Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 113 Perasaan Azka


__ADS_3

Suara 'tit-tit' dari layar monitor terus memenuhi setiap sudut ruangan bernuansa putih itu, nampak seorang lelaki sedang terbaring lemah dia atas brangkar dengan alat-alat medis yang melekat pada tubuhnya, termasuk alat bantu pernapasan.


Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka, menampakan seorang wanita dengan wajah lesu dan pucat. Wanita itu berjalan menghampiri lelaki yang terbaring lemah itu, kemudian mendaratkan bokongnya di sebuah kursi di samping brangkar.


Ia menatap sendu lelaki itu. Tangannya terulur ingin menggenggam tangan lelaki itu, tetapi sebelum itu dilakukannya, ia menoleh ke arah jendela, menatap seorang wanita di yang berada di luar sana, bermaksud meminta izin. Wanita itu mengangguk menyetujuinya.


Kemudian, tangannya terulur menggenggam erat tangan lelaki itu, tatapan matanya sama sekali tak teralih menatap lelaki itu.


"Hai, Rayhan. Ini aku Renata, kamu pasti ngerasa aneh kan kenapa aku bisa ada di sini?"


"Ray, kamu liat deh ke arah jendela," ucap Renata sambil menolehkan kepalanya ke arah jendela. "Itu di sana ada istri kamu. Kamu gak kasian sama dia, tiap hari nangisin kamu, nungguin kamu, doain kamu. Kamu cepet sadar, ya."


"Oh, ya, Ray, kamu bener, Shila itu orangnya baiik banget. Setelah semua yang aku lakuin sama dia, dia masih bersikap baik sama aku. Dia selalu semangatin aku supaya aku selalu kuat sama penyakit yang aku derita ini. Pantes aja ya kamu bisa berpaling dari aku. Kamu sayang banget sama dia. Kamu emang pantes dapetin dia."


Renata melirik jam di pergelangan tangannya, ia teringat sesuatu. "Ray, aku harus pergi, pokoknya kamu harus semangat, ya. Kamu harus kuat. Semua orang nungguin kamu di sini."


Renata beranjak dari duduknya, kemudian ia berjalan keluar dari ruangan Rayhan.


"Shil, aku pergi sekarang, ya."


Ashila tersenyum. "Mbak hati-hati di jalan, ya. Nanti kabarin aku kalo udah nyampe sana. Jangan mikir yang berat-berat, Mbak harus fokus pada kesehatan."


Renata berhambur memeluk Ashila. "Aku nggak tau, dengan apa aku balas kebaikan kamu. Maaf, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih," ucap Renata tulus.


Ashila melepaskan pelukannya. "Mbak gak perlu ngelakuin apapun, cukup pikirin kesehatan Mbak. Oke."


"Yaudah aku pergi, ya."


Tak lama kemudian, Mama Putri datang ke sana. Wanita paru baya itu menatap Renata dengan sinis.


"Mau ngapain sih tuh pelakor ada di sini?" batinnya.


Renata pun berjalan ke arah mama Putri. "Emm... Tante, aku mau pamit."


"Yaudah, kalo mau pergi ya pergi aja, ngapain pamit-pamit sama saya," ucap mama Putri sinis kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan Rayhan.

__ADS_1


Renata terdiam, matanya berkaca-kaca, sebisa mungkin ia menahan air matanya yang akan lolos. Memang dari dulu ibunya Rayhan ini tak pernah baik kepadanya. Ia sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti ini.


Ashila mengusap punggung Renata. "Mbak jangan dengerin kata-kata mama tadi ya," ucap Ashila lembut.


Renata mengangguk. "Yaudah, aku pergi sekarang, ya. Tolong jagain calon keponakan aku." Renata mengusap lembut perut Ashila yang sedikit membuncit.


"Mbak doain aja. Oke, aku anterin ke depan, ya."


***


Setelah mengantarkan Renata ke depan rumah sakit, Ashila kembali menuju ruangan Rayhan.


Ashila mengenggam erat tangan Rayhan kemudian mengecupnya sebentar. Ia tersenyum sambil menatap Rayhan. "Mas, aku mau cerita tentang mbak Renata, boleh nggak?" tanya Ashila antusias.


Ashila menghembuskan napasnya sejenak.


"Ternyata mbak Renata itu gak sejahat yang aku kira. Walaupun aku baru kenal deket sama dia baru seminggu terakhir ini, aku tau kalo sebenarnya mbak Renata itu orangnya baik."


Ashila menerawang jauh moment-moment kebersamaannya bersama Renata beberapa hari ke belakang itu. Kemudian ia bergumam pelan. "Pantesan, ya, kamu dulu cinta banget sama dia…"


"… Karena aku pengen dia lebih fokus sama kesembuhan penyakitnya, Mas."


Ashila memukul pelan lengan Rayhan. "Mas, bangun kek! Kamu gak capek, ya, tidur mulu?"


Mata Ashila terpejam beberapa detik, membiarkan air matanya yang jatuh membasahi gamis yang ia kenakan.


Tepukan di bahunya membuat Ashila tersadar, ia menoleh ke belakang, mendpati sang mertua yang tengah tersenyum padanya. "Sabar, ya, Nak. Mama yakin, semuanya akan indah pada waktunya."


Ashila mengangguk. "Iya, Ma, dan Shila nunggu banget hari itu."


Mama Putri membenarkan alat pernapasan Rayhan yang melekat pada hidung anaknya itu. "Oh, ya, Nak, kamu berangkat gih. Nanti telat ke kampusnya."


"Ma, boleh gak sih Shila absen dulu hari ini?"


"Loh memangnya kenapa, Sayang?"

__ADS_1


"Shila pengen jagain mas Rayhan aja di sini."


"Nak, dengerin mama, ya. Kewajiban kamu kan banyak, Sayang. Salah satunya adalah kuliah. Inget cita-cita kamu. Lagian ada mama yang jagain Rayhan. Kuliah gih sana, nanti ketinggalan makul loh."


"Hari ini aja ya, Ma. Lagian mata kuliah hari ini tuh cuma satu doang kok, Ma. Pliss." Ashila menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pada ibu mertuanya. "Shila juga gak tau kenapa, hari Shila gak pengen jauh-jauh dari mas Rayhan. Boleh, ya?"


Mama Putri mendesah pelan. "Yaudah, boleh deh. Mungkin emang dedek bayinya pengen sama ayahnya aja."


"Yeaayy... Makasih, Ma."


***


Dengan tas gandong yang tersampir di bahu kanannya, Azka berjalan sendirian di koridor sambil terus mengunyah permen karet yang ia makan. Tak lupa juga dirinya selalu membalas orang yang menyapanya dengan senyuman.


Sesampainya ia di depan kelas, sayup-sayup ia mendengar seseorang yang sedang berbicara dengan suara yang terdengar nyaring.


"Lo yakin gak bakal suka sama Azka, Kay?"


"Ya enggak lah, gue kan sukanya sama abangnya, kak Azmi."


"Emang selama lo berdua pacaran pura-pura, lo gak ada perasaaan apa-apa gitu sama dia?"


"Ya enggak lah, gue anggap dia cuma sahabat gue, kayak gue ke Farel sama Arya."


Azka terdiam, ia kenal betul siapa saja pemilik suara itu, ia berusaha menahan semua emosi yang hampir meluap sekarang. Darahnya yang sebelumnya berdesir itu kini mendidih beratus-ratus derajat.


Dengan tangan yang sedari tadi terkepal kuat di sisi tubuhnya, lelaki itu kemudian pergi dari tempat itu.


***


Ini awal masalah Kayla sama Azka, gimana? Suka nggak?


Maaf ya author jarang up, soalnya kerjaan di dunia nyata benar-benar sedang menumpuk, tapi insayallah besok author bakal up lagi, jadi tunggu aja ya.


Jangan lupa tekan tombol like, dan komen juga ya.

__ADS_1


__ADS_2