ujar Kayla sembari mempelihatkan buku menu bergambar aneka jenis seblak pada Azka.
"Warnanya merah-merah gini, pasti pedes-pedes, ya?"
"Namanya juga seblak, emang kayak gini, tapi kita bisa pilih level kok, levelnya satu sampai sepuluh, jadi kita terserah deh mau pilih yang mana."
Azka mengangguk. "Gue mana tau makanan kayak gini, makan di tempat kayak gini aja gak pernah, sekalinya makan di luar, makan di restoran, dan di restoran gak menu yang namanya seblak tuh."
"Haha, di restoran mana ada seblak," ujar Kayla sembari tertawa.
"Mbak…" teriak Kayla pada pelayan.
"Permisi, Mas, Mbak, mau pesen apa?"
"Mmm… saya pesen sebalk ceker yang level lima ya, Mbak,"
"Kalo masnya mau pesen apa?" tanya pelayan pada Azka.
"Ahh! Euu… saya pesen… seblak ceker," ujar Azka terbata, ia merasa asing dengan nama makanan itu.
"Mau yang level berapa, Mas?"
"Euu… level satu aja deh, Mbak," jawab Azka membuat Kayla ingin tertawa, tetapi gadis itu menahannya.
__ADS_1
"Kalo minumnya apa nih?" tanya pelayan lagi.
"Jus jeruk aja, Mbak," ujar Kayla.
"Masnya?"
"Samain aja, Mbak."
"Yaudah, tunggu di sini, ya, Mas, Mbak, saya permisi dulu,"
Setelah pelayan berlalu pergi, barulah tawa Kayla seketika pecah. "Pfttf… seorang Azka pesen seblak dengan level anak kecil."
"Lo ngejek gue, gue tuh bukannya gak suka pedes, emang kalo gue sakit entar lo mau tanggung jawab heh!"
"Hmm… oke deh, oke."
***
"Mbak, Mas, ini pesenannya, silahkan dinikmati," ujar pelayan itu.
"Iya, makasih."
"Yuk, makan!"
Azka dan Kayla pun mulai memakan seblak masing-masing.
"Gimana? Enak, 'kan?" tanya Kayla.
"Hmm… iya, lumayan."
"Elo makannya biasa aja dong, segitunya suka makanan pedes kayak gitu."
Azka mengambil tisue dan segera mengelapkannya pada bibir Kayla, membuat gadis itu terkejut.
"Eehh…" Kayla menjadi salah tingkah, ia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali.
Melihat bibir Kayla yang tampak memerah karena makanan pedas itu membuat Azka bergumam tanpa sadar. "Bibir lo sexy kalo merah kayak gini."
Kayla tampak kaget dengan gumaman Azka, sontak mata keduanya bertemu.
"Lo bilang apa tadi?"
"Eh, nggak maksud gue, bibir lo merah banget, pasti lo kepedesan, 'kan?" ucap Azka tampak gelagapan.
"Oh, enggak kok."
Mereka berdua pun kembali memakan seblaknya. Setelah beberapa lama, Kayla mulai merasa tidak bisa menahan rasa pedas di dalam mulutnya.
"Ka, gue gak kuat, pedes banget," ujar Kayla.
"Lo sih, so'soan pesen level tinggi, elo juga yang susah kan," omel Azka.
"Ka, serius nih, gue pedes banget."
"Yaudah nih, minum," ujar Azka sembari menyodorkan jus jeruk pada Kayla.
Azka pun segera mengambil tisue, dan segera mengusap lembut wajah Kayla yang sudah dipenuhi keringat itu, lelaki itu merasa terpesona melihat wajah Kayla dari jarak dekat.
"Cantik," gumamnya tanpa sadar.
"Apa?"
"Hah? Gak papa." Azka segera menjauhkan dirinya dari Kayla.
"Astaga ada apa sama gue sih, kalo ngomong selalu aja refleks gini," rutuknya dalam hati.
***
Hari ini Azka Kayla dulu, ya, soalnya aku sedang buat kejutan untuk Rayhan dan Ashila, tetap tunggu kelanjutannya, ya.
Jangan lupa, like, komen, vote juga, supaya author semangat nulisnya.
__ADS_1
Thank you all