Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 101 Surat Cerai


__ADS_3

"Kak Azmi." Ashila segera menghampiri lelaki itu. "Kamu gak papa kan, Kak?" tanya Ashila khawatir, gadis itu meringis mengamati wajah Azmi yang babak belur. "Kita ke dokter, yuk!"


"Gak usah, ini gak papa kok, awwss…"


"Gak papa gimana, ini sampe biru kayak gini," ujar Ashila seraya menyentuh sudut bibir lelaki itu. "Kakak tunggu di sini, ya, aku pergi dulu, entar aku balik lagi."


"Tapi, Shil–" Belum sempat Azmi melanjutkan ucapannya, Ashila sudah berlalu.


Tak lama kemudian, Ashila pun kembali dengan membawa kotak P3K. "Obatin dulu, ya, Kak."


"Aw… pelan-pelan, Shil." Azmi meringis kala Ashila menempelkan kapas berantiseptik pada lukanya.


"Ma-maaf, Kak, sakit banget, ya?" Ashila ikut meringis seolah merasakan apa yang Azmi rasakan.


"Sakit sih, tapi kakak seneng."


Ashila mengernyit. "Seneng? Maksudnya?"


"Soalnya yang ngobatinnya bidadari."


"Ish! Nyebelin!"


"Iya bener, gak papa deh tiap hari bonyok kayak gini, asalkan kamu yang obatin," ujar Azmi disertai kekehan pelan.


"Ikh! Dasar! Aku tuh gak bakalan luluh sama gombalan receh kamu itu,"


"Shil, boleh nanya nggak?"


"Boleh, nanya apa?"


"Kamu... sama suami kamu... emm... bener mau cerai?"


Ashila terdiam, tanpa disadari satu buliran bening jatuh dari sudut matanya. Azmi tampak gelagapan dan merasa bersalah, ia merutuki dirinya sendiri karena membuat gadis yang dicintainya itu menangis.


"Eeh... kok nangis, m-maaf, ya, kakak gak bermaksud–"


Ashila segera menghapus air matanya. "Eh... gak papa, Kak."


"Kalo kamu gak mau cerita gak papa kok, tapi Shil, kamu harus ingat satu hal, kapanpun kamu butuhin kakak, kakak bakal selalu siap dengerin semua curhatan kamu, kalo kamu butuh bahu untuk bersandar." Azmi menjeda ucapannya sebentar, lelaki itu menyentuh bahu kirinya. "Bahu ini siap buat jadi sandaran kamu," lanjut Azmi.


Ashila mengangguk lalu menghapus air matanya kembali, ia merasa terharu dan bahagia bisa mendapatkan teman-teman yang selalu mendukungnya di saat ia terpuruk seperti ini.


"Makasih, ya, Kak."

__ADS_1


Azmi mengangguk. "Senyum dong," pinta Azmi.


Ashila pun perlahan menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman.


"Nah, gitu dong, kan cantik."


Keduanya tertawa bahagia.


Tak jauh dari sana, ada sepasang mata yang menyaksikan adegan itu.


"Kamu jahat banget, Shil. Kamu nyuruh aku ke sini cuma buat ngeliatin kemesraan kalian berdua? Kamu jahat! Mulai detik ini, kamu bukan sahabat aku lagi," ucapnya.


Gadis itu pun segera berlalu pergi, ia tak sanggup melihat kemesraan kedua insan itu.


***


Mobil BMW milik Rayhan sudah memasuki halaman rumah kedua orang tuanya. Tadi mamanya menelepon dan menyuruhnya untuk pulang, katanya ada hal yang sangat yang ingin kedua orang tuanya bicarakan dengannya. Entahlah, Rayhan tak tahu, hal penting apakah yang ingin dibicarakan dengannya.


"Assalamualaikum, Pa, Ma." Rayhan menyapa mama dan papanya yang sudah setia duduk di sofa ruang tamu.


Ketika lelaki itu akan mencium tangan sang papa, tiba-tiba…


Bugh!


"Papa kecewa sama kau, Ray! Kamu sudah membuat orangtuamu ini malu!" bentak Yahya yang geram pada anak sulungnya itu.


Kayla yang sedang belajar di kamarnya samar-samar mendengar suara keributan di ruang tengah.


Dengan secepat kilat, gadis itu pun segera berlari menuju ruang tamu. Ia tersentak saat melihat kakaknya sedang dipukuli oleh papanya, ingin rasanya ia menolong sang kakak, tetapi melihat wajah papanya yang dipenuhi oleh amarah membuatnya mengurungkannya, ia pun kembali ke kamarnya dengan berbagai pertanyaan yang berputar di otaknya.


"Pa, udah, jangan terlalu keras sama Rayhan." Mama Putri mencoba menenangkan suaminya.


"Jangan membela anak kurang ajar ini! Rayhan kamu itu sudah punya istri, istri yang sempurna, kenapa kamu malah menghamili wanita lain? Apa maksud kamu, hah? Jadi selama ini kalian masih berhubungan." Yahya murka dan merasa tidak habis pikir dengan anaknya itu.


"Pa-pa… tau dari mana–"


"Gak penting papa tau dari mana, Ray. Yang peting itu penjelasan kamu!"


Suasana rumah orang tua Rayhan sangat mencekam malam itu, Rayhan segera memeluk kaki mamanya, bersimpuh memohon pengampunan pada wanita yang telah melahirkannya itu, ia menyesal telah membuat mamanya merasa kecewa.


Mama Putri menangis sesenggukan, rasa sedih, kecewa, marah, kasihan tertumpuk padanya, begitu malang nasib putranya itu, sehingga rumah tangganya menjadi berantakan seperti ini.


"Kapan kamu nyentuh perempuan itu, Ray, apa benar perempuan itu mengandung anakmu?" tanya Yahya.

__ADS_1


Rayhan mendongakkan kepalanya menatap sang papa. "Ray juga gak tau, Pa."


Yahya mulai emosi. "Apa maksud kamu gak tau, Ray?"


"Sebulan yang lalu aku mabuk, aku gak inget apa-apa, ketika bangun tidur, aku ada di apartemen Renata," jelas Rayhan.


Papa Yahya membelalajan matanya. "Kamu benar-benar kurang ajar, Ray, berapa kali papa bilang untuk menjauhi barang haram itu, kenapa kamu masih melakukannya, kamu benar-benar udah bikin papa kecewa!"


"Aku minta maaf, Pa, aku juga menyesali perbuatanku."


"Inilah salah kamu, Ray. Kamu selalu bilang menyesali semuanya, dan berjanji tidak akan mengulangi, tapi nyatanya kamu ingkari ucapanmu sendiri."


"Tapi, Pa, kali ini Ray bener-bener nyesel." Wajah Rayhan terlihat sangat memelas.


"Penyesalanmu sudah terlambat, Ray, kamu harus bertanggung jawab dan segera nikahi perempuan itu!" Yahya langsung naik ke kamarnya, ia tidak ingin berdebat lebih jauh dengan putranya yang menurutnya sangat kurang ajar itu.


Rayhan terdiam.


Mama Putri memeluk Rayhan, memberikan semangat pada putranya itu agar tidak berputus asa.


"Ma, maafin Rayhan, ya?"


"Mama gak marah, mama memikirkan nasib Ashila, istri kamu itu perempuan yang sangat baik, mama bukan hanya menganggapnya sebagai menantu, mama udah anggap istri kamu itu seperti anak mama sendiri, mama yakin, Ashila sangat terpuruk sekarang."


Mama Putri mengambil sebuah amplop dari dalam laci. "Tadi, mertua kamu memberikan gugatan cerai atas nama Ashila untuk kamu."


Deg!


Dengan tangan gemetar, Rayhan membuka amplop berstempel pengadilan agama tersebut.


Disobeknya dengan marah surat bertanda tangan Ashila itu, sampai kapan pun ia tak akan melepaskan istri tercintanya itu!


"Rayhan sangat mencintai Ashila, Ma, Rayhan gak akan pernah menceraikannya, dia akan tetap menjadi istri Rayhan kini, besok dan seterusnya," ucapnya berteriak.


"Tapi istri kamu sudah tanda tangani surat cerai itu, Ray, dia sudah memutuskan pernikahan kalian," lirih Mama Putri.


"Mau kemana kamu?" tanya mama Putri saat melihat Rayhan akan beranjak pergi.


"Aku mau temuin Ashila, Ma," jawab Rayhan dengan wajah yang sudah memerah.


"Dengan keadaan seperti ini? Gak, gak akan mama biarin! Lebih baik kamu masuk kamar, Ray, istirahat."


"Tapi, Ma, ak–"

__ADS_1


"Tolong dengerin mama, Ray, mama gak mau kamu kenapa-napa. Sekarang kamu pergi ke kamar! Istirahat!"


__ADS_2