Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 116 Sadar (1)


__ADS_3

Cerita aku belum di unfav kan, ya??


.


.


.


Happy reading..


Priiit!!


Pluit berakhirnya pertandingan sudah ditiup oleh wasit. Pertandingan basket dimenangkan oleh sekolah SMA Elite 01, semua orang bersorak gembira.


Di sebuah ruangan, tepatnya basecamp anak-anak basket.


"Yang, sini aku elapin," ujar Amira sambil menyeka dahi Arya dengan sebuah handuk.


"Makasih, Sayang," ucap Arya sembari mengusap pelan kepala Amira.


Sedangkan Kayla hanya terdiam sambil sesekali memandang Azka yang tengah mengelap keringat sendiri, namun itu tak lama karena Rita datang mengambil handuk itu.


Sambil mengamit lengan Azka, Rita mulai menyeka keringat yang berada di dahi lelaki itu dengan lembut, dan anehnya Azka tak merasa risih ataupun menolak.


Kayla hanya memutar bola mata malas saja saat melihat pemandangan itu.


"Oke guys, tinggal satu kali pertandingan lagi yang akan menghantarkan kita jadi juara," kata Arya sambil mengelap keringatnya oleh Amira.


"Iya, bener. Pokoknya kita harus tetap semangat! Jaga stamina, jangan sombong! Semangat! Oke!" imbuh Farel.


"Semangat!" ucap serentak para anggota.


Suara ponsel di sakunya membuat Kayla mengalihkan pandangan dari sekitar, ia segera mengambilnya, tertera nama 'papa' di sana. Ia pun segera mengangkatnya.


"Iya, halo, Pa?"


[.....]


Kayla menutup mulutnya. "Apa? Kak Rayhan, hiks. O-oke, aku ke sana sekarang." Kayla pun segera mematikan ponselnya.


"Semuanya gue pergi dulu, ya."


"Lo mau kemana, Kay?" tanya Farel.


"Kakak gue–"


Belum selesai Kayla berbicara Azka langsung menarik tangan lelaki itu. "Ayo gue anterin!" ujar Azka.


Namun Kayla segera menahannya., membuat Azka menoleh. "Kenapa? Lo mau ke rumah sakit, kan?"


"Iya, gue emang mau ke rumah sakit, tapi gue gak mau dianterin sama lo!" ucap Kayla seraya melepaskan cekalan tangannya dari Azka, kemudian berlari keluar dari basecamp.


***

__ADS_1


Suara tangis pilu terdengar di depan ruangan ICU. Ashila, gadis itu tak henti-hentinya mengeluarkan isak tangis sejak tadi, tak lama setelah ia BERMIMPI BURUK tadi, dokter mengatakan bahwa kondisi suaminya semakin memburuk.


(Yoo... siapa yang marah-marah tadi gara-gara PU nya meninggal???😉😉😉


Umi Ira, sejak tadi terus memeluk Putri kesayangannya itu. Ashila terus menangis setelah menggigau tadi.


Flashback on


Umi Ira baru saja masuk ke dalam ruangan Rayhan, ia mendapati Ashila sedang tertidur sambil menangis disertai dengan gigauan.


"Mas Rayhan, hiks, hiks, Mas..."


Umi Ira mengguncang tubuh Ashila, menantunya itu sepertinya sedang bermimpi buruk, sampai-sampai Ashila menggigau hingga mengeluarkan air mata.


"Shila… bangun, Sayang, Shila, Shila!"


Mata Ashila terbuka, perlahan kesadarannya mulai kembali, gadis itu melihat Rayhan masih setia tertidur dengan selang oksigen, berarti ia tadi hanya bermimpi saja. Tetapi, mimpi itu terlihat sangat nyata.


"Kamu mimpi buruk, ya, Sayang?"


"Shila mimpi mas Rayhan ninggalin Shila, Mi, mas Rayhan ninggalin kita, Shila takut banget, Mi."


Air mata Ashila mulai deras, sang ibu pun langsung memeluknya dengan erat.


"Syuut! Udah, jangan nangis, mimpi itu kan cuma bunga tidur, Rayhan gak bakalan ninggalin kamu, dia gak bakal ninggalin kita, Sayang."


Flashback off


Bukan hanya Ashila dan mama Putri saja yang sangat khawatir dengan keadaan Rayhan, semuanya yang berada di sana, papa Yahya, abi Alwi dan juga umi Ira tampak menegang, senyap juga sunyi, semuanya sedang menunggu kabar tentang kondisi Rayhan yang sedang ditangani oleh dokter sekarang.


Tak lama kemudian, Kayla datang bersama dengan bik Ida. Kayla langsung memeluk sang mama.


"Tenang aja, Ma. Kak Rayhan pasti baik-baik aja. Kak Rayhan itu kuat, Ma."


Kayla melepaskan pelukannya, kemudian membantu bik Ida membagikan nasi kotak untuk makan siang semua orang.


"Kak Shila," panggil Kayla pada sang kakak ipar.


Ashila menoleh.


"Makan," titah Kayla sembari menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang.


Ashila terdiam, ia menghela napasnya pelan. "Kakak gak laper, Kay," ucapnya pelan, gadis itu kembali menyenderkan kepalanya pada bahu uminya.


Kayla menghembuskan napasnya kasar, hendak membuka suara, namun sentuhan di tangannya, membuatnya menoleh sedikit ke bawah. "Biar umi aja yang bujuk, Kay. Kayla bagi-bagi aja kotaknya buat yang lain," ujar umi Ira lembut, dibalas anggukan oleh Kayla.


"Sayang, makan, yuk, umi suapin," ujar umi Ira sambil mengelus puncak kepala putri kesayangannya itu.


"Gak mau, Umi."


"Kenapa gak mau?"


"Gak laper."

__ADS_1


"Sayang, dengerin umi, kamu kan sekarang bukan sendirian." Umi Ira menyentuh perut Ashila yang masih rata. "Di sini, ada kehidupan juga, Sayang, dia juga butuh asupan, kalo sampai dedek bayinya kenapa-napa, umi, abi mama Putri, papa Yahya, semuanya bakal khawatir, Rayhan juga kalo tau ini pasti khawatir juga, Sayang, bahkan Rayhan bakal marah sama kamu karena anaknya gak dikasih makan. Emang kamu mau, dedek bayinya kenapa-napa?"


"Gak mau, Umi."


"Yaudah, makanya makan, ya."


Ashila menghembuskan napasnya pelan, tangannya terulur menyentuh dan mengusap-usap perut ratanya itu. "Maafin bunda yang egois, ya, Sayang, kamu pasti kelaperan ya di sana," ujarnya pelan.


Kemudian, satu persatu suapan masuk ke dalam mulut Ashila.


"Keluarga pasien?" Pintu terbuka bersamaan dengan sebuah suara, sontak membuat papa Yahya dan yang lain menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya papa Yahya tak sabaran.


"Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya."


Ucapan sang dokter membuat membuat semuanya bernapas lega, namun, beberapa detik kemudian, mereka kembali dikejutkan oleh sang dokter.


"Tetapi… belum bisa dipastikan pasien kapan akan membuka matanya."


"Apa??!"


***


Pintu ruangan terbuka, Ashila berjalan masuk, sebelum itu ia terlebih dahulu menutup kembali pintu. Dengan mengebakan baju berwarna hijau atau baju khusus masuk ke ruangan ICU, gadis berkerudung biru itu berjalan menghampiri seorang lelaki yang tengah terbaring lemah di atas brangkar itu, mata lelaki itu terpejam, seakan enggan membuka matanya walaupun sedetik saja.


"Assalamualaikum, Mas." Dua kata terlontar dari mulutnya, mendadak kerongkongannya terasa kering.


Hening beberapa saat, tatapannya tak lepas dari wajah damai Rayhan. "Mas, bangun dong, gak cape tidur mulu, ini udah sebulan lebih loh, Mas."


"Mas, kamu denger aku, 'kan?"


"Aku tau kenapa kamu gak mau buka mata." Ashila menghapus cairan bening yang sudah keluar dari sudut matanya. "Kamu lagi ngambek kan sama aku gara-gara aku gak percaya sama kamu tentang mbak Renata yang hamil anak kamu itu? Aku nyerah mas sama hukuman yang ini, tolong buka mata kamu. Mas, aku tarik kata-kataku waktu itu, aku masih sayang sama kamu, aku masih cinta sama kamu, aku gak mau cerai dari kamu, Mas."


"Mas, bangun, aku sama buah cinta kita, kangen sama kamu."


"Apa kamu bermimpi terlalu indah sampe-sampe kamu gak mau bangun?"


Segala ucapan Ashila sama sekali tidak mendapat respon dari Rayhan.


Napas gadis itu memburu, air matanya tak berhenti mengalir, sesak dan sakit ia rasakan di dadanya, dikecupnya kening suaminya itu, bersamaan dengan air mata yang mengalir di mata Rayhan, ya, lelaki itu menangis dalam tidurnya.


Ashila tertunduk, menggenggam tangan Rayhan, menenggelamkan kepalanya pada tangan suaminya itu, sesenggukan kecil terdengar dari dari mulut gadis itu.


"Plis, bangun, aku mohon, Mas!" Ucapannya terdengar lirih, namun meyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


Suara pendeteksi jantung, menghiasi keheningan ruangan berdominasi putih itu, bau obat-obatan menusuk penciuman.


Suasana hening, Ashila masih tetap dengan posisinya, tak bergeming di tempatnya, sampai pada akhirnya ia merasakan sebuah tangan mengusap kepalanya pelan, Ashila masih tak bergeming, ia menduga ini hanya halusinasinya saja, merasakan tangan suaminya di kepalanya, hingga akhirnya…


"A-ashila…"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2