Perjodohan Menjadi Cinta

Perjodohan Menjadi Cinta
Bab 52 Acuh


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 23.45 WIB, Ashila terus mondar-mandir di ruang tengah dengan raut wajah yang gelisah menunggu kepulangan suaminya.


"Astagfirullah… udah jam sebelas malam lewat kok Mas Rayhan belum pulang juga, ya."


"Apa dia lembur? Tapi apa lembur sampe selarut ini?"


"Apa gara-gara dia marah sama aku makanya dia gak mau pulang?"


"Ya Allah… lindungi selalu suamiku."


Ashila terus bergumam sambil menggigiti jari-jari tangannya, sesekali ia mengecek ponselnya semoga ada balasan dari suaminya itu. Karena sejak sore hingga sekarang Ashila terus berusaha menelpon dan SMS Rayhan tapi tak satu pun panggilan dan SMS-nya yang dibalas oleh suaminya itu.


***


Menjelang subuh, Rayhan terbangun dari tidurnya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menatap langit-langit kamar yang dirasanya asing tak asing itu. Pria itu mencoba mendudukan dirinya dan memperhatikan sekeliling.


"Aww!" Rayhan memegangi kepalanya yang terasa nyeri.


"Udah bangun, Sayang."


Panggilan seseorang yang tampak tak asing di telinganya itu membuat Rayhan terkejut.


"K-kamu? Ngapain kamu di sini?" tanya Rayhan sambil memelototan matanya.


"Ah.. Sayang kamu kalo marah makin sexy deh, sekarang kita ada di apartemen aku, Sayang," ucap wanita yang tak lain adalah Renata itu.


"Sayang permainan semalam itu, uhhh… nikmat." Renata berucap sembari mengeluarkan suara desahan.


"Permainan apa?"


"Ah sayang jangan marah-marah dong." Renata mendekati Rayhan dan mengelus dada bidang pria itu membuat sang empu tersadar jika sekarang ia bertelanjang dada.


Rayhan pun dengan cepat membuka selimutnya, benar saja, sekarang dirinya hanya memakai celana boxer saja.


"Astaga! Apa yang kamu lakuin sama aku Renata?" ucap Rayhan sambil berteriak.


Rayhan mencoba mengingat kejadian semalam, dimana awalnya ia melihat Ashila bersama dengan pria lain, setelah itu ia pergi ke sebuah club dan minum-minum di sana, ia juga berkenalan dengan seseorang dan orang itu memberinya sebuah minuman, setelah itu ia tak ingat apa-apa. Rayhan yakin orang itu memasukan sesuatu pada minuman yang diberikan kepadanya itu.


Rayhan menoleh ke arah Renata dan menatap tajam wanita di sampingnya itu. "Pasti kamu yang nyuruh orang itu buat jebak aku kan?"


Rayhan pun beringsut dari kasur, mengambil pakaiannnya yang berserakan di lantai lalu memakainya.


"Sayang kamu mau kemana?"


Rayhan tak memperdulikan ucapan Renata, ia segera keluar dari kamar apartemen wanita yang menjebaknya itu.


Renata tampak menyeringai sambil menatap kepergian Rayhan. "Cepat atau lambat kamu akan kembali kepelukanku lagi, Sayang."


***

__ADS_1


Tepat pukul 05.05 subuh, Rayhan pulang ke apartemennya.


Rayhan mengernyitkan keningnya melihat lampu ruang tamu masih menyala. Ketika ia berjalan hendak berjalan menuju tangga, langkahnya terhenti kala melihat kaki seseorang terjuntai di ujung sofa.


Mata pria itu melebar kala melihat Ashila yang tidur meringkuk di sofa. Tubuh wanita itu tidak memakai selimut, hanya memakai piyama tidur berbahan katun tipis.


"Ya ampun Ashila…" Rayhan menyentuh lengan dan dahi istrinya itu, terasa sangat dingin. Tentu saja, ac di ruang tamunya itu membuat tubuh Ashila sedikit menggigil.


"Shila.." Rayhan mengoyangkan tubuh Ashila pelan, agar istrinya itu tidak merasa terkejut.


Ashila yang merasa terusik perlahan membuka dan mengerjap-ngerjapkan matanya


"Mas Rayhan... kamu udah pulang." Ashila dapat melihat dengan jelas sorot mata dingin dari suaminya itu.


"Mas, aku teleponin kamu dari semalem kamunya gak respon-respon." Ashila mendudukan tubuhnya, ia menoleh sebentar ke arah jam dinding sebentar.


"Jam setengah lima? Kamu nginep dimana, Mas?" tanya Ashila sambil menatap lekat mata Rayhan.


"Mau nginep dimana pun itu bukan urusan kamu. Kamu gak perlu peduliin saya," ucap Rayhan dingin, ia pun berdiri dan hendak pergi menuju tangga namun dengan cepat Ashila menahannya.


"Mas, aku mau jelasin yang kemarin," ucap Ashila sambil menggenggam erat lengan Rayhan.


"Gak perlu bahas itu lagi." Rayhan melepaskan cekalan Ashila dan berjalan menuju tangga.


"Ya Allah gimana caranya supaya masalah ini selesai."


***


"Ya Allah… aku harus gimana? Bahkan Mas Rayhan enggan banget liat aku, gimana cara jelasinnya," batin Ashila terus bermonolog dengan raut wajah yang sedikit frustasi.


"Shil."


Ashila menoleh saat seseorang memanggilnya.


"Kak Azmi." Ashila tersenyum sambil berucap pelan.


Azmi pun membalas senyuman Ashila, ia pun segera mendudukan tubuhnya di samping wanita berhijab itu.


"Kamu kayaknya kurang semangat banget hari ini. Oh ya gimana suami kamu kemarin? Kamu udah jelasin kan?" Ashila menggeleng lemah.


Azmi berjengit kaget. "Loh kok belum?"


"Mas Rayhan kayaknya marah banget sama aku, Kak. Bahkan buat liat aku ngomong aja kayaknya enggan."


"Maaf ya, Shil. Gara-gara Kakak, suami kamu jadi marah sama kamu, ah atau kita berdua temuin suami kamu aja, nanti aku coba jelasin sama suami kamu."


"Jangan, Kak. Menurut aku kalo kakak ketemu suami aku justru bakal nambah masalah."


Ashila menundukan wajahnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, rasanya sakit banget ngeliat wanita yang ku cintai sedih seperti ini," batin Azmi, ia pun merasa bersalah karena masalah ini tidak akan datang jika dirinya tidak mengungkapkan perasaannya pada wanita yang sudah berstatus sebagai istri orang itu.


Azmi memang mencintai Ashila. Akan tetapi ia tidak ingin menjadi penghalang. Tidak ingin menjadi seseorang yang egois, ia ingin melihat wanita yang dicintainya itu bahagia, dengan atau tanpa dirinya. Dan nyatanya gadis yang dicintainya itu sudah menjadi milik orang lain, itu membuktikan bahwa Ashila memang bukan jodohnya.


"Assalamualaikum," sapa seseorang membuyarkan lamunan pria dan wanita itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Azmi dan Ashila serempak.


"Ini kenapa pada diem-diem aja."


"Gak papa, Nis," ucap Ashila tersenyum, ia melihat ke arah belakang sahabatnya itu. "Oh ya Dina mana?"


"Dina gak masuk, ada keperluan keluarga katanya." Ashila hanya mengangguk.


"Shil kamu kenapa sih? Kok gak ceria-cerianya hari ini." Annisa mendudukan tubuhnya di samping Ashila, sehingga posisi Ashila berada di tengah-tengah Annisa dan Azmi.


"Aku lagi ada masalah sama suami aku, Nis."


Annisa melihat ke arah Azmi sebentar lalu berbisik di telinga Ashila. "Emang Kak Azmi tau kalo kamu udah nikah?" Ashila mengangguk.


"Kok…"


Belum Annisa menyelesaikan ucapannya, suara ponsel Ashila berdering.


"Umi aku nelepon aku pergi bentar, ya."


Setelah Ashila berlalu, kini tinggalah Azmi dan Annisa yang terduduk di bangku taman kampus itu.


"Emm, Kak. Kakak udah tau kalo Shila udah nikah?" tanya Annisa sambil menatap pria di sampingnya itu.


"Iya." Azmi menggukan kepalanya dan menjawabnya dengan santai.


"Kok Kakak biasa aja sih?" tanya Annisa heran.


"Maksud kamu?"


"Maksud aku Kakak kan suka sama Ashila, kok Kakak gak kaget gitu sih dengernya."


"Emang aku harus gimana, Nis? Rebut Ashila dari suaminya itu, gak mungkin kan? Aku kan bukan pebinor, Nis. Awalnya aku juga kaget banget pas denger Ashila udah nikah, aku kira dia cuma becanda, aku percaya dia udah nikah itu pas suaminya ngeliat kami berduaan di restoran, hal itu yang bikin sahabat kamu murung banget hari ini."


"Terus Kakak bakal lupain Shila?"


"Aku akan berusaha," ucap Azmi dengan lirih.



Sorry ya kalo gak sesuai dengan keinginan para readers, soalnya ceritanya dari dulu emang konsepnya kayak gitu..


Jangan lupa untuk selalu tekan tombol likenya yaaaa..

__ADS_1


Love you all


__ADS_2