
"Oke, anak-anak, cukup hari ini, jangan lupa makalahnya dikerjakan, ya, assalamualaikum," ujar dosen seraya melenggang keluar kelas.
"Wa'alaikumsalam."
Para mahasiswa pun segera keluar kelas, sampai akhirnya hanya tersisa tiga orang gadis di sana yaitu Ashila, Annisa, dan Dina.
"Nis, Shil, anterin aku beli buku, yuk! Sekalian kita nge-mall sore, hehe," ujar Dina sambil memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
"Boleh tuh, lama banget kan kita jarang main ke mall bertiga lagi! Tapi kita sholat dulu," timpal Annisa.
Ashila mengangguk. "Iya, boleh tuh, yaudah kita ke mushola kampus dulu yuk!"
Mereka bertiga pun segera pergi menuju mushola kampus. Setelah melaksanankan sholat ashar, mereka menunggu taksi di depan kampus. Tak lama, taksi pun datang, mereka pun segera memasukinya.
Beberapa saat kemudian, Kini mereka sudah sampai di salah satu mall yang terkenal di Jakarta, setelah membayar argo taksi, tanpa membuang waktu lagi, ketiga wanita berhijab itu segera memasuki mall tersebut.
"Guys, kita ke lantai dua dulu, yuk! Nyari buku yang aku pengen," ujar Dina.
"iya, aku juga pengen beli buku novel terbaru. Oh ya, Nis, kamu gak terbitin novel lagi?" tanya Ashila sembari menaiki eskalator.
"Belum, Shil, novel yang aku buat belum selesai, masih beberapa part lagi menuju ending," jawab Annisa.
Ashila hanya ber oh ria saja.
"Guys, kita ke sana dulu, yuk! Cuci mata," ujar Dina.
"Iya, yuk! Lama kan kita gak shoping-shoping bareng." Annisa menimpali.
"Beli bukunya?" tanya Ashila .
"Abis beli sepatu, baru beli buku, oke!"
"Sip deh!"
Mereka pun segera melangkah menuju toko sepatu, terlihat banyak sekali sepatu-sepatu yang terpajang di sana.
"Nis, Shil, mana sepatu yang cocok buat aku? Ini atau ini?" Dina menunjukan dua pasang sepatu, sama-sama sepatu berhak tinggi, hanya saja sepatu yang satunya bertali.
"Mending yang ini aja." Ashila memberikan sepatu sneakers berwarna putih pada Dina.
"Shil…"
"Hehe… maaf-maaf, kalo menurut aku mending yang ada talinya itu deh, kayaknya cocok sama kaki kamu," ujar Ashila.
"Heem, kayaknya bagus, Din, yang itu," timpal Annisa.
Dina memanggut-manggut tanda setuju. "Yaudah, aku pilih yang ini deh, kalo kalian?"
__ADS_1
"Aku yang ini deh, lucu kan buat jalan-jalan santai gitu." Ashila memperlihatkan sepatu kain berwarna hitam ditambah sedikit warna-warni bergaris di sepatu polos tanpa ikatan tali.
Sedangkan Annisa memilih sepatu plat tanpa hak berwarna hitam, terlihat sederhana tapi manis. "Kalo aku ini aja deh."
"Yaudah, yuk ke kasir."
Setelah membayar sepatu, mereka segera pergi menuju toko buku, tak banyak waktu mereka di tempat itu karena setelah Dina mendapatkan buku yang diinginkannya, mereka segera keluar dari sana.
"Kita kemana lagi nih?" tanya Ashila
"Nyari makan dulu, yuk! Laper." Annisa memegangi perutnya.
"Yaudah nyari restoran yuk."
"Resto ini aja nih, ada sushi makanan kesukaan aku!" ujar Annisa menunjuk restoran di sepannya.
Mereka pun masuk ke dalam restoran bergaya khas jepang itu. Tetapi tak lama kemudian...
"Eh... Shil, itu bukannya…" Ashila mengikuti arah jari telunjuk Annisa, terlihat di sana seorang lelaki sedang menyuapi seorang wanita dengan manja.
"Mas Rayhan, aku seneng liat kamu udah sehat," batin Ashila. Wanita itu mengeraskan rahangnya saat menatap Renata tampak sedekat itu dengan suaminya, bahkan wanita itu bergelayut manja dengan tangan suaminya.
Detik berikutnya, manik mata suami-istri itu bertemu, sang suami-Rayhan sangat-sangat terkejut saat melihat istrinya ada di sana, ia menelan salivanya kuat, ia takut Ashila salah paham padanya, secara tak sengaja makanan yang ia suapkan pada mulut Renata belepotan di bibir wanita itu.
"Ray, kamu gimana sih suapinnya, jadi belepotan tau," kesal Renata.
"Ma-maaf," ujar Rayhan menahan tawanya seraya memberikan tissue pada Renata.
Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya kembali menatap Ashila. Namun, istrinya itu hilang dari pandangannya, hanya ada Annisa dan Dina saja yang terlihat berlari menjauh dari sana, sudah dipastikan pasti istrinya itu salah paham,
Lelaki itu tampak gelagapan, tanpa membuang waktu lagi, ia segera beringsut pergi dari sana. "Aku pergi dulu, kamu pulang sendiri aja ya, aku ada urusan!"
"Ray, Rayhan... kamu mau kemana? Hei, Ray..." Rayhan tak menghiraukan teriakan Renata yang memanggilnya.
Rayhan terus berlari mencari keberadaan sang istri, tetapi ia tak menemukannya. Sampai pada akhirnya ia melihat kedua sahabat istrinya-Annisa dan Dina sedang berada di depan toilet wanita.
"Shila kemana?" tanya Rayhan tanpa basa-basi.
"Shila ada di dalem," jawab Annisa.
"Yaudah, kalian berdua pulang saja. Shila... saya yang akan mengantarkannya."
"Tapi–"
"Saya ini suaminya, saya gak akan nyakitin istri saya sendiri."
Kedua gadis itu berpandangan sejenak, Annisa menganggukkan kepalanya pada Dina.
__ADS_1
"Yaudah, kalo gitu kita duluan, salamin aja sama Shila," ujar Dina.
"Dan ingat Kak Rayhan, antarkan Shila ke rumahnya tanpa kurang suatu apapun," timpal Annisa.
Rayhan mengangguk. "Kalian tenang saja, saya akan mengantarkan istri saya pulang dengan aman."
Setelah Annisa dan Dina berlalu pergi, Rayhan pun tampak mondar-mandir di depan toilet wanita, ia melihat jam di pergepangan tangannya, sudah sepuluh menit kemudian, istrinya itu belum keluar juga. Lelaki itu tampak sangat khawatir takut terjadi apa-apa dengan istrinya itu. Tetapi, tak mungkin ia bisa masuk ke dalam sana.
Di tengah kekhawatirannya, Rayhan tersenyum lebar saat melihat Ashila pun keluar dari toilet, mata istrinya itu terlihat sembab, pasti habis menangis.
"Sayang. Kamu dengerin aku dulu, i-itu tadi gak seperti yang kamu liat, aku tadi cuma–"
"Cuma apa? Cuma akting? Aku tau kok." Ashila berucap santai tapi dengan nada dingin.
Rayhan mengernyit. "K-kamu tau dari mana?"
"Kayla yang cerita."
"Jadi kamu udah gak marah lagi kan sama aku?" Rayhan mendekat ke arah Ashila bermaksud ingin memeluk istrinya itu.
"Kamu... jangan deket-deket! Jangan peluk-peluk, Ikut aku sekarang!"
"Kemana?"
"Ikut aja."
***
Setelah beberapa lama mereka berjalan, sampailah mereka di sebuah toko pakaian.
"Kamu pengen beli baju, Yang?" tanya Rayhan.
"Bukan aku, tapi kamu."
Rayhan mengernyit. "Aku?"
"Kemeja yang kamu pake itu bau parfum perempuan itu, aku mau kamu ganti baju."
Rayhan tersenyum, ia menyadari istrinya itu tengah cemburu, itu artinya istrinya itu masih mencintainya. "Yaudah, kamu pilihin deh bajunya sama kamu."
Ashila mencari-cari sebentar kemeja yang cocok untuk suaminya, matanya berbinar menatap kemeja berwarna biru tua, sepertinya sangat cocok dengan kulit Rayhan yang putih bersih itu. "Nih, ini aja," ujar Ashila seraya memberikan kemeja itu pada Rayhan. "Kamu ganti gih."
"Gantiin sama kamu dong," goda Rayhan manja.
"Ganti sendiri! Cepet sana!"
"I-iya, a-aku ganti sekarang." Rayhan pun segera berjalan menuju ruang ganti.
__ADS_1