
Seorang lelaki tampak sedang berkutat dengan berkas-berkas laporan penjualan dan juga layar monitor yang sedari tadi terus menampakan jajaran angka pada tabel-tabelnya, dalam diagram itu memperlihatkan laba perusahaan yang semakin meningkat setiap bulannya, senyum dari lelaki itu tak pernah pudar ketika menatap layar monitor itu.
Getaran serta dering ponsel di sakunya mengalihkan pandangannya dari layar monitor itu, lelaki itu segera merogoh sakunya untuk mengambil benda pipih yang berada di dalam sana.
Mulutnya berdecak kala melihat layar ponselnya, dengan rasa malas ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel di telinganya.
"Ada apa?" ucapnya ketus tanpa basa-basi.
"Sayang, kamu malam ini harus ke apartemen aku, ya." Suara wanita terdengar dari dalam ponsel lelaki itu.
"Gak bisa! Aku sibuk! Lagi pula kemarin kan sudah!" jawabnya.
"Tidak ada penolakan Ray, kamu inget ya, Rayhan, kalo kamu gak temuin aku, aku bakal pastiin foto itu akan ada di tangan istri kamu, kamu tau kan, apa yang bakal istri kamu itu perbuat nantinya?"
Rayhan mendesah pelan, selalu seperti ini! Sudah hampir dua minggu lebih wanita ular itu mengancamnya seperti ini jika Rayhan tidak menuruti keinginannya.
"Oke! Aku kan ke sana!"
Rayhan tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, yang bisa ia lakukan adalah menuruti setiap apa saja yang Renata inginkan, jika tidak, ia pasti akan kehilangan Ashila, istri yang sangat ia cintai.
Tok, tok, tok!
"Masuk!"
"Pak, anda sudah ditunggu di ruang meeting," ucap Arin dengan sopan.
"Kamu siapkan saja semuanya, nanti saya akan ke sana!" Ucapan Rayhan terdengar seperti suara bentakan di telinga Arin.
Sekertaris itu cukup terkejut mendengar suara bos-nya itu, mengernyikan dahi-nya, ia mencoba berpikir positif, mungkin bos-nya itu sedang ada masalah.
***
Sorakan demi sorakan terdengar bergemuruh di seluruh penjuru lapangan basket, seorang lelaki sedang mendribel bola dan terus mencoba menghindari lawan yang terus menghadanganya.
Dialah Arya Wijaya, bintang lapangan basket dan juga salah satu artis sekolah elit itu.
Karena berkejaran dengan waktu dan juga anggota lawan yang selalu menghadangnya, dengan cepat Arya melakukan shooting dari jarak jauh.
Bola terlempar jauh ke depan menyentuh ring, berputar dan akhirnya masuk ke dalam keranjang, semua suporter tim Arya pun bersorak penuh kemanangan.
"Yeee… Arya, yeee!!"
"Ayo semangat!"
Kayla, Tasya, dan Amira kini berada dalam gerombolan suporter Arya, sebenarnya Kayla termasuk orang yang tidak suka keramaian dan juga suasana tempat yang panas, tetapi karena kedua sahabatnya itu memaksanya untuk menonton basket, ia pun terpaksa mengiyakan.
"Mir, Sya, kantin yuk, panas tau di sini, gue haus," ucap Kayla yang merasa tak nyaman sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan kanannnya. "Gak bosen apa nontonin basket aja," lanjutnya memprotes.
"Tar dulu dong, Kay, gue masih pengen nonton basket," ucap Amira.
"Nonton yang lagi main basket apa nontonin kapten basketnya heum?" tanya Tasya menggoda Amira.
__ADS_1
"Y-ya, semuanya lah."
"Ekhem… cie yang deket lagi sama Arya," goda Tasya pada Amira.
"Kayaknya kerja kelompok kemaren itu emang membawa berkah, ya," timpal Kayla.
"Apaan sih lo berdua, gue kan udah move on dari si Arya!" kesal Amira, padahal sebenarnya ia malu.
"Aah masa sih, gue yakin nih jantung lo sekarang lagi marathon." Kayla mendekatkan kepalanya ke arah dada Amira. Namun, dengan cepat Amira mendorongnya pelan.
"Apaan sih, Kay! Dia tuh udah masa lalu gue, sekarang kita cuma berusaha buat temenan lagi aja, gak usah diungkit-ungkit lagi napa," jawab Amira sewot. Kayla dan Tasya tertawa mendengar jawaban Amira, apalagi saat gadis itu berusaha menutupi wajahnya yang memerah.
"Mir, liat deh." Kayla menunjuk ke arah lapangan, Amira pun langsung menoleh mengikuti arah telunjuk Kayla.
Terlihat Arya sedang mengelap keringat di dahinya, lelaki itu terlihat tampan dan cool, rambutnya yang basah oleh keringat tertiup oleh angin yang berhembus, sontak Amira merasa terpesona dibuatnya.
"Heh! Terpesona kan lo?" Kayla menepuk bahu Amira sambil menaik turunkan alisnya.
"Apa sih lo, enggak!" ketus Amira. "Katanya lo haus, udah sono ke kantin, gara-gara kekurangan cairan otak lo jadi rada geser tau gak," lanjut Amira.
"Yaudah, gue pergi dulu, ya, bye," ujar Kayla sembari beranjak dari lapangan basket.
Sebuah bola basket datang mengarah pada Kayla, terdengar suara teriakan dari orang-orang yang berada di sana.
"Kayla awaaass!!!"
Belum Kayla menoleh dan menghindar, bola itu sudah lebih dulu mengenainya.
Kayla merasa objek di depannya berputar, kepalanya terasa pening, gadis itu terhuyung kebelakang. Tetapi gadis itu tidak merasakan tubuhnya menyentuh tanah.
Samar-samar Kayla melihat seorang lelaki mendekapnya dan menepuk-nepuk pipinya, sampai akhirnya semuanya menjadi gelap.
"Kay, bangun, Kay." Lelaki itu menepuk-nepuk pipi Kayla.
"Udah, Ka, langsung bawa ke UKS aja," ucap Amira.
Azka pun mengangguk, lelaki itu langsung menggendong Kayla dan membawanya ke UKS.
***
Sudah satu jam lamanya Kayla pingsan, gadis itu enggan membuka matanya, di ruangan itu hanya ada Azka yang sedang menunggu Kayla.
"Heh! Elo pingsan kok lama amat sih?" ucap Azka sambil menusuk-nusuk pipi Kayla dengan telunjuknya.
"Nih cewek kalo lagi tidur cantik, damai, bikin adem, tapi kalo bangun kayak singa betina," batin Azka saat melihat wajah Kayla dari jarak dekat, bahkan hembusan napas Kayla yang teratur itu dapat dirasakan oleh Azka.
"Eunghh!"
Kayla melenguh pelan, kemudian mengerjapkan matanya.
"Aaaaaa!" Pekikan Kayla berhasil membuat Azka tersadar, ia langsung menjauhkan wajahnya dari wanita itu, berusaha menetralkan detak jantungnya yang tengah marathon itu.
__ADS_1
Kayla mengubah posisinya menjadi duduk, ia menatap Azka dengan tajam. "Elo ngapain gue hah?"
Azka tersenyum miring. "Kerjain aah!" batinnya.
"Emm… sorry, Kay, g-gue." Azka memasang wajah sesedih mungkin agar rencananya berhasil, dan tepat sekali, Kayla benar-benar panik sekarang.
"Gue apa hah?" tanya Kayla dengan nada tinggi.
"Sorry, Kay, gue gak sengaja, gue khilaf," ucap Azka sambil menahan tawanya.
"Hua… lo jahat, huhuhu… gue udah gak suci lagi, gimana kalo gue hamil," jerit dan tangis Kayla seperti anak kecil yang mainannya dicuri, sontak tawa Azka langsung pecah.
"Buahahaha..." Azka tidak berhenti tertawa, sampai-sampai ia memegangi perutnya karena merasa sakit.
"Dasar ogeb! Lo malah ketawa, dasar lucnut lo! Gue benci sama lo! Benci! Benci! Lo pikir dong, gimana kalo gue hamil hah? Gue gak mau, gue masih pengen sekolah, huhuhu."
"Hahaha… lo tuh ya, mikirnya kejauhan, gue gak ngelakuin apa-apa sama lo!"
"Hah? Jadi lo boongin gue! Dasar Azka lucnut!" Kayla mengambil bantal dan langsung memukul Azka dengan benda berbentuk persegi itu, bukannya Azka berhenti tertawa, lelaki itu malah mengencangkan suaranya, bahkan air matanya sampai menetes.
"Nih, lo dengerin gue, mana mungkin sih gue ngelakuin hal sekeji itu, sama lo lagi." Azka mengacak-acak rambut Kayla dengan lembut membuat hati Kayla berdesir merasa nyaman, gadis itu tersenyum.
Azka tersadar dengan apa yang dilakukannya, ia segera menurunkan tangannya. "Lo tau gak kenapa gue gak akan ngelakuin hal sekeji itu sama lo?"
"Kenapa?"
"Karena lo itu cewek galak, cerewet, kadang manja dan yang paling penting lo itu kayak singa betina."
"Dasar Azka lucnut!"
Kayla bangkit dari tempat tidur, tetapi ketika akan beringsut dari tempat itu kepalanya terasa nyeri dan pusing.
"Aakhh!"
"Kay, lo kenapa?" tanya Azka sambil memegangi bahu Kayla.
"Kepala gue sakit banget."
"Yaudah, lo tiduran dulu gih,"
Tak lama kemudian, Amira dan Tasya masuk ke ruang UkS.
"Akhirnya sadar juga lo, gue khawatir banget tadi," ucap Tasya. "Nih minum dulu teh-nya."
"Makasih."
***
Huhuhu, kasian ya Rayhan, diancam kayak gitu, jangan lupa like-nya, budayakan komen juga gays.
Love you all
__ADS_1