
Kayla kini sudah sampai di rumah sakit, sambil membawa parsel buah di tangannya, gadis itu menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar Azka, sebelumnya Kayla sudah menanyakan pada Tasya terlebih dahulu tentang letak ruang rawat Azka.
Sesampainya di depan ruang rawat Azka, Kayla melihat Karina dan Azmi baru saja keluar dari ruang rawat Azka.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, eh Kayla."
Kayla langsung menyalami Karina, wanita paru baya pun membalasnya lalu memeluk Kayla dengan erat. "Azka tadi sore nungguin kamu loh."
Kayla mengernyit. "Oh ya? Terus Azka gimana keadaannya, Tan?"
"Azka sudah agak mendingan, dia lagi istirahat sekarang, kamu masuk aja gih," ujar Karina. "Pasti Azka seneng banget dijenguk sama kamu," sambungnya.
"Gimana, ya, reaksi tante Karin kalo penyebab Azka sakit kayak gini gara-gara gue," batin Kayla.
"Yaudah, Mi, abang pulang sekarang, ya," ujar Azmi pada maminya. "Yuk mami anter ke depan, Kayla masuk aja."
"Iya, Kay, masuk aja, kakak duluan, ya," ujar Azmi.
Kayla pun tersenyum lalu mengangguk.
Ceklek!
Kayla membuka pintu lalu berjalan menghampiri lelaki yang terbaring lemah itu, gadis itu menyimpan parsel buah yang ia bawa di nakas lalu duduk di kursi di samping brangkar Azka.
Terlihat wajah Azka yang berubah menjadi datar dan pucat pasi, Kayla sungguh tidak tega melihatnya.
"Sorry, ya, gara-gara gue elo jadi kayak gini," gumamnya pelan.
Tangan Kayla terangkat menyentuh dahi Azka. Panas, satu kata yang telapak tangan Kayla rasakan sekarang.
"Gue janji bakal jagain lo sampe sembuh," gumamnya lagi sambil menatap intens wajah pucat lelaki itu.
Kalau dipikir-pikir, Azka terlihat lebih tampan jika dilihat dari jarak sekitar 20 cm itu, lelaki itu itu juga terlihat polos jika sedang tidur seperti ini.
Tanpa sadar gadis itu tersenyum tipis.
Kayla tersentak dan segera menarik tangannya dari dahi Azka kala lelaki itu menggeliat dan berbalik ke arah kanan, membelakangi Kayla, selimutnya turun, Kayla pun segera menarik selimut itu sampai ke dadanya.
Kayla duduk kembali di kursi, menatap punggung Azka, sampai akhirnya matanya terasa berat, akhirnya gadis itu pun tertidur.
***
Azka terbangun dari tidurnya karena merasa haus, lelaki itu tersentak kala melihat seseorang memegang tangannya, lelaki itu menoleh ke samping.
Apakah ia sedang berhalusinasi? Apakah benar sosok di sampingnya ini nyata? Matanya mengerjap berkali-kali memastikan penglihatannya.
Azka menarik tangannya pelan-pelan dari genggaman Kayla, tetapi tetap saja membuat gadis yang terlelap itu terlonjak kaget dan segera bangun.
"Azka, elo mau minum, ya? Tar gue ambilin."
Dengan cepat Kayla mengambil air minum yang berada di nakas, lalu memberikannya pada Azka.
Azka pun meminumnya sebentar lalu memberikannya kembali pada Kayla. "E-elo kok di sini?" tanya Azka gugup.
"Emm… g-gue di sini… ya mau jenguk elo," ujar Kayla tak kalah gugupnya.
Azka hanya mengangguk lemah.
Hening.
Mereka berdua larut dalam keheningan tanpa suara sedikit pun, yang terdengar dalam ruang kamar itu hanya suara jarum jam yang berada di dinding ruangan VVIP itu.
Azka menatap lurus ke depan, ia sedang berpikir bagaimana cara memulai pembicaraan dengan gadis di sampingnya itu.
Kayla pun sama, gadis itu meremas jari-jarinya, bingung bagaimana cara meminta maaf pada lelaki yang kini terbaring lemah karena ulahnya itu.
__ADS_1
Tetapi akhirnya Kayla memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Ka, gue minta maaf, ya," ujar Kayla sambil menunduk dan memilin ujung bajunya. "Maaf, gara-gara gue elo jadi sakit kayak gini."
Kayla menghembuskan napasnya. "Bubur yang gue beli kemaren itu… gue kasih sambel 10 sendok, g-gue–"
Azka memotong. "Gue juga minta maaf."
Kayla mengangkat kepalanya, keningnya berkerut.
"Gue juga minta maaf karena udah kerjain lo kemaren, elo pasti balas dendam kan makanya ngerjain gue balik," sambung Azka.
"Oke berarti kita maafan, ya." Kayla mengangkat jari kelingkingnya lalu mendekatkannya ke arah Azka.
Azka terkekeh, ini adalah permintaan maaf ala anak TK. Namun, lelaki itu pun akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Kayla. "Oke! Berarti kita impas, ya."
Keduanya pun tertawa.
Kayla tersentak kaget kala melihat Azka meringis memegangi kepalanya, dengan cepat ia menyentuh kepala lelaki itu. "Kepala lo pusing, ya, mending lo baring lagi gih."
Kayla mendorong pelan tubuh Azka hingga berbaring kembali. "Mau gue pijitin gak kepalanya?" tawar Kayla.
"Boleh, tapi pelan-pelan."
Kayla pun memajukan tubuhnya mendekat ke arah Azka, gadis itu sedikit menunduk, kedua tangannya terangkat menyentuh sisi-sisi kepala lelaki itu lalu memijitnya pelan.
"Aduh, jantung gue kenapa deg-degan gini, ya, dia denger gak ya suara jantung gue?" batin Azka.
Kayla dan Azka tetap dalam posisi yang sama sambil terus bertatapan satu sama lain, sampai akhirnya suara pintu terbuka.
"Ups! Mami gak liat apa-apa kok, suer deh gak liat, kalian lanjutin aja," ujar Karina, lalu kembali menutup pintunya.
"Hah?"
Kayla dan Azka melihat posisi mereka sekarang, jika dilihat dari belakang memang terlihat seperti orang berciuman, tetapi jika dilihat dari samping terlihat seperti Kayla sedang memijit kepala Azka, dan secara kebetulan Karina melihat posisi mereka dari belakang, karena posisi pintu memang seperti itu.
Canggung, itulah yang dirasakan keduanya, keduanya kini sibuk mencuri-curi pandang satu sama lain.
***
Rayhan dan Ashila kini berada di sebuah pinggiran danau dengan lampu-lampu yang indah dengan warna yang bermacam-macam, cahaya rembulan dan bintang-bintang yang bertaburan di awan juga menambah kesan romantis bagi kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
"Suasanya bagus, ya, Mas?"
"Iya, apalagi kalo berdua sama kamu," ujar Rayhan sambil terkekeh.
"Hih! Gombal!"
"Sayang, aku minta es krimnya dong," ujar Rayhan.
"Yaah, tapi es krimnya udah abis, Mas, kamu sih belinya cuma satu."
"Kata siapa udah abis, itu masih ada kok," ujar Rayhan.
Ashila memperlihatkan cup es krim yang sudah kosong pada Rayhan. "Mana? Tuh udah abis."
"Belum, Sayang, tuh, masih ada di sini," ujar Rayhan sembari menyentuh bibir Ashila.
Tanpa aba-aba lagi, Rayhan langsung menempelkan bibirnya dengan bibir Ashila menjilat semua sisa es krim yang melekat pada benda kenyal itu, membuat Ashila terpekik kaget, gadis itu pun langsung memukul pelan dada bidang Rayhan, membuat lelaki itu langsung melepaskannya.
"Mas, kamu tuh, ya, gimana kalo ada yang liat," gerutu Ashila.
Rayhan hanya terkekeh tak berdosa sembari celingak-celinguk ke sekeliling yang memang terlihat sepi, hanya ada mereka berdua saja di sana. "Lagian gak ada orang ini."
"Aku bilang juga gimana kalo ada orang, terus ngeliat."
"Yah, anggap aja kita lagi bikin acara live streaming."
__ADS_1
Ashila hanya mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal, bisa-bisanya suaminya itu setengil itu.
"Lagian kita kan udah suami istri ini, gak bakal digrebek, Sayang, jangan ngambek dong, kita kan ke sini buat seneng-seneng."
Rayhan menoel pipi sang istri, namun istrinya itu malah mengusap pipi bekas sentuhannya itu.
"Kamu beneran ngambek, ya?"
"Tau ah!"
"Janji deh gak bakal kayak gitu lagi, maaf, ya," ujar Rayhan sembari memeluk tubuh Ashila erat.
"Mas, jangan kenceng-kenceng dong meluknya, engap tau."
"Maafin dulu, baru dilepasin."
"Iya-iya dimaafin, kamu tuh, ya, apa-apa suka mintanya maksa."
***
Setelah menghabiskan permen kapas dan es kirim, Rayhan dan Ashila pun memilih untuk pulang dan menginap di rumah orang tua Rayhan.
Ashila kini sudah tertidur dalam dekapannya Rayhan, sedangkan Rayhan masih sibuk memperhatikan wajah istrinya itu, sesekali lelaki itu mencubit hidung Ashila karena merasa gemas pada istrinya itu.
Ting!
Terdengar suara notifikasi pesan di ponsel Rayhan, lelaki itu memindahkan kepala Ashila ke atas bantal lalu mengambil ponselnya di nakas, melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya, ia terkejut ternyata orang yang mengirimkan pesan itu adalah Renata.
Renata :
Apa hari ini kamu sangat bersenang-senang, Sayang?
Rayhan mengernyitkan keningnya, ia pun membalas pesan dari Renata.
Rayhan :
Apa maksud kamu?
Renata :
Sudah cukup kamu bersenang-senang dengan istri kesayangan kamu itu, sekarang kamu kembali padaku, Sayang.
Rayhan :
Dimimpimu saja!
Renata :
Baiklah, sepertinya kamu emang sudah siap untuk ditinggalin sama semua orang-orang yang kamu sayang, Ray.
Jujur, jantung Rayhan berdetak lebih cepat saat membaca pesan ini dari Renata, ia harus bagaimana sekarang? Menemui gadis ular itu? Tetapi Rayhan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan menemuinya lagi.
Rayhan menghembuskan napasnya panjang, ia tidak membalas pesan Renata lagi, lelaki itu memilih mematikan ponselnya lalu membaringkan tubuhnya di samping istri kesayangannya itu.
Tetapi...
Hatinya tak tenang, ia terlihat gusar, sungguh, dirinya belum siap dan tidak akan pernah siap jika harus berpisah dengan wanita yang kini berada dalam dekapannya itu.
Bukan hanya itu saja, bagaimana reaksi orang tua dan mertuanya nanti? Mereka pasti akan sangat kecewa kepadanya.
***
Huhu.. Kayaknya besok konflik besar akan terjadi deh, tetap terus tunggu kelanjutannya ya, banyak greget-gregetnya soalnya.
Jangan lupa like, komen, vote juga.
Thank you all.
__ADS_1