Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 86 Khawatir Tapi Gengsi


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 12.45 WIB. Rayhan datang menghampiri Ashila ke kamar, dilihatnya istrinya itu tengah terlelap.


Perlahan Rayhan membuka hijab Ashila yang sudah berantakan, lelaki itu mengusap pelan sisa-sisa air mata yang masih tersisa di kedua pipi istrinya itu.


"Sayang, maafin aku yang udah bikin kamu menangis," lirih Rayhan seraya mengelus rambut Ashila lalu mengecup sekilas kening istrinya itu.


"Sayang, bangun, yuk, shalat zuhur dulu," ujar Rayhan seraya menepuk pipi Ashila, tetapi perempuan itu hanya menggeliat.


"Sayang, shalat zuhur."


"Haid," ucap Ashila setengah sadar, gadis itu masih setia memejamkan matanya.


Setelah mendengar itu, Rayhan pun berhenti membangunkan Ashila, lelaki itu berjalan keluar kamar menuju dapur, ia menghangatkan makanan yang istrinya masak waktu pagi.


Selang beberapa menit kemudian, Rayhan kembali menuju kamar dengan membawa nampan yang berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya dan juga segelas air putih.


Rayhan kembali membangunkan sang istri. "Sayang, bangun, yuk, makan dulu, kamu belum makan loh dari pagi," ujar Rayhan seraya menepuk pelan pipi Ashila.


Ashila hanya berdehem dan menggeliat.


"Sayang, ayo bangun…" ucap Rayhan kembali, tetapi nihil, istrinya itu tetap tidak terbangun.


Setelah berkali-kali Rayhan berusaha membangunkan Ashila, akhirnya istrinya itu terbangun. Rayhan tersenyum ke arah Ashila, sedangkan yang disenyumi memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ashila duduk di atas kasur, gadis itu berniat beringsut dari benda empuk itu, tetapi Rayhan langsung menghalanginya.


"Makan dulu ya, Sayang," ujar Rayhan lembut.


Ashila hanya terdiam, tidak menjawab apapun.


Tanpa aba-aba Rayhan langsung memeluk tubuh Ashila dengan erat. "Sayang, maafin aku, aku bakal jelasin semuanya," ucap Rayhan lirih.


Ashila hanya terdiam saat suaminya itu memeluknya, ia tidak memberontak dan juga tidak membalas pelukan Rayhan. "Semuanya udah jelas," ucap Ashila dingin.


"Itu salah paham, Sayang. Aku yakin ini cuma fitnah."


"Mending… kita pis–"


"GAK! Jangan bicara kayak gitu, aku gak mau pisah dari kamu!" ujar Rayhan yang juga menangis.


"Untuk apa di pertahanin lagi, Mas, dia hamil anak kamu." Ashila berusaha menahan air mata yang akan lolos.


"Sayang, stop–"


Satu bulir air mata lolos begitu saja dari sudut mata Ashila. "Itu kenyataannya, Mas, dia… dia hamil, dan semua bukti itu semua mengarah sama kamu, Mas!"


Rayhan terdiam, ia tidak bisa memberikan sanggahan dan penjelasan dari penuturan istrinya itu.


"Mau kemana?" tanya Rayhan ketika Ashila akan beringsut dari kasur.


Ashila tak menjawab pertanyaan suaminya, gadis itu berjalan keluar kamar. Rayhan pun berjalan mengikuti Ashila, ternyata istrinya itu pergi ke kamar sebelahnya, yaitu kamar mereka.


Terlihat Ashila mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Rayhan pun duduk di sofa, menunggu Ashila mandi.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, Ashila keluar dari kamar mandi dengan baju kaos longgar, celana kulot panjang, gadis itu meraih kerudung bergo dan memakainya, setelah itu ia berjalan keluar kamar.


Langkahnya terhenti kala Rayhan menghalanginya di depan pintu.


"Minggir!" ucap Ashila sembari menatap Rayhan tajam.


Nyali lelaki itu menciut kala melihat tatapan tajam istrinya, ia pun segera minggir, memberikan Ashila jalan.


Ashila berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, sedangkan terus mengikutinya bak bodyguard dari belakang.


Sesampainya di sana, dilihatnya meja makan dan westafel, masih rapi, apakah suaminya itu belum makan sejak pagi? Ingin rasanya ia bertanya pada lelaki di depannya itu, tetapi… rasa gengsi terlalu besar dan mengalahkan rasa khawatirnya.


Ashila mendudukan bokongnya di kursi, diikuti oleh Rayhan yang duduk di sebrangnya.


Ashila mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk-pauknya, setelah itu, ia segera menyantapnya. Sedangkan Rayhan hanya menatap istrinya itu dengan senyuman yang tak pernah pudar. "Makan yang banyak, ya, Sayang," ujarnya lembut.


Ashila hanya cuek, dan sesekali menatap sinis ke arah suaminya yang terus memperhatikannya itu. Tetapi... hatinya gusar, ia memikirkan suaminya, ia takut jika suaminya itu belum makan. Rayhan memiliki riwayat penyakit maag seperti dirinya, ia takut suaminya itu akan drop dan sakit.


Setelah Ashila selesai makan, gadis itu mengambil piring kembali, mengisinya dengan nasi lengkap dengan lauk-pauknya, setelah itu Ashila meletakannya di depan Rayhan. "Makan!" ujarnya dingin.


Ashila berjalan meninggalkan suaminya, tetapi sebelum itu, Rayhan sudah terlebih dahulu menghalanginya.


"Makasih udah perhatian sama aku," ucap Rayhan seraya memegangi tangan Ashila.


"Jangan geer deh, aku gak perhatian sama kamu, aku cuma kasian aja sama bayi yang dikandung mbak Renata, kasian dia kalo ayahnya nanti meninggal gara-gara kelaperan!" ujar Ashila seraya melepaskan tangannya dari Rayhan, kemudian berlalu pergi.


***


Hari-hari berlalu, karena status babu-majikan selama satu minggu itu, Azka dan Kayla pun menjadi lebih sering bersama, mereka juga terlihat semakin akrab walupun di setiap pertemuan mereka selalu saja ribut.


Saat ini Azka sedang menunggu Kayla di parkiran, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang gadis yang memeluknya dari belakang.


"Ka, aku nebeng kamu, ya," ucap gadis tersebut.


Azka berdecak sebal. "Apaan sih, Ta, lepas!" ucap Azka dingin sambil menghempaskan tangan Rita yang memeluknya itu.


"Kamu kok gitu sih, Honey." Gadis yang bernama Rita itu membuat ekspresi sedih, sedangkan Azka acuh, lelaki itu langsung menghampiri Kayla yang sedang berjalan menuju parkiran.


"Yuk!" Azka langsung menggandeng Kayla yang sedang mengobrol bersama Tasya dan Amira.


Kayla sedikit terkejut ketika Azka menarik tangannya, gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari Azka, tapi hasilnya nihil, karena Azka terlalu kuat menahannya. "Heh! Kita mau kemana sih?" tanya Kayla.


Azka diam saja.


Rita menatap Kayla sinis saat Azka dan Kayla berjalan melewatinya.


"Azka kita mau kemana?" tanya Kayla lagi.


"Pulang," jawab Azka singkat.


"Gu–"


Ucapan Kayla terpotong kala Rita datang dan langsung melepaskan tangan Azka yang menggandeng tangannya. "Sayang, kok kamu tega sih sama aku," rengek Rita manja pada Azka.

__ADS_1


Azka langsung menatap tajam Rita, membuat gadis itu menciut sesaat. "Kamu pulang bareng aku, ya," pinta Rita dengan wajah seimut mungkin, tetapi justru Azka jijik melihatnya.


"Gue pulang bareng Kayla," ucap Azka datar.


Ketika lelaki itu akan memasangkan helm pada Kayla, gadis itu menahannya. "Gue gak mau pulang bareng lo!"


"Harus mau!"


"Gak mau!"


"Elo itu babu gue! Jadi harus nurut!" Kayla langsung kicep kala Azka sedikit membentaknya, ia tak punya pilihan lain selain mengikutinya. Azka memasangkan helm pada Kayla.


"Huh! Oke deh, elo puas-puasin hari ini ngejadiin gue jadi babu lo, karena besok kita udah gak ada hubungan babu-majikan lagi," ujar Kayla.


Azka tak menjawab apapun, setelah selesai memasangkan helm pada Kayla, lelaki itu lanhsung menyuruh gadis babu-nya itu menaiki motornya. "Ayo, naik!"


"Iya, sabar napa," ucap Kayla sambil mendengus. "Sya, Mir, gue duluan, ya."


"Iya, hati-hati," ujar Tasya sambil melambaikan tangannya,


Ketiga gadis itu menatap motor Azka yang melaju keluar gerbang, membelah jalanan aspal.


"Hadeeh… sumpah deh, Sya, gue malu banget deh kalo ditolak kayak gitu," ujar Amira mengejek Rita.


"Iyalah, makanya jadi cewek jangan murahan, sok kecakepan, malu kan jadinya, ngaku-ngaku jadi pacarnya Azka lagi," timpal Tasya sambil melirik Rita.


"Huh! Bilang aja lo berdua iri sama kecantikan gue!" ujar Rita sinis.


"Ptfff… iri?"


Tasya dan Amira tertawa lepas ala-ala iklan shampo.


"Hih! Awas lo!" ucap Rita geram.


"Awas aja! Lo pikir gue takut! Wlee…" ujar Tasya sembari menjulurkan lidahnya.


"Udah ah! Mending gue cabut! Debat sama lo berdua, gak guna!" Rita mengibaskan rambutnya, kemudian berlalu pergi.


"Haha... mau ditaro dimana tuh muka, malu abisss.." teriak Amira. "Udah yuk, Sya, kita cabut," ajaknya pada Tasya.


"Elo gak pulang bareng si Arya?"


Amira mendengus. "Gak!" ucapnya dingin.


"Kenapa lo? Marahan?"


Amira berdecak. "Udah ah, mending kita balik!"


"Iya-iya, lo marahannya sama si Arya, gue yang kena semprot!"


***


Kalo kalian jadi si Rita, gimana? Malu gak? Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya, semoga kalian gak pernah bosen.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote author juga, karena dukungan kalian membuat author tambah semangat nulisnya.


Thank you all.


__ADS_2