Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 109 Gara-gara Ashila Ngidam


__ADS_3

Suara bel apartemen mengalihkan seorang wanita dari layar televisi yang sedang ia tonton.


"Ya, siapa, ya?" gumamnya.


Wanita itu terkejut bukan main saat melihat beberapa polisi di depan pintu apartemennya.


"A-ada apa ya, Pak?" tanya Renata gugup.


"Saudari Renata, anda ditangkap atas kasus penipuan dan pemalsuan dokumen."


Polisi memberikan selembar kertas yang berisi surat penangkapan wanita di depannya itu.


"S-saya tidak melakukan apa-apa, Pak. Kenapa saya ditahan?"


"Kamu bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi, lebih baik kamu ikut dengan kami ke kantor polisi sekarang juga," ujar seorang polwan yang ber-nametag Irna.


Renata menggeleng, wanita itu mendorong polwan tersebut dan berlari sekuat tenaga agar tidak ditangkap. Seorang polisi ber-nametag Gino mengejar Renata lalu memberi tembakan peringatan.


Renata tetap berlari tanpa memperdulilan tembakan peringatan yang sudah dilontarkan polisi itu. Polisi-Gino tidak memiliki pilihan lain untuk menghentikan Renata, ia pun mengincar kaki Renata lalu menembaknya.


Dorr!


"Akh..." Renata berteriak kesakitan lalu terjatuh. Polisi langsung memborgol Renata.


"Tolong lepasin saya, saya gak salah, Pak!!"


"Sudah diam! Anda nanti bisa menjelaskannya di kantor polisi!"


Para polisi pun langsung menyeret Renata masuk ke dalam lift menuju lobby.


***


Di dalam ruang ICU, Ashila duduk di samping brangkar tempat suaminya berbaring.Ia tengah menunggunya.


Sudah seminggu lebih, Rayhan belum juga membuka matanya, lelaki itu masih setia terbaring sambil memejamkan matanya, juga selang oksigen yang tak pernah lepas dari hidungnya.


Ashila selalu setia menemani Rayhan pagi, siang, sore, dan malam tanpa henti. Berharap suaminya segera sadar dan mereka bisa kembali bersama, membesarkan anak bersama-sama. Dan sampai tua kelak pun tetap bersama, hingga maut memisahkan mereka.


Ashila memegang erat tangan Rayhan. "Mas kamu inget gak pas pertama kali kita ketemu? Waktu itu kamu nabrak aku sampe bikin aku jatoh dari motor, terus kamu turun dari mobil dan marah-marah sama aku, harusnya kan aku yang marah sama kamu..."


Ashila mencium tangan Rayhan.


"...Terus pada akhirnya kita dijodohin sama orang tua kita masing-masing. Kamu inget gak ketika kamu cium kening aku? Itu loh, pas kamu selesai ijab kabul. Kamu tau, kamu adalah laki-laki pertama yang cium kening aku setelah abi dan kakek aku. Banyak ya kenangan kita dulu..."


Ashila menatap lekat wajah Rayhan.


"Sekarang aku mau, kamu cerita tentang kita dari kamu, Mas. Ayo Mas cerita. Aku pengen dengerin…"

__ADS_1


Hening.


Tak ada jawaban.


Ashila perlahan tersenyum sambil meneteskan air mata. Perlahan, tangannya mengusap penuh cinta suaminya yang masih setia terpejam di hadapannya.


"Jangan nyerah! Jangan tinggalin aku! Jangan tinggalin anak kita!" bisik Ashila.


Wanita itu menghembuskan napasnya beberapa kali, mengungkapkan rasa sedih yang ia rasakan saat ini. Ashila menenggelamkan wajahnya ke kasur, menjadikan tangan Rayhan sebagai bantalannya.


Seseorang menepuk pundaknya dari belakang, wanita itu menoleh dan tersenyum, tetapi tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Kamu istirahat dulu, Sayang, makan dulu, ya, biar mama yang gantiin jaga," ujar wanita paru baya itu.


"Shila gak laper, Ma, Shila mau di sini aja," ucap nya pada sang ibu mertua.


"Sayang, kamu gak boleh gitu, kamu sekarang lagi hamil, mama gak mau loh cucu mama kekurangan nutrisi."


"Ma, mas Rayhan kapan ya sadarnya? Shila udah gak sabar pengen kasih tau mas Rayhan, kalo Shila sekarang lagi hamil, Ma, pasti mas Rayhan seneng banget," ujar Ashila.


"Iya, Nak. Rayhan pasti seneng banget. Maka dari itu, kamu harus jaga baik-baik kandungannya. Sekarang keluar gih… Kayla sama Azka lagi nungguin kamu tuh, katanya mau ngajakin kamu makan siang."


***


Suasana di kantin rumah sakit tidaklah seramai kantin sekolah, terlihat hanya ada beberapa orang saja yang menduduki bangku-bangku yang berjejer.


Merasa diperhatikan oleh Kayla dan Azka, Ashila menaikkan satu alisnya pertanda ada apa?


"Kenapa? Ada yang salah, ya?" tanya Ashila.


Kayla dan Azka menggeleng serempak.


"Terus? Kenapa kalian ngeliatin kakak kayak gitu?"


"Enggak papa." Kayla dan Azka serempak menjawab.


"Mau ditambah gak nasinya, Kak?" tawar Kayla.


Ashila menggeleng. "Enggak, Kay, segini aja."


"Kak, biasanya kan kalo ibu hamil itu suka ngidam-ngidam gitu, emang kakak gak kepengen sesuatu gitu?" tanya Kayla di sela-sela mengunyah makanan.


"Iya, Kak. Siapa tau kita bisa bantu cariin?" timpal Azka.


Ashila terdiam sebentar, memikirkan sesuatu. "Sebenernya kakak dari kemaren pengen sesuatu sih."


"Apa, Kak. Siapa tau aku bisa cariin

__ADS_1


"Kakak pengen ngerasain es batu goreng."


"HAH??"


***


"Elo sih pake acara nanya-nanya mau apa sama kak Shila, gini kan jadinya. Sekarang lo mikir… di mana kita nyari tuh es batu goreng."


"Ya gue gak tau kalo bakal kayak gini akhirnya, gue kan cuma pengen bantuin ngidamnya kakak ipar gue aja. Lo juga malah ikut-ikutan nanya, ya lo juga salah lah!"


"Gue ngomong kayak gitu cuma… cuma ikut-ikutan lo doang."


Farel hanya mendelik, sesekali mengggelengkan kepalanya menatap kedua sahabatnya saling menyalahkan satu sama lain. Napasnya menghela perlahan merasakan udara di kawasan taman dekat danau di waktu sore.


Mereka bertiga kini sedang duduk di sebuah bangku panjang dengan posisi Farel yang berada di tengah antara Azka dan Kayla.


"Udah-udah, kalian tuh ya, udah pacaran juga masih aja ribut, heran gue."


Kayla mendelik. "Eits… ralat, ya, kita cuma pacaran boongan, mana mungkin gue suka sama cowok nyebelin kayak dia" Kayla menunjuk Azka.


"Lo pikir lo gak nyebelin?"


Kayla menggeplak tepi bangku, kemudian ia berdiri ke arah Azka. Menatap lelaki itu dengan tatapan penuh intimidasi. Kayla menatap rambut Azka, terlihat sangat menggoda jika tangan-tangan cantiknya ini menjambak rambut lelaki itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara pekikan dari mulut seorang Azka Askandar, Kayla benar-benar merealisasikan apa yang sedang dipikirkannya tadi.


"Aww! Eh lo ngapain sih? Kayak orang kesurupan! Lepasin! Sakit nih!" Azka mengaduh kesakitan dan memegangi tangan Kayla yang sangat erat menjambaki rambut-rambutnya.


"Diem, lo! Lo dari tadi udah ngoceh-ngoceh gak jelas–"


"Lepasin tangan lo! Ini namanya kekerasan tau gak, lepasin woy! Lo lagi PMS, ya.Tiba-tiba gak jelas kayak gini."


"Kalo iya emang kenapa?"


"Kay, lepasin, Kay! Kasian si Azka… entar rambutnya rontok semua."


Farel sebenarnya sudah sejak tadi ingin menengahi, tetapi melihat tatapan Kayla yang tak lebih macam Mak Lampir membuat nyalinya ciut juga.


"Kay, lepasin kasian…!" ucap Farel lagi.


"Bodo amat, emang gue pikirin!" Kayla terus menarik-narik rambut Azka tak peduli dengan rintihan-rintihan yang keluar dari mulut lelaki itu.


***


Aduduh… gimana tuh rasanya dijambak sama cewek lagi PMS, Ashila juga… ngidam ada-ada aja.


Tetap tunggu kelanjutannya ya guys…

__ADS_1


__ADS_2