Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 122 Ngidam Ashila


__ADS_3

Kondisi Rayhan semakin hari kini berangsur pulih, ia pun sudah bisa berjalan normal seperti biasa tanpa bantuan tongkat lagi. Ia sangat bersyukur, Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya menjadi yang lebih baik.


Mobil Rayhan kini sudah berhenti di pelataran kantor, lelaki Itu segera turun dan masuk ke dalam kantornya. Banyak karyawan yang menyambutnya tetapi Rayhan menanggapinya hanya dengan anggukan dan senyuman saja.


Sesampainya depan ruangannya, Rayhan bergegas masuk ke dalam, dan langsung duduk di kursi kebesarannya. Tangannya mulai bergerak membuka berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya. Tetapi baru saja ia hendak membukanya, tiba-tiba ponselnya berdering, dengan segera ia mengambil benda pipih itu di sakunya.


Satu pesan diterima, dengan segera Rayhan membukanya. Lelaki itu membelalakan matanya saat membaca pesan dari Ashila. Istrinya itu menyuruhnya membelikan martabak saat pulang kantor nanti. Dan masalah utamanya adalah, istrinya itu memintanya membeli martabak dengan rasa melon. Dan yang lebih membuatnya heran lagi adalah, tepat pukul lima sore, Rayhan harus sudah ada di apartemen dan membawa martabaknya. DI MANA IA AKAN MENCARINYA??


Rayhan mendesah pelan, ngidamnya Ashila ini semakin hari semakin membuatnya pusing. Pada kehamilan yang mulai menginjak ke-lima bulan ini, Ashila sering bersikap manja dan sering merasakan hal yang aneh-aneh. Seperti mual-mual di pagi hari, tidak senang dengan bau-bau yang menyengat, seperti parfum dan yang lainnya. Hal itu membuat Rayhan harus extra sabar menghadapi bumilnya itu, karena setiap kali lelaki itu memakai wangi-wangian, sang istri akan protes, bahkan sampai dibuang-buang. Padahal parfum itu baru dibelinya. Belum lagi dengan permintaan-permintaan aneh yang diminta istrinya.


Tok, tok, tok!


"Masuk!"


"Permisi, Pak. Maaf, mengganggu."


Rayhan mengangguk. "Ya, Arin, ada apa?"


"Saya mau minta tanda tangan bapak, di sini, Pak." Arin menyodorkan map berisi berkas-berkas untuk ditandatangani oleh sang bos.


Rayhan pun segera mengambilnya, membacanya sebentar lalu menandatanganinya.


"Terima kasih, Pak."


Rayhan hanya mengangguk saja. Arin pun izin undur diri untuk kembali ke ruangannya, namun sebelum itu Rayhan mencegahnya.


"Ya, ada apa, Pak?" tanya Arin dengan kening mengkerut.


"Saya boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa, Pak?"


"Jadi begini, istri saya sedang ngidam, dia ingin makan martabak. Bisa kamu beliin?"


"Oh, tenang aja, Pak. Nanti saya pesankan martabak dari tempat langganan saya, Pak," jawab Arin sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tapi…"


"Tapi apa, Pak?"


"Istri saya pengen martabak yang rasa melon."


"HAH??"


***


Waktu terasa cepat berlalu, waktu sudah menunjukan pukuk 16.30 WIB. Rayhan baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Lelaki itu kini tengah menyenderkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya, memejamkan matanya sejenak, rasa lelah dan letih mulai menggerogoti tubuhnya, ingin rasanya ia membaringkan tubuhnya sejenak, agar menghilangkan rasanya letihnya.


Rayhan beringsut dari kursi dan berjalan menuju sofa. Baru saja ia merebahkan diri dan memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba ia teringat akan pesanan sang istri. Mata yang tadinya sangat berat, mendadak langsung terbuka lebar.


Lelaki itu bertanya-tanya dalam hati, apakah sekertarisnya sudah menemukan makanan pesanan sang istri, ataukah belum? Mendadak jantungnya tak karuan, bisa gawat jika ia tak membawa pulang martabak rasa melon yang diinginkan oleh Ashila, bisa-bisa istrinya itu akan menyuruhnya tidur di luar lagi seperti kemarin.


Sambil berjalan ke luar gedung, Rayhan menelepon Arin menanyakan apakah martabak pesanan istrinya sudah ada atau belum, namun sekertarisnya itu tak kunjung menjawab teleponnya.


"Duuh… Rin, ayo jawab teleponnya, Rin… hidup saya tergantung kami nih," gumam Rayhan sambil terus menerus menelepon sekertarisnya.


Tak lama kemudian, akhirnya Arin menjawab teleponnya. "Bagaimana? Apa kamu udah memebelikan pesanan istri saya?" tanya Rayhan tanpa basa-basi.


"Oke, sekarang kamu di mana?"


"Saya sekarang di parkiran, Pak."


Tanpa buang waktu, Rayhan pun berjalan lebih cepat agar ia sampai di parkiran. Sesampainya di sana, ia melihat sekertarisnya sedang menunggunya.


"Ini, Pak pesanannya," ujar Arin sambil menyodorkan kantong kresek berwarna putih pada Rayhan.


"Ini… beneran martabak rasa melon, 'kan?" tanya Rayhan memastikan.


"Iya, Pak."


"Dari mana kamu mendapatkannya, Rin?"

__ADS_1


"Jadi gini, Pak. Saya beli melonnya dahulu di super–"


"Oke-oke, kamu emang pintar, Rin.Terima kasih, ya. Gaji kamu bulan depan saya kasih tiga kali lipat. Kalo gitu saya pulang dulu, Assalamualaikum."


Tanpa menunggu jawaban salam dari Arin, Rayhan langsung masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan mobilnya meninggalkan Arin yang hanya terdiam mematung.


"Huh! Harusnya si bos dengerin penjelasan tentang perjuangan gue dulu, gimana tuh cara dapetin martabak rasa melon! Tapi gak papa deh, gaji gue bulan depan naek. Itu lebih penting! Untung otak gue cerdas!" gumam Arin sambil menatap mobil Rayhan yang semakin menjauh.


***


Sepanjang perjalan, Rayhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berkali-kali lelaki itu membunyikan klakson agar mobil yang berada di depan memberikannya jalan. Ponsel yang sedari tadi terus berbunyi, diabaikan oleh Rayhan. Lelaki itu tetap fokus menyetir, agar ia segera sampai di gedung apartemennya.


Setelah cukup lama perjalanan, akhirnya Rayhan sampai di parkiran apartemennya. Lelaki itu langsung keluar dengan tergesa, kemudian berlari masuk ke dalam loby, sesekali ia melirik jam di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukan pukul 16.59 WIB. Ia pun mempercepat langkahnya.


Sampai akhirnya ia sampai di depan kamar apartemennya. Setelah memasukan kode password, lelaki itu langsung masuk dan memanggil-manggil Ashila, namun tak ada jawaban dari istrinya itu. Rayhan pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


"Assalamualaikum, Sayang. Aku pulang, ini pesanan kamu."


Rayhan membuka pintu kamarnya, matanya kini tertuju pada wanita yang sedang melipat tangannya di dada sambil menatapnya acuh.


"Kamu telat lima detik, Mas. Aku udah gak pengen makan martabak itu!" Setelah mengatakan itu, Ashila langsung melenggang keluar kamar, meninggalkan Rayhan yang berdiri mematung.


Rayhan menghembuskan napasnya, ia pun meletakan jasnya di sofa lalu berjalan keluar mencari sang istri.


Lelaki itu berjalan menuruni anak tangga dan mengedarkan pandangannya mencari sosok sang istri. Rayhan berjalan menuju dapur dan menemukan Ashila sedang memasak makanan. Ia pun mendekat ke arah istrinya, memeluknya dari belakang dan meletakan dagunya di pundak Ashila, membuat wanita itu sedikit tersentak kaget.


"Maaf, ya. Kalo aku telat. Pliss jangan ngambek, ya," bisik Rayhan tepat di telinga Ashila.


Ashila hanya diam tak menjawab, ia tetap fokus pada kegiatan memasaknya, ia sama sekali tak menghiraukan permohonan-permohonan maaf dari sang suami yang kini terus saja mengeratkan pelukan padanya.


"Sayang, jangan ngambek, ya."


"Mas, lepas ih, aku lagi masak nih. Mending kamu bersih-bersih sana!"


"Enggak, sebelum kamu maafin aku, aku gak bakalan lepasin," keukeuh Rayhan. lelaki itu justru sibuk menciumi pipi sang istri.

__ADS_1


"Lepas, Mas. Kalo enggak, aku makin marah!"


Seketika Rayhan jadi kicep, ia pun melepaskan pelukannya, kemudian berjalan menuju kamarnya.


__ADS_2