
Lima menit Ashila menunggu taksi online yang sudah ia pesan, akhirnya taksi itu pun muncul.
"Mbak Shila, ya?" tanya lelaki berumur sekitar empat puluhan itu.
Ashila segera menghapus air matanya. "Ah! Iya, Pak. Tolong masukin koper saya, ya."
Supir taksi itu pun mengangguk dan mengambil alih koper berwarna peach yang Ashila pegang, lalu memasukannya ke dalam bagasi mobilnya.
Ashila menoleh sebentar menatap gedung apartemen untuk terakhir kalinya. "Aku pergi, Mas, makasih cinta dan juga lukanya," gumam Ashila dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya. Ashila langsung menghapusnya kembali. "Pasti bakal rindu banget sama tempat ini," batinnya.
Setelah itu Ashila segera masuk ke dalam mobil. sepanjang jalan, gadis itu terus menangis, meratapi nasibnya yang sangat malang itu. Di usianya yang baru berumur dua puluh tahun, ia harus mengalami hal seperti ini.
Satu jam kemudian, Ashila kini sudah sampai di depan gerbang rumahnya.
"Makasih, ya, Pak," ujar Ashila seraya mengambil kopernya dari tangan supir taksi itu.
"Iya, Mbak." Supir taksi pun segera masuk ke dalam mobil, lalu menjalankan mobilnya.
Ashila menghembuskan napasnya berkali-kali sambil menatap gerbang rumahnya. "Oke, Shila… tenang, jangan nangis, jangan bikin umi sama abi sedih."
Ashila pun membuka gerbang rumahnya, lalu masuk sambil menyeret kopernya. Setibanya di depan pintu, ia kembali menghembuskan napasnya dalam-dalam, lalu tangannya terangkat untuk mengetuk pintu tersebut.
Tok, tok, tok!
"Assalamualaikum…"
Tak lama kemudian, pintu itu pun dibuka oleh bi Sri. "Waalaikumsalam, eh… Non Shila."
"Bibi apa kabar?" tanya Ashila sambil berhambur memeluk pembantu yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri itu.
"Alhamdulillah, bibi baik, Non. Ayo masuk, sini bibi bawain kopernya."
Bi Sri pun langsung mengambil koper yang Ashila pegang dan membawanya masuk ke dalam.
"Makasih, Bi."
"Ini udah tugas bibi," ucap Bi Sri sambil tersenyum. "Tuan… Nyonya… liat siapa yang datang," teriak bi Sri memanggil abi dan umi Ashila.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Abi Alwi dan umi Ira yang sedang makan malam pun menghentikan aktivitas makannya begitu mendengar suara yang sangat tidak asing itu di telinga mereka.
"Waalaikumsalam, Ashila…"
"Umi, Abi, Shila kangen…" Ashila langsung berhambur memeluk abi dan uminya secara bergantian.
"Umi sama abi juga kangen banget sama kamu, udah lama banget kamu jarang main ke sini, umi kira kamu udah lupa sama kita," ujar Umi Ira sembari memajukan bibirnya sekitar lima centi, pura-pura cemberut.
"Aah… maaf, bukan gitu, Mi. Shila banyak banget kesibukan, hampir tiap hari harus bikin makalah buat bahan presentasi kampus, jadi jarang ngasih kabar ke umi sama abi deh."
"Oh ya, kamu ke sini sendiri? Suami kamu gak ke sini?" tanya Abi sembari celingak-celinguk mencari keberadaan menantunya itu.
"Aku jangan dulu cerita tentang masalah ini sama umi dan abi, aku gak mau bikin mereka sedih," batin Ashila.
"Emm… mas Rayhan… ada sih di apartemen, aku tadi minta izin pulang ke sini karena kangen banget sama umi sama abi juga."
Umi melihat ada koper besar yang sedang di seret oleh bi Sri menuju lantai dua. "Kamu bawa koper? Bukannya baju-baju kamu banyak ya di sini, kok pake bawa-bawa koper segala?"
Abi tertawa. "Ya boleh dong, ini kan rumah Shila juga, tapi suami kamu gimana nanti gak ada yang ngurusin di sana?"
"Euu… mas Rayhan mah udah biasa dari dulu kan apa-apa sendiri, dia kan mandiri, Bi."
"Yaudah, kalo gitu kita lanjut makan lagi yuk, Shila kamu juga makan, ya."
"Eu… enggak, Bi, Shila udah makan. Yaudah, Umi, Abi, Shila ke kamar dulu, ya, kangen banget sama kamar, assalamualaikum." Ashila pun segera berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Umi Ira menatap punggung Ashila yang semakin jauh dari pandangannya. Entahlah, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh putri kesayangannya itu.
***
"Non, kamarnya udah diberesin sama bibi. Non tinggal istirahat aja," ujar bi Sri di depan yang baru keluar dari kamar Ashila.
"Makasih, ya, Bi, yaudah aku masuk ya."
"Iya, Non. Kalo gitu bibi juga mau turun dulu."
__ADS_1
Setelah bi Sri berlalu, Ashila segera membuka kamarnya lalu menutupnya kembali, gadis itu merosotkan dirinya ke lantai, menyenderkan punggungnya pada pintu. Ia kembali menangis dalam diam karena tak ingin orang rumah mendengarnya.
Gadis itu meratapi nasibnya, seakan takdir ini tak adil untuknya. Ia sungguh tak menyangka, hal ini akan menimpa pernikahannya, padahal usia pernikahannya baru menginjak beberapa bulan saja.
Tetapi, gadis itu kembali berpikir, untuk apa menangisinya lagi, toh semuanya sudah terjadi dan berakhir, dan semuanya tidak akan terjadi seperti semula kembali. Semuanya sudah binasa. Ia harus bisa meneruskan hidupnya.
Ashila segera menghapus air matanya. "Huft… kamu harus kuat Shila, semangat! Jalan hidup kamu masih panjang." Gadis itu memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Setiap manusia memang sudah mempunyai skenario hidup masing-masing, mungkin ini takdirku. Aku harus bangkit, mas Rayhan emang pergi dari hidup aku, tapi aku masih punya Allah, abi, umi, dan juga sahabat-sahabat aku," ucapnya lagi.
Ashila pun bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi.
***
Di sisi lain, Rayhan mengusap wajahnya gusar, dan sesekali memukul-mukulkan kepalanya ke tembok, ia melemparkan barang-barang yang yang ada di kamarnya. Lelaki itu terlihat sangat frustasi sekarang.
"Argh!! Gue emang brengsek!" teriak Rayhan sembari menghantamkan tangannya pada tembok.
Penyesalan, kecewa, dan marah bercampur menjadi satu. Rayhan berjalan menuju cermin kacanya yang cukup besar dengan emosi yang meluap-luap, lelaki itu memukul keras cermin di hadapannya hingga pecah.
Prak! Akh!
Darah pun mengalir di jari-jari tangan Rayhan, darah yang terlihat begitu merah menetes di lantai.
Lelaki itu pun meringis. "Akh…!" teriak Rayhan dengan penuh emosi dan frustasi. Tak lama kemudian, ia pun ambruk.
***
Suara adzan terdengar dengan jelas di telinga lelaki berumur 27 tahun itu, ia mengerjap-ngerjapkan matanya, memulihkan penglihatannya.
Rayhan semalaman tidur di lantai tanpa alas apapun, lelaki itu meringis merasakan perih di tangannya, ia melihat tangannya berlumuran darah yang sudah mengering. Ia kembali teringat saat Ashila pergi darinya dan memutuskan hubungan dengannya.
"Jangan cari aku lagi, Mas, aku akan selalu berdoa, supaya kamu selalu bahagia." Kata-kata terakhir istrinya sebelum pergi kembali terngiang di telinganya.
Rayhan mengambil bingkai foto Ashila yang berada di nakas. "Gimana aku bisa bahagia kalo kamu gak di samping aku, kebahagiaan aku tuh adanya cuma sama kamu." Rayhan mengelus foto Ashila. "Kita baru aja bersama beberapa bulan yang lalu, kita baru aja bahagia kemaren-kemaren, tapi sekarang kamu ninggalin aku, maafin aku yang brengsek ini, Sayang. Aku sayang kamu," ucap Rayhan sembari mencium foto itu kemudian menyimpannya kembali ke nakas.
Rayhan mentatap sekeliling kamarnya. Suasana kamar yang begitu berantakan, serpihan kaca dimana-mana, buku-buku berserakan, membuat Rayhan harus berjalan dengan hati-hati agar terinjak serpihan kaca. Lelaki itu berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1